
"Tatung!"
Seruan Keanu sungguh membuat Kennan terkejut untuk kesekian kalinya.
Bersamaan dengan larinya sang anak, Kennan mengikuti melalui ekor matanya.
"Hai jagoan!" Ayah Kennan berseru dengan mengambangkan telapak tangan kanannya. Sang cucu pun menyambut melakukan gerakan tos tangan dengan senang.
"Udah lama datengnya? Kakak sama bunda juga?"
Ayah Kennan dengan jongkok lalu menggendong anak lelaki Kennan.
"Iya. Sama oyang jeyek juga." Jawaban bocah kecil itu membuat Kennan melongo.
Bagaimana bisa wajah Tita dengan turunan sifatnya itu tetap menyebutnya dengan panggilan yang pastinya Kennan tau siapa orang yang mengajarinya.
Sialan lo Lex... batin Kennan mengeram.
Kennan memandang iri pada sang ayah. Di mana anak lelaki kecilnya memasrahkan tubuh dalam gendongan sang kakek dengan nyaman.
Padahal itu tidak terjadi padanya, yang notabene adalah ayah kandungnya.
"Mana orang jeleknya?" tanya ayah Kennan dengan terkekeh kecil.
Tentu saja ayah Kennan belum menyadari keberadaan Kennan yang sedikit terhalang dengan buffet tempat menyimpan hiasan guci mahal bunda.
"Itu tu, oyang jeyeknya deketin unda muyu." Keanu dengan bibir mengerucut, sangat lucu.
"Adek nggak boleh gitu." Tita berseru lembut.
Ayah Kennan pun menoleh ke arah Tita dan Kennan sesaat. Terlihat biasa saja. Tidak ada keterkejutan sama sekali pada wajah paruh bayanya. Lalu berjalan mendekat pada isterinya seraya berkata seolah menyindir keberadaan Kennan.
"Oh iya, beneran jelek ternyata. Nanti bilang sama bunda jangan mau deket deket, takut jeleknya nular." Ayah Kennan dengan mengendus pipi gembul Keanu , sengaja mengusik.
Bocah kecil itu terkekeh geli.
"Yang tung yang bilang sama unda, unda ndak au dengel Eanu."
(Eyang kakung yang bilang sama bunda, bunda nggak mau denger sama Keanu)
"Benarkah?" sang kakek dengan memperlihatkan kedekatannya pada sang cucu. Seolah sengaja membuat Kennan cemburu.
Bunda Kennan ikut terkekeh kecil mendengar ucapan ucapan lucu Keanu. Namun beliau memilih fokus dengan Kenina tanpa mau menimpali.
Tita mengusap lembut punggung tangan Kennan, seolah memberikan dukungan padanya. Tita tau sebenarnya kedua orang tua Kennan hanya memberikan sedikit pelajaran pada anak lelakinya, tidak bermaksud lain.
Kennan menghembuskan nafas panjang. Sepertinya yang membutuhkan perjuangan adalah maaf dari kedua orang tuanya, bukan dari Tita isterinya.
"Kalian pernah ke sini sebelumnya?" Kennan memilih bertanya pada sang istri alih alih menyapa sang ayah.
Meski tanya Kennan cukup lirih namun hal itu masih tertangkap oleh rungu sang bunda.
"Nggak usah menyalahkan istrimu. Salahkan saja dirimu yang tidak pernah pulang Bang." Bunda seraya menciumi kedua pipi cucu perempuannya gumush.
Bunda Kennan tahu sorot mata sang anak menuntut jawaban dari isterinya.
__ADS_1
"Bunda yang menyuruh istrimu diam, tidak mencarimu. Meski bunda tahu kalau abang sudah kembali ke Jogja beberapa bulan lalu." lanjut Bunda kemudian.
"Bunda melarangmu datang bukan berarti kamu terus memutuskan hubungan dengan rumah ini kan Bang?!" Bunda terdengar lembut namun penuh dengan tekanan. Terlihat jelas bahwa sang bunda menahan emosinya.
Ayah menggeser duduknya mendekat. Mengusap punggung sang isteri untuk menurunkan emosi di hatinya. Ayah tahu isterinya sangat kecewa dengan sikap Kennan yang seolah melarikan diri dari masalah.
Namun ayah tidak ingin bunda terbawa emosi dan meluapkannya. Karena saat ini ada dua bocah kecil yang tak tau apa apa berada di sana.
Sesaat setelahnya hening karena Kennan tak mampu menyahut. Kennan hanya terdiam.
Bunda tampak mengatur nafas untuk membuang emosi yang sempat dikekangnya.
Kennan akui dirinya memutuskan segala sesuatu dengan jalan pikirannya sendiri tanpa mau meminta pertimbangan dengan orang lain. Pun begitu kepada kedua orang tuanya.
