Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 231


__ADS_3

"Incess... kenapa perasaan Tita nggak enak ya?!" Tita meraba dadanya yang entah ada sesuatu yang mengganjal di sana.


"Nggak enak gimana maksud lo Ta?" Hani mendongak mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya di atas meja.


Tita dan Hani, keduanya saat ini sedang berada di perpustakaan. Mereka mengisi waktu luang mereka dengan membaca banyak buku pelajaran karena minggu depan mereka akan menjalani ujian nasional. Ujian yang akan menentukan nasib mereka selama tiga tahun mengemban ilmu di bangku sekolah menengah atas.


"Tita juga nggak tahu. Rasanya kek nggak enak gitu, berasa kek ada yang kurang atau ada yang salah gitu. Pokoknya kepikiran terus, nggak bisa fokus belajar." Tita pun tidak dapat menggambarkan rada yang menyelumuti hatinya.


"Elo mikirin apa? Inget rumah... kek berasa ada yang belum dimatikan atau apa gitu..."


Tita menautkan kedua alis matanya, seolah berfikir lalu menggelengkan kepala setelahnya.


"Enggak... keknya bukan itu deh. Tadi pagi Tita sama abang sarapannya cuma beli di jalan pas mau berangkat sekolah kok, dapur aman... nyuci juga enggak... " Tita dengan mengingat.


"Pas beli sarapan lo berdua makan di tempat?" tanya Hani.


"Iya." Tita mengangguk.


"Hape lo ketinggalan di tempat lo makan kali..."


"Enggak lah... orang tadi Tita kan telfon incess pas ngajakin ke perpustakaan. Nggak mungkin dong ketinggalan..."


"Kepikiran menjelang ujian mungkin..." Hani mencoba menebak rasa tidak enak yang menyelimuti hati sahabatnya.


"Nggak juga. Tita udah sadar diri kok. Pasrah aja sama jalan yang telah ditentukan sama sang maha pencipta. Sekarang Tita ikut bimbel, abang juga sesekali ngajarin kalau Tita kesusahan pelajaran. Lagian abang juga selalu bilang ke Tita supaya tidak memaksakan diri." Tita memang menyadari kemampuan otaknya yang standar.


Hani mendengus, bukan bermaksud mengejek sahabatnya.


"Iya sih, elo mah enak, nggak lanjut sekolah pun masa depan udah jelas. Udah ada yang nanggung, bakalan jadi nyonya besar. Nah gue... gue mesti lari buat ngejar mimpi gue. Hujan badai, angin topan, halilintar mah gue ajak lari bareng..." Hani dengan bercanda.


Tita mengulum senyum.


"Incess apaan sih, bukan gitu maksud Tita. Bisa lulus dengan nilai pas pasan aja Tita udah seneng. Tita nggak muluk muluk, lagian kalau mau kuliah kan biayanya banyak. Tita nggak mampu deh bayarnya."


"Lah... elo kan punya suami Ta, nggak mungkin dong Kennan nggak mau biayain lo kuliah. Duitnya sendiri banyak, orang tuanya juga kaya. Nggak mungkin ngebiarin elo gitu aja... secara lo udah jadi bagian dari keluarga mereka, mereka pasti bertanggung jawab penuh sama hidup lo." Hani.


Tita tersenyum kecil. "Incess bisa aja. Kuliah desainer itu kan mahal. Lagian abang keknya mau ambil kedokteran, butuh biaya gede kan..."


Tita memang ingin menjadi seorang perancang busana, karena di situlah keunggulan Tita. Untuk kemampuan mata pelajaran Tita memang pas pasan namun skill menggambarnya jago, bisa diacungin jempol.


"Eh... elo pernah nggak ngobrolin masalah cita cita lo sama Kennan?" Hani bertanya topik lain untuk mengalihkan perasaan Tita yang katanya tidak nyaman.

__ADS_1


"Sedikit."


Hani memandang Tita dengan kening mengerut. "Maksud lo... elo nggak ngomong terbuka gitu tentang cita - cita lo sama Kennan?"


Tita mengangguk.


"Tita belum yakin mampu menjalaninya incess. Tunggu nanti setelah surat kelulusan benar - benar di tangan Tita. Baru ngobrol banyak sama abang. Lagian dia itu kalau sekali aja Tita ngomong kalau mau jadi desainer gitu aja, pasti dia bakalan heboh sendiri." Tita dengan senyum membingkai wajahnya.


