Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
142. Abang ... Lagi Dong


__ADS_3

Boleh tersenyum ...


Boleh ketawa ...


Boleh banget meninggalkan jejak komen ...


And than ...


Wajib banget like yak πŸ˜‰πŸ˜πŸ˜˜


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Dek ...!!!" pagi - pagi sekali teriakan Kennan menggema di seluruh apartemen memanggil isterinya.


"Iya bentar ... ini lagi di dapur!" Tita pun balas berteriak sambil menyelesaikan membuatkan susu untuk teman sarapan pagi dirinya dan Kennan.


Meskipun tadi Tita sudah membeli dua bungkus nasi gudeg di bawah namun karena Kennan selalu meminta dibuatkan susu setiap pagi, maka Tita pun selalu menyiapkan dua gelas susu hangat untuk sarapan.


"Dek ... dasi gue di mana?!" lagi Kennan berteriak dari dalam kamar.


"Di laci paling bawah keknya, deket sama daleman Bang!" Tita pun menyahut dengan teriakan dari dapur.


"Gak ada!" Kennan berseru dengan terlihat mengobrak - abrik seluruh isi laci bawah tempat daleman seperti yang Tita sebut dalam teriakannya.


Setelah Tita menaruh dua buah gelas susu hangat ke atas meja, dirinya dengan tergopoh - gopoh berjalan menuju kamar.


"Abaaanngg ... apa -apaan ini, kenapa bisa kek gini?!" Tita berucap dengan geram. Kedua bola matanya memandang laci almari bagian bawah yang berisikan daleman Kennan yang sudah lepas dari tempatnya, serta benda - benda keramat milik Kennan yang berantakan memenuhi lantai kamar mereka.


Sedangkan si Kennan sang tersangka hanya senyum cengengesan sembari mengusap belakang lehernya.


"Maaf ... habisnya nyari gak ketemu - ketemu."


"Tapi kan gak sampek berantakan kek gini Bang, Tita capek beresinnya sendirian."


"Maaf deh ... entar abang bantu wes, pulang sekolah tapi." Kennan masih saja cengengesan.


"Ck ... kek bocil wae, bisanya cuma bikin berantakan." sungut Tita sambil memunguti benda - benda keramat milik Kennan lalu memasukkannya ke dalam laci yang masih terlepas dari tempatnya.


"Udah ... entar pulang sekolah wae, gue bantuin. Yang penting dasi gue mana, belum ketemu nih."


Tita menghentikan tangannya dari memunguti daleman Kennan di lantai lalu berdiri membuka pintu almari. Kedua mata Tita memindai seluruh isinya, tetiba keningnya mengernyit. Kemudian mengangguk - angguk, menutup pintu almari pakaian dan berjalan ke arah pintu kamar.


"Kemana Dek ... dasi gue?!!" Kennan bertanya heran setelah melihat tingkah isterinya yang keluar kamar padahal dasi yang dimintanya belum ketemu.


"Tunggu bentar." sahut Tita sambil berjalan keluar dari kamar.


Tita mengarahkan kakinya menuju area laundry, tak berapa lama kemudian senyum terbit di bibir tipisnya.


Benar saja apa yang dipikirkannya, ternyata dasi milik Kennan masih menggantung di jemuran.


Tita meraihnya kemudian membawanya ke dalam kamar untuk diberikan pada sang suami.


"Nih Bang ...." Tita menyerahkan dasi milik Kennan yang masih terurai.


Kennan menerimanya. "Kok dilepasin seh simpulnya?"


"Kan dicuci Bang, kalau gak dilepasin mana bisa bersih nyucinya." jawab Tita sembari hendak berlalu keluar dari kamar.


"Mau kemana?" Kennan menarik pergelangan tangan Tita.


"Ke dapur Bang, emangnya mau kemana lagi ...."


"Pasangin dulu dasi gue!" titah Kennan pada isterinya.


"Ck ... biasanya juga pasang sendiri Bang ...." Tita menoleh ke arah Kennan.


"Kalau gak lo lepasin gue bisa, tapi kalau kek gini gue gak bisa pasang sendiri Dek."


Heh ...


Tita membuang nafas pendek lalu membalikkan tubuhnya menghadap Kennan.


Tita mengambil alih dasi dari tangan kekar Kennan.


"Nunduk dikit, Tita gak nyampek nih."


"Dasar seratus lima puluh centimeter kotor." gumam Kennan lirih namun masih terdengar oleh gendang telinga Tita.


"Enak aja abang ngatain Tita pendek, abang tu yang ketinggian. Kek tiang listrik di pinggir jalan." Tita bersungut sembari memasangkan dasi pada kerah leher suaminya.


Kennan menelisik wajah cantik isterinya yang terlihat segar setelah mandi. Bau harum sabun mandi aroma strawberry menguar dari tubuh Tita yang berdiri memasangkan dasi untuk dirinya.

