
Dua hari setelah kejadian waktu itu,Rani sama sekali tak bertemu dengan Abi. sempat ia melihat Abi saat ingin menemui Dita,tetapi Abi terkesan menghindarinya.
"terserah deh,mau marah apa nggak?" gumam Rani acuh.
hari berganti hari,hubunganya dengan Abi kian memburuk,tetapi Rani tak ingin ambil pusing,ia mengganggap kalau Abi tak mempunyai perasaan yang sama terhadapnya,dan ia juga berhenti berharap kepada Abi untuk membalas cintanya.
derettt... derettt...
ponsel Rani bergetar,tanda ada panggilan masuk ia mengrenyit heran saat melihat nama Abi yang terpampang di layar ponselnya.
dengan malas Rani mengangkat telpon dari Abi.
"hallo..."
"...."
"apa?baik kak aku akan segera kesana."
Rani segera memutus sambungan telpon,dia panik kala mendengar kabar kalau Dita kecelakaan dan yang menjadi penyebabnya adalah si lampir mantan pacarnya Azka suami Dita.
tak butuh waktu lama Rani sampai di rumah sakit dimana Dita di rawat,dia membuka pintu ruangan Dita dan berteriak memanggil nama sahabatnya itu.
"Ditaaaa...bagaimana keadaanmu,mana yang sakit?" Rani datang langsung menghambur memeluk sahabatnya itu,setelah mendengar kecelakaan Dita,Rani langsung datang saat jam kampusnya selesai.
"hei...pendek tak bisakah kau mengecilkan suaramu?apa kau tak melihat sekarang kita dimana?" Abi menegur Rani karena kehebohanya
"his,aku tuh kawatir sama Dita." ucap Rani mengrucutkan bibirnya.
"aku baik-baik saja Rani,makasih sudah mau datang kesini." Dita segera menjawab ucapan Rani sebelum Abi mengeluarkan segala umpatanya.
"syukurlah kalau kamu baik-baik saja,lalu bagaimana dengan si lampir itu?" tanya Stella yang membuat Dita tertawa karena Rani menyebut Stella sebagai lampir.
"dia sudah mendapatkan balasan yang setimpal." jawab Azka menatap Rani dan Dita secara bergantian.
Rani hanya mengangguk mengerti,pasti sudah terjadi sesuatu terhadap Stella,tetapi Rani tak mau ambil pusing tentang apa yang menimpa Stella,yang terpenting baginya adalah Dita selamat dan mereka bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari Stella.
__ADS_1
Rani keluar dari ruangan dimana Dita di rawat,setelah cukup puas mengobrol dengan Dita akhirnya Rani pamit untuk pulang. dia hanya ingin tak ingin mengganggu istirahat Dita.
"tunggu mau kemana kamu?" tanya Abi menghentikan langkah Rani, mendengar suara bariton yang sangat ia kenali membuat Rani menghentikan langkahnya dan membalikkan badanya hingga menghadap Abi yang tengah menatapnya tajam.
sebenarnya Rani malas meladeni Abi,karena dia masih kesal dengan Abi yang marah-marah tak jelas kepadanya.
"tentu saja mau pulang." jawab Rani datar.
"dengan siapa?apa dengan lelaki yang kemarin mengantarmu pulang?"
Rani memutar bola matanya malas,karena Abi mengungkit masalah beberapa hari lalu.
"kalau iya memang kenapa?lagian kenapa sih kak Abi marah kalau aku jalan Sama teman lelakiku?lagi pula kita kan gak ada hubungan apa-apa?" tanya Rani jengah.
Abi berjalan mendekati Rani,dia meraih pinggang Rani dan membuat mereka lebih dekat. Abi mendekatkan wajahnya ke telinga Rani dan berbisik.
"kau tanya kenapa?jawabanya adalah kau itu milikku!" bisik Abi lembut.
Rani mengerutkan keningnya,mendengar pengakuan Abi yang menurutnya aneh.
"suhunya sama gak panas,tapi kenapa kak Abi sepertinya sakit?dan bahkan bicara sembarangan." gumamnya yang masih terdengar Abi,sementara Abi hanya memperhatikan wajah polos Rani yang kebingungan dengan tingkahnya.
"kak Abi tadi gak salah makankan?" tanya Rani lagi yang masih saja kebingungan dengan tingkah Abi.
jangan ditanya bagaimana ekspresi Abi,dia mukanya merah,dan seperti orang yang menahan kentut lalu setelah itu ia tertawa terbahak,sungguh sangat lucu gadis yang ada di hadapannya ini. dan Rani masih saja kebingungan melihat Abi yang malah tertawa terbahak.
