
"Abang lepasin tangannya, Tita mau bangun", Tita berusaha melepaskan pelukan tangan kekar Kennan yang memeluk tubuh rampingnya dengan kuat. Padahal tangan itu masih tertancap jarum infus, bisa - bisanya Kennan tetap memeluk Tita kuat.
"Bentar lagi Dek... udah sholat kan?!", Kennan berucap dengan masih memejamkan matanya.
Tita tidak menjawab melainkan mendesah pelan, tidak habis fikir dengan sikap Kennan yang dirasa Tita semakin posesif pada dirinya.
Memang Tita sudah melaksanakan sholat shubuhnya tadi, tak lupa Tita pun membangunkan Kennan untuk melaksanakan ibadahnya meski dengan melaksanakannya di atas brankar karena kerbatasan selang infus yang tidak bisa membuatnya melakukan ibadah sholat shubuhnya bersama dengan Tita.
Tita melirik Kennan yang sudah kembali memejamkan mata dengan tubuh miring dan memeluknya erat.
Tita dan Kennan memang tidur bersama di atas brankar yang sempit dan hanya pas untuk kedua tubuh mereka tanpa bisa bergerak bebas.
Awalnya Tita menolak mentah - mentah keinginan Kennan yang menginginkan tidur bersama di atas brankar semalam.
Namun akhirnya menyetujui permintaan suaminya itu meski dengan berat hati. Bukan apa - apa, Tita hanya tidak ingin jika ada yang memergoki mereka tidur bersama karena meskipun mereka adalah pasangan suami isteri namun paras mereka yang masih sangat muda pastilah membuat orang tidak akan percaya jika mereka telah sah sebagai suami isteri.
Bagaimana jika mereka tertidur sambil berpelukan, tiba - tiba ada visite dari suster yang mengecek kondisi Kennan ataupun mengecek infus yang terpasang pada suaminya.
Pasti merepotkan jika harus menjelaskan pada mereka.
Setelah beberapa saat Tita bingung tidak bisa berbuat apa - apa, tanpa sadar Tita pun kembali memejamkan mata terlelap.
Pastilah Tita sangat lelah setelah semalaman dirinya harus berkali - kali terbangun untuk mengecek suhu tubuh suaminya yang naik turun serta membantu suaminya saat ingin ke kamar mandi.
Dan pelukan suami kulkas dua pintunya itu memang membuatnya nyaman dan kembali terlelap ke alam mimpi. Apalagi akhir - akhir ini Tita sudah semakin terbiasa dengan kenyamanan tidur dalam dekapan Kennan.
...ππππ...
Ceklek
Pintu ruangan kamar Kennan terbuka dari luar. Bersamaan dengan itu Tita membuka kedua bola matanya perlahan karena mendengar suara pintu dibuka.
Kedua bola mata Tita terbuka lebar saat mendapati seorang suster yang sedang jadual untuk visite diiringi dengan dokter muda yang kemarin memeriksa Kennan.
Dengan segera Tita menyingkirkan lengan tangan Kennan yang memeluknya erat serta beranjak dari brankar suaminya.
Tita mendapati pandangan yang terlihat aneh dan bingung dari suster serta dokter muda yang sepertinya memang masih sangat muda dan belum lama melakukan pekerjaannya sebagai dokter tersebut. Mungkin dokter tersebut baru menyelesaikan pendidikannya sebagai dokter.
Beruntung Tita menggunakan kerudung instan di kepalanya setelah melakukan ibadah sholat shubuh tadi. Jadi dirinya merasa nyaman saja meski suasananya sedikit canggung mengingat posisi tidurnya tadi yang dipeluk erat oleh Kennan, bahkan Kennan menenggelamkan raut wajahnya pada tengkuk leher Tita.
Terlihat menunjukkan kedekatan sebagai seorang pasangan.
"Maaf Dok... Sus... Abang masih tidur. Saya bangunkan sebentar", Tita membuka suara untuk memecah suasana canggung mereka serta menutupi rasa malunya.
Dokter serta suster tersebut menganggukkan kepala perlahan, masih dengan memandang Tita aneh.
Perlahan Tita mengusap lembut pipi Kennan, "Bang bangun..."
Hanya sedikit gerakan dari Kennan tanpa mau membuka matanya.
Tita pun memutuskan menepuk pipi Kennan perlahan, "Abang bangun, ada dokter visite..."
"Bentar Dek, baru bisa tidur nyaman ini....", Kennan bergumam tanpa membuka mata.
Kembali Tita mengguncang bahu suaminya dengan lebih keras, "Abaanngg.... bangun".
__ADS_1
"Apaan sih Dek... baru bisa tidur enak jugak", Kennan menggerutu dengan berusaha membuka matanya.
"Ada pak dokter visite...", Tita menatap lembut suaminya.
"Ck.... iya ini melek", Kennan berusaha membuka matanya dengan lebar dan disertai dengan bibir yang mengerucut.
"Maaf Dok... Sus... nunggu lama, susah dibangunin", Tita merasa tidak nyaman karena membuat dokter dan suster tersebut menunggu, dengan menggaruk belakang lehernya meski tidak gatal.
"Tidak papa Dek... mungkin kakaknya baru bisa tidur dengan nyaman, kan lagi sakit", ucap suster yang mengiringi dokter visite.
