
Huh...
Tita membuang nafas pendek saat telah memasuki bus biru trans jogja. Nafas Tita sedikit terengah akibat berlari kecil menyusul bus yang telah bergerak lambat meninggalkan pelataran sekolahnya tersebut.
Kedua matanya memindai sekeliling untuk mendapatkan tempat duduk yang kosong. Tita melangkahkan kaki semakin masuk ke dalam saat melihat bangku kosong hanya terdapat di bagian belakang bus.
Tita berjalan ke bagian belakang bus dengan tak lupa memberikan senyum ramah pada penumpang yang dilewati olehnya.
Karena bus trans Jogja yang ditumpangi Tita saat ini adalah bus yang memiliki jalur menuju pinggiran kota, maka sebagian besar penumpangnya adalah ibu ibu paruh baya yang akan pulang ke rumah setelah melakukan aktivitas berdagang di pasar wilayah kota.
Untuk itu sangatlah wajar jika sebagian besar penumpangnya adalah orang orang yang berpakaian sedikit lusuh dan ala kadarnya. Mengakibatkan beraneka ragam bau menyengat menguar di dalam bus.
Bau khas peluh lelah serta beraneka ragam bau dari bareng bawaan yang mereka dapatkan dari pasar membaur menjadi satu.
Tanpa merasa jijik ataupun risih Tita mendaratkan tubuhnya pada kursi di dalam bus trans Jogja, berhimpitan dengan wanita paruh baya bertubuh gempal. Tita diberi tempat duduk yang dekat dengan jendela, karena wanita paruh baya itu mengatakan jika akan turun sebentar lagi.
Tita pun menurut.
Tita hanya berbasa basi sebentar dengan wanita paruh baya yang duduk bersamanya.
Lelah hatinya juga membuat tubuhnya seakan terasa sangat letih.
Semilir angin dari jendela yang terbuka membuat kerudung berbahan rawis yang dipakainya bergerak, menyejukkan tubuh dan hatinya yang beberapa hari ini terasa engap seolah sulit untuk bernafas.
Kedua manik hitam Tita memilih memandangi sisi luar yang sebenarnya tidaklah menarik, karena di sana hanya menunjukkan deretan gedung gedung yang seolah berjalan berlawanan dengan arah si biru tayo yang membawanya menjauh dari pusat kota.
Sesaat Tita tersenyum tipis, saat kedua manik hitamnya mendapati hamparan hijau persawahan yang terasa menyejukkan matanya. Menandakan bahwa bus trans Jogja tersebut telah semakin menjauh dari pusat kota.
Plek.
Tita menoleh saat merasakan tepukan pelan pada bahu kanannya.
"Nok... ibu turun dulu." Wanita paruh baya itu mengucap pamit pada Tita.
"Oh... inggih Buk, monggo..." Tita tersenyum ramah dibarengi dengan anggukan kepala olehnya.
Wanita paruh baya itu pun beranjak berdiri dan meninggalkannya.
Hal hal kecil seperti inilah yang disukai oleh Tita saat memilih menaiki si tayo biru daripada kendaraan lain seperti taxi maupun grab yang sekarang mulai menjadi tren akomodasi yang digemari oleh masyarakat.
Bahkan orang lain yang nggak kenal wae, berpamitan jika akan pergi meninggalkannya... kenapa abang enggak... Tita menggumam dengan tersenyum kecut. Kedua manik hitamnya tidak berhenti memandangi wanita paruh baya yang mulai mengecil karena si tayo biru mulai bergerak kembali.
__ADS_1
...ππππ...
"Assalamualaikum..." Tita memberi salam pada lelaki paruh baya yang berdiri membelakanginya saat dirinya tiba di depan pintu masuk kompleks pemakaman. Beliau terlihat sibuk mengecat pagar pada pintu masuk area pemakaman dengan posisi yang membelakangi Tita.
Lelaki yang sedang mengecat pintu pagar tersebut membalikkan tubuhnya.
"Waalaikumsalam warahmatullohi wabarokatuh. Eh enon, sudah lama nggak ke sini... bagaimana kabarnya?" Lelaki paruh baya penjaga makan berucap kata saat mendapati Tita berdiri di belakangnya.
"Iya pak. Lagi sok sibuk. Alhamdulillah... kabar saya baik baik saja..." Tita dengan tersenyum ramah kepada penjaga makan tersebut.
Tita memang sudah mengenal beliau, karena Tita dan neneknya memasrahkan pemeliharaan makam Satya pada sang penjaga makam.
"Sendirian saja pak?"
