
"Kennan!"
"Alex!"
Seru kedua laki laki yang sekarang telah beranjak dewasa tersebut hampir bersamaan.
Alex yang masih dalam posisi berjalan mendekat, semakin mempercepat ayunan langkah kakinya.
Sedangkan Kennan yang saat ini masih dalam posisi jongkok, segera merengkuh tubuh mungil di hadapannya. Lalu berdiri dengan membawa gadis kecil tersebut dalam gendongannya. Kemudian membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Alex.
"Apa kabar Dab?" Alex Astaga mengulurkan tangan kanannya pada Kennan.
"Alhamdulillah baik." sambut Kennan, pun dengan mengulurkan tangan kanannya.
Kedua lelaki yang sekarang semakin tampan dengan wajah dewasanya yang telah matang.
"Long time no see... lo makin tampan aja." Alex merengkuh bahu Kennan seraya memberikan tepukan pelan.
"Elo juga, makin kentara wajah bule lo." Kennan membalas tepukan pada bahu Alex disertai kekeh kecil.
Keduanya pun mengurai rengkuhan mereka.
"Ini anak gadis lo?" tanya Kennan menunjukkan gadis kecil dalam gendongannya.
"Yap." Alex mengangguk pelan, dengan bibir yang melebar. Ada sedikit keraguan dalam anggukan kepalanya. Namun Kennan tidak menyadari hal tersebut.
Kennan pun mengangguk tersenyum, lalu mencium kedua pipi gadis kecil dalam gendongnnya silih berganti.
Sekarang Kennan tahu sebab gadis kecil dalam gendongannya tersebut mengenali wajahnya serta membuat dirinya merasa tidak asing.
Alex pasti telah mengenalkan wajahnya pada gadis kecil itu melalui gambar dirinya, pikir Kennan membatin. Kennan pastikan nanti bakal bertanya banyak hal pada Alex mengenai gadis kecil itu.
Lagi lagi memberikan ciuman pada kedua pipi gembul gadis kecil tersebut, kali ini tanpa ragu. Justru Kennan merasa semakin tidak ingin mengakhiri ciumannya.
"Kenapa lo gak pernah cerita ke gue, kalau lo udah punya anak. Cerita lo nikah aja kagak. Dasar sobat laknat lo." Kena pura pura bereaksi kesal pada sahabatnya, tak lupa memukul lengan Alex berulang.
"Ceritanya panjang. Lain kali gue kasih tahu sama lo." Alex dengan mengusap bekas pukulan Kennan.
"Omyayah jangan pukul papa, nanti papa nagis." Gadis kecil itu menahan tangan Kennan yang hendak memberu pukulan kembali pada lengan tangan sang sahabat.
"Biarin aja, papa kamu nakal. Lagian om juga mau lihat papamu menangis." Kennan tetap saja memberikan pukulan pada lengan tangan Alex kembali.
"Kenn, hentikan malu dilihatin orang." Alex berusaha menghindar dari pukulan Kennan.
Bukannya berhenti, Kennan malah semakin bertubi tubi mendaratkan pukulan pada tubuh Alex serta memberikan ledekan dan umpatan kekesalan pada sang sahabat.
Empphtt...
Kedua tangan mungil gadis kecil dalam gendongan Kennan tetiba membekap mulutnya. Membuat Kennan menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Omyayah gak boleh ngomong kasal kek gitu. Nanti dimalahin sama bu guyu."
"Sukurin lo." Alek terkekeh dengan wajah yang mengejek pada Kennan.
"Eyina bakal lepasin, asal omyayah janji mulutnya gak ngomong jeyek jeyek lagi." Lanjut gadis itu dengan gaya bicara cadelnya saat Kennan memberikan pandangan bertanya pada aksi gadia kecil tersebut.
Kennan pun mengangguk, memberi tanda setuju karena mulutnya masih dalam bekapan kedua tangan mungil gadis dalam gendongannya.
"Becok becok lagi muyutnya, Eyina cubit kek gini kayo masih suka ngomong jeyek jeyek kek tadi." Gadia kecil tersebut menguncup bibir Kennan dengan tangan mungilnya. Serta memberikan raut wajah garang pada Kennan.
Kennan pun menganggukkan kepala dengan cepat. Entah mengapa Kennan bagai kerbau yang dicucuk hidungnya menyetujui kalimat dari gadis kecil yang imut, lucu dan menggemaskan tersebut.
Gadis kecil yang menyebut dirinya Eyina itu melepaskan kuncupan tangannya pada mulut Kennan.
Kennan pun mendekatkan tubuhnya pada sang sahabat.
"Emaknya pasti santun banget, gak kek elo. Buktinya anaknya kek gini banget." Kennan berbisik pada telinga Alex.
"Iyalah. Kek gini..." Alex mengacungkan jempol tangannya, lalu menepuk dada membanggakan diri.
Kennan mencebik.
"Lo kasih pelet apa itu cewek sampe mau sama cowok berandal kek lo?" Kennan dengan menyenggol remeh pada Alex.
