
Eughm....
Tita melenguh sambil mengerakkan kedua tangannya perlahan berusaha untuk bangun setelah tidur panjangnya semalam.
Euhh... kok susah banget sih buat gerak, ucap hati Tita masih dengan mata terpejam.
Kemudian secara perlahan Tita mengerjapkan kedua matanya berusaha menyesuaikan dengan kondisi kamar yang temaram karena hanya ada sorot lampu dari balkon kamar yang meneranginya.
Setelah berulangkali mengerjapkan kedua kelopak matanya, akhirnya mata itu dapat terbuka dengan sempurna.
Tita berusaha menggerakkan kaki hendak beranjak namun tidak bisa. Tita pun menoleh ke sisi kanan, dimana suami tampan yang sebelum tidur semalam tidak berhenti menganggu dan menggodanya sedang
memeluk tubuhnya erat bahkan kaki kanan Kennan sedang membelit kakinya tak kalah erat.
Dengan sedikit kesusahan Tita meraih ponsel di atas nakas untuk melihat jam.
Setelah berhasil meraih ponselnya, Tita membuka dan mendapati waktu menunjukkan pukul 04.45 pagi. Itu berarti waktu shubuh sudah dimulai. Tita pun menyalakan lampu tidur yang berada di atas nakas.
Tita mengerakkan tubuhnya yang semula terlentang menjadi miring ke arah suaminya.
Perlahan tangan kirinya mengguncang tubuh tegap Kennan untuk membangunkannya.
"Bang.... Abang bangun.... Waktunya sholat shubuh", Tita berucap pelan dengan tak berhenti mengguncang tubuh tegap suaminya.
"Hemmm....bentar....", suara serak khas bangun tidur terlontar keluar dari mulut Kennan dengan kedua mata yang masih terpejam.
Tita pun menghela nafas pelan, sepertinya Tita harus sedikit bersabar untuk melepaskan diri dari belitan ular boa yang masih ingin terlelap ini.
Dengan sedikit mendongakkan kepalanya Tita memandangi wajah suaminya yang terlihat tenang saat tidur, bahkan wajah itu terlihat damai dengan dengkuran halus yang kembali terdengar. Tidak ada kesan datar ataupun mesum yang biasa Kennan tunjukkan pada Tita. Hanya wajah tenang tapi tetap saja terlihat tampan meski dengan mata terpejam.
Senyum tipis tercetak pada bibir Tita sembari memandangi wajah damai suaminya. Tita menelan salivanya dengan susah payah saat mendapati bibir Kennan yang sedikit terbuka, tanpa sadar tangannya bergerak meraba bibir Kennan perlahan.
Pikirannya melanglang buana, bahkan kembali mengingat ciuman - ciuman panas yang pernah dilakukan oleh bibir yang sedang dirabanya perlahan tersebut. Wajah Tita pun mulai menghangat disertai degub jantung yang berdetak lirih, deru nafasnya pun mulai menderu.
Tita memejamkan matanya sesaat mengingat rasa manis kecapan bibir lembut Kennan hingga tanpa dirinya tau jika suami yang semula masih menutup matanya rapat itu telah membuka kedua bola matanya.
Senyuman mesum tercetak di bibir Kennan, hingga akhirnya Kennan mendorong dari belakang kepala Tita yang berbantal lengannya.
Cup
Kennan mencium bibir Tita dengan begitu lembut. Tita pun terkejut kemudian membuka kedua bola matanya lebar - lebar. Dan benar saja suami mesumnya itu sudah menikmati bibirnya, bahkan Kennan memberikan sentuhan lembut yang tidak bisa Tita cegah hadirnya sensasi aneh yang selalu saja menjalar dan membuat seluruh tubuhnya meremang setiap kali mendapat sentuhan lembut dari bibir Kennan.
Refleks Tita pun kembali menutup matanya dan mulai menikmati sentuhan lembut bibir suaminya yang mulai meraup bibir miliknya.
__ADS_1
Tita terus dibuai oleh permainan ciuman Kennan. Meski masih pagi dan baru saja membuka mata, tidak mengurangi sensasi liar permainan bibir Kennan. Bahkan lidah Kennan memaksa masuk ke dalam rongga mulut Tita dan mau tak mau Tita pun berusaha mengimbangi permainan lidah suaminya.
Deru nafas hangat beralih menjalar pada permukaan leher Tita.Tita pun tidak menyadari jika Kennan telah mencecap lehernya dan meninggalkan jejak tanda kepemilikan di sana.
Kennan semakin bergairah saat melihat Tita masih memejamkan mata menikmati sentuhannya, bahkan terdengar lenguhan lirih dari bibir pink isterinya.
Tangan kanan Kennan semakin menelusup lebih dalam memasuki piyama tidur isterinya, hingga memegang kedua gundukan kembar yang tidak terbalut oleh bra karena Tita terbiasa melepasnya saat tidur, setelah Kennan memintanya untuk tidak memakai saat tidur dengan alasan untuk kesehatan katanya.
Padahal kan....
Imajinasikan sendiri yak readers, kenapa Bang_Kenn menyuruh Tita melepas bra nya saat tidur.
"Bang...", lirih Tita di sela - sela lenguhannya dengan mata terpejam.
"Apa sayang...", Kennan bersuara serak dengan tak berhenti mengusap dan mencecap lengkungan leher bahu Tita.
"Henntiikan Bangg....", pinta Tita pada suaminya dengan mata yang masih terpejam.
