Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
224. Part 224


__ADS_3

"Dek... ngomong dong jangan diem wae." Kennan membujuk saat keduanya tengah duduk di dalam mobil.


Kennan sengaja melambatkan laju kuda besinya agar bisa membujuk isterinya untuk mengakhiri kekesalannya.


Tita terlihat diam saja, memandang ke arah luar jendela dengan bersidekap dada dan bibir yang mengerucut.


"Dek..." Kennan menarik lengan Tita agar merespon ucapannya.


Akan tetapi Tita berusaha tetap dalam pendiriannya, Tita tak mau melemah saat ini. Tita ingin suaminya itu menyadari jika Tita tidak suka dengan tingkah Kennan yang semaunya dan terlihat asal tanpa mau menempatkan diri.


"Iya deh iya, gue ngaku salah deh... gue janji gak bakal ngulang lagi. Maafin gue ya..." Kennan terus saja membujuk Tita.


Namun Tita tidak bereaksi, dia memilih memandang kaca jendela mobil dengan sesekali menghela nafas.


Dalam hati Tita masih saja kesal dengan tingkah Kennan beberapa saat lalu.


Kennan pun seolah kehabisan kata. Dia pun mengikuti kediaman sang isteri sembari memikirkan cara untuk menggoyahkan benteng pertahanan kekesalan Tita.


Beberapa saat setelah melajukan kuda besinya. Tiba tiba saja,


Sett...


Ciittt.....


Kennan membelokkan serta mengerem mobil hitamnya di depan sebuah toko bunga. Kennan segera turun begitu saja tanpa berpamitan ataupun meminta Tita untuk turun.


Kennan segera memasuki toko yang menjual beraneka ragam bunga segar tersebut . Terlihat Kennan berbincang dengan florist di dalam toko,Tita hanya memperhatikan dari dalam mobil tanpa ada keinginan untuk turun.


Sesaat setelah berbincang Kennan berjalan mengitari toko sembari melihat lihat bunga agar di dalamnya diikuti dengan penjual bunga di belakangnya.


Sesekali Kennan terlihat tersenyum pada penjual bunga yang lumayan cantik dan terlihat masih berusia muda. Pemandangan itu tak lepas dari kedua manik hitam Tita. Membuat Tita semakin cemberut, sepertinya dia cemburu melihat kedekatan sang suami dengan florist tersebut.


"Ngapain sih pakek beli bunga segala, mau dikasih ke siapa jugak..." Tita menggumam kesal.


Ingin rasanya Tita keluar, namun rasa kesal yang mendominasi membuatnya urung melakukannya.


Banyak tanya memutari tempurung kepalanya. Detik berikutnya, Tita berfikir lain.

__ADS_1


"Jangan jangan abang beli bunga buat Tita, biar Tita nggak ngambek. Iya kali ya..." gumam Tita dengan membesarkan hatinya. Tita pun tersenyum tipis, membayangkan Kennan akan memberi buket bunga untuknya.


Sembari menunggu Kennan keluar dari dalam toko bunga, Tita pun terlihat cengar cengir tidak jelas sembari membayangkan indahnya saat Kennan memberikannya sebuah buket bunga kepadanya.


Tiga puluh menit kemudian.


Kennan keluar dengan sebuah buket bunga mawar segar berwarna pink yang sangat besar di tangannya. Dia berjalan ke arah mobil dengan salah satu tangan memegang ponsel, seperti sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.



Sesungguhnya aksinya menelfon adalah pura pura saja. Kennan sengaja ingin memancing reaksi Tita. Kennan ingin mengerjai isteri polosnya tersebut.


Hingga saat dekat dengan mobil, Kennan pun berpura pura menutup sambungan telfonnya. Kemudian membuka pintu mobil bagian belakang dengan sudut mata yang melirik reaksi Tita. Dia memasukkan dan meletakkan buket bunga besar tadi di jok bagian belakang tersebut.


Tita pun melirik tindakan Kennan melalui ekor matanya. Dalam hati bertanya kenapa buket tersebut tidak diberikan kepadanya melainkan malah diletakkan di jok belakang.


Tita pun mengerucutkan bibirnya kesal. Ternyata semua tidak seperti angannya, bunga itu bukan untuknya.


Kennan yang menyadari kekesalan isterinya, memilih tidak peduli. Dia kembali melajukan kuda besinya meninggalkan tempat tersebut dalam diam.