Bukan maksud merendahkan sang sahabat namun Kennan tahu betul siapa Alex waktu remaja.
"Jangan mengejek lo. Kalau gue udah keluarin jurus rayuan maut gue, cewek cewek pasti luluh sama pesona gue." Alex menyombongkan diri dengan menegakkan kerah lehernya.
"Iyalah. Emang cuma lo doang yang bisa jual tampang... Gue juga bisa kali." Alex tetap saja tak mau kalah, hingga akhirnya mereka pun tertawa bersama.
"Abang!"
Sebuah seruan menginterupsi tawa Kennan dan Alex. Keduanya pun serempak menghentikan tawa dan menoleh ke arah datangnya suara.
Seorang gadis berkerudung tampak berjalan ke arah mereka dengan menenteng beberapa paperbag di tangannya.
"Siapa?" tanya gadis itu saat posisinya berapa dekat dengan Kennan. Pandangan matanya tertuju pada gadis kecil dalam gendongan Kennan lalu beralih pada Alex yang berdiri di sisi kanan Kennan.
"Lo lupa sama dia?" tanya Kennan sembari menunjuk wajah Alex dengan ibu jarinya.
Gadis itu pun mengangguk.
Alex memandang sang gadis dengan pandangan heran. Karena merasa baru pertama kali melihat gadis itu.
Mungkinkah dia isteri Kennan sahabatnya, tanya hati Alex. Tapi... bukane mereka belum pernah ketemu sama sekali...
"Dia Alex. Si berandal itu." jelas Kennan pada sang gadis.
Sontak saja ucapan Kennan membuat Alex mencebik.
__ADS_1
"Gue udah insyaf. Gak berandalan lagi." sanggah Alex.
"Kak Alex!" Pekik gadis itu dengan kedua mata melebar sempurna.
Lah kok dia tau gue... tanya hati Alex dengan heran.
"Dia si nonong." terang Kennan dengan santainya. Nonong adalah sebutan dari Alex pada Naura.
"Naura!" ganti Alex yang berseru dengan kedua mata terbuka sempurna.
Kennan mengangguk, lalu dengan seenaknya mencium pipi gembul gadis kecil dalam gendongannya.
Naura dan Alex pun saling mengulurkan kedua tangan, saling berjabat tangan.
"Ini siapa bang? Seenaknya aja main cium cium." Tanya Naura setelah melepaskan tangan dari Alex.
"Anak gue."
Alex yang menjawab.
"Oh." Naura mengangguk tanda mengerti.
"Cantik ya. Namanya siapa?" Naura menoel gemas pipi gadia kecil tersebut.
"Kenina." lagi Alex menjawab pertanyaan Naura.
"Namanya cantik secantik orangnya." lagi tangan Naura menoel pipi gadis kecil tersebut. Membuat gadis kecil itu mengerucutkan bibir tidak suka. Kennan yang mengetahui itu, refleks mengusap lembut pipi gembul yang memerah tersebut.
"Kesakitan nih Nou, seenaknya aja tangan lo." Kennan dengan tetap memberikan usapan lembut pada pipi gembul tersebut. Kennan melakukannya dengan penuh perhatian bak seorang ayah pada putri kecilnya.
"Bapaknya aja nggak papa kenapa lo yang resek sih Bang." Naura mencebik kesal pada kakak lelakinya seraya memperhatikan interaksi sang kakak dengan gadis kecil yang diakui Alex sebagai anaknya.
Membuat Alex tertawa melihat tingkah Naura pada Kennan yang menurutnya masih sama seperti mereka remaja dahulu. Sedang Kennan mengabaikan reaksi adik perempuannya.
Kening Naura mengerut, merasa tidak asing dengan wajah gadis kecil tersebut.
"Pulang yuk Bang, gue ada janji sama Aldi nih." Ajak Naura pada Kennan setelah mereka melakukan obrolan ringan dengan Alex.
"Ck... ngapain tadi gak suruh jemput dia sekalian aja sih." Kennan berdecak kesal kerena merasa asyik dengan Kenina.
"Dia kan kerja. Elo kan nganggur."
"Ish ganggu kesenangan gue aja sih lo." Kennan dengan menyerahkan gadis kecil dalam gendongannya pada Alex.
"Gak mau. Pengen sama omyayah." Kenina menolak saat diberikan kepada Alex. Gadis kecil itu mempererat kedua tangannya di belakang leher Kennan.
"Sama papa sayang, kita pulang. Nanti bunda marah lho." Alex membujuk dengan berusaha meraih tubuh mungil tersebut.
Kenina tetap saja menolak. Kennan pun memberi tanda pada Alex untuk melepaskan tangannya. Kemudian Kennan membisikkan sesuatu tepat di telinga gadis kecil tersebut.
__ADS_1
Ajaib. Kenina segera mengendurkan tangannya lalu mengangsurkan kedua tangan pada Alex.
π¨π¨π¨π¨