
Kennan melihat Tita sedang merebahkan kepala pada meja belajar di kamar apartemen saat dirinya baru saja memasuki kamar tidur mereka.
Sepertinya Tita tidak terusik dengan kedatangan Kennan hal itu dapat terlihat dari gadis itu yang masih tetap merebahkan kepalanya dengan tangan kanan yang tidak berhenti memainkan pulpennya.
Dengan berjalan pelan Kennan menghampiri isteri cantiknya yang sepertinya lagi gabut gak jelas.
"Kenapa....?", Kennan bertanya dengan menyibak helaian poni yang sedikit menutupi wajah Tita dengan sedikit menundukkan tubuhnya.
Tangan kiri Kennan memegang sandaran kursi belajar Tita sedangkan tangan kanannya dengan lembut menyampirkan helaian surai hitam Tita pada telinga istrinya tersebut.
"Abaaang", Tita sedikit berseru dengan refleks menegakkan tubuhnya.
"Kenapa?", lagi Kennan mengulang pertanyaannya dengan lembut.
Tita menunjuk buku yang tadi berada di bawah kepalanya, "Hehehe ini PRnya susah"
"Mata pelajaran apa?"
"Matematika", jawab Tita terdengar manja seperti anak kecil yang kesusahan mengerjakan tugas dari gurunya.
Kennan menarik kursi di sebelah Tita kemudian mendudukan dirinya di sana.
"Mana PR nya?"
Tita menyerahkan bukunya di hadapan Kennan, "Ini... Tita pusing Bang..."
Kennan terlihat membaca soal di buku pelajaran yang Tita sodorkan dengan seksama.
Beberapa saat kemudian Kennan terlihat mendesah pelan.
"Elo beneran gak bisa apa males?"
"Dua - duanya, hehehehe....", Tita terkekeh.
Pletak.
Kennan menyentil pelan kening Tita, hingga membuat gadis itu harus mengusap keningnya dengan cemberut.
"Makanya rajin belajar, jangan cuma novel wae..."
"Abang juga maen game mulu", Tita memonyongkan bibirnya.
"Tapikan gue bisa, gak kek lo...".
Kennan menguncup bibir monyong Tita dengan jemari tangan kanannya. "Jangan mancing - mancing gue buat nyium"
"Idih... siapa yang mancing seh Bang", Tita menepis pelan tangan kanan Kennan dari bibirnya.
"Mancing tu enakan di kolam biar dapet ikan buat lauk...., bukan di bibir", Tita memberengut.
"Enakan mancing di bibir lah Dek, bisa dapet surga"
"Abaaang gak usah mulai deh....".
Kennan terkekeh.
"Sini.... mana pulpennya", Kennan.
Tita pun menyodorkan pulpen dengan buku tulis ke hadapan Kennan.
"Liat sini, biar paham!", perintah Kennan dengan mengetukkan pulpen pada buku tulis Tita yang masih kosong. Titapun pun menumpukan kedua tangannya pada meja lalu memperhatikan tangan Kennan yang mulai menulis angka - angka pada buku tulis Tita.
Dengan telaten Kennan menunjukkan langkah pengerjaan soal alogaritma yang tidak Tita pahami.
Mulai dari langkah awal hingga penghitungan, Kennan menjelaskan dengan rinci. Titapun mengangguk berulang secara perlahan, sedikit demi sedikit otaknya mampu menerima penjelasan Kennan.
Bagaimana abang yang terlihat tidak pernah menyentuh buku dan bahkan selalu saja bermain game di sela waktu luangnya ini bisa dengan mudah menjabarkan penyelesaian soal alogaritma dengan mudah. Bahkan penjelasannya sangat Tita pahami tidak seperti penjelasan dari guru di kelas yang membuat pening, Tita membatin.
Hingga tanpa sadar pandangan mata Tita sudah beralih dari buku tulisnya menjadi memandang intens wajah tampan suaminya yang masih menjelaskan cara pengerjaan PR Tita dengan rinci.
Tita bahkan tersenyum tipis saat memperhatikan setiap inci wajah tampan Kennan yang selalu saja membuatnya terpesona dan memberi efek rona merah pada kedua pipinya. Bahkan soal matematika yang menurut Tita sangat susah itu tidak membuat dahi suami tampannya itu mengerut sedikitpun. Dengan santai seperti di luar kepala Kennan menjelaskan dengan lancar.
Tita pun tidak berhenti menyunggingkan senyum di bibir pinknya sambil memandang lekat suaminya.