Namun sepertinya Kennan masih saja menikmatinya karena suami Tita tersebut terlihat masih saja tidak berhenti menikmati mencecap dan memberi tanda pada leher istrinya.
"Abaaang... Tita lagi PMS ja...ngan di...terusin....", ucapan Tita tersendat karena Kennan belum menghentikan sentuhan pada gunung kembar milik Tita.
Huh...
Kennan membuang nafas pendek, kemudian segera menarik tubuh ramping itu ke dalam dekapannya.
Tita mengangguk perlahan.
"Tita juga minta maaf karena gak bisa memenuhi permintaan Abang saat ini". Lirih Tita di depan dada bidang Kennan dan tanpa berani untuk menatap wajah suaminya yang pasti kecewa karena Tita memaksanya untuk menghentikan permainannya.
Titapun juga merasa malu karena harus melontarkan pernyataan yang masih terasa kaku untuk diungkapkan meski hanya tersirat.
Walau mereka menikah sudah berjalan hampir setahun, Tita masih saja malu jika membahas tentang kebutuhan bathin suaminya. Semburat rona merah malu pun menjalari wajah putih Tita, hawa panas terasa semakin membuat wajah putih itu memerah semerah tomat ceri.
Terdengar hela nafas pendek dari wajah tampan di depannya... kemudian berkata, "Gapapa, lain waktu boleh kan....?", Kennan berucap dengan mencium pucuk kepala Tita yang berada di tepat di bawah dagunya.
Tita kembali tercekat saat mendengar perkataan Kennan, rasa malu tak henti menjalar pada wajah cantiknya hingga tak mampu mengeluarkan suara untuk berkata.
Tita sepenuhnya sadar akan kewajibannya memenuhi permintaan bathin Kennan sebagai suaminya, namun apakah Kennan harus mengucapkan permintaan tersebut secara langsung seperti ini dan haruskah Tita memberikan jawaban atas pertanyaan Kennan yang menurut Tita tidak seharusnya terlontar begitu saja dari mulut suami mesumnya tersebut.
"Lain waktu boleh kan Dek...", Kennan kembali bertanya dengan mencium pucuk kepala Tita kuat.
Dan lagi... tidak ada jawaban dari mulut Tita.
Kennan pun sedikit menjauhkan kepalanya lalu melongok ke bawah, dilihatnya Tita diam tak bergeming entah apa yang dilihat pada dada bidangnya padahal tertutupi oleh kaos abu - abu polos. "Dek....", Kennan bersuara sambil meraih dagu Tita untuk mendongak ke arahnya.
__ADS_1
"Kok gak jawab seh?", Kennan bertanya sambil menatap Tita intens.
Heh...
Tita mendesah lirih... kemudian, "Harus gitu Tita jawab...", ungkap Tita dengan bibir berkerut.
Kennan tersenyum tipis lalu kembali merengkuh isteri cantiknya ke dalam dekapan.
"Biar afdol kan Dek... kalau malu gak usah dijawab. Gue udah ngerti kok", Kennan mendekap erat gadis yang telah menjadi wanitanya itu dengan tersenyum berbinar.
"Widihh... sok ngerti wae. Menurut Abang Tita jawab apa coba....?!". Tita memberanikan diri bertanya untuk menggoda suaminya, meski dirinya harus menahan debaran di dalam dada yang tidak mau berkompromi untuk diam. Bahkan Kennan pasti ikut merasakan debaran jantung Tita yang semakin menguat karena posisi mereka berdempetan hanya terhalang baju yang mereka kenakan.
"Pasti jawab bolehlah.... isteri gue kan baik hati dan pengertian", Kennan menjawab dengan percaya diri.
"Ck.... siapa jugak yang mau jawab boleh, orang Tita mau jawab gak boleh kok. Pede banget seh Bang jadi orang...", goda Tita pada suaminya .
"Kenapa gak boleh... dosa lo menolak keinginan suami. Adek mau dilaknat Allah sampai pagi...?!"
"Biarin wae emang udah pagi kok, waktunya juga udah habis. Jadi Tita gak dapat laknat dari Allah", Tita tersenyum mengejek.
"Jiaahhh... makin pinter ya godain gue!!! Gak papa deh gak mau, diganti aja sarapan pagi kek tadi. Tiap hari juga boleh kok. Gue gak nolak.... gue terima dengan senang hati deh.... Ya kan Dek, mau kan tiap pagi sarapannya kek tadi...?!", ucap Kennan dengan menaik turunkan sebelah alis matanya.
"Haiiissshhh.... dasar suami mesum, di otaknya cuma mikirin mesum mulu", geram Tita dengan malu.
"Tapi elo juga suka kan yang tadi.... nikmat kan sayang...", Kennan tidak berhenti menaik turunkan alisnya, kali ini diiringi dengan senyuman yang menggoda.
"Ck.... udah bangun.... Abang belum sholat, ntar telat", Tita mendorong tubuh Kennan agar menjauh darinya kemudian segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk menutupi rasa malu mengingat ciuman panas mereka beberapa saat lalu.
Kennan terkekeh, dirinya sudah dapat memastikan bahwa istri cantiknya tersebut pasti akan menghilangkan jejak malunya di dalam kamar mandi.
Kennan pun tersenyum mengingat ciuman panasnya barusan, bahkan lenguhan lirih Tita saat menikmati sarapan paginya tadi masih terngiang di telinganya.
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