
"Uluh... uluh.. galak banget sih ini anak." Naura mencubit gemas kedua pipi Keanu.
"Ish... atit tauk." Keanu menepis tangan Naura dari pipinya galak.
"Pas hamil, mbak Tita pasti benci banget sama abang ini. Maka hasilnya duplikat kek gini. Iya kan mbak?"
"Enggak gitu dek." Tita dengan menggoyangkan tangan canggung, ekor matanya melirik Kennan yang memberikan tatapan tajam pada Naura.
"Nggak usah nyangkal mbak, semua juga tau abang gimana dari orok." Naura seakan tak peduli dengan tatapan tajam kakak lelakinya.
"Ra, udah masuk ke dalem sana." perintah bunda lembut. "Ajak ponakan kamu ke dalem, bunda mau lanjut ngomong sama abang."
"Kenapa emangnya? Bunda sama ayah mau ngeloundry abang?" Naura dengan santainya.
"Cucian kotor kali pakek diloundry segala." timpal ayah dengan memukul pelan bahu putrinya.
"Otak abang kan emang kotor perlu dicuci, kalau perlu dikasih pemutih." Naura beranjak berdiri, tanpa peduli dengan Kennan yang semakin kesal.
"Lets go boy, girl kita maen aer di belakang yuk." Naura mengangsurkan kedua tangan pada kedua ponakannya.
Kenina beranjak, meraih tangan Naura sedangkan Keanu masih di tempatnya.
"Kean ayok." Naura dengan meraih tangan mungil bocah lelaki jiplakan sifat kakak lelakinya.
Lelaki kecil itu menggeleng. "Ndak au, anu mau sini ja. Jagain unda."
"Lah ngapain bunda dijagain sayang bunda udah gede. Ayok." bujuk Naura.
"Ndak au." Keanu kekeuh.
"Kean maen dulu sama kakak sama tante gih." Kali ini sang nenek yang membujuk.
"Ndak au. Anti unda ilang dibawa oyang jeyek itu gimana?"
Ucapan Keanu membuat kakek nenek serta tantenya tersenyum lucu. Sedang Kennan mengeram kesal dan mendapat usapan lembut dari Tita pada punggung belakangnya.
Tita tau Kennan sangat kesal, tapi mau gimana lagi anak lelakinya itu memang memiliki turunan sifat sang suami. Bukan Tita tidak mengajari hal baik pada Keanu selama ini, namun tetap saja butuh usaha keras untuk membengkokkan sifat turunan Kennan dari putra kecilnya tersebut.
Dan lagi faktor kedekatan Alex yang memanjakan Keanu, membuat putra kecilnya itu sedikit susah dikendalikan.
Naura merendahkan tubuhnya, seraya berbicara pelan.
"Eh kita maen air di belakang dulu, biar orang jeleknya dimarahin sama Eyang. Biar dia tau rasa."
__ADS_1
"Benel begicu?" Keanu seakan tak yakin.
"Iya bener. Biar nanti eyang pukul itu orang jeleknya biar makin jelek. Biar Keanu jadi yang paling cakep gak ada saingan" bujuk Naura gak ada akhlak.
Keanu terlihat berfikir.
"Iya ya nanti anu jadi paling cacep. Iya kan Tung?" Keanu menoleh kearah kakeknya meminta persetujuan.
"Iya." Ayah Kennan hanya bisa menggelengkan kepala lirih melihat kelakuan putri bungsunya yang meracuni otak cucunya.
Keanu pun beringsut, turun dari sofa. Dia mengabaikan Naura dengan berjalan di depan lebih dulu.
"His... ini anak kecilnya udah ngeselin. Moga besar nanti dia nggak nyebelin kek bapaknya ya Allah." Naura melakukan gerakan seolah berdoa.
Buk!
Bunda memukul belakang tubuh Naura saat berjalan melewatinya. Beruntung rok yang dipakai Naura berbahan jins tebal serta panjang jadi pukulan bunda tidak terasa oleh tubuh Naura.
Untuk itu Naura tetap melenggang pergi tanpa peduli.
Sepeninggal Naura.
"Abang sekarang mengerti salah abang di mana?" Bunda dengan menurunkan intonasi suaranya yang beberapa saat lalu sempat meninggi.
"Mengerti Bun." Lirih Kennan dengan menunduk. Kedua matanya terasa panas, ingin rasanya menangis meraung menyesali apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Namun entah mengapa Kennan tak sanggup beranjak dari duduknya untuk mendekati sang bunda.
