
"Kamu Andra dan juga terutama Sisil... kalian harus meminta maaf kepadanya." Kepala sekolah menunjuk pada Tita.
Andra memejamkan kedua matanya sesaat sembari menghirup oksigen dalam dalam.
Bukannya berat untuk meminta maaf kepada gadis yang telah mengisi hati dan berharap dapat dimilik olehnya tersebut, melainkan kenyataan bahwa gadis itu tidak akan pernah bisa diraihnya adalah kenyataan paling berat untuk dihadapinya.
Andra pun akhirnya mengucapkan permintaan maaf kepada Tita di depan kepala sekolah dan anak osis lainnya.
"Maaf... karena aku, kamu harus mengalami kejadian tidak menyenangkan kemarin." Andra berucap dengan sungguh sungguh, karena dia sangat menyesal.
"Tita sudah memaafkan, bahkan Tita sudah tidak mengingat kejadian itu lagi." ucap Tita dengan tersenyum tulus.
Disusul dengan Sisil dengan raut wajahnya yang masih terlihat kesal. Kemudian anak anak osis lainnya.
Tita pun memberikan maaf dan mengatakan jika sudah melupakan kejadian tersebut, berharap untuk ke depannya tidak ada kejadian serupa yang merugikan orang lain.
"Elo memang gadis yang luar biasa dek, gak salah bunda milih lo buat jadi isteri gue. Gue janji bakal jagain elo dengan sepenuh hati gue..." ucap Kennan dalam hati dengan tidak berhenti memandangi Tita.
Dan itu tidak lepas dari pandangan Andra, membuat hati Andra semakin teriris pedih. Apalagi ucapan Kennan yang mengatakan bahwa Tita adalah isterinya kembali terngiang di telinganya.
Pupus sudah harapannya untuk memiliki gadis itu.
"Karena Tita sudah memaafkan, maka Tita juga Kennan boleh kembali ke kelas masing masing. Anak anak yang lain juga, namun Andra dan Sisil tetap di sini dulu. Kalian berdua berdua harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian."
Anak anak osis mulai keluar sedangkan Tita masih terlihat berdiri di sana.
Kennan yang saat itu hendak berbalik badan menuju pintu keluar, memilih berjalan mendekati Tita. Tangan kekarnya meraih salah satu pergelangan tangan Tita. "Ayok keluar, udah selesai Dek." ajak Kennan sedikit berbisik.
"Bentar Bang." tolak Tita dengan lirih sembari sesaat memandang Kennan dengan pandangan yang sedikit terlihat kesal.
Kennan menghela nafas sesaat. "Pasti marah sama gue!"
Kennan akhirnya mengurungkan niatnya untuk keluar ruangan. Kennan memilih menemani Tita di sana, dengan berdiri di sampingnya.
"Kenapa kalian berdua tidak keluar." tanya kepala sekolah saat melihat Kennan dan Tita masih berdiri di sana.
"Maaf Pak... bukannya saya mengabaikan keputusan sekolah. Namun saya sudah memaafkan atas kesalahan mereka, kenapa sekolah masih memberikan mereka hukuman?" Tita memberanikan diri untuk bertanya.
Jika memang suaminya telah melaporkan pada kepala sekolah Tita sudah menerima, karena semua sudah terjadi. Meskipun dalam hati dirinya sangat menyayangkan keputusan sang suami.
Akan tetapi untuk hukuman, Tita tidak ingin jika mereka harus mendapat hukuman tidak boleh mengikuti ujian seperti yang diungkapkan Kennan.
Tita tidak ingin jika mereka harus mengulang sekolah satu tahun lagi.
Bapak kepala sekolah tersenyum tipis.
"Kesalahan mereka memang telah kamu maafkan, akan tetapi kelalaian mereka harus dipertanggungjawabkan nak."
"Apakah bapak akan memberikan hukuman dengan melarang mereka mengikuti ujian kelulusan sekolah?" tanya Tita khawatir, karena memang itulah hukuman yang pernah diucapkan oleh Kennan.
Kembali kepala sekolah tersenyum, kali ini dengan kedua sudut bibir yang terangkat lebih lebar.
"Tidak, bukan hukuman seperti itu."
"Benarkah Pak?" Tita terlihat kurang yakin dan terlihat masih mengkhawatirkan Andra dan Sisil.
__ADS_1
"Benar." Bapak kepala sekolah mengangguk mengiyakan.
"Jangan kuatir, sekolah tidak sekejam itu. Tapi mereka tetap harus mendapatkan hukuman yang sesuai dengan kesalahannya." kepala sekolah berusaha menghilangkan kekhawatiran Tita.
