Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
122. Menghangat1


__ADS_3

"Abang nunggu lama?", tanya Tita pada Kennan saat dirinya menghampiri suaminya yang menunduk dan bersandar dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana pada pintu mobil HRV hitamnya di area parkiran kafe K&Y. Kaki kanannya terlihat tidak berhenti bergerak seolah tidak sabar menunggu Tita keluar dari kafe.


Kennan mendongak, lalu menggeleng dengan senyum yang tersungging pada bibirnya.


"Eh... Abang senyum, udah lupa apa yak sama marahnya kemarin..?!!", tanya Tita di dalam hati, sesaat mematung di hadapan Kennan.


Kennan membuka pintu mobil pada sisi penumpang, "Masuk gih.."


Tita pun masuk ke dalam mobil dengan hati yang bertanya - tanya.


Setelah Tita masuk Kennan pun menutup pintu mobil kemudian berjalan memutari mobil untuk masuk pada pintu sisi kemudi.


"Kita mau ke mana Bang...?", Tita bertanya dengan hati - hati setelah beberapa saat Kennan melajukan mobil HRV hitamnya. Apalagi arah tujuan mobil itu bukan arah menuju jalan pulang ke apartemen.


Tidak ada sahutan dari mulut suami Tita Andriana tersebut, hanya senyum tipis diberikan saat menoleh ke arah Tita kemudian kembali beralih menatap jalan raya di depannya.


Hiss, lagi ngemut berlian kali yak..., kesal Tita dalam hati dengan membuang wajahnya ke sisi kiri.


Beberapa detik kemudian Tita menoleh kembali ke arah suaminya. "Bang...", Tita tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Kita mau kemana?", Tanyanya dengan berharap mendapat jawaban dari bibir suami kulkas dua pintunya.


Set


Jemari tangan kiri Kennan menelusup di antara jemari tangan kanan Tita kemudian Kennan membawanya di atas pahanya, "Tar juga tau...", suara Kennan terdengar lembut meski tanpa menoleh ke arah isterinya.


Tak dipungkiri hati Tita menghangat mendapati perlakuan Kennan yang kembali lembut, setelah sempat mode kulkas dua pintu suaminya kemarin on.


Cup


Kennan mencium punggung tangan kanan Tita dengan lembut kemudian menumpukan kembali di atas pahanya dengan tetap fokus pada jalanan di depannya. Sedetik kemudian menoleh dan tersenyum pada Tita yang memandangnya dengan pandangan bingung namun terlihat merona.


Ada perasaan senang yang menelusup pada hati Tita mendapati Kennan yang kembali bersikap lembut padanya. Sesaat melupakan kejadian kemarin yang membuatnya menangis, Titapun memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa hangat yang menjalar pada wajahnya. Sudah dapat dipastikan wajahnya sekarang mesti merona merah, semerah tomat ceri.


...🍭🍭🍭🍭...


"Dek.... bangun sayang", Kennan menepuk pipi Tita perlahan, takut membuat empunya kaget.


Tita pun perlahan membuka matanya, memperhatikan sekitar. Sepertinya mereka sudah sampai pada tujuannya, hal itu terlihat dari suaminya yang membangunkannya dari sisi kiri dengan setengah badan melongok ke dalam mobil. "Maaf Tita ketiduran..."


Kennan tersenyum, "Gak papa, turun yuk".


Tita pun turun kemudian tangan kanannya digenggam erat oleh Kennan, menuju sebuah warung tenda di pinggir jalan.


Saat sampai di dalam warung tenda, Tita baru menyadari jika dirinya berada di dalam sebuah warung makan nasi gandul khas Pati.


"Duduk gih", titah Kennan pada isterinya.


Tita pun mendudukkan diri pada meja yang sudah tersedia dua porsi nasi gandul dengan nasi yang masih mengepulkan uap panas dan dua gelas teh hangat, sepertinya Kennan telah memesan lebih dulu sebelum membangunkannya. Setelah Tita duduk, Kennan pun duduk di hadapan Tita.


"Makan gih, maaf baru bisa nurutin keinginan elo ke sini", Kennan berucap dengan nada menyesal.


Tita tersenyum, "Gak papa.... tapi Bang..."


Tita terlihat bingung.


