Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
185. Gue Harus Ikut


__ADS_3

Kennan masih saja mandang Tita dengan tatapan datar meskipun gadis yang bergelar isterinya tersebut tidak pernah berhenti memberikan kecupan kecupan kecil pada punggung jemarinya.


"Bang... boleh ya?" Tita kembali memohon dengan mengerjapkan kelopak matanya berulang.


Dalam hati sebenarnya Kennan tidak tahan untuk tidak tersenyum, namun dirinya harus menyempurnakan aksinya dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.


"Elo tadi ngacangin gue, terus sekarang lo minta gue ngebolehin lo buat pergi sama temen lo. Lo ingat gak tadi nolak gue buat bolos kerja dan lo dengan seenaknya dan senang hati bolos kerja buat nemenin temen lo...?!" Kennan memandang Tita tetap dengan wajah datarnya.


"Tita inget." Tita memang menyadari kesalahannya.


"Terus... lo minta gue buat ngijinin gitu?" Kennan menaikkan salah satu alis matanya.


Tita memberanikan diri untuk mengangguk mengiyakan meskipun dalam hati takut jika suaminya itu menyimpan dendam dan tidak akan mengijinkannya pergi karena dirinya sempat menolak keinginan seng suami untuk bolos kerja.


Heh...


"Elo mulai berani sama gue?" Kennan dengan tetap mempertahankan wajah datarnya.


Tita menggeleng.


"Tita enggak bermaksud berani sama abang." Tita berucap dengan hati hati sembari mengusap lembut jemari Kennan.


"Terus?"


"Kalau sama abang kan Tita punya banyak waktu buat berduaan, sehari 24 jam kali seminggu kali sebulan kita bisa berduaan kan bang... Tapi dengan incess,Tita belum tentu setahun sekali ngumpul. Tita juga kangen buat me time dengan sahabat Tita." Tita berusaha menampilkan senyum manis untuk membujuk suaminya.


"Tita juga gak pernah kan ngelarang abang buat ngumpul bareng temen temen abang, iya kan?" Tita kembali memohon dengan wajah puppy eyesnya, tak lupa mengingatkan jika dia tidak pernah melarang ataupun mencegah Kennan keluar apartemen untuk menemui dan berkumpul bersama teman temannya.


Dalam hati Kennan mengeram kesal.


Sial... udah berani membalikkan keadaan sama gue. Ok baiklah... kita lanjutkan dek... sampek sejauh mana lo bisa bujuk gue...


"Elo bener bener pengen jalan bareng temen lo?"


Tita menganggukkan kepala berulang, tidak lupa membingkai senyum pada wajah cantiknya agar suaminya tersebut luluh dan memberikan izin kepadanya.


"Terus gue?" Kennan.


"Abang di rumah, kalau enggak abang kan juga bisa jalan sama temen temen abang, iya kan?!"


"Kalau gue gak mau kasih lo ijin gimana?"


Tita mendekatkan kursinya hingga berhadapan dengan sang suami.


"Abang kan baik, cakep, ganteng.... em... pengertian jugak...Mosok gak mau buat isterinya bahagia sih..." Tita mulai memberanikan diri mengusap dada bidang sang suami agar suaminya tersebut memberinya ijin.


"Jadi elo bahagia kalau jalan sama temen lo terus kalau sama gue enggak?"

__ADS_1


"Eh... bukan gitu abang... kok abang ngomongnya kek gitu sih. Maksud Tita nggak kek gitu."


"Tadi lo ngomongnya kek gitu kan?" Kennan terlihat kesal.


"Bukan... bukan gitu bang." Tita pun dibuat kelimpungan untuk membujuk sang suami.


Kennan menaikkan salah satu alis matanya untuk memberi tanda jika dirinya tidak mengerti akan maksud sang istri. Meskipun sebenarnya dalam hati Kennan sangat paham akan maksud isterinya. Ingin sekali Kennan tertawa lepas melihat ekspresi Tita, namun Kennan menahannya.


"Abang beneran gak kasih ijin nih?" Tita terdengar sendu.


Kennan menghembuskan nafas berat.


"Okey... gue ijinin, tapi ada syaratnya."


"Iya iya... apapun syaratnya Tita bakalan setuju deh, Tita akan turutin." Tita dengan mata berbinar.


"Yakin lo bakalan setuju sama syarat dari gue?"


Tita mengangguk, seraya berkata.


"Yakin. Tita pasti setuju Bang. Memangnya syaratnya apaan seh Bang?"