__ADS_1


Tatapan mata Kennan menetap pada bibir pink Tita yang terlihat segar dan basah, bahkan aroma mintz yang keluar dari mulut Tita menyusup indra penciuman Kennan. Tetiba muncul hasrat ingin mencecap kembali rasa manis itu saat ini.


Kennan menelan ludahnya kelat.


"Dah selesai." Tita menepuk dan mengusap pundak Kennan serta merapikan seragam sekolah Kennan yang sedikit berantakan.


Udah kek Bunda Vida yang tiap pagi bantu ayah mertua pakek dasi aja, ye kan thor ... πŸ˜‚πŸ˜‚


"Dek."


Hem ... sahut Tita dengan masih mengusap seragam Kennan.


"Boleh minta cium ya?" Kennan bertanya serak.


Tidak ada sahutan dari pemilik bibir pink di hadapannya, namun kedua tangannya seketika menghentikan aktivitas mengusap baju seragam yang melekat pada tubuh Kennan.


"Boleh ya Dek ... bentar wae." Kennan memohon.


Lagi - lagi tidak ada jawaban dari Tita, namun dengan tiba - tiba isteri Kennan itu menangkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangan dan menariknya mendekat pada wajahnya.


Cup ...



Kennan tersentak kaget dengan mata yang terbuka lebar, mendapati aksi Tita yang berani menciumnya lebih dulu.


Tita mendaratkan bibir mungilnya pada bibir Kennan.


Bukan sekedar ciuman singkat yang dilakukan Tita untuk suaminya, melainkan Tita memberikan ciuman bibir yang disertai dengan lu**tan dan hisapan pada bibir Kennan.


Tita juga mulai berani menjelajah rongga mulut Kennan, dan menyusuri setiap sel di dalamnya.


Meskipun di awal Kennan sempat tersentak kaget, namun akhirnya dirinya mengikuti ritme ciuman yang diberikan isterinya.


Setelah beberapa saat, Tita melepaskan ciuman bibirnya dari Kennan.


"Gue gak nyangka elo berani cium gue duluan Dek ...."



"Habisnya abang tumben - tumbenan cium Tita pake minta izin dulu, biasanya juga nyosor wae ...." Tita menunduk malu sembari memainkan jemari tangannya.


Sebenarnya dirinya pun tidak menyangka jika berani mengambil ciuman dari bibir suaminya lebih dulu. Tita hanya mengikuti dorongan dari dalam tubuhnya yang tetiba ingin mengulang cecapan manis yang semalam sempat dirasakan olehnya.


Sesaat mengamati bibir pink Tita yang masih basah bekas ciuman mereka tadi. Kennan tersenyum, meneguk salivanya, menelisik wajah cantik di depannya yang juga sedang menatapnya intens. Perlahan Kennan memiringkan wajah dan menangkup bibir pink yang mungil itu ke dalam mulutnya.


Dengan lembut Kennan berganti menjelajah setiap inci sel dalam mulut isterinya. Semakin lama Kennan meminta ciuman yang menuntut untuk menyalurkan hasrat yang tetiba membuat suhu tubuhnya bergetar dan memanas.


Perlahan Kennan menarik pinggang Tita ke dalam pelukannya dan membawa ke atas ranjang tanpa melepaskan ciuman bibirnya.


Merasa tidak ada penolakan dari tubuh istrinya, Kennan membaringkan tubuh ramping itu pada kasur empuk yang menjadi tempat peraduan mereka.


Satu persatu tangan kekar Kennan melepaskan kancing baju seragam bagian atas milik Tita sambil bertukar saliva dengan pemilik tubuh ramping di bawahnya.


Desahan serta lenguhan dari kedua pasangan remaja itu memenuhi ruang kamar mereka disaat hari masih sangat pagi.


Tangan kekar Kennan mulai bergerak memainkan dua pucuk squisy milik Tita silih berganti, hingga empunya melenguh dan mendesis meski masih berada dalam tangkupan bibir Kennan.


Kennan tersenyum melihat kedua mata Tita terpejam menikmati tiap sentuhan yang diberikannya saat melepaskan tautan bibirnya.


Perlahan bibir Kennan mengambil alih dalam memainkan dua buah squisy milik isterinya hingga membuat empunya menegang saat menikmati tiap permainannya. Desahan halus terdengar lirih dari pemilik bibir yang terpejam tersebut.


Membuat hasrat Kennan semakin memuncak, memberikan dorongan untuk menuntut yang lebih dari sekedar menikmati bagian atas tubuh ramping di bawahnya.


"Dek ... bolos yuk ...." ucap Kennan serak dengan pandangan mata yang mulai berkabut gairah.


Tita yang semula terpejam menikmati sentuhan suaminya, tetiba terlonjak kaget dan mendorong tubuh kekar suaminya menjauh darinya.


Kennan yang tanpa persiapan sedikit terjungkal pada ranjang.


