
Setelah sampai di penginapan Tita bergegas mengecas ponsel pintarnya. Lalu memasuki kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhnya yang terasa lengket.
Beberapa saat setelahnya Tita keluar kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar karena dirinya juga membasuh surai hitamnya juga.
Mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan kamar, tidak ada seorang pun di sana. Sinta maupun kedua temannya yang semula berada di kamar tersebut juga tidak terlihat batang hidungnya.
"Mungkin mereka keluar daripada bosen di kamar." gumam Tita lirih seraya berjalan menuju ranjang tidurnya.
Di dalam ruangan tersebut memang terdapat empat ranjang kecil yang hanya cukup untuk ditiduri oleh satu orang saja. Dengan tangan yang tidak berhenti menguasap handuk untuk mengeringkan rambut basahnya Tita mendudukkan diri pada tepi ranjang.
Kembali meraih ponsel yang masih terhubung dengan kabel pengisi daya. Dengan tanpa melepaskan kabel pengisi daya Tita mengusap layar pada ponsel pintarnya, berusaha kembali menghubungi Kennan untuk memberitahukan jika dirinya tidak jadi pulang sore ini.
Mendapati chatnya pada Kennan yang masih dengan tanda centang satu, Tita kembali memencet kontak suaminya.
Beberapa saat menunggu, tetap saja tidak ada jawaban dari Kennan. Tita pun terlihat sangat resah, memencet ulang untuk meneruskan panggilan pada nomor kontak suaminya.
Hanya suara operator yang terdengar dari seberang. Tita tetap sabar dengan mengulang panggilan teleponnya dengan tidak berhenti menggigiti ujung kukunya karena gelisah.
"Abang kemana seh, kok nomornya gak aktif?!" tanya Tita dalam hati dengan rasa cemas yang mulai memenuhi lubuk hatinya.
Tita mengganti nomor panggilannya pada nomor Naura adik iparnya.
Ada rasa lega dalam hatinya saat mendengar bunyi nada sambung dari panggilan telfonnya. Setidaknya dirinya memiliki harapan untuk dapat bercakap dengan sang adik ipar.
Namun beberapa saat menunggu, tak terdengar adanya jawaban dari seberang.
Kecemasan kembali melanda hatinya, bagaimana tidak ponsel adik ipar maupun ponsel suaminya tidak satupun menerima panggilan telefon darinya.
"Ke mana seh mereka, kenapa keduanya tidak dapat dihubungi?" kembali muncul tanya dari dalam hati Tita.
Menghela nafas dengan kasar kemudian membuka chat pada aplikasi whatsappnya. Mengetik sesuatu untuk memberitahu Kennan.
Suami gantengkuโคโคโค
Abang maaf, Tita gak jadi pulang sore ini. Jadinya nginep, Tita juga baru tahu kalau acaranya berubah.
Bang ...
Abang kemana sih?
Abang jemput Tita ya, perasaan Tita gak enak. Tita lihat Sisil di sini
Bang
????
Setelah selesai mengetik, Tita segera mengirimkan chatnya. Beberapa saat menunggu, hanya terlihat tanda centang satu pada chatnya. Sepertinya ponsel Kennan sedang tidak aktif.
__ADS_1
Tita menghela nafas perlahan kemudian kembali meletakkan ponselnya pada meja kecil yang tidak jauh dari sisi ranjangnya.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, Sinta memasuki kamar dengan senyum mengembang.
"Dari mana Sin? Seneng banget keknya." Tita memandang Sinta dengan heran.
Sinta mendekat dengan tidak menyurutkan senyum pada bibirnya. Lalu memeluk bahu Tita dengan riang.
"Rahasia" ucap Sinta tersenyum senang dengan menekankan kata pada ucapannya.
Tita tersenyum. "Main rahasia rahasia segala seh." ujar Tita dengan mencubit gemas pada hidung Sinta hingga membuat adik kelasnya itu mengibaskan kepala menghindar.
"Kamu udah mandi?" tanya Tita pada Sinta.
"Udah kak, tadi mandi di kamar sebelah."
"Kenapa, aku lama ya?"
"Enggak kak, bukan begitu. Tadi sekalian ngobrol asyik sama teman - teman di sana." jawab Sinta dengan sedikit gugup. Beruntung kakak kelasnya itu tidak menyadarinya. Hal itu terbukti dari Tita yang terlihat manggut manggut tanda mengerti dan tidak banyak bertanya lagi.
