
"Aaaaaaaaaaa......"
Teriakan Tita menggema di pagi hari.
Saat bangun tidur dirinya mendapati sebuah lengan kekar memeluk pinggangnya erat. Tidurnya yang miring merasa dipeluk oleh badan kekar di balik punggungnya.
Ehmmph...mmmpphh....mmmpphhh....
Mulut Tita tiba - tiba dibekap dari belakang oleh telapak tangan besar yang tadi memeluknya erat.
"Sstttt....diem ini gue...".
Tita yang kaget dan masih belum mengumpulkan nyawanya penuh, masih meronta dan berusaha melepaskan telapak tangan kekar yang membekap mulutnya.
Tubuh Tita dibalik paksa, karena masih saja meronta dengan kuat oleh orang yang tadi memeluknya erat.
Tita melotot saat mendapati Kennan suaminya yang telah membekap mulutnya.
Posisi mereka kini adalah Tita berada di bawah kungkungan Kennan dengan masih membekap mulut Tita.
"Diem...gue lepasin", Kennan memperingati Tita.
Tita perlahan menganggukkan kepalanya.
Kennan membuka bekapan tangannya dari mulut Tita.
"A..abbang kok bisa tidur di sini?", tanya Tita sedikit tergagap.
"Semalem gue dateng, jemput elo buat.....", belum selesai Kennan berucap,
Tiba - tiba.....
Brakk.
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Kennan dan Tita terkaget, reflek keduanya menoleh pada pintu kamar yang menghadirkan Bunda Vida serta Naura yang berada di belakang Bunda dengan teflon yang mengacung di tangan kanannya.
"Ada apa to Nduk....?!" Bunda menghentikan langkahnya saat mendapati Kennan dengan posisi di atas tubuh Tita.
"Ups....maaf Bunda gak tau kalo Abang...", Bunda Vida menggantung kalimatnya kemudian dengan tersenyum jahil menutup pintu kamar kembali.
"Abang menodai mata suci Rara......!!!", Teriakan Naura di luar kamar Kennan menggema hingga terdengar pada gendang telinga kedua suami isteri yang masih nyaman dengan posisinya.
Tita mendorong dada Kennan hingga membuat suaminya itu terguling ke sebelah Tita.
"Pelan - pelan dong Ta, kalo gue jatuh gimana....?", Kennan memberengut kesal.
"Maaf....abang sih gak mau minggir, dilihat bunda sama adek kan...."
"Terus kenapa kalo mereka lihat?!", Kennan cengo.
"Malu abaang....!!!", Tita mengeram karena suaminya itu tidak peka, menurut Tita.
"Ngapain malu....udah halal jugak", Kennan tetep wae kesal.
__ADS_1
"Tapi kan....posisi tadi bisa bikin Bunda sama adek berfikir aneh - aneh"
"Aneh - aneh gimana maksud lo?!", Kennan sengaja pura - pura tidak memahami perkataan Tita.
"Hisshh....abang nyebelin. Dasar enggak peka", Tita kesal, kemudian mendudukkan diri hendak beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sreettt.... tangan kekar Kennan menahan perut Tita, membuat Tita menoleh pada suaminya.
"Mau kemana?", tanya Kennan.
"Wudhu bang....sholat shubuh", sahut Tita.
"Nanti aja bentar....masih jam setengah lima", Kennan memohon.
"Tapi kan udah waktunya shubuh bang...."
"Iya....gue ngerti. Bentar wae....gue mau ngomong....", Kennan menarik perut Tita dengan kedua tangannya hingga mendekat padanya.
Kini kedua suami isteri itu duduk berdekatan menyandar pada kepala ranjang, salah satu tangan Kennan masih memeluk erat pinggang Tita.
"Mau ngomong apa...." Tita membuka suaranya dengan dada berdetak kencang, tubuhnya sedikit menegang.
Kennan menatap manik mata Tita sambil meneguk ludahnya kelat. Entah mengapa kata - kata yang sudah dipersiapkan hilang begitu saja berganti dengan rasa gugup yang tetiba hadir menyergap tubuhnya.
Kennan mengalihkan pandangannya dari wajah Tita untuk menetralkan degup jantung gugupnya yang tak berhenti berdegub kencang.
"Bang....mau ngomong apa....keburu waktu shubuhnya habis", Tita menyenggol bahu Kennan dengan bahunya pelan, meski detak jantungnya berdetak kencang Tita berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang.
