Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
162. Sisil??


__ADS_3

"Nou ...!!" teriakan Kennan menggema saat memasuki rumah besar keluarga Atmadja tanpa mengucapkan salam.


Naura yang merasa suara menyebalkan abangnya memanggil namanya, berjalan keluar dari dapur dengan berucap kesal.


"Abang jangan teriak - teriak kek tarzan, ini di rumah bukan di hutan!"


"Masuk rumah gak ngucapin salam malah teriak - teriak, ada apaan sih. Budeg nih telinga gue." Naura menggerutu saat sudah berhadapan dengan sang abang.


Hehehe ...


"Sori Nou, habisnya sepi banget sih. Dipanggil - panggil gak ada yang nyaut. Pada kemana sih, mana pintu depan kebuka lagi ..." Kennan terkekeh dengan mengacak pucuk rambut hitam adeknya.


Naura pun dengan cepat mengahalau tangan Kennan agar tidak semakin merusak tatanan rambutnya yang baru kemarin mendapatkan perawatan.


"Abang ish ... habis nyalon ini." geram Naura dengan menangkis tangan kekar abangnya karena Kennan berusaha mengacak rambut hitamnya kembali.


"Ciee ... kecil - kecil udah genit wae ini anak. Pakek nyalon segala." Kennan menggoda sembari melanjutkan langkah kakinya menuju dapur tanpa rasa bersalah.


"Ngapain abang teriak - teriak manggil Rara?" tanya Naura masih terdengar kesal, sembari mengambil duduk di kursi makan yang berhadapan dengan sang abang.


Kennan yang memandangi menu makanan di atas meja, menghela nafas pelan. Ternyata menunya tidak menggugah selera. Entah karena memang menunya tidak sesuai harapannya atau mungkin karena tidak bernafsu efek ditinggal oleh Tita.


"Lo ada acara gak hari ini?" tanya Kennan langsung.


Naura mengerutkan alis matanya.


"Kenapa emangnya?"


"Temenin gue jalan."


Hah ... kedua pasang mata Naura membola. Tumben tumbenan abangnya yang sok cool dan sok kegantengan itu mengajaknya jalan.


"Abang marahan sama mbak Tita, ada masalah?" tanya Naura menyelidik.


Kennan menggeleng.


"Dia lagi ada acara gathering ke Kaliurang." jawab Kennan lesu.


"Abang gak ngekor?" Naura tahu bagaimana posesifnya Kennan pada kakak iparnya.


"Gak. Itu acara anak osis, gue gak bisa ngikut."


"Oww ... pantesan gak pegang buntut mbak Tita." sahut Naura dengan nada mengejek.


"Emang bini gue sapi, pake dipegang buntutnya." Kennan menggerutu kesal.


"Lah biasanya juga gitu kan?! Gak mungkin biarin mbak Tita pergi sendiri apalagi sama teman - temannya. Elo takut mbak Tita ilang kan Bang, udah cinta mati kan lo?!"


"Ck ... anak kecil sok tau lo!" Kennan ketus.

__ADS_1


"Gue udah remaja, bentar lagi juga bisa kawin kek abang."


Pletak.


Kennan menjitak kening adeknya hingga membuat empunya mengerucutkan bibir sembari mengusap keningnya yang terasa panas.


"Anak kecil ngomongin kawin, belajar dulu sono biar otaknya gak bebal." Kennan menatap tajam adek perempuannya.


"Ck ... sadis lo Bang! Sama adek sendiri jugak."


"Justru karena lo adek gue makane gue ingetin."


"Tapi kan enggak dengan kdrt juga Bang." Bibir Naura masih dengan menggerutu kesal.


"Temenin gue ya Nou?!" Kennan mengabaikan kekesalan adeknya.


"Gak mau! Jalan sono sama temen - temen abang." Naura menolak tegas.


"Temen gue pada punya acara dewe, gue gabut nih." Kennan memelankan suaranya.


"Rasain! Nikmati kesendirian lo Bang." Naura mengejek.


"Nou ... ayolah ... Ngemoll deh, gue traktir." Kennan memohon.


"Ogah!" tegas Naura dengan bersidekap dada.


Naura seolah berfikir, bingung memilih meninggikan rasa kesalnya atau atm Kennan yang telah ditaruh di atas meja.


"Gimana?" Kennan menggoda.


Naura memincingkan sudut matanya. Rasa hatinya tergiur akan tawaran sang kakak.


Setelah beberapa saat berfikir. Naura langsung meraih atm milik Kennan dari atas meja dengan cepat. Kapan lagi dirinya berkesempatan menguras atm milik abangnya yang sok cool dan sok kegantengan itu.


Kennan pun tersenyum penuh kemenangan. Gampang memang membujuk adek perempuannya yang tidak bisa menolak uangπŸ˜‚


...🍭🍭🍭🍭...