Kedua mata yang dulu sering menatapnya tajam nan dingin itu ternyata memiliki bulu mata yang lentik. Kedua alisnya tebal, sepertinya itu yang membuat wajah suaminya itu terlihat dingin dan terkesan sombong.
Hidungnya.... Masya Allah kenapa ada hidung setinggi itu, keknya bisa buat prosotan deh...., Tita membatin hingga membuat senyumnya tetap tercetak di bibir pinknya.
Tita semakin menelisik wajah tampan Kennan hingga dirinya menatap bibir Kennan yang berwarna merah terang, sepertinya lintingan tembakau yang digilai anak remaja zamam sekarang tidak pernah mampir pada bibir merahnya.
__ADS_1
Tanpa sadar Tita meraba bibirnya sendiri saat menelisik bibir merah Kennan.
Lalu....
Bibir ini yang sudah membuat bibirku merasakan manisnya ciuman, batin Tita berucap dengan ujung jemarinya terulur begitu saja mengusap bibir Kennan perlahan.
Kennan yang merasakan sentuhan pada bibirnya otomatis menghentikan tangannya yang sedari tadi tidak berhenti menulis deretan angka pada buku tulis Tita.
Dengan menumpukan kepala pada tangan kirinya dan memutar pulpen di tangan kanannya, Kennan memandang Tita yang sedang senyum - senyum sendiri memandang bibir Kennan dengan ujung jemarinya masih meraba bibir Kennan perlahan.
"Terpesona sama wajah tampan gue kan Dek....".
Tita spontan memelototkan matanya, kemudian tersenyum kikuk dengan menundukkan wajahnya saat menyadari perlakuannya pada suami dingin yang setiap saat bisa berubah menjadi mode mesum tingkat dewa itu. Tak lupa Tita menarik jemari tangannya dari bibir Kennan.
Kennan mendekatkan wajahnya pada wajah isterinya.
Fyuuh....
Kennan meniup poni Tita hingga membuat helaian poni itu tersibak, Titapun mendongakkan kepalanya.
"Elo kangen sama bibir gue kan...", ucap Kennan tepat di depan wajahnya yang hanya tinggal beberapa centi.
Hembusan aroma mintz dari mulut Kennan, mau tak mau membuat kelopak mata lentik Tita mengerjap. Wajahnya menghangat, sudah dapat dipastikan wajahnya pasti merah merona saat ini.
Perlahan Kennan mengikis jarak wajah diantara keduanya, dengan senyum yang membuat Tita terpesona. Kennan menelisik dan memandang bibir Tita lekat.
Melihat wajah suaminya yang terlihat dalam mode mesum, sudah dapat dipastikan Kennan akan mencium dan melahap bibir Tita sekarang. Bagaimana ini... Tita ntar pasti malu. Hingga tanpa sadar pun menggigit bibir bawahnya, kemudian refleks memejamkan mata. Tita tak ingin dirinya malu saat Kennan menciumnya bibirnya nanti.
Sedetik.... dua detik berlalu Tita tidak merasakan apapun pada bibir maupun wajahnya, hingga...
Wuzzz....
Hembusan nafas hangat menerpa wajahnya, Titapun membuka matanya. Terlihat wajah Kennan masih di depannya dengan kedua tangan menopang dagunya.
"Ngarep gue cium kaan..." Kennan dengan tersenyum menggoda Tita.
Blusshhh...
Wajah Tita kembali merona disertai dengan rasa malu yang tidak dapat disembunyikannya. Bagaimana bisa dirinya berfikir suami kulkas dua pintunya itu akan mencium bibirnya dan dengan pede menutup matanya.
"Abaaang... gak gitu Tita cuma_"
"Cuma ngarep ciuman sama gue kan....", Kennan terus saja menggoda Tita.
"Selesain PR nya dulu, kalo dah selesai tar lo bisa puas - puasin nyium gue", Kennan terkekeh lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Abang mau ke mana?"
"Ambil minum bentar"
Sepeninggal Kennan Tita merutuki kebodohannya. Seharusnya dirinya tidak berfikir kalau suaminya tadi ingin menciumnya.
Arrgghhh...
"Bodoh - bodoh, kok bisa jadi mesum gini sih ini otak.... bikin malu wae". Tita menepuk kedua pipinya yang memanas berulang.
Kemudian meraih alat tulisnya kembali untuk menyelesaikan soal pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru mapel matematika yang terkenal disiplin di sekolahnya.
"Nih teh anget.... minum dulu", Kennan menaruh secangkir teh hangat di meja belajar Tita lalu mendudukkan diri pada kursi yang tadi sempat di tinggalkannya.
"Makasih Bang...". Tita tersenyum manis lalu meneguk sedikit teh hangat pemberian Kennan.