"Abang masih berfikir jika ayah dan bunda ikut andil menyembunyikan Tita dari abang?"
Kennan tersentak karena bunda seperti bisa membaca pikirannya.
"Enggak." lirih Kennan dengan menggelengkan kepala.
"Dulu bunda memberikan abang kesempatan hidup berpisah dengan bunda karena bunda ingin abang dan Tita saling terbuka. Belajar menjalani rumah tangga tanpa campur tangan kami sebagai orang tua. Dengan catatan abang selalu jujur sama bunda tapi apa yang terjadi abang tetap saja keras kepala dengan jalan pikiran abang sendiri kan?!"
Lagi Kennan hanya diam menunduk, penyesalannya semakin dalam.
"Beruntung Tita masih mau kembali untuk mengenalkan cucu cucu bunda. Coba kalau Tita juga berfikir egois menjauhkan mereka dari keluarga, dan tetap salah paham denganmu, abang gak bakal bisa bertemu mereka selamanya. Abang juga nggak bakalan berkunjung ke rumah ini kan bang?" Bunda kembali dengan menaikkan intonasinya.
Ayah yang semula hanya diam saja. Kembali mengusap punggung sang isteri. Sebagai suami, ayah sangat tahu kesedihan yang dialami sang isteri saat itu.
Sang menantu pergi tanpa pamit dan anak lelaki semata wayangnya memutuskan pergi dari rumah tanpa sekalipun memberi kabar kepada mereka. Kennan selalu sengaja menghilang dan memutuskan hubungan keluarga.
Bunda menghembuskan nafas panjang untuk meredakan gemuruh di dada.
__ADS_1
"Maaf bun, di sini bukan cuma mas yang salah, Tita juga salah karena nggak berbagi cerita sama bunda. Coba dulu Tita tidak mengedepankan emosi, semua ini nggak mungkin terjadi." Tita d3ngan hati hati.
Bunda tersengih, memukul dadanya yang sesak. Ekor matanya melirik ke arah Kennan yang hanya diam menunduk. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Mas minta maaf sama bunda gih." Tita dengan berbisik pada Kennan.
Kennan menyusut sudut matanya yang berair, lalu menegakkan kepala setelah mendengar bisikan sang istri. Tampak jelas Kennan telah menangis sebelumnya.
Bruk!
"Maaf bun..." Kennan dengan memeluk erat tubuh paruh baya yang sesungguhnya sangat ia rindukan.
"Abang salah telah mengabaikan bunda juga ayah." Kennan terisak dalam dada sang bunda.
Bunda tersenyum dengan berkaca kaca, membalas pelukan sang anak tak kalah erat.
Sesungguhnya hanya pelukan rindu inilah yang diharapkan sang bunda sedari awal pertemuan mereka. Namun karena Kennan yang tidak peka membuat bunda meluapkan kemarahannya.
"Bunda juga minta maaf sama abang." Bunda dengan mengusap punggung Kennan yang semakin lebar. Karena telah tumbuh menjadi lelaki dewasa.
Tita dan ayah pun tersenyum lega. Mereka memandang haru antara Kennan dengan sang bunda.
Karena sesungguhnya yang diinginkan mereka adalah meluapkan rasa rindu yang selama ini terbendung oleh ego.
πππ
"Dek." Kennan dengan menatap teduh manik hitam sang isteri.
"Apa?" Tita menatap Kennan tak kalah teduh.
Keduanya saat ini berada di dalam kamar Kennan yang dulu, di rumah besar keluarga Atmadja.
Posisi Tita saat ini duduk di tepi ranjang sedangkan Kennan berlutut di depannya.
"Aku minta maaf karena tidak jujur dan membuatmu salah paham. Aku telah menyakitimu." Kennan sungguh sungguh.
"Tita sudah memaafkan abang setelah Tita tau semua ceritanya dari bunda."
"Sungguh?!" Kennan seakan tak percaya.
"Tidak udah mengingat yang lalu, toh semuanya hanya salah paham. Lagian Tita juga salah." Tita mengusap lembut surai hitam sang suami.
"Makasih dek." Kennan dengan menyusupkan wajah pada perut Tita lama. Tak lama kemudian bergerak mengendus perut sang istri hingga membuat Tita menggelinjang geli.
__ADS_1
"Mas."
π¨π¨π¨π¨