"Namanya juga suami Ta..." Hani pun tersenyum.


"Tapi kenapa rasanya hati Tita makin nggak nyaman ya ncess...?" lagi Tita mengungkit kegundahannya.


"Elo kecapekan kali Ta..."


"Kecapaean nggak ada hubungannya dengan keresahan inceesss..."


Meski Tita memang merasa sedikit lemas dan seluruh badannya terasa remuk redam efek gempuran Kennan kemarin, namun Tita yakin resah hatinya bukan karena itu. Tita merasa ada serpihan kecil yang membuat lubang di benaknya. Entah apa itu, yang pasti hal membuat harinya terasa kurang lengkap saat ini.


"Incess, Tita duluan ya... incess mau bareng nggak?" Tita dengan menutup buku yang di bacanya.


Hani mendongak, sesaat berfikir lalu mengikuti Tita menutup buku pelajaran yang dibacanya.


Tita dan Hani pun akhirnya beranjak pergi dari ruang perpustakaan.


Saat keduanya berada di ujung koridor menuju kelas, Hani pun berpamitan karena arah kelas keduanya bersebrangan.


"Da... incess..."


"Dada juga Ta..."


Keduanya saling melambaikan tangan dengan senyum yang tak lupa menghiasi wajah keduanya.


Tita berjalan pelan saat menuju kelasnya, entah kenapa langkah kakinya terasa berat. Keresahan masih mengendap di dalam benaknya. Tita pun menghentikan langkahnya, terlihat berfikir sembari menggigit kuku jari telunjuknya.


Beberapa saat setelahnya, Tita memutuskan membelokkan tubuhnya. Melangkah ke arah koridor kelas Kennan yang satu koridor dengan kelas Hani sahabatnya.


Entah mengapa rasa di hatinya seolah menuntunnya ke sana.


Saat berada di dekat pintu kelas Kennan, Tita hanya berdiri di depan tanpa ada keinginan untuk masuk. Meski sebenarnya kelas sang suami jamkos namun Tita hanya berdiri di depan pintu dengan memindai sudut kelas tempat duduk sang suami.


Kening Tita mengerut saat hanya mendapati Arya dan Bima duduk berdua di pojokan tanpa adanya Kennan.

__ADS_1


Tita pun memberanikan diri untuk melangkahkan kaki lebih dekat. Kedua bola matanya bergerak mencari keberadaan sang suami, namun tetap saja tidak menemukan sosok tampan suaminya.


"Kok nggak ada sih..." gumam Tita lirih.


Seorang teman sekelas Kennan yang menyadari keberadaan Tita pun mendekat dan bertanya.


"Nyari Kennan?" tanyanya.


Tita mengangguk mengiyakan.


"Bentar." sahut teman sekelas Kennan yang berjenis kelamin laki laki tersebut.


"Woy twins!! Kennan mana? dicariin ceweknya nih..." teman sekelas Kennan tersebut dengan berseru.


Bima dan Arya yang semula asyik ngobrol pun mendongak ke arah pintu kelas.


Saat keduanya mendapati Tita di ambang pintu masuk, mereka saling pandang sesaat. Lalu Arya beranjak mendekati Tita tanpa Bima.


"Kenapa Ta?"


Arya saat berada di ambang pintu kelasnya.


"Abang kok nggak ada, kemana ya Ar?"


"Dia pamit pulang ke gue, tadi pas jam istirahat kedua. Emangnya cunguk itu nggak bilang sama lo?!" Arya mengatakan yang sebenarnya karena memang itulah yang di sampaikan oleh Kennan kepadanya saat hendak pulang tadi.


Tita menggeleng.


"Nggak nelfon atau ngechat lo... coba periksa dulu hape lo Ta, siapa tau aja lo gak denger tadi..."


Tita pun merogoh ponsel pintar dari saku rok sekolahnya. Mengusap layar pada benda pintar pipih tersebut.


"Nggak ada pesan atau miscall dari abang kok Ar..." Tita dengan menunjukkan layar ponselnya pada Arya.


"Masak sih... masak dia nggak ngabarin lo." Arya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Emm... mungkin dia nggak sempet apa ya... soalnya kek buru buru gitu deh. Kalau nggak salah habis terima telfon langsung kabur dia." Arya menjelaskan sembari mengingat kejadian beberapa saat lalu, dimana Kennan memang berpamitan dan menyuruhnya untuk izin pada guru mapel berikutnya.


"Oh gitu ya... ya udah makasih ya Ar..."


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2