
Huh!
Kennan membuang nafasnya kasar. Dengan kedua tangan yang berada di saku celana pendeknya Kennan memandangi langit senja yang menampakkan semburat jingga dari balkon kamarnya.
Sungguh pemandangan yang sangat indah jika dinikmati sambil duduk berdua, bercengkerama dengan Tita isterinya. Dengan ditemani secangkir coklat hangat serta cookies kesukaannya pasti bakal menambah kenikmatan senja hari ini.
Namun sayang semuanya hanya tinggal angan, Tita sedang mengabaikannya saat ini. Bahkan gadis yang bergelar isterinya itu terkesan enggan jika berdekatan dengannya.
Andai saja dirinya sempat memberitahukan semuanya, jujur apa adanya dan meminta maaf atas semuanya sebelum Tita mengetahui sendiri pasti semuanya tidak akan seperti ini. Sayangnya semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Tidak mungkin dirinya dapat mengulang semua kembali dari awal.
Kennan pun beranjak saat langit mulai menghitam menandakan malam yang akan segera datang.
Glek.
Kennan terpaku dengan menelan salivanya kelat saat memasuki kamar mendapati Tita di depan almari baju dengan hanya mengenakan handuk untuk membalut setengah tubuhnya, memperlihatkan kaki jenjangnya. Surai hitam yang digelung ke atas dengan asal pun turut memeperlihatkan leher jenjang Tita yang putih bersih tanpa noda, dimana bibir Kennan biasa menyusup di sana.
Ingin sekali rasanya memeluk serta menyusuri setiap inci permukaan kulit putih itu dengan bibir tebalnya. Seperti kebiasaannya beberapa bulan terakhir, dimana bibirnya tidak akan berhenti mencecap manisnya dan menghujani permukaan kulit bak pualam itu dengan kecupan.
"Abang ngapain berdiri bengong di situ...?" Tita terdengar lembut saat membalikkan tubuhnya mendapati Kennan berdiri dengan tidak berhenti menatapnya tanpa berkedip.
"Hey... bang..." Tita dengan tersenyum manis melambaikan telapak tangan di depan wajah sang suami.
Membuat kedua bola mata Kennan mengerjap, tak lama kemudian membingkai senyum pada wajah terkejutnya saat mendapati senyum manis isterinya telah kembali.
Lalu berjalan dua langkah ke depan dengan sedikit ragu hingga posisinya tepat di hadapan Tita yang masih menggunakan handuk mandinya.
Senyum berbinar tidak pernah lepas dari bibir Kennan, ada kelegaan dalam hatinya saat ini karena wajah cantik isterinya telah dibingkai dengan senyuman manis yang sangat Kennan rindukan.
Kedua tangan Kennan menangkup bahu Tita ketika tubuh yang hanya berbalut handuk mandi itu tidak bergeser menjauhinya.
"Terimakasih elo udah kembali tersenyum sama gue dek..."
Tita pun memperlebar senyum di wajahnya.
"Tita gak tahan lama lama diemin abang." gadis yang bergelar isterinya itu mengerjapkan kedua matanya dengan sedikit mendongak ke wajah Kennan dengan kedua tangan yang menangkup handuk mandi di depan dadanya.
Tangan kiri Kennan beralih menyibak anak rambut yang tergerai pada wajah Tita lembut.
"Apalagi gue, sedetik berasa setahun dek..."
"Ih mulai gombalnya." Tita terdengar genit dengan masih mendongak memberanikan diri menatap manik hitam sang suami.
Haiissh kenapa dia jadi genit gini sih... Kennan dengan tidak berhenti menatap wajah di bawahnya dengan mengeram karena saat ini bagian bawah Kennan mulai berkedut.
"Abang..." Tita terdengar mendesah.
Hem...
Kennan berusaha menahan gejolak hasratnya yang mulai bangkit kembali.
"Abang kangen gak sama Tita..." Tita mengikis jarak keduanya hingga saling berhimpitan rapat. Salah satu tangan Tita bahkan mengusap lembut dada Kennan yang berbalut kaos polos hitam tipis. Membuat Kennan harus ekstra kuat menahan bagian bawahnya yang bergejolak ingin dipuaskan.
Kennan menghirup oksigen kuat, sungguh naluri lelakinya sangat diuji saat ini. Apalagi manik mata hitam milik wajah cantik dibawahnya itu tidak berhenti mengerjap.
"Banget... gue kangen banget sama lo dek. Apalagi sama ini..." Kennan mengusap lembut bibir pink Tita yang terlihat merekah meskipun tanpa polesan pewarna bibir.
"Cuma sama ini... yang lain enggak?" Tita dengan mengerlingkan sebelah mata menggoda.
Glek.
__ADS_1
Lagi lagi Kennan harus menelan salivanya kelat melihat tingkah isterinya yang terlihat genit di matanya. Darimana gadis polos yang bergelar isteri Kennan Atmadja itu belajar genit...
"Abaang..." Tita dengan nada menggoda.
"Iiyyaa..." Kennan tergagap.
"Yakin abang gak kangen sama yang lain?" Tita dengan semakin menggoda.
"Kangen lah dek... gue kangen semuanya. Bukan cuma ini..." Kennan kembali mengusap bibir pink Tita lembut.
