
"Kenapa nyanyi lagu itu sih dek?" Kennan dengan kening mengerut saat Tita menyebutkan judul lagu rumit milik band indie langit sore yang hendak dibawakan olehnya.
Tita tersenyum tipis. "Pengen aja, Tita suka sama liriknya."
"Pilih yang lain kenapa sih dek?"
Tita menggeleng pelan tanpa menyurutkan senyum tipis yang membingkai wajahnya.
"Tita maunya ini aja bang."
"Gue nggak suka." Fabian dengan raut wajah kesal.
Lagu itu memang pernah menjadi nada dering pada ponsel sang isteri, dan entah apa sebabnya Kennan tidak menyukainya. Lirik lagu itu membuatnya seperti tersindir.
Dan lagi saat ini adalah hari perpisahan sekolah mereka setelah beberapa waktu yang lalu mereka berjuang mati matian menyelesaikan ujian mereka.
Seharusnya memilih lagu yang bertema senang dan gembira agar suasana menjadi menyenangkan bukannya malah menambah suasana menjadi lebih sedih.
"Elo kenapa sih Kenn... orang cuma nyanyiin lagu doang dibikin ribut." Aldi menginterupsi kedua pasangan remaja yang sedang berdebat itu.
"Biarin aja kenapa sih, mungkin itu lagi cocok sama suasana hati bini lo." lanjut Aldi sekenanya sembari memasukkan selempang gitar bass ke bahunya.
Hek.
Ucapan Aldi membuat Tita sedikit tercekat, namun dia berusaha menutupinya agar tidak membuat Kennan curiga. Karena sesungguhnya tebakan Aldi adalah benar.
Lagu pilihannya adalah gambaran suasana hatinya saat ini.
Tita bingung dengan rasa dalam hati Kennan yang menurutnya rumit untuk dipahami olehnya.
Setelah Tita memergoki Kennan berpelukan dengan gadis yang setahu Tita adalah gadis di masa lalu Kennan, Tita memang tidak pernah bertanya pada Kennan.
Tita memilih memendam rasa curiganya pada sang suami. Karena saat Tita bertanya Kennan memilih tidak jujur kepadanya.
"Udah biarin aja Tita pilih lagu itu, syukur syukur lo nyanyiin duet sama dia. Kan lebih bagus... bisa buat cerita ke anak cucu ntar." Arya dengan menyenggol bahu Kennan pelan sebelum duduk di belakang drum set yang akan dimainkan olehnya.
"Mulut lo kalau ngomong seenaknya wae." Kennan dengan wajah yang terlihat kesal.
"Udah debatnya, ditungguin penonton tu..." Irsyad menengahi.
Mau tak mau Kennan pun memetik gitar guna mengiringi nyanyian sang isteri karena lagu itu lebih bagus jika dinyanyikan secara akustic.
"Duet sama gue ya Ta." Bima tetiba berseru hingga Kennan pun menghentikan gitarnya.
"Nggak boleh sama gue aja." Kennan. Membuat Tita menoleh dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Wow... keluar tu posesifnya paksuami." Bima mengejek kemudian pergi ke pinggir panggung. Lebih baik dia menjadi seksi dokumentasi saja.
Kennan pun kembali memainkan gitar setelah sebelumnya melotot pada Bima.
Lelah dengan harapan kau tak mungkin kudapatkan...
Tita mengalunkan lirik itu dengan sangat bagus hingga membuat para penonton yang merupakan anak SMU di sekolahnya terpana.
Banyak yang memuji suara merdu yang dimiliki oleh Tita.
Lirik yang seharusnya menggambarkan suasana hati yang sedang sakit itu pun seolah tak diambil pusing oleh siswa siswi penikmat suara merdu Tita.
Aku ingin kamu tapi kau tak mau
Jangan jangan paksa aku untuk membencimu
Tita menoleh ke arah Kennan saat menyanyikan lirik tersebut, tatap matanya terlihat sendu seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Namun sayang Kennan menunduk memperhatikan dawai gitar yang dipetiknya.
Bima yang sedang menatap layar pada perekam videonya menangkap keanehan tatapan mata sendu Tita.