"Gue harus ikut."


Sesaat tubuh Tita membeku.


"Kenapa?" tanya Kennan menyelidik saat melihat ekspresi Tita yang tidak bersemangat.


"Gak ada. Cuma itu syaratnya. Kenapa memangnya, terlalu berat?" Kennan.


"Kalau abang ikut, gak bebas dong." Tita dengan bibir yang dimajukan.


"Jadi elo pengen bebas tanpa gue gitu... terus mau janjian di luar lagi kek terakhir kali waktu lo ijin buat jalan bareng temen lo itu. Kali ini mau kencan sama siapa, ada selain Andra...?" Kennan merepet dengan memandang Tita kesal.


"Eh... bukan gitu Bang... Tita gak akan ketemuan sama siapapun beneran. Tita cuma mau jalan sama Incess aja... gak lebih. Kalau abang ikut kasihan nanti incessnya Bang..." Tita menjelaskan, takut Kennan salah sangka padanya.


"Kalau gue gak ikut mana gue tau elo jujur atau bohongin gue..."


"Beneran bang... Tita gak bohong. Tita cuma jalan bareng berdua sama temen Tita doang. Ntar kalau abang ikut, dia pasti kek kambing congek." Tita terdengar seperti menggumam.


"Biarin aja, salah sendiri ngajakin jalan sama temen yang udah bersuami. Gak ada temen lain po..." Kennan tetap dengan keputusannya.


"Abang ih... tega." Tita terdengar kesal.


"Gue ikut atau tidak usah sana sekali. Elo bisa me time di rumah sama dia." putus Kennan. Sepertinya Kennan memang tidak bakal merubah keputusannya.


"Syarat yang lain deh bang... Tita bakal turutin kok, beneran... kali ini aja..." Tita kembali membujuk dang suami dengan bergelayut manja pada lengan kekar sang suami.

__ADS_1


"Gak ada." Kennan kekeh.


"Ayolah Bang... pasti ada. Abang baik deh, nanti sayang Tita ke abang bakal Tita tambah berkali kali lipat deh..." Tita tetap berusaha membujuk. Kali ini dengan mengabaikan rasa malunya, karena Tita mulai mengendus lengan kekar Kennan bahkan hingga ceruk leher sang suami.


Kennan tersenyum dalam hati melihat tingkah isterinya.


"Gak ada dek... cuma itu syarat dari gue."Kennan terlihat mengabaikan Tita yang mengendus bahkan sesekali menciumnya.


Jika saja Kennan tidak ingin melihat sejauh mana Tita akan berusaha membujuknya, dirinya pasti akan membawa tubuh ramping di depannya itu ke pangkuannya. Membalas dan memberikan ciuman yang lebih ganas dari pada yang diberikan oleh sang isteri.


Namun untuk melancarkan niatnya Kennan berusaha menahan diri, meskipun si jojo sudah meronta di balik celana pendeknya.


"Bang... boleh ya... tanpa abang ikut..." Tita kembali membujuk. Kali ini bahkan Tita memberanikan diri? mendaratkan bibir mungilnya pada bibir sang suami.


Melihat Kennan terdiam tanpa membalas ciumannya, Tita sedikit menjauhkan wajahnya.


"Kok abang diem wae sih gak bales ciuman Tita?" tanya Tita dengan cemberut.


"Lagi nggak pengen." Kennan berbohong. Padahal yang sebenarnya apa yang dilakukan oleh Tita tersebut telah membuat celananya mengetat.


Tita memindahkan tubuhnya ke pangkuannya Kennan dengan kedua tangan yang mengalung pada leher sang suami.


"Mau apa lo dek?"


"Mau bujuk abang, biar dikasih ijin." Jujur Tita dengan semakin mendekatkan bibirnya ke bibir sang suami.


Jujur saja Kennan ingin tertawa lepas melihat keberanian isterinya, namun dengan sekuat tenaga Kennan menahannya.


Cup...


Tita mendaratkan bibir mungilnya pada bibir tebal sang suami. Dengan senang hati Kennan membuka mulutnya dan meraup bibir mungil milik Tita. Kedua tangan kekarnya bahkan semakin mengeratkan tubuh ramping tersebut pada tubuhnya.


Hingga beberapa saat mereka berciuman.


"Tita... Kennan...! Kalian tega ya sama gue...!"


🍨🍨🍨🍨


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen

__ADS_1


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘


__ADS_2