
Tita menggeliatkan tubuh rampingnya, namun tubuhnya terasa berat dan sulit untuk digerakkan.
Kemudian mengerjapkan kedua matanya berulang berusaha mengumpulkan nyawanya yang baru setengah tersadar.
Senyum membingkai wajahnya saat mendapati wajah tampan sang suami di hadapannya, dengan kedua mata yang terpejam.
Perlahan tangannya terulur, mengelus dan mengusap lembut rahang keras sang suami.
Wajah tampan yang mengklaim dirinya sebagai kuda beberapa saat lalu itu terlihat sangat nyenyak, menikmati tidurnya.
Pastinya sangat lelah.
Sesekali Tita kembali tersenyum geli saat mengingat beberapa saat lalu sang suami mengajarinya berlatih kuda.
Tita fikir berlatih naik kuda yang dimaksud sang suami adalah benar naik kuda, mungkin suaminya itu akan mengajari teori naik kuda. Nyatanya hanyalah tipu muslihat Kennan untuk kembali meminta jatah pada isteri polosnya.
Kennan, si manusia kulkas dua pintu yang mesum itu ternyata sangat pandai memanfaat kepolosan Tita.
Maksud hati ingin mengatakan jika Tita merasakan bosan dengan kelakuan Kennan yang tidak berhenti meminta jatah setiap kali ada kesempatan, eh malah berakhir dengan Tita memberikan jatah yang lebih.
Heh... dasar omes.
Sepertinya Tita harus berhati hati saat berucap kata.
Tita menarik tangannya dari wajah sang suami, namun pandangannya masih saja tidak berhenti menelisik wajah tampan Kennan.
"Belum puas liatin wajah gue?" Kennan serak dengan kedua mata yang tetap terpejam.
Tita tersentak kaget.
"Abang udah bangun?"
"Gue gak tidur dek..."
"Hah... masak... Perasaan abang tidur pules deh..."
"Perasaan lo aja." Kennan tersenyum dengan membuka kedua kelopak matanya, sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Tita.
"Bang sesak... gerah juga." Tita menggerakkan tubuhnya.
"Lepasin aja bajunya, biar gak gerah lagi." Kennan santai.
"Abaaang..." Tita dengan gigi gemertak.
Sepertinya percuma berbicara dengan suami mesumnya itu, setiap kata yang keluar dari mulutnya, selalu saja bikin Tita geregetan.
Ingin rasanya Tita membungkam bibir tebal itu dengan mulutnya biar gak bisa ngomong sekalian.
Loh kok.... bukane sama wae Ta... yang bener kalau ngomong๐
Kennan melepaskan tangannya dari tubuh ramping isterinya, kemudian merebahkan tubuhnya terlentang.
Setelah Kennan merebahkan tubuhnya terlentang, Tita baru menyadari jika jendela kaca ruangan Kennan belum tertutup gordennnya.
Sehingga memperlihatkan suasana langit yang gelap dan dipenuhi dengan bintang yang berkelap kelip menyorotkan sinarnya.
__ADS_1
Sebelumnya pandangan matanya tertutupi oleh tubuh Kennan yang memeluknya dengan posisi miring.
"Bang lihat itu cakep kan..." Tita dengan menjulurkan tangan menunjuk arah luar.
Kennan menoleh, mengikuti arah tangan sang isteri.
Hem... Kennan datar, terdengar seakan yang ditunjuk oleh Tita bukanlah sesuatu yang menarik baginya.
Tita yang mendapati reaksi datar suaminya, mendudukkan tubuhnya, menumpukan tangan hendak melewati tubuh sang suami untuk turun dari sofa.
"Mau ke mana?" Kennan menahan lengan tangan Tita.
"Mau lihat itu lebih dekat." Tta menunjuk melalui dagunya.
"Gak usah turun, di sini wae." Kennan menghentikan Tita. Kemudian Kennan lah yang turun dari atas sofa.
Kennan kembali menghadap sofa dengan tubuh yang membungkuk dan memegang pinggiran sofabed.
Tita merasakan tubuhnya terhuyung, ternyata suaminya itu menggeser sofabednya mendekati dinding kaca tanpa memperbolehkannya turun.
Sungguh tenaga kapten tim basket tersebut tidak perlu diragukan lagi.
Setelah sofa bed itu hanya berjarak setengah meter dari dinding kaca Kennan menghentikan dan kembali menaikinya. Lalu merebahkan tubuhnya di sisi sang isteri, dengan salah satu tangan dibentangkan untuk bantalan kepala Tita sedangkan tangan satunya untuk menopang kepalanya sendiri.
