
Mohon maaf bila masih banyak typo yang bertebaran πππ.
Selamat membaca π€π€π€.
πΊπΊπΊ
Aku duduk di tepi ranjang, dengan handphone yang sudah ku tempel kan ditelinga.
"Kenapa, Vi ?."
Aku menghela nafas pelan, takut Alvin tidak terima atas hal yang sudah ku lakukan tanpa persetujuannya terlebih dahulu.
"Aku menerima ibu menginap di rumah, mas."
"Ohh, kirain ada apa. Ya tidak apa, Vi."
Aku terdiam. ku kira Alvin akan marah atau kecewa, mengingat ini rumahnya dan takut kalau ibu tau rencana ini akan berantakan. Terutama jika hal ini diketahui keluarga nya, bisa bisa tamat riwayat Alvin.
"Vi !." Panggil Alvin
"Ahh, iya mas."
"Kamu pasti sedang melamun. Jangan kebanyakan melamun."
"Iya. Kalau gitu sudah dulu ya, mas."
"Iya."
Panggilan berakhir.
Kini aku sedang bersiap memasak makanan untuk makan malam, bersama bibi. Ibu ku suruh duduk saja di meja makan. Ketika sedang sibuk memasak, aku seperti mendengar suara Alvin. Apa mas Alvin sudah pulang ? Tapi kan baru saja tadi masuk waktu isya, sedangkan mas alvin pulangnya jam 8. Batin ku, sembari mengaduk capcai yang berada di teflon.
Ketika aku sedang membawa piring berisi masakan ku ke arah meja makan, aku sedikit terkejut mendapati Alvin yang sudah terduduk di kursi meja makan yang berada dihadapan ibu. Sejak kapan ia ada disana ? Ahh, jangan jangan sejak aku seperti mendengar suara Alvin. Tumben sekali ia pulang cepat. Kesambet apa kamu mas.
__ADS_1
Setelah meletakan semua masakan dibantu bibi, aku duduk di samping ibu.
"Vi." Ujar ibu.
"Iya." Sembari menoleh ke arah ibu.
"Masa kamu duduk disini. Kamu kan sudah mempunyai suami."
π²π²
"Ahh, iya." Sembari mengangguk anggukan kepala, lalu pindah duduk disamping Alvin.
Ketika aku sedang makan, tiba-tiba Alvin menyentuh bibir ku lembut dengan ibu jarinya. Apa yang ia lakukan ? Disini bukan hanya ada aku dan ia. Ia bilang ada sisa makanan dibibir ku. Ya mau ada sisa makanan atau tidak, seharusnya ia tidak melakukan itu. Ku lihat ibu tersenyum lebar, aku kan jadi malu.π€π€
Setelah makan aku temani ibu, dikamar tamu.
"Ternyata Alvin orangnya romantis juga yaa." Goda ibu, sembari terduduk di tepi ranjang.
"Biasa aja." Sembari terduduk di tepi ranjang samping ibu.
"Aku tidak jutek, Bu."
"Bersikap lebih manis lah pada suami mu."
Kalau saja aku dan Alvin saling mencintai, aku juga akan tersipu malu saat ibu goda, dan akan bersikap lembut dan manis pada nya. Tapi ibu tidak tau, lebih baik aku iyakan saja. Aku tak ingin ibu tambah bersedih dengan masalah ku.
"Iya, Bu."
"Vi. Jika mencapai kebahagiaan itu sulit, maka ada saat nya kamu harus menempuh jalan sulit itu. Jangan takut akan resiko yang akan membuat mu sakit."
Jleeb...
Aku terdiam. Kalimat ibu selalu tepat sasaran. Kalimat ibu adalah hal yang selama ini aku takuti. Apa aku bisa melewati jalan sulit itu ? Akan kah aku bahagia ? Apa aku harus mencobanya, terlepas dari kenyataan bahwa alvin tidak mencintaiku ?.
__ADS_1
"Cobalah ! Kamu tidak akan tau hasilnya, jika tidak mencoba."
"Tapi kalau aku terluka bagaimana Bu ?."
"Terluka itu hal biasa, jika kita menganggapnya bukan suatu masalah besar yang bisa mengakhiri hidup kita. "
Setelah mengobrol dengan ibu yang memberi ku beberapa pelajaran, aku bergegas menuju kamar ku. Ketika aku membuka pintu, aku terkejut akan kehadiran Alvin yang sudah berada di atas ranjang dan hendak terduduk. Aku masuk, lalu menutup pintu.
"Ada apa mas kesini ?." Tanya ku, sembari berjalan kearah nya.
"Saya akan tidur disini !."
"Apa ." Ujar ku sedikit keras, lalu menutup mulut ketika mengingat ada ibu.
"Kamu apa apaan sih, mas."
"Kamu mau ibu mu tau kalau kita beda kamar ? Kamu mau mengecewakan nya ? Kalau iya, yasudah." Lalu beringsut dari kasur.
Alvin benar. Aku harus memikirkan perasaan ibu. Aku tidak ingin, ibu menyalahkan dirinya sendiri. Aku menggapai tangan Alvin, lalu membalikkan tubuhku kearah nya.
"Baiklah, kamu bisa tidur disini." Sembari melepaskan tangannya.
Aku beranjak naik ke kasur, lalu merebahkan tubuh ku. Ku tarik selimut sampai menutupi separuh tubuhku. Alvin naik ke atas kasur, tiduran disampingku. Aku menaruh guling ditengah sebagai batas diantara kami. Biarlah ia tidur di ranjang ini. Lagipula hanya selama ibu menginap. Dan lagipula ini bukan yang pertama kalinya, aku sudah pernah tidur satu ranjang dengan nya dan yang terpenting dia adalah suamiku, jadi tidak ada salah seperti ini.
Biasanya aku langsung bisa tertidur tapi kali ini rasanya ada sesuatu yang menjaga ku untuk tidak tertidur. Posisi ku yang semula membelakangi Alvin, kini perlahan aku menghadap kearah Alvin yang dalam posisi tidur terlentang.
Ketika melihat wajahnya sedekat ini, aku berpikir. Apa aku terlalu kejam dengannya ? Tidak bisakah aku lebih manis dengannya ?. Walau alvin tidak mencintai ku, tapi sikapnya tidak pernah kejam dengan ku. Dalam dinginnya ia terus memperhatikan ku. Seharusnya aku memberikan penghargaan, atas sikapnya selama ini.
Aku membulatkan mata, ketika melihat Alvin memindahkan guling yang berada di tengah, lalu ia mengangkat kepalaku, ditaruh nya kembali kepalaku ditangan nya, kemudian ia membawa tubuhku kedalam dekapannya. Aku tertegun. Apa ia tidak sadar ? Ia kira aku guling.
"Tidurlah, Vi !." Masih dengan mata tertutup.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya readers πππ