Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Bonus Gamon (Alias Gagal Move On)


__ADS_3

"Mas!" Pekik Tita tertahan saat mendapati wajah Kennan menumpu bahu serta kedua tangan kekar yang memeluk tubuhnya erat.


"Maaf.... Kaget ya?" Kennan dengan menyusupkan wajahnya. Menghirup dalam aroma wangi tubuh Tita yang selalu saja dia rindukan.


"Iyalah. Beruntung aku nggak memiliki riwayat jantungan."


"Maaf sayang. Kangen banget nih." Kennan dengan posesif menyusupkan wajah semakin dalam.


Padahal baru setengah hari berlalu. Pukul delapan pagi tadi Kennan berangkat ke kantor dan sekarang pukul dua belas siang saat jam makan siang. Bukankah terlalu berlebihan jika dengan jarak waktu sesingkat itu sudah membuat Kennan kangen berat pada Tita.


"Jangan kenceng kenceng meluknya. Begah." Tita mendorong ke bawah kedua tangan Kennan yang menumpu pada perutnya yang membesar karena hamil.


Yah saat ini Tita sedang mengandung anak ketiganya. Usia kehamilannya sudah memasuki angka 9 bulan. Tinggal menunggu hari kapan bayi itu lahir dan menghirup oksigen yang sama dengan kedua kakak kembarnya.


"Ups..." Kennan mengangkat kepala serta melepaskan lingkaran tangan dari perut besar sang isteri.


Tita pun segera membalik tubuhnya menghadap Kennan.


"Maafin ayah ya sayang..." Kennan berbicara pada perut Tita yang membuncit sembari mengusapnya lembut. Seolah berbicara dengan anak dalam perut sang isteri.


Tita tersenyum simpul melihat perilaku Kennan. "Mas itu ngomong sama siapa?"


"Sama jagoan ayahlah." Tatapan maya Kennan tak lepas dari perut Tita dengan tangan yang juga tidak berhenti memberikan usapan lembut.


Tita terkekeh kecil.


Selalu seperti itu jawaban Kennan saat ditanya perkara bicaranya dengan sang jabang bayi.


"Memangnya dia beneran jagoan... Siapa tahu dia temen masak aku sama kakak."


Tita dan Kennan memang sengaja tidak bertanya tentang jenis kelamin si jabang bayi. Menurut mereka mau laki atau perempuan tak masalah. Toh anak tetaplah anugerah dari Yang Maha Kuasa yang harus disyukuri kehadirannya.


Mereka ingin semuanya mengalir begitu saja. Meski setiap kali Kennan sangat meyakini jika calon anaknya ini adalah lelaki. Calon anggota timnasnya dan Keanu.

__ADS_1


"Aku yakin dia jagoan." tangan Kennan mengusap lembut perut buncit Tita yang tertutupi oleh dres hamil yang berbahan satin. Bibir Kennan tak berhenti tersenyum dengan mata yang berbinar memandang perut bulat Tita.


Tita tersenyum melihat Kennan yang tak melepas pandangan yang penuh binar bahagia pada perut buncitnya. Sungguh Tita merasakan kebahagiaan yang sempurna saat ini. Berbeda dengan kehamilan anak pertamanya dulu.


Sedikit rasa sesak hinggap pada sudut hati Tita saat kelebatan dirinya menjalani kehamilan anak kembarnya dahulu yang tanpa ada sosok Kennan di sampingnya.


"Maafkan aku yang dulu tidak bisa menemani saat kamu mengandung si kembar sayang." Kennan dengan menatap dalam pada Tita. Seolah tahu suara hati Tita saat ini.


Tita mengulas senyum pada bibirnya.


"Nggak usah diingat lagi mas."


Tiba tiba sudut mata Tita mengalirkan cairan bening yang tak bisa dicegahnya.


"Loh kenapa nagis dek?" Kennan menagkup wajah Tita dengan kedua telapak tangan besarnya saat mendapati cairan bening turun pada pipi licin sang isteri.


Tidak ada jawaban dari Tita, wanita itu tak menyurutkan senyum pada wajah cantiknya yang masih saja terlihat menggoda meski telah memiliki dua orang anak. Cairan bening itu pun masih mengalir deras pada kedua pipinya hingga jatuh pada kedua telapak tangan Kennan yang menangkap wajah Tita.


"Dek... kenapa sedih?" Kennan bingung dengan isterinya. Kedua ibu jarimya menyusut cairan bening yang berhenti mengalir pada wajah pipinya. Sedangkan tatapan wajahnya terlihat sangat khawatir.


