Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
EXTRA PART 7


__ADS_3

"Dek."


Kennan dengan menatap intens setiap gerakan Tita yang sedang membereskan peralatan obat yang masih berantakan di lantai.


Hn...


Tita tanpa menghentikan tangannya membersihkan kapas yang berantakan dan merapikan kotak obat yang tadi digunakan untuk mengobati luka luka Kennan.


"Berhentilah. Duduk sini." Kennan dengan menepuk bagian sofa yang kosong di sisinya."


"Sebentar. Nanggung ini." Tangan itu masih saja lincah dan terampil merapikan kotak obat.


Saat ini, hanya ada Kennan dan Tita di ruangan tersebut. Alex telah pergi setelah Tita mencak mencak, mengamuk padanya. Bukannya Tita membela Kennan namun memang dirinyalah yang memilih pergi. Tita tidak ingin kesalahpahaman antara dirinya dan sang suami berlarut larut.


Apalagi sesungguhnya Tita sudah mengetahui semua kebenarannya.


Kennan membuang nafas berat. Ekor matanya tidak pernah lepas dari wanita yang baru ditemuinya setelah sekian lama.


"Jangan liatin kek gitu mas, bikin Tita grogi nih." Tita tanpa mengalihkan pandangan dari kotak obat di tangannya.


Kennan tersenyum tipis. Entah mengapa rasa hangat menyelimuti kalbunya saat sang istri memanggilnya dengan sebutan mas pada dirinya.


"Lama banget sih rapiinnya? Perasaan tadi cuma dikit yang dikeluarin." Kennan terdengar tidak sabar.


"Tau nih susah ditutupnya."


Tita memang terlihat kesusahan menutup kotak obat tersebut. Sudah ditutup, membuka lagi begitu seterusnya.


"Sini." Kennan menyodorkan tangannya.


Tita yang posisinya duduk berlutut, bergerak merangkak mendekati Kennan. Lalu menyerahkan kotak obatnya ke tangan sang suami.


Kennan segera meraihnya. Dengan sedikit menekan, Kennan mampu menutup kotak obat itu dengan sempurna.


"Sudah." Kennan memperlihatkan hasilnya.


Tita pun mengangsurkan tangan meminta. Namun Kennan malah meletakkan kotak obat itu di sisi tempat duduknya yang kosong.


"Lah... sini kotak obatnya mas, biar Tita simpen dulu." Tangan kanan Tita maju ke hadapan Kennan.


Brukk.


Bukannya memberikan kotak obat yang diinginkan sang isteri Kennan malah menarik tangan Tita ke dalam dekapannya.


"Mas." Tita tersentak kaget.


Posisi Kennan yang duduk di sofa dan Tita yang menumpu lutut di lantai membuat posisi keduanya hampir sejajar.


"Sebentar saja. Aku kangen." Kennan mengeratkan kedua tangannya di balik punggung sang isteri. Dengan lembut Kennan mengusap punggung wanita yang telah dirindukannya selama lima tahun terakhir.


Tita hanya diam menerima pelukan itu tanpa membalas. Wanita itu masih canggung.


"Kamu tidak merindukanku sayang?" Bisik Kennan tepat di telinga Tita yang tertutupi kerudung.


Meskipun telinga Tita tertutupi oleh kerudung, namun tetap saja deru nafas hangat dari mulut Kennan mampu membuat hatinya berdesir. Karena sesungguhnya Tita juga sangat merindukan kehadiran sang suami. Hanya saja masih ada sedikit kecanggungan padanya.


"Dek." Kennan mengendus bahu Tita, menghirup aroma wangi yang masih tetap sama seperti dulu. Aroma yang selalu membuatnya candu untuk memeluk dan menikmati hingga membuatnya enggan melakukan hal yang lain.


"Tita juga kangen mas." Tita dengan menggigit bibir bergetar.

__ADS_1


Kennan mengurai pelukan, memberi jarak wajah keduanya untuk dapat menatap wajah cantik yang ternyata juga merindunya.


Wanita yang ternyata telah memberinya dua boneka kembar yang bernyawa itu juga menatapnya seraya menggigit bibir bawahnya.


Kennan menelan ludahnya kelat saat kedua manik hitamnya bersirobok dengan milik sang isteri. Hasrat kelakiannya yang sudah lama tertidur, hari ini muncul kembali.


Sungguh Kennan tak mampu menahan godaan wajah cantik di depan matanya tersebut. Kennan pun perlahan memajukan wajah, mengikis jarak.


"Mas..." Tita menahan dada Kennan dengan kedua tangannya. Meski Tita juga merasakan rindu yang sama, namun entah mengapa Tita merasakan kegugupan yang luar biasa.


"Aku tak bisa menahannya dek." Kennan dengan pandangan mata yang berkabut hasrat.


Tita yang semula hendak menolak pun merasa tidak tega. Diringi dengan degub jantung yang berdetak rancak, perlahan Tita mengatupkan kedua kelopak matanya.


"Omyayah!"


Pekikan melengking gadis kecil yang Kennan telah hafal, memasuki rungunya.


Kennan pun melepaskan tautan bibir yang baru sedetik lalu berlabuh. Lalu menoleh ke asal suara.


Dengan senyum mengejek Alex datang dengan membawa kedua buah hati Kennan dan Tita. Seperti sengaja mengganggu.


