
Drrtt.... drrttt...
Terdengar bunyi ponsel Kennan bergetar di atas meja. Kennan yang saat ini sedang fokus mengecek laporan keuangan kafenya terlihat mengabaikan hingga getaran pada ponsel tersebut berhenti dengan sendirinya.
Kennan sengaja mengabaikannya karena merasa panggilan itu tidaklah penting, meski Kennan belum tahu siapa yang menelfonnya. Dia berfikir demikian karena Tita berada di kafe bersamanya.
Karena saat ini Tita berada di lantai bawah, sedang melayani pengunjung kafe K&Y dan dirinya berada di lantai atas di dalam ruang kerjanya. Kennan berfikir jika Tita mencarinya pasti langsung baik ke atas menuju ruangannya tanpa harus memanggil melalui telfon, itulah alasan Kennan memilih mengabaikan ponselnya yang tidak berhenti bergetar tersebut.
Namun beberapa saat setelah ponsel yang berada tak jauh dari laptopnya itu berhenti, benda pipih tersebut kembali bergetar tanpa henti.
Dengan malas Kennan meraihnya lalu melihat siapa yang tidak berhenti menelfonnya.
"Yuna..." gumam Kennan lirih dengan memandangi nama yang tertera pada layar ponselnya.
Klotak...
Kennan melempar asal ponsel miliknya tanpa mau menjawab panggilan tersebut. Kennan memang memutuskan mengabaikan setiap panggilan Yuna setelah mengetahui kebenaran hubungan Satya dan Tita adalah saudara kandung. Bukan hubungan kekasih seperti yang Yuna ungkapkan kepadanya.
Huh...
Terdengar hembusan nafas kesal dari mulut Kennan saat ponsel pintarnya kembali bergetar.
"Apa sih maunya itu anak?!" lagi terdengar gumaman keluar dari mulut Kennan sambil melirik sekilas pada layar ponsel pintarnya.
Panggilan Yuna pada ponsel pintarnya membuat mood Kennan kesal dan mengganggu konsentrasinya. Padahal pekerjaannya masih menumpuk banyak, bahkan belum setengahnya terselesaikan.
Kennan harus pandai pandai mengatur waktu untuk menyelesaikan urusan pekerjaan saat ini, karena ujian sekolah sebentar lagi dimulai. Kennan tidak ingin nilai sekolahnya anjlok karena bisa membuatnya tidak bisa mendapatkan universitas yang telah diincarnya selama ini.
Meskipun dengan otak cerdasnya Kennan dapat dipastikan mampu mencapai target nilai yang diharapkan olehnya namun tetap saja dirinya tidak boleh lalai mengutamakan pendidikannya.
__ADS_1
Bagi Kennan untuk bersekolah di universitas swasta paling mahalpun, ayahnya pasti mampu membiayainya. Namun Kennan tetap berusaha meraih Perguruan Tinggi Negeri agar bisa membiayai sekolahnya dan Tita yang tentunya akan berlangsung bersama, karena pasangan remaja itu berada di tingkat pendidikan yang sama.
Dan lagi Kennan harus merancang masa depannya secara matang, apalagi dirinya telah memiliki Tita sebagai isterinya yang pastinya akan menjadi tanggung jawabnya. Belum lagi jika Tuhan menganugerahi Tita momongan nantinya.
Kennan tidak mau selalu mendapat tunjangan dari keluarganya. Dirinya harus belajar memenuhi semua kebutuhan rumah tangganya sendiri.
Hufftt...
Kennan kembali menghembuskan nafas kasar lalu dengan cepat meraih ponselnya dan mutuskan menjawab panggilan dari Yuna, karena Kennan merasa terganggu dengan getaran pada ponsel pintarnya.
"Hallo Yun, ada apa?" Kennan berusaha menahan emosinya, sebisa mungkin membuat suaranya tedengar datar tanpa emosi.
"Hai Kenn... kenapa akhir akhir ini kamu susah banget sih dihubungi?" terdengar suara lembut Yuna dari seberang telfon.
"Sorry aku sibuk banget, harus membagi waktu antara pekerjaan dan sekolah. Apalagi bentar lagi ujian." Kennan jujur, karena itu memang kebenarannya.
"Sorry." sahut Kennan pendek.
"Kamu di mana?" tanya Yuna.
"Aku lagi di rumah." Jawab Kennan dengan berbohong. Kennan tidak mungkin mengaku berada di kafe, jika dirinya mengaku Yuna pasti akan bergegas menemuinya. Yuna memang tidak berani jika harus menemui Kennan ke rumahnya.