"kamu itu Rani,kenapa tak seperti gadis pada umunya saat ada lelaki yang mengucapkan kamu adalah milikku,ekpresimu malah membuatku semakin gemas Rani." ucap Abi sesaat ia sudah bisa meredakan tawanya
"lah...aku terus gimana?kalau kak Abi bercanda itu sama sekali gak lucu,karena apa yang kakak bilang itu mengandung kebaperan dan...mmpptt..." ucapan Rani terpotong karena Abi membungkam mulutnya dengan bibir Abi,dan itu membuat Rani melotot kaget sungguh ia tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Abi.
Abi melepas pagutanya dan menempelkan keningnya dikening Rani,ia tersenyum lembut tangan kanannya mengusap bibir basah milik Rani karena ulahnya.
"aku tak bermaksud untuk membuatmu baper,karena aku hanya ingin kamu menjadi milikku kamu mau kan jadi pacarku?"
Rani masih diam tak menjawab pertanyaan Abi,karena jujur dia masih sedikit terkejut dengan tingkah Abi,apalagi sekarang Abi malah menciumnya dan bahkan posisi mereka sangat dekat.
__ADS_1
"hei...kalau mau pacaran jangan disini." tegur seseorang yang merasa terganggu karena melihat kemesraan mereka berdua.
sontak Abi langsung melepaskan pelukanya,dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"maaf...." ucap mereka berdua meminta maaf kepada orang yang menegur mereka.
tak ingin menjadi pusat perhatian Abi membawa Rani untuk segera meninggalkan rumah sakit dan memilih tempat yang cukup nyaman untuk membicarakan tentang hubungan mereka.
Abi membawa Rani ke sebuah restauran,dan bahkan Abi menyewa tempat yang tertutup agar mereka bisa sedikit leluasa membicarakan tentang hubungan mereka tanpa adanya gangguan dari siapapun.
"bagaimana apa kamu mau jadi pacarku?" tanya ni saat mereka sudah menyelesaikan makan siang mereka.
Rani terdiam sejenak dan menatap lekat ke arah Abi,sungguh ia masih belum bisa percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Abi.
"kakak gak lagi ngeprank aku kan?" tanya Rani dengan wajah polosnya.
Abi tersenyum lalu menggeleng,ia meraih tangan Rani lali menggengamnya,
"percayalah Rani,sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama. tapi karena kondisi ekonomi ku masih kacau aku tak berani untuk mengatakanya. dan aku lebih memilih untuk fokus terlebih dahulu kepada Dita,dan sekarang aku rasa aku sudah siap makanya aku berani mengutarakannya isi hatiku. aku bukan hanya ingin menjadikanmu sebagai kekasihku tetapi aku ingin kita segera menikah kamu mau kan?" tanya Abi lembut dan menatap kedua mata Rani yang selalu saja bisa menghipnotisnya.
mendengar pengakuan Abi membuat wajah Rani menjadi merah seperti kepiting rebus,hatinya berbunga-bunga dia tak menyangka jika Abi selama ini juga menyukainya,itu berarti cintanya tak bertepuk sebelah tangan,dan kini Abi ingin mengajaknya menikah.
"bagaimana kamu mau kan?" tanya Abi sekali lagi saat Rani tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Rani tersenyum malu,ia mengangguk
"iya kak,aku mau. sejujurnya aku juga sudah lama menyukai kak Abi tetapi Rani juga tak berani mengatakanya. dan Rani kemarin sempat menyerah karena kak Abi sepertinya tak menaruh hati kepadaku,dan aku sungguh senang saat kakak mengajak Rani menikah." ucap Rani jujur.
Abi berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Rani,Abi memeluk Rani dengan perasaan bahagia sungguh ia sangat senang kalau Rani juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Abi mengurai pelukanya,lalu ia menyambar bibir Rani yang sangat manis,bahkan bibir ini sudah menjadi candinya sejak ia menyentuhnya pertama kali.
"tapi kak,kita nikahnya nantinya pas Rani udah lulus kuliah. sekitar satu bulan lagi." ucap Rani saat pagutan mereka sudah lepas
"iya aku terserah kamu Rani,atau kamu mau kita tunangan dulu baru setelah itu kita menikah?" bukan tanpa alasan Abi ingin segera mengikat Rani,ia hanya tidak ingin para jangan yang haus belaian menganggu miliknya,dia hanya ingin mengumumkan kalau Rani adalah miliknya,dan Rani bisa terhindar dari para buaya yang berkeliaran di luaran sana.
__ADS_1
Rani mengangguk dan tersenyum,Abi juga membalas senyuman Rani lalu memeluknya kembali.