Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 242


__ADS_3

"Silahkan duduk." ucap gadis yang tak lain adalah Yuna, saat Tita memasuki sebuah kafe dimana dirinya berjanji temu dengan penelfon yang tidak terdaftar dalam kontaknya.


Yuna yang telah datang lebih dulu, beranjak dari duduknya dan menyunggingkan senyum yang dibuat seramah mungkin.


Tita pun membalas dengan senyum yang tulus. Jujur saja dalam hati Tita bertanya kenapa gadis yang setahunya adalah kekasih Kennan di masa lalu itu mengajaknya bertemu.


Meskipun Tita pernah beberapa kali memergoki Kennan dengan gadis itu namun dalam hatinya tidak yakin tentang hubungan gadis itu dengan sang suami.


"Duduklah... nggak usah canggung gitu, santai saja." Yuna mempersilahkan Tita duduk karena saat ini Tita hanya berdiri canggung di hadapan Yuna.


Tita pun menarik kursi dengan hati hati kemudian mendudukinya.


"Maaf kamu..."


"Yuna."


Yuna mengangsurkan tangan ke hadapan Tita dengan memotong ucapannya.


Mau tak mau Tita menyambut tangan Yuna.


"Tita." ucap Tita pelan dengan tersenyum. Meski dalam hatinya merasakan tidak nyaman.


"Iya gue udah tau nama lo kok." Yuna dengan wajah tersenyum tipis, terkesan santai.


"Hah... apa? Bagaimana bis..." Tita dengan ekspresi wajah terkejut.


"Kennan udah kasih tau nama lo dan semua tentang lo..." potong Yuna tentu saja dengan berbohong.


Karena yang sebenarnya Kennan tidak pernah memberitahukan apapun tentang Tita pada Yuna. Melainkan gadis penderita obsesi kumpulsif disorder itu mencari tahu sendiri dengan membayar seseorang untuk menyelidiki tentang siapa Tita yang sebenarnya.


Setelah mengetahui dan yakin siapa sebenarnya Tita, Yuna membatalkan keberangkatannnya untuk berobat ke luar negeri. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kennan.


Yuna sudah terbiasa melakukan hal hal licik, untuk itu bukan perkara sulit mengelabui Kennan. Bahkan Yuna berhasil mengelabui kedua orang tuanya dengan berpura pura baik untuk menunjukkan bahwa dia telah sembuh dari penyakit obsesinya.


"Benarkah abang, eh Kennan yang telah memberitahukan?" Tanya Tita sedikit tidak percaya.


"Iya. Dia menceritakan semuanya tentang lo, siapa lo sebenarnya, bagaimana hubungan kalian bahkan tentang perasaan dia sama lo. Dia kasih tahu gue semuanya." Yuna menghentikan sesaat ucapannya.


Menatap lurus pada manik hitam Tita.


"Termasuk tentang pernikahan kalian yang terpaksa dia jalani karena sebenarnya dia nggak pernah cinta sama lo. Dia cuma kasihan, karena lo anak yatim piatu yang butuh biaya buat nyelesain sekolah." Yuna dengan nada memprovokasi.


Deg

__ADS_1


Jantung Tita berdetak, ada rasa nyeri yang terasa mencubitnya di sana.


Sekuat tenaga Tita menahannya. Namun tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sorot matanya mengembun. Bibirnya terkunci rapat seolah tak mampu lagi berucap kata.


Dan Yuna mengetahui itu. Dalam hati bersorak senang karena merasa perbuatan liciknya berhasil.


Ternyata targetnya yang beralih pada Tita, hanya segampang itu untuk menyelesaikan niat jahatnya. Berbeda dengan Kennan yang sepertinya sudah mengetahui niat jahat dari Yuna.


"Kennan sebenarnya masih cinta sama gue. Nggak gitu deng... Kita berdua masih sama sama saling mencintai." Yuna kembali memprovokasi gadis polos di depannya. Mengatakan sesuatu yang sebenarnya hanyalah bualan mulutnya saja.


"Tapi karena dia terlanjur menikah sama lo, saat ini dia bingung."


Mendengar ucapan Yuna, Tita hanya mampu diam dengan mengeratkan kedua telapak tangannya di bawah meja. Sesekali meremasnya, berharap apa yang di dengarnya saat ini hanyalah mimpinya di siang bolong.


"Sebenarnya dia bingung bagaimana caranya mengakhiri hubungan kalian. Karena kalian telah resmi dalam ikatan pernikahan, bukan sekedar pacaran biasa. Untuk mengakhiri pernikahan kalian itu berarti Kennan harus berurusan dengan kedua orang tuanya. Dan dia nggak sanggup membuat bundanya sedih. Untuk itu gue di sini buat membicarakannya sama lo,membantu Kennan ngomong sama lo."


