
"Muka lo kenapa Kapt... lesu amat?" Aldi tanpa basi basi bertanya pada Kennan yang terlihat sangat lesu, bahkan terlihat sangat malas karena Kennan meletakkan kepalanya di atas meja. Sebuah perilaku yang tidak pernah Kennan lakukan selama ini.
Lalu setelahnya Aldi menghempaskan tubuhnya di bangku sebelah Kennan.
"Lagi puasa." Kennan masih dengan lesu.
Aldi mengernyitkan kening heran. "Puasa...???"
"Puasa apaan... senin kamis gak mungkin..." Aldi seolah berfikir mengingat hari ini yang tidak memungkinkan sang kapten melakukan puasa sunnah tersebut.
"Perasaan bukan saatnya deh..." Aldi masih saja mencoba menerka tentang puasa yang dilakukan sang kapten.
Kennan terlihat tidak peduli dengan kebingungan Aldi, dirinya hanya menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar Tita isterinya. Dengan masih merebahkan kepala di atas meja ibu jari Kennan menggeser layar ponselnya yang sedang membuka galeri foto Tita yang tersimpan di sana.
Sungguh Kennan merasa harinya memburuk setelah perang dinginnya dengan Tita dimulai. Bahkan ini sudah lebih dari seminggu Tita mendiamkannya. Meskipun Tita tetap melakukan tugasnya sebagai isteri menyiapkan semua kebutuhan dan bahkan tetap memasak untuknya namun Tita mengunci mulutnya rapat.
"Elo lagi enggak salah obat kan kept..." Aldi masih saja bingung dan heran dengan jawaban sang kapten yang mengatakan dirinya sedang puasa.
"Enggak." Kennan menjawab dengan enggan, terlihat benar benar seperti sedang berpuasa.
"Ngapain lo duduk di bangku gue, pindah sana..." Bima yang baru saja datang mengusir Aldi yang menduduki kursinya.
"Ck... galak amat sih Ma, kek cewek lagi pms wae." Aldi beranjak berdiri dari kursi Bima.
"Emang gue lagi pms." Bima sekenanya.
"Kalian berdua gak lagi kesambet kan?" Aldi memandang Kennan dan Bima silih berganti.
"Kesambet apaan, emangnya kita berdua kenapa?" Bima bingung.
"Kalian berdua aneh." Aldi.
"Kennan... gue... kenapa?" Bima terlihat meminta penjelasan pada Aldi.
"Elo cowok, pms... dia..." Aldi mengalihkan pandangan ke arah Kennan yang masih setia dengan kepala di atas meja sembari memandangi ponselnya, seolah tidak peduli dengan perdebatan Aldi dan Bima.
"Dia kenapa?" Bima pun memandang Kennan.
"Senin bukan kamis juga bukan... eh bilangnya lagi puasa... Keknya memang ada yang salah sama otak lo berdua." Aldi.
"Puasa?? Puasa apaan?" Meskipun Bima bukan seorang muslim namun dirinya sedikit banyak paham tentang ajaran puasa sebagai seorang muslim, karena dirinyapun telah mempelajarinya.
Aldi menggedikkan bahunya.
"Elo masih perang dingin sama Tita Kenn?" Bima to the point.
Aldi membuka lebar kedua matanya saat mendengar pertanyaan Bima untuk Kennan.
"Mereka berdua lagi marahan?" Aldi meminta penjelasan pada Bima.
Hem... Bima mengangguk mengiyakan.
"Oh... gue tau sekarang. Jadi dia beneran puasa." Aldi menaikturunkan dagunya sembari melirik kearah kapten tim basketnya yang masih setia dengan menggeser gambar Tita pada ponselnya.
"Maksud lo?" Bima bingung.
"Pisangnya yang puasa bukan mulutnya." Aldi.
Bima menautkan kedua alis matanya.
"Cebongnya gak bisa masuk sarang." Aldi terkekeh.
"Haisshh... sialan lo Al..." Bima mencebik.
