Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
218. Long Night


__ADS_3

"Capek dek...." Kennan dengan memiringkan tubuhnya menghadap Tita yang masih terdengar terengah akibat pergumulan keduanya beberapa saat lalu.


Tita hanya mengangguk lemah dibalik selimut yang membalut tubuh polosnya.


"Maaf..." Kennan dengan menyibakkan anak rambut yang terurai di wajah Tita, menyusupkannya ke belakang telinga sang isteri. Tak berhenti di situ, tangan besar Kennan mengusap sisa bulir keringat yang masih membasahi wajah cantik isterinya dengan lembut.


"Berasa kek habis lari marathon ya dek..." Kennan tersenyum kecil masih dengan menyusuri dan mengusap titik titik peluh di wajah Tita.


Tita mengerjapkan kedua mata dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan. Sangat terlihat jika gadis di hadapan Kennan itu sangat lelah.


"Abang kek banteng yang mau nyeruduk torero, tenaganya kuat gak ada capeknya." Tita dengan wajah yang masih terlihat lelah.


"Salah sendiri toreronya cantik, nggak ngebosenin bikin nagih." Kennan dengan gombalan recehnya.


"Ck... abang gombal mulu." Tita mencebik dengan menggerakkan sedikit tubuhnya.


"Jangan gerak gerak." Kennan yang juga masih dalam kondisi polos merasakan kulitnya meremang saat tanpa sengaja kulit polos Tita bergesekan dengan kulit polosnya.


"Kalau nggak gerak mati dong Bang..." Tita mendongak sembari mengerjapkan kedua matanya ke arah wajah Kennan.


"Bukan itu maksud gue, lagian nggak usah sok imut gitu." Lagi Kennan harus menahan bagian tubuh bawahnya yang mulai berkedut saat ini.


"Siapa yang sok imut. Tita emang imut..." Tita percaya diri dan menduselkan wajahnya pada dada bidang Kennan yang polos.


"Dek..."


"Apa...?" Tita masih dengan mendusel pada dada polos Kennan.


"Jangan kek gini." Kennan mengerang dalam hati. Gesekan gesekan kulit polos mereka membuat Kennan harus salivanya kelat, menahan hasrat yang kembali menyeruak pada inti tubuhnya.


"Memangnya Tita ngapain? Orang Tita cuma peluk abang doang." Tita malah semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Kennan serta melingkarkan tangan pada pinggang Kennan bahkan wajahnya yang menyusup pada dada bidang Kennan yang polos tidak berhenti mendusel di sana.


"Biasanya juga abang suka kalau Tita peluk peluk kek gini." Tita si isteri polos Kennan tersebut seakan tidak peduli jika tindakannya itu membuat Kennan kalang kabut menahan hasrat kelakiannya.


"Nanti dia bangun lagi, bingung nidurinnya." Kennan dengan suara serak disertai nafas yang sedikit memburu.


"Siapa yang bangun dan susah ditidurin?" tanya Tita polos dengan menjauhkan sedikit wajahnya lalu mendongak.


"Itu yang di bawah." Kennan mengeram menahan gejolak yang kembali muncul setelah susah payah ditidurkannya.


Tita mengernyit, menolehkan kepala ke belakang dengan terlihat mencari cari sesuatu yang dimaksud sang suami.


Merasa tidak mendapati sesuatu yang dimaksud sang suami, Tita menegakkan kepala berganti melongok belakang punggung Kennan.


"Mana bang?" Tita dengan wajah bingung meminta jawaban dari Kennan. Tanpa menyadari jika dua gunung kembar miliknya tersibak dari selimut dan menggantung sempuran di depan wajah Kennan.


Membuat Kennan semakin mengeram, meneguk salivanya kuat.

__ADS_1


Dengan cepat Kennan memaksa tubuh Tita untuk kembali berbaring.


"Bang..." Tita mengerucutkan bibir kesal.


"Dek jangan bikin gue semakin nggak kuat."


"Maksud abang dari tadi apaan sih?"


Lagi Kennan tidak menjawab, memilih menggerakkan tangannya membawa tangan sang isteri menuju inti tubuhnya yang sudah menegang sempurna.


"Abang..." Tita menjerit dan dengan segera menarik tangannya dari sana, wajahnya menyiratkan rona merah malu.


"Makanya jangan gerak melulu, elo harus tanggung jawab dek..."


"Isshh... otak abang mesum mulu deh." Tita dengan memalingkan wajahnya.


Tita merasa suaminya itu sedikit sedikit selalu saja mengarah ke hal hal mesum, padahal kondisi itu normal menurut Kennan.