"Gue...ggue....minta maaf", Kennan terbata dengan menahan telapak tangan kanan di belakang kepalanya, perlahan mengusap kepalanya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Tita terdiam tidak menyahut, dirinya paham maksud permintaan maaf suaminya. Hanya saja Tita masih bingung untuk menjawab apa, nyawanya baru saja terkumpul. Akan tetapi sudah dikejutkan dengan Kennan yang tiba tiba sudah tidur satu ranjang dengan memeluknya erat.
Dan itu disebabkan oleh suami kulkas dua pintunya yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Ta....gue minta maaf udah...."
Tita memutus ucapan maaf dari Kennan, "Iya Tita udah maafin kok. Tita juga salah sama Abang...".
Tita berucap dengan menunduk sambil memilin ujung piyama tidurnya.
Kennan mengernyit heran sambil menoleh pada gadis yang masih dirangkul pinggangnya oleh Kennan.
"Bik Marsih udah cerita sama Tita tentang apa yang membuat Abang melakukannya malam itu", Ucap Tita memandang wajah tampan suaminya. Entah mengapa meski baru bangun tidur tak membuat wajah Kennan memburuk, justru membuatnya semakin terlihat tampan. Mungkin itu adalah efek rindu Tita pada Kennan.
"Alhamdulillah", ucap Kennan dengan tersenyum senang.
Kennan menggeser lengan tangan yang memeluk pinggang Tita ke bahu gadis itu, kemudian merengkuh nya kepala Tita membawanya ke ceruk leher agar menyandar pada dada bidangnya.
Berkali-kali Kennan mencium pucuk kepala Tita hingga menumpukan dagunya pada kepala gadis yang telah didekapnya erat itu.
"Makasih Ta...makasih....", Kennan.
Tita mengangguk perlahan, "Sama - sama Bang....Tita juga minta maaf karena udah mengabaikan Abang beberapa hari ini". Kali ini degub jantung Tita benar benar berdetak kencang.
"Oke kita impas.... sama-sama minta maaf dan sama-sama memaafkan", Kennan tersenyum dengan memberikan sedikit jarak agar dapat memandang wajah Tita.
__ADS_1
Tita pun melakukan hal yang sama, sedikit mendongak agar dapat melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum. Lalu kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kennan.
Setelah beberapa saat.
"Masih pengen kek gini terus....gak jadi sholat shubuh nih", Ucap Kennan menggoda isterinya yang sepertinya nyaman memeluk dan bersandar pada dada bidangnya.
"Heh....jadilah....keburu habis waktunya", Ucap Tita dengan terburu buru melepaskan pelukannya dari Kennan, setelah melirik jam di dinding kamarnya yang menunjuk angka 05.30. Kemudian Tita segera berlalu menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu serta menyembunyikan wajahnya yang merah merona karena malu, diiringi dengan kekehan kecil dari Kennan.
...ππππ...
"Bang....", Tita mendekat pada Kennan karena cowok itu sedang berdiri di balkon kamar dengan bersidekap dada.
"Hem"
"Turun yuk", Tita sedikit menarik ujung kaos Kennan dari belakang.
"Turun sendiri kenapa?", Kennan menolehkan kepalanya ke belakang.
Tita menggeleng. "Gak mau...abang temenin"
"Kenapa emangnya....", Kennan masih tak bergeming.
"Malluu....". Cicit Tita masih dengan memegang kaos belakang Kennan, bahkan kini berganti dengan memilin ujung kaos berwarna putih yang sedang Kennan kenakan sejak semalam.
"Karena terpergok tadi...?!", Kennan.
Tita mengangguk.
Kennan membalikkan tubuhnya, kini posisi mereka saling berhadapan. "Tunggu gue mandi dulu ya..."
Cup.
Kecupan singkat Kennan pada kening Tita.
Cup.
Satu lagi kecupan singkat Kennan pada bibir Tita.
Kemudian tanpa dosa Kennan berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Tita yang masih termangu karena kaget mendapati kecupan singkat dari suaminya.
"Abaaaangg....", seru Tita dengan menutup wajahnya yang merona malu dengan kedua telapak tangannya.
Tawa Kennan terdengar menggema di dalam kamar mandi.
"Hiisshh....kumat deh mesumnya", Tita berjalan memasuki kamar dengan memberengut sebal.
π¨π¨π¨π¨
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