"Oh... kirain lagi di kafe... Aku kanget banget sama kamu..." kali ini Yuna terdengar sendu.
"Nggak usah lebay kek gitu, temen kamu bukan cuma aku, lainnya banyak kan?!"
"Tapi kangen aku kan sama kamu Kenn...." Yuna tanpa malu mengungkapkan kerinduannya pada Kennan toh dulu Yuna merasa biasa melakukan hal tersebut.
Meskipun sebenarnya Yuna tahu jika sikap manjanya tersebut mbuat Kennan risih namun tetap saja Yuna melakukannya. Yuna memanfaatkan rasa bersalah Kennan pada Satya hingga mau tak mau membuat Kennan harus bertahan dengan sikap manjanya.
__ADS_1
Padahal sesungguhnya kecelakaan Satya sudah direncanakan oleh Yuna. Dengan licik Yuna telah membayar seseorang untuk membuat rem motornya blong dan membuat Satya mengantikan Kennan untuk menjadi joki saat balapan liar malam itu.
Yuna memang sudah menyukai Kennan sejak lama namun Satya lah yang menjadi penghalangnya untuk mendapatkan Kennan. Yuna tahu alasan yang membuat Satya menjadikan Yuna sebagai pacarnya. Dan sesungguhnya Yuna pun tahu jika Satya dan Tita adalah saudara kandung. Meskipun Satya dan Tita tinggal terpisah, Satya tinggal sendiri di rumah keluarga besarnya dan Tita tinggal bersama neneknya namun dengan otak liciknya Yuna dapat mengorek informasi hubungan keduanya dengan membayar orang.
"Yun... enggak usah bertingkah seolah kamu punya hubungan spesial sama aku. Kamu tahu yang sebenarnya kan kalau status hubungan pacaran kita cuma bohongan...?!" Kennan berusaha sekuat mungkin menahan emosi di dalam dadanya.
"Tapi Kenn... kamu kan tahu kalau kebersamaan kita selama ini membuat aku memiliki rasa lebih untuk kamu..." Yuna kembali memasang nada sendu, bahkan terdengar isakan kecil keluar dari mulutnya.
"Tapi kamu juga tau kan kalau aku nggak memiliki rasa sama kamu Yun... Aku nggak bisa memaksakan rasa itu sama kamu. Aku nggak bisa cinta sama kamu." Kennan dengan nada tegas, berusaha untuk tidak terpancing dan luluh akan akting Yuna. Meskipun sebenarnya Kennan juga tidak mengetahui saat ini Yuna mengatakan yang sebenarnya untuk membujuknya atau memang hanya akting saja.
Dulu memang Kennan selalu saja luluh akan sikap Yuna yang seolah membutuhkan perhatian serta kasih sayang darinya, apalagi saat itu Kennan merasa karena dirinyalah Yuna kehilangan Satya. Akan tetapi sekarang rasa itu telah hilang, menguap begitu saja.
"Kenapa sih kamu tega sama aku Kenn... kamu sekarang berubah. Hiks..." Yuna kembali berakting dengan mengeluarkan isakan lirih agar dapat meluluhkan hati Kennan.
"Aku nggak berubah Yun, dari dulu aku nggak memang seperti ini, nggak punya rasa sama kamu. Aku menjagamu dan semua yang aku lakukan untukmu semata mata hanya karena Satya. Dan kamu tahu itu dengan jelas bukan?!" Kennan dengan menghembuskan nafas lelah setelahnya.
"Tapi Kenn... apakah kamu tidak sedikitpun memiliki rasa untuk aku setelah kedekatan kita selama ini?" tanya Yuna penuh harap.
"Maaf Yun..." ucap Kennan dengan lirih.
Sejenak tidak ada yang saling berucap kata, kedua remaja yang hanya bersua melalaui udara tersebut hanya terdiam. Saling menyelami pikiran masing masing.
Hingga akhirya Kennan pun memutuskan untuk menutup panggilan dari Yuna.
"Sorry Yun, gue lagi sibuk. Pekerjaan gue masih banyak, gue mesti belajar buat ujian juga." pamit Kennan tanpa menunggu jawaban dari Yuna.
π¨π¨π¨π¨
Marathon ngetik buat double up, othor mon Maap kalau banyak typo n kata kata yang Amat sangat mbulet. Nanti revisi jika sudah ada waktu ππππππ»ππ»ππ»ππ»
__ADS_1