
"Gak mau....Tita gak mau Abaang....", Tita menolak saat pagi ini Kennan mengajaknya untuk jalan - jalan dengan menaiki sepeda motor.
"Udah tau Tita gak bisa naik motor jugak", Tita memberengut kesal menatap Kennan yang sudah duduk pada motor matic yang sudah dinyalakan, seperti siap berangkat.
Tita masih mengingat kejadian saat dirinya harus berakhir dengan mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya saat turun dari boncengan motor Kennan beberapa bulan lalu. Bahkan rasa pahit yang mencekat para kerongkongannya, kembali Tita mengingatnya hingga membuat dirinya menelan salivanya kelat.
"Gak papa Ta...gue bawanya nanti pelan - pelan. Keliling komplek aja gak usah jauh - jauh. Lagian sampai kapan elo akan ketakutan kek gitu. Trauma lo itu gak bakalan hilang kalo lo pupuk dengan rasa takut terus menerus", Kini Kennan beralih dengan duduk menyandar pada motor dan menyilangkan kakinya serta menatap wajah Tita, setelah mematikan mesin motor.
Tita menggeleng dengan kuat.
"Ck.....Milea wae suka banget diboncengin Dilan pakek motor, elo juga pasti ketagihan kalo udah ngerasain enaknya meluk gue", Kennan memberi alasan agar Tita mau mencoba enaknya dibonceng dengan motor.
Tita mengerutkan dahinya.
"Siapa Milea sama Dilan itu Bang...?", Tanya Tita bingung dengan wajah polosnya.
"Hahh...elo gak tau!!!", Kennan membelalakkan matanya lebar.
Hari gini Tita gak tau sama pasangan romantis yang menghebohkan dunia film beberapa tahun lalu.
Padahal gambar ataupun meme Dilan dan Milea masih berseliweran di jejaring sosial....,Kennan heran dengan Tita yang masih memasang wajah yang terlihat bingung tersebut.
Author wae auto tepok jidat Bang....π€£π€£π€£
Lagi Tita menggeleng, kali ini dengan pelan.
"Elo belum pernah baca novel dengan judul Dilan?!"
"Belom". Tita menjawab dengan pasti.
"Lah....elo kan suka baca novel, masak gak pernah baca seh...?!", ucap Kennan dengan keheranan tingkat tinggi.
"Beloom Abang....Emang itu novel baru ya?"
"Ck....bukan....masak belom sih, itu kan pernah booming banget di jamannya. Sampai sekarang wae masih banyak yang suka. Gue yang cowok aja tau...
masak elo gak tau seh, padahal elo kan suka baca novel....?!". Kennan berasa ingin mengetok kepala Tita agar gadis itu tidak kudet.
Hehehe....Tita terkekeh canggung.
Dirinya benar - benar belum pernah menbaca judul novel tersebut. Mungkin nanti akan Tita masukkan next reading pada list bacaannya.
"Elo belum pernah nonton filmnya Dilan?!", Kennan kembali bertanya pada Tita.
"Belom", Tita menggeleng.
"Padahal romantis banget tau, cewek kan suka yang menye - menye kek gitu", Kennan bener - bener sebal mendengar jawaban dari Tita.
"Abang udah nonton...?"
"Udah"
"Sama siapa nontonnya....?"
"Sama temen gue"
"Temen cowok atau temen cewek....?"
"Elo menginterogasi gue....", Kennan menautkan kedua alisnya sambil memandang Tita saat menyadari pertanyaan Tita.
"Tinggal jawab juga...", Tita menunduk kesal sambil memainkan ujung sepatunya pada lantai halaman yang dilapisi keramik kasar.
"Cowok", jawab Kennan jujur.
"Gak bohong??". Selidik Tita, ada perasaan lega saat mendapati jawaban Kennan.
__ADS_1
"Enggak....sama temen basket gue...."
"Bener...?!"
"Beneran Taaa....Gak percaya tanya sama Irsyad ntar....", entah mengapa Kennan tidak mau Tita salah paham padanya.