"Abang ngantuk nggak..." Tita sudah merebahkan tubuhnya kembali.
"Enggak... kenapa?" Kennan dengan menolehkan kepala ke arah Tita.
"Tita juga nggak ngantuk."
"Terus elo mau tetep melek gitu?!"
"Mau ngapain dek, elo gak pengen berlatih naik kuda lagi kan?"
"Hiss... abang isi otaknya mesum mulu. Tita pengen ngobrol aja sama abang."
Kennan terkekeh kecil. "Ngobrol tentang apa...?"
"Apa aja... Tentang kenapa abang gak jujur sama Tita soal kafe mungkin..." Tita dengan sedikit mendongak. Posisi Tita saat ini telah menumpukan kepala pada dada telanjang sang suami.
"Elo minta penjelasan?" Kennan dengan sedikit menunduk.
"Anggep wae gitu..." Tita menarik kedua sudut bibirnya.
"Bukane gue gak jujur, tapi gue cuma belum cerita wae sama lo dek..."
"Abang mau beralasan..."
"Enggak... bukan gitu dek...."
"Lalu...?" Tita seolah tidak sabar dengan penjelasan sang suami.
"Di awal memang gue gak cerita karena kita kan gak terlalu deket waktu itu. Elo tau kan kalau semuanya butuh proses, gue jugak. Gue juga butuh proses untuk menerima lo sebagai isteri gue. Saat itu gue juga masih berasa gak percaya di usia remaja gue yang seharusnya seneng seneng malah udah nikah."
Tita menghembuskan nafas sesak.
__ADS_1
"Nggak usah kesel, itu dulu. Sekarang udah beda." Kennan sedikit menunduk untuk melihat raut wajah isterinya.
"Emangnya elo udah suka sama gue waktu pertama kali ketemu gue, enggak kan dek... Elo juga butuh proses kan...."
"Iya sih..." Tita dengan mengangguk di atas dada telanjang sang suami, hingga membuat kulit pipi dan dada Kennan saling bergesekan.
Kennan harus mengeram menahannya, tak ingin membuat si jojo kembali bangun. Kennan tahu jika saat ini Tita sangat lelah. Berbeda dengan dirinya yang seakan tidak pernah lelah meskipun telah melakukannya berkali kali.
"Tapi kan Tita enggak sedingin abang... Tita berusaha menerima pernikahan Tita sama abang. Tita juga belajar buat jadi isteri yang baik tapi abang jahat banget sama Tita." Tita dengan mendongak sembari mengerucutkan bibir.
"Bibirnya dijaga dek." Kenan melirik ke bawah melalui ekor matanya.
"Abang gak usah mulai."
"Elo yang mulai..."
"Ck... dasar omes." Khey dengan kembali ke posisi semula.
"Elo yang bikin gue jadi omes." Kennan dengan mencubit hidung mbangir Tita.
"Abang ihh... Tita gak bisa nafas nih..." Tita dengan menepis tangan kekar Kennan.
Kennan terkekeh.
"Abang."
Hem...
Kennan dengan mengusap lembut surai hitam panjang sang isteri.
"Kenapa abang gak bales waktu ditonjok sama kak Putra?" Khey dengan memainkan jemari di atas perut Kennan. Alhasil Kennan harus kembali menahan desir hangat pada tubuhnya.
"Doni sepupu gue."
Tita mengernyit, mendongak dan menghentikan aktivitas jemarinya.
"Kok Doni sih... kak Putra abang."
"Namanya Doni Saputra Akbar, gue biasa panggil dia Doni dek." Jelas Kennan.
Oh... Tita mengangguk mengerti.
"Karena kalian sepupu makanya abang gak bales?"
"Bukan cuma itu. Gue emang salah gak kasih tau dia kalau lo isteri gue. Padahal selama ini dia yang bikin rekap gaji lo. Dia pasti marah sama gue karena biarin lo kerja di kafe tanpa kasih tau dia status lo sama gue. Gak salah kan kalau gue biarin Doni melampiaskan kemarahannya sama gue..."
"Iya juga sih..."
"Gue juga minta maaf sama lo dek..."
"Buat?" Tita mendongak.
"Sikap gue ke lo selama ini." ibu jari Kennan mengusap lembut pipi isteriny dengan tatapan teduh. Tatapan yang akhir akhir ini membuat Tita merasa nyaman.
"Tita udah melupakan semuanya bang. Mulai sekarang kita awali semuanya dengan saling jujur tanpa kebohongan, ya bang. Meskipun itu sesuatu yang kecil, abang jangan bohong lagi."
__ADS_1
Kennan mengangguk dengan senyum yang membingkai wajah tampannya.
TBC