...ππππ...
"Bang..."
Kennan yang berjalan sedikit di depan Tita, menoleh ke belakang saat mendengar panggilan sang isteri.
"Ada apa?" tanya Kennan dengan menghentikan langkah kakinya.
Tita mensejajarkan posisinya dengan Kennan.
"Kenapa abang melakukannya?"
Kennan mengerutkan dahi bingung saat mendengar pertanyaan Tita.
"Gue ngelakuin apa Dek?"
"Abang gak usah pura pura gak tau, gak lucu tau nggak!" Tita sedikit ketus.
"Tapi gue beneran gak tau maksud lo Dek."
Tita menghela nafas kasar.
"Bagaimana bisa sekolah memanggil kita semua, kalau abang gak melaporkannya. Bukane abang udah janji sama Tita?!" masih dengan nada ketus, tita berucap dengan menatap kesal pada Kennan.
"Gue gak laporin, gue pegang janji gue. Gue juga gak tau siapa yang melapor Dek."
"Bukan gue... beneran... sumpah!!"
"Udah... abang jujur aja."
"Bukk..." ucapan Kennan terjeda karena tiba tiba
sebuah suara bariton terdengar menginterupsi.
"Aku yang melapor ke sekolah."
Kennan dan Tita serempak menoleh ke arah asal suara.
"Andra..." kaget Tita.
Sedangkan Kennan terlihat tidak peduli, malah terlihat seperti masih membenci ketua osis tersebut.
"Aku yang melapor, bukan Kennan." kembali Andra meyakinkan Tita.
"Kenapa?" Tita terlihat bingung.
"Karena gue memang harus bertanggung jawab atas peristiwa itu."
"Sukur kalau sadar diri." ucap Kennan sinis tanpa mau memandang Andra.
"Bang... gak boleh gitu." Tita mengingatkan Kennan.
__ADS_1
Andra menghirup udara sesak. Nyatanya memang sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya mendapatkan Tita.
"Ta... bisa kita bicara berdua sebentar?" tanya Andra memberanikan diri, mengingat saat ini Kennan berada di sana.
"Gak boleh, ngapain lo ngajakin isteri gue ngomong berdua segala. Mau apa lagi lo?!" tatap Kennan tajam pada Andra.
"Bang... jangan gitu." Tita memegang lengan Kennan dan mengusapnya pelan, seolah memberikan ketenangan pada singa yang hendak menerkam mangsanya.
"Aku mohon Ta, sekali ini aja kita ngomong berdua." ucapan Andra terdengar mengiba dan tanpa menghiraukan Kennan yang kedua matanya menatap tajam kepada dirinya.
"Bang... Tita izin sekali ini aja ya?" Tita memohon pengertian Kennan.
Kennan menatap Tita dengan tatapan tidak rela. Banyak hal yang ditakutkan oleh Kennan, bukan hanya takut hati Tita yang akan terbagi karena dirinya pernah mendengar bahwa keduanya pernah punya rasa. Melainkan Kennan juga takut jika si ketua osis tampan itu akan melakukan tindakan yang akan menyakiti Tita.
Anggap saja diri Kennan berlebihan, namun jujur saja itu adalah yang dipikirkannya saat ini. Kennan tidak mau terjadi hal hal yang tidak diinginkan olehnya menimpa Tita.
Siapa tau saja mantan ketua osis yang bertubuh jangkung dengan wajah yang tak kalah tampan dari Kennan tersebut akan berbuat jahat pada Tita. Kita tidak bisa mengetahui dalamnya hati orang bukan...?!!
"Kalau terjadi apa apa sama lo gimana Dek?" Kennan tetap saja khawatir pada Tita.
Tita tersenyum tipis, hatinya menghangat saat melihat kekhawatiran pada pancaran mata suaminya.
Tita memegang pergelangan tangan Kennan. "Terima kasih abang kuatir sama Tita, tapi ini di sekolah Bang... Andra gak bakalan macem - macem." Tita meyakinkan Kennan dengan berucap selembut mungkin.
"Tapi Dek... gue ..."
"Abang percaya sama Tita, yah..."
Kennan menarik nafas kuat lalu melepaskannya dengan perlahan.
"Baiklah lima menit." putus Kennan cepat.
Andra melebarkan kedua matanya.
"Bang..." Tita memohon karena tidak terima dengan waktu yang diberikan oleh suaminya.
"Baiklah setengah jam, cukup kan?" Andra mengalihkan pandangan ke arah Andra seakan memberitahu pada cowok itu, mau atau tidak sama sekali.
Andra menghembuskan nafas, pasrah. "Baiklah."
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1