"Dah selesai?", tanya Kennan pada Tita.
"Belum... dikit lagi", Tita menyahut kembali menggerakkan pulpen untuk menulis deretan angka pada buku tulisnya.
"Ada yang gak paham lagi nggak?"
"Sementara masih paham, tar Tita tanya lagi kalo gak paham"
"Hem". Kennan meraih lembaran kertas hvs yang berserakan di atas meja belajar Tita. Mengumpulkan satu persatu lembaran kertas putih yang berisi coretan seperti sebuah sketsa, desain baju lebih tepatnya.
Dengan membolak - balikkan kertas di tangannya Kennan bertanya, "Ini gambar lo?"
Tita menghentikan sejenak tugas rumahnya lalu mendongak pada Kennan. "Iya"
__ADS_1
"Lo suka gambar?"
"Ya... iseng kalau lagi gabut. Buat merefresh otak Bang"
"Iseng aja bagus..." Puji Kennan dengan melihat satu persatu sketsa gambar Tita yang menurutnya cukup bagus bahkan desainnya inovatif. Meski gambar desain Tita adalah gamis namun sepertinya akan sesuai dengan selera anak muda.
"Apa gue bikinin butik baju muslim aja ya...", Kennan berucap dalam hati dengan tak henti membolak - balikkan gambar sketsa milik Tita.
"Ah... Karna Tita isteri Abang, makanya Abang bilang bagus. Iya kan...", Tita tersenyum tersipu.
"Enggak... beneran bagus kok", pujian Kennan semakin membuat Tita tersipu malu.
"Elo pengen jadi desainer gitu?"
Tita menggedikkan bahunya, "Entahlah"
Kennan mengerutkan dahinya, "Kok entahlah sih Dek, emang cita - cita lo apa?"
"Gak tau"
Kennan semakin bingung dengan jawaban isterinya. "Lah..... mosok udah segede gini gak tau cita - citanya, bukane dari kecil harusnya udah punya bayangan pengen jadi apa gitu....", Kennan berucap sembari menyampirkan helaian surat hitam Tita pada telinganya dengan lembut.
Tita tersenyum kecil.
"Dulu pernah punya keinginan jadi dokter Bang, mungkin karena melihat nenek sering sakit - sakitan. Tapi seiring waktu keinginan itu menguap gitu wae, lagian otak Tita gak mampu keknya", jelas Tita masih dengan menyelesaikan PRnya sambil menahan dadanya yang mulai berdetak mendapati tangan kiri Kennan yang tak henti memainkan surat hitam panjangnya serta pandangan mata yang sepertinya menelisik wajahnya.
"Rajin belajar lah Dek biar bisa, lagian lo tu keknya banyak malesnya aja. Buktine itu bisa kan....?!", Kennan melirik Tita yang sudah mengerjakan PRnya dengan benar padahal dirinya hanya sedikit memberikan penjelasan dengan tak berhenti memainkan surai hitam dan sesekali mengendus wangi shampo strawberry yang Tita gunakan.
Tita terkekeh, "Ini bisa kan karena dijelasin sama suami Tita yang ganteng. Coba kalau Pak Harun yang brewokan dan galak itu yang jelasin, gak masuk otak Bang"
"Jadi ngakuin nih ceritanya kalau gue ganteng....", Kennan mulai menggoda Tita.
"Idih muncul deh narsisnya"
"Gak narsis Dek, emang beneran ganteng kan", Kennan menyeruput teh hangat yang mulai mendingin yang tadi dibawakannya untuk Tita.
"Loh Bang.... kok diminum, itu kan bekas Tita?!"
"Emang kenapa kalau bekas lo?", Kennan bertanya sembari menaruh gelas ke atas meja.
Tita meraba bibirnya, "Kan ada bekas..."
"Bekas bibir lo... gitu kan maksud lo..."
Tita mengangguk mengiyakan.
"Menikmati langsung wae udah sering apa lagi cuma bekasnya kek gini mah gak papa lagi Dek..... anggap wae pemanasan, iya kan.... ", Kennan mengedipkan sebelah mata menggoda Tita.
Tita pun mencebik.
"Udah selesai Dek?", tanya Kennan saat mendapati Tita menutup buku dan memasukkan ke dalam tas punggungnya.
"Udah"
Kennan merapatkan duduknya.
"Kalau gitu dah bisa mulai dong"
"Mulai apaan Bang?", tanya Tita polos.
"Olah raga malem...."
π¨π¨π¨π¨
Yang kangen sama Bang_Kenn sama neng Tita, nich othor kasih bonus pic yak.....ππππ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1