"Oh itu, buat seseorang." Jawab Kennan tentu saja dengan berbohong karena sesungguhnya bunga tersebut dia beli untuk menyogok Tita agar mengakhiri rasa kesalnya.


Otak Tita pun berkelana memikirkan siapa sosok yang akan diberi bunga oleh suaminya, membuat wajahnya semakin tertekuk kesal. Ingin rasanya bertanya lagi untuk memperjelas rasa ingin tahunya, namun Tita mengurungkan niatnya. Tita tidak ingin Kennan mengetahui rasa cemburu yang menyelimuti hatinya.


Keheningan pun kembali berlanjut.


Tita dengan membuang pandangan ke luar jendela sedangkan Kennan terlihat fokus pada jalanan aspal di depannya.


Sebenarnya Kennan sudah merasa kesulitan untuk menahan tawanya lebih lama lagi. Namun Kennan berusaha menahan sekuat tenaga. Kennan tidak ingin rencana yang dibuatnya gagal di tengah jalan.


Sesekali Kennan melirik wajah kesal Tita melalui ekor matanya. Sungguh wajah kesal Tita tersebut terlihat imut dan menggemaskan meskipun sedang kesal.


Tak berapa lama kemudian, Kennan kembali menghentikan mobilnya di depan sebuah butik baju.


Kennan keluar kemudian memutari mobil menuju sisi penumpang dimana Tita duduk di sana. Tangannya terulur membuka pintu.


"Turun gih..." titah Kennan pada Tita dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Tita yang tidak mengetahui maksud suaminya, bertanya tanpa berkeinginan untuk turun. Wajahnya masih terlihat suram efek kenyataan bahwa buket bunga yang dibeli oleh Kennan tidak diberikan kepadanya malah hanya teronggok di jok mobil bagian belakang.


"Ngapain kita ke sini bang?" Tita dengan memindai butik yang terlihat mewah di depannya. Sudah dapat dipastikan jika butik tersebut menjual baju baju bermerek yang mahal.


"Udah turun wae, nggak usah banyak tanya." Kennan dengan memegang tangan Tita untuk membantu gadis itu turun, sedikit menarik kuat karena tubuh ramping itu enggan bergerak.


Tita pun akhirnya menurut.


Turun dari mobil lalu mengekori Kennan yang berjalan dengan langkah lebar di depannya, dengan wajah bersungut tentunya.


"Mari mas... mbak... silahkan masuk." ucap seorang pramuniaga dengan membukakan pintu saat Kennan dan Tita berada di depan pintu masuk butik.


Kennan melangkahkan kakinya memasuki butik kemudian menghentikan langkahnya sesaat. Menoleh ke belakang lalu menarik Tita dan menangkup bahu isterinya posesif seolah menunjukkan bahwa gadis itu adalah miliknya.


Merekapun berjalan beriringan, memasuki butik lebih dalam lagi.


"Lo tunggu sini bentar." Kennan dengan mengarahkan Tita untuk duduk kemudian dirinya melangkah pergi meninggalkan Tita di sana sendiri.


Beberapa saat setelahnya, Kennan kembali dengan seorang pramuniaga mengekor di belakang tubuh jangkungnya.


"Dek lo ikut mbaknya gih." Titah Kennan lembut dengan mengangsurkan tangan kanannya agar dapat membantu Tita berdiri.


"Kemana bang?" Tita dengan wajah linglung.


"Udah ikut wae."


Tita pun berdiri dari duduknya.


"Mari mbak." pramuniaga tersebut menggandeng tangan Tita dengan tersenyum ramah.


Tita digiring menuju sebuah ruangan yang tertutup oleh tirai yang lebar dan tinggi. Pramuniaga tersebut menyibak tirai tersebut dan membawa Tita masuk. Ternyata ruangan itu adalah ruanga ganti yang cukup lebar. Di dalam sana terdapat cermin kaca yang sangat besar, hampir menutupi salah satu sisi dinding ruangan.


Tita pun dibuat kagum akan kemewahan desain ruang ganti yang menurutnya mirip dengan ruang maksud up artis tersebut.


"Silahkan duduk dulu mbak, saya ambilkan gaunnya yang akan dicoba." Pramuniaga tersebut dengan membungkukkan setengah badannya lalu segera pergi meninggalkan Tita sendiri di dalam sana.


🍨🍨🍨🍨

__ADS_1


__ADS_2