"Kenapa kak, kek gelisah banget?" Sinta bertanya menelisik saat melihat kakak kelasnya itu berkali kali menghubungi seseorang pada ponsel pintarnya.
Tita terlihat menghela nafas pendek.
"Ini, dari tadi tidak bisa hubungin orang rumah. Chat kakak juga belum dibaca sama sekali. Gimana kalau mereka gak tahu terus jemput kakak ke sekolah dan menunggu lama di sana." sahut Tita dengan nada resah.
"Tapi kakak udah kirim chat kan?"
"Tunggu wae, yang penting kakak udah kasih kabar. Nanti pasti di baca, mereka pasti hubungi kakak." Sinta berusaha menenangkan.
"Semoga saja."
...๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ...
"Argghh ... sial!! Kenapa gak ada yang bangunin gue seh." Kennan terkaget sembari mendudukkan diri di atas ranjang saat melihat ke arah jam dinding kamar yang menunjuk angka 5 sore.
Dengan gegas Kennan memasuki kamar mandinya untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Kennan segera segera memakai sarung untuk melaksanakan sholat asharnya yang hampir terlambat. Setelah mengakhiri kewajiban sholatnya Kennan segera mencari baju yang akan dipakainya untuk menjemput Tita.
Tidak sabar rasanya untuk membawa Tita segera pulang ke apartemen dan mendekap tubuh ramping itu semalaman. Baru juga setengah hari namun rasanya seperti setahun dirinya tidak bertemu Tita.
Ah ... kulkas dua pintu bisa lebay juga๐
Kennan mencabut kabel pengisi daya dari ponselnya. Lalu mendudukkan diri pada tepi ranjang sembari menunggu ponselnya menyala. Berharap sang isteri belum sampai di sekolah.
"Semoga saja masih perjalanan." gumam Kennan dengan tak sabar.
__ADS_1
Drrt... drtt... drtt...
Getaran pada ponsel pintarnya tidak berhenti bahkan bergetar berulang.
Kennan menautkan kedua alis matanya saat melihat banyaknya notifikasi panggilan tak terjawab serta chat dari Tita, isterinya
Segera mengusap layar ponsel pintarnya, kemudian membaca satu persatu chat dari Tita.
Saat mendapati chat Tita yang mengatakan bahwa gadis itu menginap serta adanya Sisil di sana, Kennan merasakan dadanya bergemuruh. Kepanikan melanda hatinya sekarang.
Dengan gegas Kennan menyambar jaket pada meja rias sembari mencoba menghubungi kontak Tita.
Tidak ada sahutan dari seberang meski sambungan telephonnya berdering. Berkali kali Kennan mencoba menghubungi dengan berjalan terburu buru menuruni tangga rumah.
"Bang! Mau kemana? Jangan buru - buru." Bunda Vida menginterupsi saat melihat anak lelakinya berjalan menuruni tangga denga wajah yang terlihat panik.
"Maaf Bun!" Seru Kennan tanpa memperdulikan Bunda Vida karena tatapan matanya masih pada layar ponsel yang tidak mendapatkan jawaban dari Tita.
"Abang mau kemana?"
"Mau nyusul Tita." Kennan memberi jawaban lalu mencium punggung tangan bunda Vida saat sudah berada di dekat bundanya.
"Assalamualaikum Bun." pamit Kennan dengan terburu - buru.
"Waalaikumsalam, hati - hati Bang. Jangan ngebut!" seru Bunda Vida pada Kennan.
Kennan hanya memberi tanda dengan tautan jempol dengan telunjuk tanpa menoleh ke belakang dimana bundanya sedang memandangnya khawatir.
Kennan memasuki HRV hitamnya, lalu dengan gegas menginjak pedal gas untuk segera menuju tempat outbond Tita dengan anak - anak osis.
Dengan tidak berhenti mencoba menghubungi kontak Tita yang tidak mendapat jawaban dari empunya.
"Elo kemana seh Ta, angkat telfon gue..." gumam Kennan dengan khawatir.
Rasa gelisah mulai menghantui batinnya saat ini.
๐จ๐จ๐จ๐จ
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
__ADS_1
Tambahkan favoritโค
Tengyu for reading tulisan receh othor๐๐๐๐