Dirinya memang menelan mentah mentah kalimat pengusiran sang bunda lima tahun lalu. Sedikit pun Kennan tidak pernah memikirkan betapa kecewa kedua orangtuanya saat itu. Kennan tetap egois memikirkan dirinya sendiri yang merasa dirinya paling terpuruk, tanpa peduli jika bukan hanya dirinya yang tersakiti saat itu.
"Assalamualaikummm...."
Seruan salam dari luar memecah keheningan dalam ruang keluarga tersebut.
"Walaikumsalam warrahmatulohi wabarokatuh." semua hampir serempak. Terkecuali Kennan yang tetap berucap lirih.
"Iam coming..." lengking Naura dengan memasuki rumah.
"Loh... hek..." Naura menghentikan langkah kakinya saat mendapati ayah bundanya tidak sendiri.
"Mbak Tita!" Naura berseru seraya menghambur, langsung memeluk dan mencium pipi sang ipar.
Ayah dan bunda tersenyum tipis, si kembar menatap bingung sedangkan Kennan hanya melirik Naura melalui ekor matanya.
"Ra..." tegur Bunda.
Naura yang baru merasakan aura tak biasa, terlihat cengngesan canggung.
"Ah.... saat yang tidak tepat." Naura dalam hati
"Sorry bun..." pelan Naura memilih mendekat pada sang bunda karena baru menyadari ada duo boneka bernyawa berbeda jenis tengah asyik nyemil di sana.
"Hay boys, girl..."
"Hay juga ante." Kenina yang menyahut.
Keanu hanya sekilas memandang datar pada Naura, lalu asyik kembali pada aneka macam kue di depannya.
"Eh kita ketemu lagi cantik." Naura dengan menoel pipi Kenina gemes saat menyadari wajah gadis kecil di samping sang bunda.
Kenina menganggukkan kepala berulang, menarik bibir menyunggingkan senyum pada wajah cantiknya. Karena saat ini mulut Kenina penuh dengan makanan.
"Hiss... lucu banget sih. Lucu ya bun?" Naura pada sang bunda.
Bunda pun mengangguk tersenyum seraya menghapus sisa remah kue di pipinya.
"Insting Rara bener kan Bang, bibit abang ini bocil gemesin." ceplos Naura menoleh ke arah Kennan.
Kennan hanya diam tak bereaksi, justru memberikan tatapan tajam pada sang adik.
__ADS_1
Pluk!
"Kamu pikir tanaman. Kalau ngomong seenaknya aja." bunda menepuk pelan bibir Naura hinggga membuat gadis itu mengaduh.
"Bunda ih..." Naura dengan mengusap bibirnya.
Tita tersenyum tipis.
"Ketemu dimana mas?" Bisik Tita pada sang suami.
"Di mall XX sama Alex. Seminggu yang lalu kalau nggak salah."
"Oh." Tita manggut manggut.
"Eh yang ntu siapa yak... sombong amat sih." Naura beralih pada Keanu yang terlihat tak peduli pada kehadirannya.
"Hello..." Naura menusuk pipi bakapao Keanu.
"Jan cusuk cusuk Anu. Anu ndak mau jadi icutan jeyek." (jangan tusuk tusuk Keanu. Keanu ndak mau jadi ikutan jelek)
Keanu dengan mengusap bekas tusukan Naura. Wajahnya cemberut dengan bibir mengerucut saat berucap kata.
Naura terkekeh melihat aksi bocah kecil tersebut yang mengingatkannya pada sang kakak.
"Beneran bibit abang ini." Naura dengan terkekeh.
"Raa..." Bunda.
Sontak Naura menutup mulutnya dengan tangan sebelum bunda mendaratkan tangan pada bibirnya kembali.
"Namanya siapa mbak?" Naura ke arah Tita.
"Eyanu te." Kenina yang jawab.
"Kemayu?" Naura dengan sengaja.
"No." Seru Kenina dengan menggerakkan tangan memberi tanda jika ucapan Naura salah.
"Eyanu." Kenina menunjuk sang adik. "Eyina." tunjuk Kenina pada dirinya sendiri.
"Siapa sih bun, gue nggak ngerti deh."
"Keanu sama Kenina tante." Bunda dengan tersenyum lembut pada kedua bocil tersebut.
"Owalah Keanu." Naura mengangguk tanda mengerti. Kalau Kenina mah udah tahu." Lanjut Naura.
"Hey Kean senyum gini." Naura menarik kedua bibirnya tersenyum. "Jangan gini, entar jelek kek itu tu." Lanjut Naura mengerucutkan bibir seraya menunjuk Kennan.
"Gak! Anu cacep kek papa Ayek, gak jeyek kek yayah Eyina."
(Gak! Keanu cakep kek papa Alex, gak jelek kek ayah Kenina)
Keanu bersidekap dada seraya menekuk wajahnya kesal. Tak lupa memberikan lirikan tajam pada Kennan.
Ah... sungguh sangat pantas jika disebut sebagai pengganti kulkas dua pintu yang telah usang.
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