Tita membelalakkan kedua matanya lebar saat mendengar kalimat terakhir dari Yuna.


"Lo pasti tahu kan kalau Kennan nggak bakal sanggup ngomong sama lo, karena dia kasihan sama lo."


"Nggak mungkin abang kek gitu, kamu pasti bohong kan..." Tita berucap lirih berusaha untuk tidak mempercayai ucapan Yuna meski dalam hatinya merasa terkejut dan juga bingung.


Yuna tersenyum smirk.


"Asal lo tau aja, saking cintanya Kennan sama gue dia bahkan memberi nama kafenya dengan inisial kita berdua." Yuna sengaja menjeda ucapannya. Menghentikan kegiatannya memainkan kuku jemarinya seraya menumpu kedua tangan di atas meja. Mengunci pandangan ke arah Tita dengan sedikit mendekatkan wajah seolah mengintimidasi gadis di depannya yang pandangan matanya sudah berkabut genangan air mata. Sebentar lagi pasti bakal meluruh.


"Elo tau kan kafe milik Kennan, K&Y adalah inisial kami berdua. Kennan dan Yuna. Itu adalah bentuk cintanya Kennan sama gue, ngerti." Yuna berucap pelan namun penuh penekanan pada setiap katanya.


Tita menggelengkan kepala berulang, berusaha tidak mempercayai kata kata Yuna. Namun entah mengapa rasanya sulit untuk tidak percaya.


Dan lagi Tita sadar betul jika Kennan membuat kafe itu jauh sebelum dirinya menikah dengan Kennan. Pastilah nama inisial kafe yang diucapkan oleh Yuna benar adanya. Tidak bisa dipungkiri lagi oleh logikanya.


Flashback off.....


Lagu sheila on 7 yang berjudul Kisah klasik untuk masa depan mengakhiri pertunjukan band Kennan dalam acara perpisahan sekolahnya siang ini.


Banyak siswa yang ikut berdendang seolah mereka tidak rela untuk melepaskan masa SMU mereka yang sudah di depan mata.


Ada yang berdendang dengan memperlihatkan wajah sedih mereka, bahkan tak segan saling berpelukan dengan para bestie mereka yang sebentar lagi harus berpisah untuk melajutkan langkah yang berbeda demi masa depan mereka masing masing.


Tepuk riuh para siswa siswi yang sedang menonton pertunjukan perpisahan, mengakhiri suara pertunjukan tersebut hingga Kennan dan teman teman geng basketnya menuruni panggung bersama sama.


"Jadi jalan?" Irsyad bertanya pada Hani saat mereka bertemu di dekat panggung.

__ADS_1


"Tentu dong. Gimana yang lain? Mereka setuju nggak?" Hani mengalihkan pandangan pada keempat sahabat Irsyad yang lainnya.


"Siap."


"Okey."


"Cuzz..."


Jawab Bima, Arya dan Aldi silih berganti. Kennan hanya diam, memindai sekeliling untuk mencari keberadaan istrinya.


"Tita mana?" Kennan bertanya pada Hani setelah tidak mendapat sosok sang isteri di sana.


"Lagi ke toilet." Jawab Hani segera.


Baru saja menyahut. "Itu dia." tunjuk Hani di balik punggung Kennan selanjutnya.


Membuat tubuh jangkung nan tampan yang rambut hitamnya sedikit basah itu membalik setengah tubuhnya ke belakang.


Senyum tersungging dari bibir Kennan saat mendapatkan sosok Tita berjalan mendekat ke arahnya. Ke arah Kennan dan teman temanya, lebih tepatnya.


"Kirain pulang duluan." Kennan meraih pinggang Tita mendekat padanya.


"Ditahan sama incess." jawab Tita dengan jujur, meski sebenarnya Tita sempat ingin pulang ke rumah lebih dulu.


"Jadi nongkrong dulu kan Kenn?" Arya menepuk bahu sahabatnya yang fokus pada isterinya.


Kennan menoleh sesaat, lalu mengembalikan pandangan ke arah Tita.


"Mampir kafe dulu ya dek?" Kennan meminta persetujuan sang isteri.


"Tita nggak usah ya bang, capek banget." tolak Tita halus. Entah mengapa tubuhnya hari ini masih saja merasakan lelah, bahkan cenderung malas.


"Kalau lo nggak mau, gue juga nggak usah ikutan kalo gitu."


"Jangan gitulah bang, kasihan mereka." sergah Tita.


"Mau gimana lagi, gue nggak mau kalau nggak ada lo."


🍨🍨🍨🍨


Bonus pict bang Kennan, othor lagi kangen sama dia😘😘😘


__ADS_1


__ADS_2