Kenapa gue ngerasa dia lagi nggak baik baik aja ya... gumam Bima dalam hati, Bima memang memiliki hati yang cukup sensitif. Dan dia yang dimaksud Bima adalah Tita, isteri sahabatnya.
Semoga pikiran gue salah... Bima menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruknya. Kembali fokus pada tugasnya membuat dokumentasi acara perpisahan sekolahnya.
Sementara rindu ini semakin menusuk dadaku
Kennan berganyi menyuarakan lirik tersebut dengan suara merdu. Dia benar benar melakukan duet dengan sang isteri. Membuat tepuk riuh membahana memenuhi lapangan sepak bola yang menjadi tempat penyelenggaraan acara perpisahan.
Tita tersenyum tipis saat sang suami mendendangkan lirik tersebut.
Seandainya saja abang bener bener mau memahami Tita... Tita membatin dengan menatap Kennan sendu.
Set...
Manik hitam Tita bertemu dengan manik hitam sang suami, Tita pun menyunggingkan senyum pada bibir tipisnya. Hingga keduanya sama sama tersenyum.
Para penikmat penampilan mereka pun bersorak penuh semangat. Bahkan terdengar siulan banyak siswa untuk memberikan apresiasi penampilan Kennan dan Tita.
Mereka bertepuk tangan tanpa henti karena sangat menyukai penampilan mereka yang terlihat sangat menjiwai dalam membawakan lagu tersebut.
Banyak yang tidak menyangka jika kapten tim basket yang terkenal paling dingin, angkuh dan terkesan sombong itu pun bisa bernyanyi dengan suara merdu.
Dan lagi senyum Kennan yang tan pernah surut saat mendendangkan lagi tersebut seolah menghipnotis para siswi di sekolahnya.
__ADS_1
Para siswi pun berteriak histeris saat melihat senyum Kennan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Hingga akhirnya lagi pun berakhir.
Tita memilih turun dari panggung, sedangkan Kennan masih harus tetap di sana untuk membawakan lagu band sheila on7 bersama geng basketnya.
"Ta... elo nggak papa kan?" Bima bertanya saat berpapasan dengan Tita yang hendak turun dari panggung.
Tita yang semula menunduk pun sedikit terhenyak. Tita sempat gugup saat mendongak mendapati Bima yang bertanya sembari memberikan tata pan menyelidik kepadanya.
"Maksud Bima apa, Tita nggak kenapa napa kok." Tita berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan kegundahan di dalam hatinya.
"Keknya ada yang lo sembunyiin." Bima masih belum percaya dengan jawaban Tita.
Tita menyunggingkan senyum pada bibir tipisnya.
"Tita nggak papa kok beneran. Udah Tita duluan ya..." Tita dengan beranjak.
"Ta..." seru Bima membuat Tita pun menghentikan langkah kakinya, menoleh kembali ke arah Bima dengan pandangan seolah bertanya, ada apa.
"Elo sama Kennan baik baik aja kan?"
Hek...
Tita terkejut mendengar pertanyaan Bima.
Bagaimana sahabat kennan yang menurutnya hanya berbicara seperlunya saat berkumpul bersama tersebut bertanya demikian kepadanya. Seolah cowok blasteran Indo Jerman itu mengetahui jika ada yang Tita sembunyikan.
"Ta... kalian baik baik aja kan?" lagi Bima memastikan.
"Eh... iya... kita baik baik aja kok, nggak ada masalah." sahut Tita dengan sedikit tergagap.
"Yakin?" Bima masih saja merasa ada yang janggal pada gadis itu.
Tita mengangguk tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, kalau ada yang ganjel lo ngomong sama kulkas dua pintu itu. Dia orangnya nggak peka." Bima pun tersenyum kemudian berlalu ke atas punggung.
Kulkas dua pintu? Bagaimana Bima bisa tau... Tita menggumam seraya berlalu.
"Ta!! Sini...!!" Hani berseru dengan melambaikan tangan.
Tita menoleh ke asal suara.
Tita yang semula hendak pergi meninggalkan sekolah pun mengurungkan niatnya, segera berlari kecil menghampiri sang sahabat yang berdiri tak jauh dari punggung.
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