"Iya non." sahut penjaga makam dengan membalas senyum tak kalah ramah kepada Tita.
"Nggak ada yang bantuin?" Tita berbasa basi.
"Ah... cuma ngecat sedikit kok non, bapak sendiri juga cukup."
Tita tersenyum simpul, lalu melangkahkan kaki lebih mendekat pada Bapak penjaga makam.
Tita membuka tas punggungnya lalu mengambil sebuah amplop berisi beberapa lembar uang kertas yang telah disiapkan olehnya sebelum berangkat.
"Tapi non..." Bapak itu selalu saja ragu untuk menerima pemberian darinya. Hal itu terjadi karena Bapak penjaga makan tersebut mengetahui status Tita yang sudah yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Tanpa mengetahui jika Tita sudah tidak tinggal di sana dan telah bersuami.
"Bapak terima saja. Insyaa Allah halal pak, saya mempunyai rezeki lebih saat ini." Tita memaksa Bapak penjaga makam untuk menerimanya dengan cara semakin mendekatkan amplop tersebut ke hadapannya.
"Enggak usah sungkan pak, saya ikhlas kok." Tita membingkai senyum tulus di wajahnya.
Bapak penjaga makam pun menerima dengan senang hati.
"Terima kasih ya non... semoga Allah memberikan rezeki yang melimpah untuk enon."
"Aamiin... sama sama pak, semoga Allah mengabulkan doa bapak." Tita tersenyum dengan sedikit membungkukan setengah tubuhnya.
"Kalau gitu saya ke dalam dulu ya pak..." pamit Tita.
"Iya non... monggo..." Bapak penjaga malam mempersilahkan.
Tita pun melajukan kaki memasuki kompleks pemakaman menuju makam kakak lelakinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bang. Maafin Tita ya... udah lama Tita nggak jenguk abang." Tita berucap kata setelah duduk berjongkok.
Meraih tas punggung lalu mengeluarkan botol air mineral dari saku tas punggung dan menyiramkan pada gundukan tanah kering di depannya.
Kemudian setelahnya menengadahkan tangan di depan dada lalu mengucapkan doa untuk kakak lelaki tercintanya.
Beberapa saat setelah selesai mengucap doa, tangan Tita mulai bergerak lincah mencabuti beberapa rumput liar yang tubuh di sana. Tidak banyak, karena dilihat dari kondisinya makam kakak lelaki Tita terlihat di rawat dengan baik.
Tita menghentikan aktivitasnya mencabut rumput liar lalu menghembuskan nafas dalam. Memandangi gundukan tanah yang telah bebas dari rumput berwarna hijau tersebut.
Mendaratkan bokongnya di atas tanah tanpa peduli jika seragam bawahnya akan menjadi kotor.
Mengusap batu nisan yang mengukir nama kakak lelakinya dengan perlahan.
"Abang... maaf... Tita belum bisa ngenalin suami Tita ke abang." ucap Tita lirih dengan berbagai macam rasa yang bergelayut, memenuhi pikirannya.
Apalagi perubahan sikap Kennan yang kembali dingin membuat harinya terasa sangat berat selama seminggu ini.
Tita menunduk, mengusap gundukan tanah di depannya dengan sudut mata yang menganak sungai. Menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.
Rasa rindu pada keluarga, mama, papa, nenek serta kakak lelakinya yang telah berpulang terlebih dahulu. Rasa rindu akan perhatian juga kepedulian sang suami yang beberapa hari ini kembali mendinginkannya. Juga sebaliknya rasa kesal, marah dan juga bingung akan sikap suaminya yang tidak pernah Tita pahami.
"Padahal saat itu Tita sudah berjanji sama abang kalau Tita bakal bawa dia ke sini buat ngenalin ke abang. Nyatanya hari ini Tita bohongin abang lagi. Maaf..." Tita dengan nada serak dan terlihat tidak dapat menahan air mata yang lolos begitu saja membasahi kedua pipinya.
Hiks...
Tita mengusap pipinya agar cairan bening itu tidak semakin membasahi pipinya, namun bukannya semakin surut namun malah membuat cairan bening itu meluruh semakin deras.
Krekk...
Terdengar ranting kering diinjak hingga patah.
Membuat Tita kembali mengusap wajahnya karena bunyi itu dibarengi dengan kehadiran seseorang di dekatnya.
Tita menengadahkan kepala.
Hek....
Tita tersentak kaget saat manik hitamnya mendapati sosok tinggi menjulang di dekatnya.
βπ»βπ»βπ»βπ»
__ADS_1
Tebak siapa yang datang hayooooo.....