"Emang itu kebenarannya, iya kan kept..." Aldi dengan menyenggol tangan Kennan dengan sikutnya, namun ternyata malah membuat ponsel Kennan rubuh ke wajahnya.
Kennan sedikit menegakkan kepalanya lalu menatap horor pada Aldi.
"Sorry kept... sengaja." Aldi terkekeh mengejek.
"Ganggu kesenangan gue aja seh lo!" Kennan kesal.
"Udah berapa lama pisang lo gak bisa nyelem kept?" Aldi kepo.
__ADS_1
"Dua minggu." Kennan bersuara.
"Baru juga dua minggu." Aldi dengan senyum mengejek.
"Elo gak tau rasanya Al..." Kennan kembali merebahkan kepalanya ke atas meja.
"Nanti gue pepet Naura biar gue bisa ngerasain penderitaan lo."
Kennan dengan segera menegakkan kepalanya kembali lalu meraih buku di atas meja.
Plak.
Dengan cepat Kennan memukul kepala Aldi dengan buku.
"Adek gue masih piyik..."
"Tapi gue suka." Aldi dengan mengusap kepalanya cemberut.
"Gak bisa, cari cewek lain." Kena menatap horor sahabatnya.
"Gak mau... gue suka yang piyik kek gitu, masih polos." Aldi kekeh tanpa memperdulikan tatapan horor Kennan.
Kennan kembali mengangkat buku dan bersiap memukul Aldi namun sayang Aldi menjauhkan tubuhnya dari Kennan.
"Elo gak tau aja, gue tiap hari ngechat Naura. Anaknya asyik, galak tapi polos. Bikin hati gue gak bisa lepas dari dia." Aldi.
"Gue gak bakal kasih izin lo deketin adek gue." Kennan mengeram.
"Mending gue yang deketin Naura adek elo, entu Bima malah lebih suka berfantasi sama bini lo." Aldi memprovokasi.
Hah...
Kennan membola lalu mengalihkan pandangan horor ke arah Bima.
"Enggak Kenn... Aldi bohong. Gue gak pernah ngelakuin itu." Bima dengan kedua tanggan tidak berhenti bergerak di depan dadanya.
"Ma... elo temen gue kan..." Kennan dengan tatapan menghunus, sedangkan Aldi tersenyum mengejek ke arah Bima.
"Gue cuma pernah bilang ke Aldi gue penasaran sama Kayla."
"So..." Kennan mengintimidasi.
"Gue... gue... waktu itu bilang, Tita ternyata cantik banget pas lepas kerudungnya. Itu membuat gue penasaran sama Kayla cewek inceran gue. Gimana dengan Kayla yang bajunya gombrang banget kek gitu. Dia sama enggak cantiknya sama Tita. Dan waktu itu gue ngomong sama Aldi." Bima menjelaskan dengan hati hati.
Kennan segera berdiri.
Plak... plak...
Kennan memukul Bima dan Aldi bergantian.
"Sorry Kenn... sorry... gue gak bermaksud begitu..." Bima dengan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Hentikan kept... okey gue ngaku salah..." Aldi pun membekap kepala dengan kedua tangannya.
"Hentikan, gue kasih ide biar Tita berhenti ngambek sama lo..." Bima berteriak karena Kennan masih saja memukul dirinya dan Aldi dengan buku secara bergantian.
"Cepet kasih tahu gue ide lo!" Kennan mendudukkan tubuhnya kembali.
"Ajak Tita nonton bioskop, cari film yang romantis."
"Ck... malem minggu masih besok." Kennan terlihat malas.
"Gak usah nunggu malem minggu, langsung wae nanti sepulang sekolah." Aldi menimpali.
Kennan terlihat mengerutkan keningnya.
"Gak usah kebanyakan mikir, gue ada referensi film bagus. Lagi tayang perdana nih... " Bima dengan menskrol ponsel pintarnya.
...ππππ...