"Pelan - pelan dong Dek, untung gue gak jatuh ke lantai."


"Maaf Bang ... Tita gak bisa bolos." ucap Tita dengan mendudukkan diri serta menutup seragam atasnya yang setengah terbuka dengan tangan kanan.


"Ck ... hari ini doang, tanggung nih." Kennan terdengar memohon masih berbaring di ranjang.


"Gak bisa Tita ada dua ulangan hari ini." kini Tita mulai mengancingkan baju seragam atasnya yang tadi sempat dibuka oleh suaminya.


"Elo gak kasihan sama gue?!"


Sejenak Tita menghentikan aktivitasnya mengancingkan baju seragam atasnya sembari menoleh ke arah Kennan yang masih berbaring di ranjang.

__ADS_1


"Emang kenapa abang minta dikasihani?" tanya Tita bingung.


"Ya elah ... nanggung nih, elo gak ngerasain gimana rasanya sih Dek ...." Kennan memberengut.


"Sakit ya Bang ...?"


Kennan mengangguk. "Pakek banget ... sakitnya tu di sini." Kennan melirik bagian bawahnya yang berdenyut minta disalurkan.


Namun sayang Tita yang kembali mengancingkan baju seragam atasnya tidak memahami maksud suaminya.


"Gak sesakit ditinggal pas lagi sayang - sayangnya kan Bang ...." Tita malah bergurau dengan menyebutkan judul lagu patah hati versi dangdut yang sering dinyanyikan di perempatan lampu merah.


"Ck dasar isteri polos gak peka." Kennan mengumpat dalam hati sambil mendudukkan diri di atas ranjang.


"Bang ... bantuin." Tita memberikan punggungnya pada Kennan.


Kennan menghela nafas pelan. Menelusupkan kedua lengan tangannya pada punggung Tita untuk membantu memasangkan pengait branya.


Huh ...


Sabar - sabar ... kesabaran gue lagi diuji inih, Kennan membatin sambil melirik bagian bawahnya yang mengetat.


"Makasih Bang ...." Tita tanpa rasa bersalah beranjak menuju meja rias untuk merapikan seragamnya yang sempat berantakan akibat adegan panas beberapa saat lalu.


Kennan tidak menyahut, namun bibirnya mengerucut. Dirinya mengikuti Tita beranjak menuju meja rias dimana cermin besar terpampang di sana.


Kennan berdiri di belakang isterinya untuk membetulkan seragam dan menyisir surai hitamnya dengan jari.


Setelah selesai menyisir surai hitamnya, Kennan terlihat memandangi telapak tangan kekarnya seraya bergumam. "Ternyata besar juga ya ... pas banget sama tangan gue."


Tita yang memandangi perilaku Kennan dari balik cermin mengernyit heran. "Apa yang berasa pas di tangan abang?"


Kennan mendongak, memandang Tita yang sedang memakai jilbab sekolahnya pada cermin besar di depannya.


"Apa Dek ...?"


"Apa yang berasa pas di tangan abang?" Tita kembali bertanya penasaran.


Kennan tersenyum menyeringai.


"Mau tau aja ... apa mau tau banget ...." Kennan menggoda dengan mendekatkan wajahnya pada Tita.


"Ck ... Abang." Tita memberengut.


"Nih ... pas kan sama tangan gue?!" Kennan berucap kata dengan senyum mesum di dekat telinga Tita sembari meremas salah satu benda kenyal mirip squisy milik isterinya.


Tita yang tidak pernah menyangka akan perbuatan Kennan berteriak kaget.


"Abaaang ... sakit tau!" seru Tita dengan mendelikkan mata.


"Sakit ... mana ada sakit, tadi aja merem melek keenakan. Abang lagi dong lebih kenceng ...." Kennan lagi - lagi menggoda Tita.


"Gak!! Tita enggak ada ngomong kek gitu ya Bang ...!"


"Elo emang gak ngomong, tapi desahan lo itu yang kasih tunjuk. Elo juga dorong kepala gue kan, biar gue gak berhenti nyium itu ...." Kennan melirik sekilas pada gunung kembar Tita dari balik cermin, tersenyum sembari mengerlingkan mata nakal.


"Enggak!! Abang ngarang!!" Tita kesal lalu membalikkan tubuhnya ke belakang hendak meninju suaminya, namun gagal karena keburu Kennan kabur keluar dari kamar.


"Abaang ... lagi dong lebih kenceng ...!!" lagi Kennan berteriak dari luar kamar.


"Abaaaanggg ... nyebeliiinnn!!!" teriakan kesal Tita disertai dengan hentakan kaki menggema memenuhi apartemen.


Kennan pun mengiringi dengan tawa terbahak hingga memenuhi seluruh ruang apartemen.


🍨🍨🍨🍨


Maap nich selow update ...


Tapi lumayan panjang loh ...


Semoga sukak😍😘❀


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘


__ADS_2