"Tita percaya kok", jawab Tita dengan tersenyum.
"Kapan - kapan ajakin Tita nonton filmnya ya Bang... biar Tita tau senengnya Milea diboncengin Dilan pakek motor"
"Sekarang mah udah gak tayanglah...orang film jaman baheulah jugak. Nonton di youtube ada. Lagian gak perlu nonton, kita praktekin langsung wae yuk...", Kennan menarik pergelangan Tita untuk mendekat padanya.
"Enggak...Tita takut", Tita masih saja menolak dengan menunjukkan ekspresi rasa takut.
"Apresiasi dikit lah sama usaha gue, udah gue pinjemin motor Mang Ujang jugak...", Kennan kesal.
"Ini motor punya Mang Ujang?", tanya Tita.
Kennan mengangguk mengiyakan.
"Tapi....Tita takut Bang....", Tita selalu saja terbayang pada kecelakaan naas yang menimpa kakak lelakinya.
"Motor ini enggak kenceng Ta, gak seperti motor gue. Sama kek naik sepeda...", Kennan berkata pelan, mengenyahkan rasa kesalnya agar Tita mau mengikuti ajakannya.
Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Tita menaiki boncengan motor matic milik Mang Ujang dengan sedikit takut - takut.
"Pegangan....", Kennan sedikit menoleh ke belakang.
Tita memegang ujung kemeja kotak - kotak milik Kennan dengan kencang, sungguh sebenarnya Tita sangat takut saat ini.
Kennan menyalakan motor matic milik Mang Ujang lalu keluar dari halaman rumah keluarga Atmadja dengan pelan.
Set....cit....
Bruk.
Tubuh Tita menubruk punggung Kennan sedikit keras.
"Abaang...", seru Tita kaget.
"Makanya....pegangan yang bener!!", Kennan sedikit menoleh kebelakang dan menarik kedua lengan Tita untuk memeluk tubuhnya.
"Tapi Bang...."
"Kenapa....Malu...?! Gak usah malu gak ada yang kenal, lagian kita udah halal Ta...", Kennan menghadapkan kembali tubuhnya ke depan dan melajukan motornya perlahan.
Sesekali Kennan menunjuk sesuatu untuk diperlihatkan pada Tita agar gadis itu melupakan rasa takutnya pada motor.
Awalnya Tita tidak terlalu merespon, bahkan kedua tangannya memeluk Kennan kencang. Seperti takut terlepas dari Kennan. Namun setelah beberapa saat Tita sudah mulai bertanya tentang sesuatu yang Kennan tunjukkan, entah itu penjual makanan, toko ataupun sesuatu yang mereka lewati saat itu. Bahkan kini pegangan tangan Tita sudah sedikit rileks tidak kaku seperti saat baru berangkat tadi.
Kennan sengaja menbawa Tita berputar - putar tidak jauh dari komplek perumahan orang tuanya, agar Tita mampu menguasai diri dari trauma masa lalunya.
"Kita berhenti di taman itu ya Ta...", tanya Kennan dengan sedikit menoleh ke belakang.
"Terserah abang", Tita menyahut dengan mengedepankan kepalanya, sesaat setelah menoleh ke sebuah taman yang ditunjuk Kennan dengan telunjuknya.
"Bubur ayam itu keknya enak Bang, rame banget yang beli....". Tita memandang gerobak tukang bubur ayam yang dikelilingi oleh para pembeli hingga membuat penjualnya tidak terlihat.
Saat ini, Tita dan Kennan telah berhenti dan memarkir motor matic di sebuah taman yang ramai pengunjung meski hari masih cukup pagi.
"Emang enak...itu langganan gue dari gue masih piyik", ucap Kennan sambil mematikan mesin motor matic Mang Ujang.
"Elo mau??", tanya Kennan menoleh ke samping kirinya dengan masih duduk di atas motor, sedangkan Tita sudah turun dari boncengan dan berdiri di sebelah Kennan.
"He_eh....tapi....Tita gak bawa uang", sahut Tita dengan menelan salivanya serta tidak melepas pandangan dari gerobak penjual bubur ayam tersebut.