Kennan tidak berhenti mengorek tanah dengan ujung sepatunya. Sudah beberapa saat yang lalu dirinya menunggu Tita, namun gadis cantik berkerudung yang bergelar isterinya tersebut belum menampakkan batang hidungnya.
Meraih ponsel dari saku celana lalu mencoba menghubungi kontak isterinya.
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari seberang telfon, hanya nada sambung yang terdengar di gendang telinganya hingga terputus begitu saja. Kennan pun kembali mengulang panggilannya pada kontak isterinya. Lagi lagi tidak ada jawaban dari empunya ponsel, hingga akhirnya ekor mata Kennan menangkap sosok isterinya yang berjalan ke arahnya beriringan dengan Irsyad.
Kennan terlihat memberengut, apalagi Tita terlihat tersenyum senang saat berjalan dengan Irsyad. Entah apa yang mereka bicarakan namun itu cukup membuat wajah Kennan tertekuk kesal.
Tangan Kennan segera meraih handel pintu dan membukanya untuk sang isteri saat sosok yang ditunggunya tersebut mendekati dirinya.
Namun tanpa disangka, Tita memilih membuka pintu mobil bagian belakang dan memasukinya. Mengabaikan Kennan yang masih memegang pintu mobil bagian depan dan memandang Tita bingung.
"Sabar Kenn... jaga jarak biar aman..." Irsyad tersenyum dengan menepuk pundak Kennan kemudian berlalu pergi begitu saja.
Huuhft...
Kennan menghembuskan nafas dalam, menutup pintunya kembali lalu memutar tubuhnya memasuki sisi kemudi.
"Dek duduk di depan wae." Kennan lembut dengan menoleh ke belakang.
"Enggak, enakan di sini." Tita datar dengan memalingkan wajahnya ke luar jendela kaca mobil.
"Gak mau pindah depan?" Kennan masih melembutkan suaranya.
"Enggak." ketus Tita.
Kennan menghembuskan nafas berat lalu menyalakan mesin mobil, menancapkan gas kuat keluar dari parkiran sekolah.
Entah bagaimana lagi cara yang harus dilakukan Kennan untuk membuat Tita kembali baik padanya.
Ini bukan pertama kalinya Tita mengabaikannya setelah petang dingin keduanya.
Pagi tadi pun begitu. Saat itu Kennan telah menyiapkan sepatu untuk isterinya, namun dengan sengaja Tita memilih mengambil sepatu yang lain untuk dipakainya pergi ke sekolah.
"Dek turun dulu, temenin gue beli sesuatu."
Saat ini Kennan tengah memarkirkan mobilnya di pelataran salah satu mall yang cukup besar di Jogjakarta.
"Abang beli sendiri aja, Tita nunggu di mobil." Tita terlihat enggan.
"Ayolah dek... bentar aja." bujuk Kennan lembut. Karena sebenarnya Kennan bukan mengajaknya belanja namun ingin mengajak Tita ke bioskop seperti saran kedua sahabatnya.
"Ogah, Tita capek... abang belanjai sendiri aja." Tita dengan terlihat membuka tas punggungnya.
"Nih buat belanja, atm abang ada di dalem." Tita dengan meletakkan dompetnya di kursi sisi Kennan yang kosong.
"Gue gak butuh itu dek." Kennan datar.
"Itu kan uang abang bawa aja, Tita gak ikut. Lagian biasanya juga Tita yang suruh bayar." Tita terdengar sinis.
"Gue gak butuh duit lo." Kennan dengan menahan emosinya.
"Itu bukan duit Tita, itu milik abang. Tita cuma bantu nyimpen." Tita meninggi.
Brak.
Kennan memukul kemudi dengan keras.
Sesaat Kennan terdiam, menatap lurus ke depan dengan mencengkeram kemudinya kuat.
Lalu setelahnya memutuskan meninggalkan pelataran mall karena Kennan merasa tidak bisa mempengaruhi keteguhan hati Tita yang sedang marah.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ
__ADS_1