"Sin ..." Tita memanggil temannya yang sedang duduk pada kursi bus dengan menunduk karena sedang berbalas chat pada ponsel pintarnya.


Sinta tak lain adalah teman Tita yang menjadi sejawatnya saat menjabat sebagai sekretaris osis periode yang lalu.


Saat ini Sinta masih menjadi anggota osis pada periode yang baru, sedangkan Tita yang sudah duduk di kelas XII sudah harus pensiun untuk lebih fokus pada ujian yang sudah mengahadang di depan mata.


Sinta yang merasa dipanggil pun mendongak, lalu tersenyum saat melihat kakak kelasnya itu tersenyum di hadapannya.


Sinta kemudian menggeser duduknya untuk mempersilahkan seniornya iitu duduk.


"Sinta, kalau boleh aku aja yang duduk dekat jendela ya?" Tita bertanya.

__ADS_1


Sinta yang baru saja hendak berpindah urung melakukannya. "Boleh kok kak."


Setelah Sinta memperbolehkan dan menggeser kakinya menyamping untuk memberi jalan, Tita pun segera mendudukkan diri pada bangku dekat jendela.


"Makasih ya Sin, udah ngerepotin kamu." ucap Tita dengan senyum ramah.


Sinta membalas senyum yang diberikan oleh kakak seniornya itu disertai dengan anggukan. "Gak ngerepotin kok kak, santai wae."


Beberapa saat setelahnya bus terlihat semakin penuh karena semua siswa yang mengikuti kegiatan osis sudah memasuki bus.


Setelah Andra sang mantan ketua osis yang berlaku sebagai penanggung jawab selesai mengabsen satu persatu peserta, bus pun mulai bergerak meninggalkan pelataran sekolah.


Andra berjalan ke belakang, sesaat manik matanya menatap gadis yang selama ini memenuhi seluruh ruang di hatinya.


Set.


Tita pun tak sengaja memandang pasang mata Andra yang mengarah padanya. Buru - buru Tita memalingkan wajahnya mengahadap ke luar jendela bus untuk memutus pandangan keduanya.


Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Tita saat menatap pasang mata mantan ketua osis yang pernah mengisi relung hatinya dulu. Mata itu tetap saja meneduhkan, sorot matanya bahkan tidak berubah. Masih saja mengharapkan dirinya.


Tita menghirup oksigen sesak kemudian menghembuskannya pelan. Tita masih enggan berpaling dari kaca jendela bus yang menampilkan bayangan gedung - gedung yang seolah berlari semakin menjauh.


Tita memilih membuang pandangannya ke luar hingga sosok ketua osisnya itu berlalu melewatinya lalu mendudukkan diri pada bangku yang terletak tepat di belakangnya.


Perjalanan pun semakin menjauh dari pusat kota untuk menuju tempat tujuan yaitu area outbond yang terletak di daerah Kaliurang yang lumayan bersuhu dingin, karena terletak di kawasan lereng Merapi.


Panitia memilih tempat itu dengan alasan cocok untuk melakukan kegiatan gathering atau outbond di sana. Areanya yang luas mampu memberikan oksigen gratis bagi para pengunjung. Suasananya juga sejuk, asri dan sangat menentramkan jiwa. Sungguh sangat cocok untuk melakukan kegiatan outbond yang disertai dengan games yang mengasyikkan setelah penat melakukan kegiatan sekolah yang sangat padat.


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya rombongan pun tiba di tempat tujuan. Lokasinya cukup strategis, masih bisa dijangkau oleh kendaran bermotor roda dua maupun bigbus, seperti bus ang mereka kendarai saat ini.


Satu persatu para peserta turun dari bus, sebagian melemaskan otot badan yang kaku karena duduk cukup lama dalam kendaraan dan sebagian lagi asyik mengabadikan pemandangan indah yang menyejukkan mata dengan ponsel pintarnya.


Tita yang termasuk siswa yang turun paling akhir, merentangkan kedua tangan dan menghirup oksigen banyak dengan menutup kedua kelopak matanya. Seakan menikmati sejuknya udara tanpa polusi yang tidak bisa di nikmatinya setiap saat ketika berada di kota.


Setelah puas menghirup oksigen banyak, perlahan membuka kedua matanya.


Deg.


Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendapati sosok gadis yang selalu saja mengganggunya di sekolah.


"Kenapa Sisil ada di sini juga?" gumamnya lirih hingga tiba - tiba saja rasa tidak nyaman menelusup relung hatinya.


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like, vote, rate n komen yakk biar othor makin semangat nulisnya nih.


Tengyu so much karena telah merelakan jari lentiknya mengetik tombol like buat karya receh othor 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2