__ADS_1
Entah mengapa air liurnya berasa ingin menetes, membayangkan bubur hangat dengan toping ayam dan taburan daun bawang serta bawang goreng di atasnya. Jangan lupakan kerupuk udang yang selalu mebersamai menu bubur ayam tersebut, pasti akan sangat nikmat jika disantap pada pagi yang dingin begini.
"Nih...tapi beli sendiri ya", Kennan menyodorkan dua lembar uang ratusan pada isterinya, saat melihat sorot mata Tita yang seperti berharap untuk dapat menikmati bubur ayam tersebut. Sepertinya isteri cantiknya itu sangat ingin mencicipi kelezatan bubur ayam di depannya, terbukti dari mulutnya yang seperti mencegah air liurnya menetes.
Tita menerima pemberian Kennan dengan mengerutkan keningnya, "Abang gak mau nemenin?"
"Elo sendiri wae....gue mau ketemu sama temen...."
Tita mengangguk paham, meski sedikit tidak senang karena Kennan tidak mau menemaninya. Entah mengapa Tita seperti tidak ingin jauh - jauh dari Kennan saat ini.
"Makasih ya Bang... Abang mau??", tawar Tita pada suaminya.
"Iya....bungkus wae. Makan di rumah. Gue tunggu di bangku itu ya....temen gue ada di lapangan itu", Kennan menunjuk sebuah bangku taman yang tak jauh dari sebuah lapangan kecil yang digunakan beberapa anak lelaki bermain bola.
Tita mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan meninggalkan Kennan untuk mendekati gerobak penjual bubur ayam.
Tita menerima enam bungkus bubur ayam pada kantong kresek yang cukup besar di tangannya. Tita sengaja membeli banyak untuk Naura, Bunda Vida, Mbok Darmi, Mang Ujang, Kennan dan dirinya sendiri.
Setelah membayar sejumlah yang disebutkan oleh penjual bubur, Tita beranjak untuk menuju bangku taman yang tadi ditunjukkan Kennan kepadanya.
Glek.
Tita mematung ditempatnya, jantungnya seakan berhenti berdetak saat selesai membeli bubur ayam dirinya mendapati Kennan duduk bersebelahan dengan seseorang berkaus hitam dengan surai hitam panjang yang dibiarkan terurai menutupi punggungnya.
Tangan kanan Kennan yang menopang pada bahu orang bersurai hitam lurus dan panjang di sebelahnya serta wajahnya yang menoleh dan saling menatap seolah tengah asyik melakukan pembicaraan tersebut membuat hati Tita menyesak.
Posisi Kennan dan orang yang duduk disebelahnya adalah membelakangi Tita, jadi hanya tampak punggung mereka tanpa bisa melihat bagaimana rupanya.
Dilihat dari bentuk tubuhnya pasti seseorang itu sangat cantik menurut Tita. Meski kaus hitam yang dipakainya tidak melekat pas di badan namun tubuhnya masih terlihat kurus dan langsing. Surai hitam panjangnya tampak sangat halus terawat, sepertinya seseorang tersebut rajin melakukan perawatan ke salon.
Tita mencengkeram erat kantong kresek bubur ayamnya, mendadak kakinya memaku seakan tak mau digerakkan untuk melanjutkan langkahnya.
"Jadi temen yang mau ditemuin abang tadi cewek, pantes wae gak mau nemenin Tita beli bubur..." gumam Tita dengan dada bergemuruh....berbagai pertanyaan berkecamuk mengitari tempurung kepalanya.
π¨π¨π¨π¨
Haishh.....kira - kira Bang_Kenn duduk sama siapa yakk....???
Mesra banget keknya, baru juga baikan sama Tita.
Mosok mau bikin masalah lagi sich....πππ
Bisa - bisa hati neng Tita potek dongπππ
Penasaran.....penasaran.....
Tunggu up next part.....
Sabar yakk....on process mengetik...πππ
Kudet : Kurang Update
Jangan lupa :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ
__ADS_1