"Kenapa....?", tanya Kennan dengan kening berkerut.


"Emm... Tita udah makan, kenyang banget", ucapnya hati - hati.


"Makan dikit aja, biar gak ileran... Kemarin pengen banget kan...", bujuk Kennan dengan lembut.

__ADS_1


Tita berjengit, "Enggak sampek segitunya kali Bang.... masak gak diturutin bikin Tita ileran, kek mau punya dedek bayi wae. Lagian tadi Tita juga makan kek gini di kafe".


"Loh... kok bisa?!", Kennan kaget mendengar ucapan Tita. Mana ada kafe K&Y menyediakan menu nasi gandul tanpa sepengetahuan dirinya sebagai pemilik kafe.


"Tadi tu Tita gak sengaja ngomong pengen nasi gandul pas lagi ngobrol sama Kak Putra, eh dibeliin online sama dia. Jadi ya Tita udah makan kek gini, tadi..."


Deg


Ada rasa menyesal juga kesal saat Kennan mendengar pengakuan isterinya.


"Harusnya gue yang nurutin keinginan lo, bukan orang lain..", ucapnya dalam hati dengan rasa sesal.


"Maafin Tita ya Bang...."


Kennan menghirup udara sebanyak - banyaknya kemudian menghembuskannya perlahan.


"Gak papa...", Kennan tersenyum semanis mungkin meski rasanya getir.


Setelah mendengar ucapan dari Irsyad di sekolah tadi siang, Kennan berusaha sebisa mungkin menahan egonya dan berusaha sabar menghadapi Tita.


"Abang.... Terus ini gimana makanannya...?", tanya Tita sambil memandang dua porsi nasi gandul yang sudah terhidang di atas meja.


Kennan pun ikut memandang pesanannya yang telah terhidang di atas meja.


Sebenarnya Kennan tadi sangat lapar karena belum sempat makan. Terakhir kali makan siomay di kantin sekolah tadi siang, itupun hanya beberapa potong yang berhasil masuk ke dalam perutnya karena insiden emosinya yang memuncak saat berada di kantin hingga membuatnya meninggalkan siomaynya begitu saja.


Akan tetapi entah mengapa rasa lapar tersebut menguap begitu saja saat mendapati kenyataan bahwa gadis yang ingin dituruti keinginannya ternyata sudah lebih dulu menikmati nasi gandul dan itu bukan dirinya yang menuruti melainkan orang lain, dan orang lain itu adalah seorang cowok. Meski Kennan tau bahwa Kak Putra yang dimaksud oleh Tita adalah Doni sepupunya yang bertanggung jawab mengurusi kafe miliknya, namun tetap saja ada rasa tidak rela dari dirinya. Padahal Doni mengetahui bahwa status Tita adalah seorang gadis yang bersuami, namun tetap saja Kennan merasa tidak rela jika Tita mendapakan perhatian dari cowok lain.


Meski hatinya memanas mengetahui hal tersebut, Kennan hanya mampu menyesali kesalahannya tanpa bisa membalikkan kondisi yang telah terjadi kemarin.


Mungkin ke depannya Kennan harus lebih bisa menahan emosinya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan Tita dan juga jangan sampai gadis itu berurai air mata.


Tita menggeleng.


"Dimakanlah Bang.... Sayang kalau buang - buang makanan. Emang Abang gak laper juga, udah makan?", tanya Tita pada suaminya.


Tadi lapar... tapi sekarang udah enggak, batin Kennan memandang makanan di depannya dengan getir.


Melihat Kennan yang terdiam tanpa menjawab pertanyaan darinya namun hanya melihat makanan di depannya dengan tidak semangat, Tita dapat melihat jika sebenarnya Kennan belum makan. Tapi entah apa yang membuat suaminya itu terlihat tidak semangat.


"Abang belum makan kan.... Makan gih Tita temenin...."


Sesaat Kennan beralih memandang wajah Tita yang tersenyum padanya, kemudian merah gelas teh hangat dan meminumnya.


"Gue gak laper, kita jalan wae yuk", Kennan berdiri dari duduknya setelah menghabiskan setengah dari gelas teh hangatnya.


Tita menahan pergelangan tangan Kennan dengan kepala mendongak karena posisi mereka yang berbeda tinggi.