Bagaimana tidak heran, jika saat ini ucapan sang isteri berkebalikan dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


Wajah cantik yang tetap saja awet muda meski telah beranjak dewasa itu masih saja berderai air mata.


"Ini efek hormon kehamilan mas." Tita seolah tahu isi hati Kennan yang mengkhawatirkan dirinya.


"Maksud kamu sayang?" Kennan semakin tidak paham karena ini baru pertama kalinya Kennan mendampingi kehamilan sang isteri.


"Aku bahagia meski terlihat menangis mas. Mungkin ini tangisan haru." Bukannya menghentikan derai air matanya yang mengalir namun malah sedikit isajan terdengar di sela dirinya berucap kata.


"Gimana bisa bilang bahagia, orang kamu malah terisak gini." Kennan membawa wajah Tita merebah pada dada bidangnya. Tak peduli jika air mata Tita membasahi kemeja kerja putihnya yang telah terbebas dari jasnya. Karena Kennan memang melepaskan jas saat memasuki ruang pribadi kafe K&Y miliknya.


Kafe K&Y yang telah Kennan rintis semenjak dirinya masih di bangku sekolah itu memang telah dikelola oleh Tita. Doni alias Putra telah menyelesaikan kuliahnya dan telah bekerja di luar pula Jawa saat ini, untuk itu Tita mengambil peran untuk mengelolanya. Toh pekerjaan itu sama dengan pekerjaan yang telah digelutinya selama ini yaitu Kenita's bakery yang memiliki basic sama dengan kafe K&Y.

__ADS_1


"Sungguh mas ini itu tangis bahagia." Tita mendongak guna meyakinkan Kennan.


"Dimana mana yang namanya nangis itu sedih dek." jemari Kennan tak berhenti menyusut air mata Tita yang tak berhenti mengalir. "Bukannya nangis kek gini." lanjut kemudian.


"Aku terharu mas. Kadang sedikit tak percaya kita dapat kembali bersama seperti saat ini. Sungguh aku sangat bahagia saat ini." Tita tersenyum namun tetap saja cairan bening meluruh membasahi pipinya. Dan itu membuat Kennan tak yakin akan ucapan sang isteri.


"Aku nggak bisa mencegahnya. Mungkin efek hormon kehamilanku jadi kek gini." Tita menyeka air mata yang berhenti mengalir tersebut.


Kennan tetap saja memberikan pandangan tak percaya akan ungkapan Tita. Sorot matanya seakan menelisik kebenaran kata kata sang isteri.


"Percayalah mas. Saat ini aku sedang bahagia." Tita meyakinkan Kennan kembali.


Kennan hanya diam, sorot matanya menghunus dalam pada netra Tita. Merasa tidak mendapatkan kebohongan di sana Kennan pun membuang nafas pendek, lalu merengkuh bahu Tita ke dalam pelukannya.


"Baiklah aku percaya." Kennan dengan menumpukan dagu pada pucuk kepala Tita. Salah satu tangannya mengusap lembut surai hitam yang dibiarkan tergerai begitu saja. Karena saat ini Tita tidak memakai penutup kepalanya.


"Kalau saja dulu aku menyadari inisial kafe ini, pasti kita nggak bakal melewati fase sedih itu. Iya kan mas." Tita dengan menengadahkan wajahnya.


"Sudahlah tidak perlu diingat lagi hal hal sedih seperti itu. Baiknya kita lupakan saja. Kita fokus pada masa depan kita dan anak anak." Kennan dengan sedikit menunduk, menatap lekat wajah Tita. Kemudian kembali membenamkan wajah cantik itu pada dada bidangnya. Memeluk erat wanita yang telah menjadi memberinya dua makhluk menggemaskan dalam hidupnya saat ini. Bahkan sebentar lagi, Kennan bakal mendapatkan bonus baby lucu yang saat ini masih nyaman dalam gendongan perut buncit Tita.


Kennan pun makin mengeratkan pelukan dengan sesekali mencium pucuk kepala sang isteri dengan sayang.


"Aduh mas..." Tita meringis dengan mendorong dada Kennan untuk merenggangkan tubuhnya.


"Kenapa dek?"


🍨🍨🍨🍨


Hai... hai...


Ternyata othor masih gak mau move on sama neng Tita dan Bang Kennan.


Terasa belum ridho untuk melepaskan mereka berdua 😭😭😭😭😭

__ADS_1


Bonus pict cover yang bikin othor gagal move on



__ADS_2