Kenina tampak berjalan di depan dengan tergesa, sedangkan sang adik, Keanu berjalan pelan dengan wajah dinginnya.


Meski dalam hati berdecak kesal, namun Kennan tetap menyunggingkan senyum pada gadis kecil yang tengah berlari kecil ke arahnya tersebut.


"Sayang." Tita dengan tersenyum membalik tubuhnya tetap dengan posisi berlutut. Kedua tangannya membuka, memberi ruang untuk buah hati yang biasa datang memeluknya.


Bruk.


Bukannya memeluk Tita, Kenina memilih menubrukkan tubuh mungilnya pada sang ayah.


Kenina menoleh ke arah sang bunda. Tita pun mengangguk membenarkan.


"Ayah." Kenina mendongak.


Kennan mengangguk tersenyum.


Cup, cup, cup...


Kennan memberikan kecupan gemas pada beberapa bagian wajah bocah cantik replikanya tersebut. Membuat gadis itu terkekeh geli.


"Cantik banget sih anak ayah ini." Kennan dengan menjepit pucuk hidung Kenina.


"Ayah atit." Kenina mengusap pucuk hidungnya.


"Makanya jangan sok deket sama oyang bayu."


Suara kecil itu membuat Kennan mendongakkan wajahnya. Ah... sepertinya Kennan melupakan kembaran Kenina yang berbeda jenis kelamin tersebut.


"Syiyik." Kenina memeletkan lidahnya pada Keanu yang bersidekap dada dengan wajah masam.


"Enggak. Atu ada papa." Keanu menoleh ke arah Alex. Alex pun menepuk dada dengan bangga seraya mengejek Kennan karena merasa Keanu tidak mengakui kehadiran Kennan.


"Sini sayang." Kennan memberi ruang untuk Keanu mendekat.


"Ogah." Keanu dengan dingin. Persis tingkah Kennan saat muda.


"Kean... sayang." Tita dengan nada merendah pada bocah laki-laki yang memiliki tiruan wajahnya namun sifatnya adalah turunan sang ayah.

__ADS_1


"Unda milih papa atau dia?" Keanu menunjuk Kennan dengan dagunya.


"Kean!" Tita sedikit meninggi, bergerak maju mendekati sang anak. Bermaksud akan memberi tahu jika apa yang dilakukan oleh anak lelakinya adalah salah.


"Sayang sudah." Kennan menahan pergerakan sang istri.


"Kean pasti terkontaminasi sama om bulenya." Kennan sengaja membuat Alex menjadi kambing hitam.


"Kenapa bawa bawa gue sih." Alex kesal.


Kennan mengabaikan kekesalan Alex. "Pelan pelan nanti Kean pasti menerima kehadiran mas." Kennan dengan tersenyum, menatap teduh manik hitam sang isteri. Tita pun mengangguk.


Kennan memang telah banyak berubah. Kesendiriannya mengajarkan banyak hal dan mampu merubahnya lebih dewasa.


"Keknya gue nggak dibutuhkan lagi deh." Alex mencibir.


"Syukur kalau tau diri." Kennan sengaja.


"Kean." panggil Alex.


Keanu mendongak pada lelaki dewasa yang selama ini dipanggilnya papa tersebut.


"Mulai sekarang kamu harus tinggal sama laki laki jelek ini. Tapi jangan deket deket, biar jeleknya nggak nular ke kamu."


"Lex!" seru Tita kesal karena Alex selalu saja memprovokasi anak lelakinya. Alex selalu saja bertindak semaunya dan mengajari kedua buah hati Tita dengan hal hal aneh.


Alex mengabaikan Tita.


"Kenapa begitu?" Keanu dengan wajah mengernyit bingung.


"Karena..." Alex menjeda ucapannya, berfikir akan berkata apa pada bocah kecil ini. Detik berikutnya Alex tersenyum devil saat otaknya menemukan kata yang bakal membuat Kennan murka.


Alex membungkukkan setengah tubuhnya agar sejajar dengan Keanu, lalu memikirkan sesuatu hingga membuat Keanu menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Okey boy?!" Alex membuka telapak tangannya.


Keanu pun melakukan hal yang sama. Keduanya melakukan tos seraya tertawa kecil.


"Alex jangan aneh aneh deh." Tita dengan pandangan waspada pada sepupu gilanya.


"Enggak. Kita nggak aneh aneh kan Kean?" Alex dengan mengerling. Keanu pun mengangguk mengiyakan.


"Sekarang papa tinggal dulu ya, Kean di sini dulu. Jangan lupa pesen papa."


"Sip." Keanu memberikan jempol kanannya. Tak lupa menyunggingkan senyum pada wajah tampannya.


"Inget Na, lelaki jelek itu pernah meninggalkanmu." Alex dengan wajah mengejek pada Kennan sebelum meninggalkan ruangan tersebut.


Alhasil Kennan memberikan tatapan tajam, tak terima. Namun Alex hanya terbahak seraya keluar dari pintu ruangan.


"Kean." panggil Kennan pada anak lelakinya.


"Apa?" Keanu dengan kembali menunjukkan wajah masam pada Kennan. Padahal beberapa saat lalu lelaki kecil itu sempat tersenyum dengan Alex.


"Papa tadi bilang apa?" Kennan sungguh penasaran akan ucapan Alex.


"Lahasia. Oyang jeyek gak boyeh tau."


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2