"Kita makan bareng ya", pinta Tita namun lebih terdengar seperti memaksa.


"Gue gak laper Dek"


"Barengan aja, sepiring buat berdua....", Tita menarik pelan pergelangan tangan suaminya.


Kennan pun kembali mendudukkan diri pada kursinya.


Aaa....


Kennan mengarahkan sendok berisi nasi dan sepotong daging ke depan mulut Tita.


Tita melirik ke kanan kiri untuk memperhatikan kondisi sekitarnya. "Biar Tita pakek sendok ini wae", Tita meraih sendok pada piring satunya.

__ADS_1


Kennan menahan tangan Tita yang hendak mengambil nasi dengan sendok sendiri.


"Udah ini aja, katanya mau barengan...cepatan aa...", Kennan memaksa dengan tangan kanan mendekatkan sendok di depan mulut Tita sedangkan tangan kirinya menahan dagu Tita agar mau menbuka mulutnya.


"Baangg...."


"Kenapa... elo jijik pakai sendok yang sama, sama gue bukankah kita udah biasa....", Kennan berucap sambil menatap bibir pink Tita.


"Abaaang.... bukan gitu. Tapi... ini di luar Bang, Tita malu", cicit Tita lirih dengan menunduk.


"Udahlah gak usah malu, mereka wae belum halal gak punya malu kok". Sahut Kennan cuek sambil melirik kanan kiri yang memang terdapat banyak pasangan muda - mudi yang terlihat mesra. Bahkan ada yang terlihat bergelayut manja pada pasangannya seakan di tempat ini hanya ada mereka berdua.


Tita pun akhirnya memakan suapan dari Kennan yang terus memaksanya. Setelahnya Kennan pun memasukkan nasi pada mulutnya sendiri dengan sendok yang sama dengan isterinya sambil tersenyum.


"Abang.... biar Tita aja yang suapin, Tita malu ini...", ucap Tita merajuk setelah menelan suapan pertama dari suaminya.


"Udah gue wae yang suapin, ngapain malu.... pas pertama kali gue bonceng naik motor wae elo gak malu peluk gue kenceng. Malah seenak wae nyungsep di punggung gue, mana siang - siang banyak yang liatin. Ada yang komen miring juga, elo gak peduli....". Kennan mengingatkan Tita atas kejadian mereka pertama kali berboncengan naik motor.


"Ck... itu mah beda ceritanya. Waktu itu kesadaran Tita tinggal lima puluh persen, kalau sekarang Tita sadar seratus persen Bang....", semburat merah mewarnai pipi putih Tita saat mengingat kejadian itu.


"Ak lagi...", Kennan kembali menyendokkan nasi untuk Tita.


Lagi - lagi terpaksa membuka mulutnya sambil melirik kanan kiri.


"Gimana enak kan kalo makan gue suapin...", Kennan tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya pada Tita.


Titapun mengulas senyum dengan menggembungkan kedua pipinya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Abang ganjennya jangan di bawa keluar rumah, bikin malu Tita wae...", ucap Tita setelah menelan seluruh makanan di mulutnya.


Kennan mengikis jarak wajahnya pada Tita.


"Kalau gitu entar ganjennya dibungkus aja, bawa pulang ke rumah ya...biar bisa lanjut", ucap Kennan sedikit berbisik, lalu menjauhkan kembali wajahnya dengan terkekeh.


"Pa an seh Bang", Tita menunduk dengan tersenyum malu saat merasakan rasa hangat menjalari kedua pipi cabinya.


🍨🍨🍨🍨


Hai....Hai... My beloved readers.....


Tengyu so much karena sudah mau menyukai bahkan tidak sabar nunggunin up dari Bang_Kenn dan Neng Tita.


Juga terima kasih banyak atas dukungan serta mau meninggalkan jejak komen untuk memberi othor semangat buat nulis cerita receh ini.


Salam sehat dan semoga dapat menghibur di tengah pandemi yang masih saja setia menemani dan belum mau meninggalkan kita.


Lope....lope....lope....you my beloved readers😍😍😍😍


Di tunggu :


Like


Vote


Rate


Komen


Tambahkan favorit❀


Tengyu for reading tulisan receh othor😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2