Bagaimana otaknya tidak selalu berfikir ke hal mesum jika isteri polosnya itu kelewat cantik dan mampu membuatnya candu setiap kali berada di dekatnya.


"Sekali lagi ya... elo harus bantuin dia tidur..." Kennan dengan segera menindih kembali tubuh sang isteri.


Kedua mata Tita membola.


Tita tidak habis pikir dengan Kennan suaminya yang seolah tidak lelah. Padahal baru saja mereka beristirahat setelah pergumulan yang entah hingga berapa kali memasukinya.


Cup....


Kennan yang sudah tidak mampu menahan hasratnya tidak memberikan waktu untuk isterinya berucap kata. Dengan segera Kennan mengecup bibir ranum Tita yang masih sedikit bengkak tanpa memberikan kesempatan pada gadis di bawahanya untuk menghindar ataupun menolak tindakannya.


Tita pun akhirnya menyerah pasrah, pergumulan di antara keduanya kembali terjadi.


...🍭🍭🍭🍭...


"Abang gak capek po?" Tita bertanya masih dengan terengah setelah dirinya dan sang suami mengakhiri sesi pergumulan yang entah keberapa kalinya.


"Enggak, elo capek ya?" Kennan dengan memandangi wajah kusut Tita akibat perbuatannya.


Tita mengangguk pelan.


Tita memang sangat capek, tubuhnya terasa remuk redam bagaikan tergilas kendaraan roda sepuluh yang biasa digunakan untuk mengangkut barang berat. Meskipun sebenarnya Tita juga tidak menampik jika dia menikmati seluruh sentuhan serta penyatuan Kennan yang bertubi tubi beberapa saat lalu.


"Bang..."


"Apa..."


Posisi keduanya kini sama sama terlentang dibalik selimut tebalnya dengan memandangi langit langit kamar.

__ADS_1


"Kenapa sih tiap kali abang deket sama Tita, pasti akhirannya akan seperti ini. Gak ada po kegiatan lainnya yang lebih bermanfaat..."


Kennan menolehkan kepala menghadapi Tita setelah mendengar ucapan gadis itu.


"Ini tu kegiatan yang bermanfaat lo dek, sangat bermanfaat malah."


"Apa coba manfaatnya... menurut Tita gak ada manfaat sama sekali tuh." Tita dengan bibir mengerucut. Efek kelelahan Tita tidak bisa berfirkir jernih. Dia hanya ingin mengungkapkan isi hatinya agar sang suami tahu jika tubuhnya sangat remuk.


Kennan memiringkan tubuhnya menghadap Tita yang masih dengan posisi terlentang.


"Gak ada manfaatnya lo bilang... asal lo tahu ya dek, dengan rajin melakukan kegiatan kek gini, bisa membuat kita bisa awet muda tau nggak..." Kennan dengan menyentil pelan kening sang isteri.


"Siapa yang ngomong kek gitu, palingan itu cuma akal akalan abang wae biar abang bisa minta setiap saat." Tita dengan mengusap bekas sentilan sang suami.


"Gue nggak bohong, beneran bisa bikin awet muda juga panjang umur itu dek. Kalau nggak percaya ntar elo bisa cek mbah gugel. Malah ada penelitiannya itu, akurat..." Kennan berusaha meyakinkan isteri polosnya.


Tita terkekeh kecil.


"Abang nggak usah ngada ngada deh..." Tita kekeh kecil tidak mempercayai ucapan sang suami.


"Gue nggak bohong dek..." Kennan mengunci pandangan pada Tita.


"Iya deh iya... Tita percaya kok, gitu wae sewot."


"Gue nggak sewot dek..."


"Ya wes udah kalau gitu nggak usah bahasa itu ntar bikin tensi abang naik." Tita memutus perdebatan keduanya.


"Kalau lo nggak mulai, gue juga enggak bakal ngomongin itu."


"Abang udah..." Tita dengan memberikan cubitan kecil pada perut Kennan Dari balik selimut tebalnya.


"Iya iya... gue diem." Kennan dengan meringis.


Titapun akhirnya melepaskan cubitan tangannya.


Beberapa saat keduanya terdiam, hingga Titapun memulai percakapan.


"Bang..."


"Apalagi?" Kennan dengan kedua mata yang tertutup.


"Abang gak pengen cerita kenapa waktu itu nggak dateng nemuin Tita di tempat kita janjian?" Tanya Tita dengan hati hati. Sungguh dalam hatinya masih sangat penasaran dengan kejadian saat mereka berdua akan bertemu di kebun binatang pada waktu itu.


Hek...


Kennan terdiam, tenggorokannya terasa kering.

__ADS_1


✍🏻✍🏻✍🏻✍🏻


__ADS_2