Tita tersenyum canggung.
Dokter muda itu mendekati brankar Kennan seraya berkata, "Kita periksa ya..."
"Iya Dok... monggo", Tita menggeser tubuhnya menjauhi brankar Kennan agar dokter yang menangani Kennan mudah melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian dokter telah selesai memeriksa kondisi Kennan.
"Perutnya sudah nyaman kan mas?", tanya Dokter pada Kennan.
Kennan mengangguk asal.
"Kondisi kakaknya sudah membaik Dek, nanti setelah cabut infus bisa pulang", dokter beralih berbicara pada Tita dengan ramah
"Adeknya juga pasti lelah mengurusi kakaknya sendirian, iya kan...?!", ucap dokter muda itu dengan senyum tersungging pada bibir tebalnya.
"Dia bukan Adek saya Dok", Kennan tetiba bersuara dengan nada yang terdengar ketus.
Dokter itu terlihat mengangkat kedua alisnya kaget.
"Bukan sus", sahut Tita dengan tersenyum canggung.
"Lah terus apanya, adek bukan pacar juga bukan padahal tidur pelukan dengan mesra... orang tuanya gimana kalau lihat. Dasar anak muda zaman sekarang", gumam suster itu lirih namun masih terdengar oleh penghuni ruangan itu termasuk Kennan.
"Dia isteri saya", ucap Kennan terlihat kesal namun tegas setelah mendengar gumaman sang suster.
Dokter serta suster tersebut membelalakkan mata lebar karena kaget, mereka berdua terlihat sangat terkejut saat mendengar ucapan Kennan.
"Sah - sah saja kan suami isteri tidur pelukan", ketus Kennan.
"Abaang", Tita merasa tidak nyaman dengan keketusan suaminya. Dan lagi sikap Kennan yang berlebihan membuat Tita malu.
"Kalian sudah menikah?", suster itu terlihat kepo, sedangkan sang dokter memandang Tita dan Kennan silih berganti.
"Iya kenapa.... suster gak percaya?!", Kennan merasa kesal dengan pandangan suster yang terkesan meremehkan, serta pandangan mata dokter yang memandang Tita intens. Pandangan dokter tersebut terlihat tertarik pada isterinya, dan itu membuat Kennan semakin kesal.
"Bukane kalian masih anak sekolah?", tanya suster masih dengan mata terbuka lebar.
"Memangnya gak boleh kalau masih sekolah udah nikah, itu lebih baik kan daripada berbuat zina", lagi Kennan berucap dengan masih ketus.
Dan lagi keketusan Kennan membuat Tita semakin tidak nyaman.
"Kalian...", suster itu berucap dengan menggerakkan tangan seolah membentuk perut besar.
"Maaf suster kami menikah karena sudah takdir dari Allah, tidak ada MBA. Lagian kami menikah sudah hampir satu tahun, dan saya juga belum hamil kok", Tita memilih memberikan penjelasan daripada suaminya tersebut menegang, dan lagi Tita sedikit memahami jalan pikiran sang suster.
__ADS_1
"Oh maaf... Dek, kami kira kalian kakak adek", dokter muda itu meminta maaf untuk memutus kesalahpahaman diantara mereka dengan terlihat sedikit lesu.
"Gak papa dok, kami juga minta maaf jika sikap kami tidak sopan", Tita membungkukkan setengah badannya.
Dokter tersebut membalas dengan meminta maaf dan izin keluar dari ruangan inap Kennan.
"Abang... jangan berlebihan. Mereka tetap lebih tua dari kita", ucap Tita mengingatkan Kennan yang sempat ketus dan tidak sopan menurut Tita.
"Elo suka sama dokter mesum itu!", ucapan Kennan terdengar sangat kesal dan juga bibirnya terlihat mengerucut.
"Abaangg... bukan begitu".
"Ternyata kulkas dua pintu ini kalau cemburu tidak tau tempat. Sepertinya kesabaranku benar - benar diuji sama makhluk ganteng bin mesum ini....", gumam hati Tita dengan menghela nafas panjang.
"Kita pulang wae, gue udah gak betah di sini", Ketus Kennan.
"Ck", Tita berdecak dengan menahan rasa lelahnya.
"Senyum dulu, jangan cemberut mulu", Tita bersuara lembut dengan senyum tipis.
"Gak", Kennan masih ketus.
"Kalau gitu pulangnya entar wae", Tita melirik raut wajah Kennan yang tertekuk kesal.
"Dek"
"Senyum dulu, kek gini", Tita membuat gerakan menaikkan ujung bibir ke atas disertai dengan gerakan tangan.
Kennan pun dengan terpaksa menaikkan kedua ujung bibirnya ke atas.
"Nah.... gitu kan cakep....", Tita mencubit kedua pipi Kennan gemas.
"Tita ke administrasi, urus kepulangan dulu", ucapnya beranjak menuju pintu.
"Hem", Kennan.
"Jangan lama - lama... gak usah ganjen kalau ketemu dokter mesum itu. Jangan tebar pesona cepat kembali!", seru Kennan sesaat sebelum Tita menghilang di balik pintu.
Titaπππ
π¨π¨π¨π¨
Di tunggu :
Like
Vote
Rate
Komen
Tambahkan favoritβ€
__ADS_1
Tengyu for reading tulisan receh othorππππ