"Yang dibawah apalagi... gue gak bisa menahannya." Kennan dengan parau.
"Abang pengen sekarang?"
"Emang boleh?" Kennan bertanya ragu.
"Bolehlah... Tita kan isteri abang, Tita gak mau nolak kemauan suami, takut dilaknat Allah sampai pagi." Tita dengan menempelkan gunung kembar miliknya pada dada bidang sang suami. Dan itu membuat Kennan semakin belingasatan menahan hasrat kelakiannya.
"Beneran boleh nih... adek udah gak marah lagi?" Kennan terlihat ragu akan perubahan sikap Tita yang tiba tiba.
Tita mengangguk malu. "Iya boleh."
"Iyes..." Kennan dengan senyum berbinar.
"Bang..."
"Hei... abang..."
"Abang!!!" Tita dengan berteriak.
Hek...
"Ah... eh... iya... sekarang ya dek..."
Loh kok... Kennan terlihat memijit pelipisnya bingung.
"Apanya yang sekarang?" lagi Tita bertanya dengan sedikit ketus.
"Itu... eh..." Kennan menatap Tita bingung karena isterinya itu masih berdiri di depan almari baju, hanya saja gadis yang bergelar isterinya tersebut sudah membalut tubuh atasnya dengan piyama tidur sedangkan bagian bawahnya masih mengenakan handuk mandi.
Kennan mengucek mata dengan kedua jarinya, berusaha mengembalikan kesadarannya.
Huh... hembusan nafas kasar keluar dari mulut Kennan.
Ternyata semua hanya angannnya saja, dirinya sedang berhalusinasi beberapa saat lalu. Mungkin efek kerinduannya pada Tita yang tidak dapat dibendungnya hingga pikirannya berangan yang tidak tidak.
Karena kenyataannya saat ini Tita tetap dengan mode marahnya, berbeda dengan Tita genit beberapa saat lalu yang hanya berada di angan Kennan.
...ππππ...
"Dek elo udah makan?" Kennan dengan mendudukkan diri di samping Tita yang sedang asyik menonton drama korea kesukaannya.
Setelah peristiwa halu di kamar beberapa saat lalu, Tita memang segera meninggalkan Kennan keluar kamar, dengan membalut seluruh tubuhnya dengan piyama tidur tentunya.
"Udah." sahut Tita pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar datar di depannya.
"Elo gak pingin sesuatu gitu, martabak kesukaan lo mungkin...." Kennan mencoba berbasa basi untuk mengurangi kebekuan diantara keduanya.
Sungguh Kennan sangat berusaha saat ini. Dirinya yang irit bicara berubah 180 derajat semenjak menikah dengan Tita. Apalagi setelah dirinya mulai menerima gadis itu sebagai istrinya Kennan benar benar berubah boros omongan menurutnya.
__ADS_1
Kennan mengacak rambutnya dengan kasar saat kembali mengingat kehaluannya dengan sang isteri beberapa saat lalu, sebegitu besar pengaruh Tita dalam dirinya sekarang.
Kennan menggeser tubuhnya mengikis jarak dengan tubuh isterinya. Tita terlihat diam saja, tidak berusaha menjauhinya. Lalu Kennan merentangkan tangan kanannya, meletakkan pada punggung sofa berharap dapat merengkuh bahu sang isteri.
Tetiba saja Tita menoleh.
"Tangannya gak usah cari kesempatan, Tita masih marah sama abang." lalu dengan santai kembali memalingkan wajah menatap layar datar di depannya.
Kennan pun meremas telapak tangan kanannya dan membawa kembali ke sisi tubuhnya. Dalan hati mengeram kesal.
Drtt... drrtt...
Ponsel Kennan begetar.
Kennan pun mengulurkan tangan meraih benda pipih yang terletak di atas meja. Lalu menggeser layar pada benda pipih tersebut karena Bima baru saja mengiriminya chat.
Mama
Kept... gue kepo
Gimana kencan lo
Sukses kan????
^^^Kennan^^^
^^^GATOT^^^
Mama
Kok bisa???????
^^^Kennan^^^
^^^Ide lo murahan^^^
^^^Gak laku nying...^^^
Kennan lalu melempar ponselnya sembarang tanpa peduli dengan chat Bima yang tidak berhenti masuk.
Beranjak berdiri lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya, Kennan memilih menjauh dari Tita. Dekat dengan istrinya membuat otaknya ngehalu tingkat dewaππ
Tita memandang kepergian Kennan dengan kesal, bagaimana bisa suami mesumnya itu menyerah begitu saja untuk membujuknya.
"Katanya sayang, nyatanya bujuk isterinya ngambek wae gak bisa. Jadi cowok itu mbok yao kek di tipi tipi gitu... pacarnya ngambek wae dikasih coklat, bunga, atau apalah gitu yang banyak disukai cewek. Ini yang sudah sah jadi isteri malah ditinggalin ke kamar..." Tita bergumam dengan bibir mengerucut.
"Tanya noh sama mbah gugel, gimana caranya ngerayu cewek yang ngambek... apa gunanya punya ponsel mahal kalau gak difungsikan...." Tita masih bergumam kesal dengan memandang pintu kamarnya yang tertutup.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorπππ