Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
208. Dasar ABG


__ADS_3

"Bang... mosok Tita pakek ini sih?" Tita dengan mematut kemeja flanel milik Kennan yang sudah membalut tubuhnya.


Menurut Tita kemeja flanel yang semalam dipakai oleh Kennan di atas panggung tersebut sedikit kebesaran untuk tubuhnya.


"Elo mau pakek ini lagi?" Kennan sedikit menarik kaos yang melekat pada tubuhnya.


Kennan memang memakaikan kemeja miliknya pada tubuh Tita, sedangkan dirinya memakai ulang kaos yang sempat dipakai oleh isterinya tidur semalam.


Kaos itu berwarna putih polos dengan kain yang tipis serta berlengan pendek. Sudah dipastikan Tita tidak bakal mau memakainya karena tidak dapat dipadukan dengan kerudungnya.


"Enggak ada yang lain po... Abang gak punya baju ketinggalan di sini kah?"


"Enggak ada." Kennan dengan mulai menyantap makan paginya.


"Udah gak usah cemberut gitu, jeleknya entar menggunung." Kennan menarik tangan Tita agar duduk di dekatnya.


Tita pun menurut.


"Makan sendiri atau gue suapin."


"Makan sendiri wae, Tita bukan anak kecil bang." Tita dengan wajah manyun.


"Cepetan kalau gitu jangan diliatin mulu, ntar nasinya pada kabur liat wajah manyun lo. Keliatan jelek banget tau."


Tita mencebik.


Kennan terkekeh.


"Taruh dulu hapenya kalau makan." Tita mengingatkan Kennan yang terlihat asyik menatap layar ponselnya saat sambil makan.


"Bentar dek, gue bales chat." Kennan dengan tidak berhenti mengetukkan jemarinya pada layar ponsel pintarnya.


"Siapa sih sampek gak bisa nunggu selesai makan wae balesnya." Tita terdengar menggerutu kesal.


Tidak ada sahutan dari Kennan suaminya. Bahkan Kennan terlihat semakin fokus pada ponselnya hingga terlihat mengabaikan makanan dalam piringnya, padahal beberapa saat lalu suaminya itu terlihat tidak sabar karena sudah sangat lapar.


Tita cemberut dengan mengaduk aduk nasi pada piring makannya, pikirannya tidak berhenti menerka tentang siapa yang bersalah chat dengan suaminya. Apalagi Kennan terlihat menghentikan aktivitas makannya dan bunyi pesan masuk tidak berhenti terdengar dari ponsel pintar Kennan.


Sesekali Tita melirik menggunakan ekor matanya, berusaha mengintip siapa yang berbalas dengan sang suami, namun karena Kennan mengetik dengan jemari kiri akibatnya kedua manik mata Tita tidak dapat menjangkau layar ponsel Kennan dengan jelas.


Ingin rasanya merebut ponsel itu dari tangan sang suami namun apa daya Tita tidak memiliki keberanian itu.


Tita pun mengutak atik piring nasinya h8ngga menghasilkan bunyi yang cukup keras hingga membuat Kennan menoleh sesaat ke arah sang isteri.


Senyum tipis terbit pada sudut bibir Kennan saat mengetahui reaksi Tita, Kennan menyadari jika gadis itu sangat kesal saat ini.


Kennan pun mengakhiri kegiatannya bercanda chat lalu meletakkan ponsel dan piring nasinya. Membalik setengah tubuhnya ke arah Tita.


"Elo kenapa dek? Marah? Kesel?" Kennan dengan lembut, ada senyum geli di balik ucapannya.


"Enggak." Tita ketud tanpa mau memandang Kennan.


"Kalau kesel sama gue ngomong wae sama gue, enggak usah dilampiaskan ke nasi. Kasian dia gak berdosa." Kennan dengan meraih piring dan sendok makan Tita dari tangan gadis itu.


"Abang kenapa diambil seh, Tita kan belum selesai makan." Tita dengan wajah yang terlihat semakin kesal.


"Gue suapin wae, daripada lo kdrt ke nasinya padahal marahnya sama gue." Kennan terdengar menyindir.


"Tita enggak..."

__ADS_1


"Gak usah bohong, aaa... cepet." Kennan dengan menyodorkan sendok nasi di depan mulut Tita.


"Cepetan buka mulutnya atau gue suapin pakek mulut." Kennan terdengar memerintah.


Tita pun terpaksa membuka mulutnya.


Setelah menyuapi Tita, Kennan berganti memasukkan makanan ke dalam mulutnya begitu seterusnya hingga nasi dalam piring keduanya pun habis tanpa sisa.


...🍭🍭🍭🍭...


"Bang pulangnya entar malam wae nunggu kafe tutup." Tita memohon dengan menahan tangan Kennan yang hendak menuruni tangga.


"Ngapain dek, gue pengen istirahat di rumah. Elo nggak ngantuk apa..." Kennan menghentikan langkah kakinya.


"Tita malu." jawabnya jujur.


"Malu sama siapa?"


"Sama pegawai kafe, mereka pasti udah gosipin Tita bang..." rengek Tita.


Kennan tersenyum kecil melihat tingkah Tita yang seperti anak kecil.


"Enggaklah... ngapain mereka gosipin elo, mereka lebih milih gosipin pengunjung kafe."


"Abang gak ngerti wae sama pegawai kafe, tadi kan kita kepergok waktu..." Tita menggantung ucapannya.


"Gak papa, entar biar gue pecat siapa yang berani gosipin elo."


"Abang enggak gitu juga ihh..." Tita menggembungkan pipinya kesal.


Kennan semakin terkekeh melihat tingkah Tita yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Udah jalan di belakang gue, kalau perlu tempelin wajah lo ke punggung gue kalau masih malu." Kennan menarik pergelangan tangan Tita untuk menuruni tangga.


Tita pun terpaksa menurut untuk menuruni anak tangga meski dengan langkah yang berat. Akan tetapi Tita tidak menempelkan wajahnya pada punggung sang suami, melainkan berjalan mengikuti Kennan dengan menundukkan kepala.


Dan benar saja, para pegawai kafe banyak yang memandang Kennan dan Tita dengan tatapan aneh.


Kennan terlihat biasa saja, dengan santai menarik pergelangan tangan Tita tanpa sedikitpun memberi kesempatan Tita untuk melepaskan diri.


Sedangkan Tita tetap menundukkan kepala dengan rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya.


Kennan berjalan santai mendekati Doni yang berada di meja kasir tanpa memperdulikan para pegawai yang saling lirik satu sama lain seolah membicarakannya lewat kontak mata mereka.


Bruk.


Posisi Tita yang menunduk membuatnya menabrak punggung Kennan, karena Kennan tidak memberi aba aba saat suaminya itu berhenti tepat di depan meja kasir.


Seketika Kennan membalik tubuhnya ke belakang, dimana Tita mengusap hidungnya yang pastinya terasa nyeri akibat menghantam punggung kekarnya.


"Sakit dek?" Kennan dengan sedikit menunduk lalu ikut mengusap hidung mbangir sang isteri dengan sangat perhatian.


"Enggak." Tita berusaha mengelak dengan memalingkan wajahnya karena malu, sebab para pegawai kafe memperhatikannya.


"Gak usah bohong." Kennan meraih wajah Tita kembali ke posisi semula.


"Makanya kalau jalan itu jangan nunduk mulu." Kennan kembali mengusap hidung Tita yang ternyata sedikit memerah.


"Abang udah, Tita nggak papa." Tita berusaha menepis tangan Kennan yang tidak berhenti mengusap hidungnya.

__ADS_1


"Kalau mau mesra mesraan jangan di sini." Doni dengan ketus.


Kennan membalik tubuhnya dengan senyum mengejek. Tangannya kembali mengerat pada jemari lentik sang isteri, seolah takut jika gadis itu akan berlari meninggalkan nya jika Kennan tidak memegangnya.


"Kalau iri bilang dab..."


"Gue gak iri. Gue gak mau wae pemandangan gue terhalang sama ABG mesum kek elo." Doni masih saja kesal karena Kennan seperti sengaja memanasi dirinya.


"Yang elo bilang ABG mesum ini jauh lebih berpengalaman daripada elo, bujang lapuk..." Kennan masih saja mengejek pada Doni sepupunya.


Tita yang mendapati hal itu memberikan cubitan kecil pada pinggang Kennan hingga membuat cowok jangkung bergelar suaminya itu mengaduh kesakitan.


"Elo kok nyubit gue sih dek?" Kennan dengan mencoba menghentikan cubitan Tita padanya.


"Abang yang sopan, kak Putra itu lebih tua daripada abang." Tita berbicara pelan pada suaminya namun tetap saja Doni dapat mendengarnya karena jarak mereka hanya beberapa jengkal saja.


"Elo denger kan Don, bini gue wae bilang elo tua." Kennan mengejek sembari mengiringi dengan tawa.


Tita membola saat mendengar ucapan suaminya.


"Maksud Tita,bukan seperti itu kak." Tita memandang Doni seolah meminta maaf.


"Gue tau. Gue maklum kok, suami lo memang masih ingusan Ta." Doni bermaksud mengejek Kennan.


"Biarin gue ingusan tapi laku, daripada lo bujang lapuk gak ada yang doyan wlekk...." Kennan dengan memeletkan lidahnya ke arah Doni.


"Abang udah... ayo pulang wae." Tita geram dengan Kennan.


"Betul Ta, cepet bawa pulang sana. Gue juga enek liatnya." Doni.


"Iri bilang dab...." Kennan masih saja menganggu Doni sebelum beranjak dari hadapannya.


"Gue gak iri... tapu enek liat lo." Doni sarkas.


"Kerja yang bener ya bujang lapuk." Kennan setengah berseru meninggalkan Doni dengan tertawa mengejek.


"Dasar ABG." Doni menggumam masih dengan memandang Kennan dan Tita hingga keluar dari kafe.


Kennan terlihat merengkuh bahu Tita posesif seolah ingin membuat gadis itu tetap menempel padanya membuat Doni hanya bisa memandangnya dengan tersenyum kecut.


Para pegawai pun tidak berhenti memandang interaksi bos muda mereka dengan Tita, sembari saling berbisik.


"Beneran lo semalem kek menginap di sini. Dan lagi di sininya si boss ya... merah merah banyak." Pegawai iyang sempat menergoki Tita dan kennan itu menunjuk dadanya sendiri saat berbisik.


"Yang bener... masa sih..." salah satu temannya terlihat tidak percaya.


"Beneran, gue aja enggak nyangka..." pegawai itu berusaha meyakinkan.


Tanpa mereka semua sadari jika Doni mendengar bisikan bisikan mereka.


"Enggak usah bisik bisik, mereka itu pasangan suami isteri. Udah nikah, jadi udah kalau mau ngapain wae." Doni seperti mengerti apa yang diributkan oleh para pegawai kafe.


Hah...


"Udah nikah... berarti Tita itu...." beberapa pegawai yang berdiri di sekitar Doni kaget dan berucap hampir serempak.


🍨🍨🍨🍨


Like, vote yak... biar ntar othor semangat nulis lanjutannya...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Tengyu so much..... love you all My Beloved Readers😘😘😘


__ADS_2