Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 244


__ADS_3

Eugh....


Kennan melenguh sembari mengeratkan kedua kelopak matanya saat merasakan sinar matahari terik menyeruak masuk melalui celah kain gorden yang tersibak dari jendela kamarnya.


Sepertinya saat ini hari telah berganti siang.


Kennan segera mengalihkan tubuhnya ke arah lain di mana posisi tubuh sang isteri seharusnya berada. Tangannya bergerak menyusur ranjang di hadapannya dengan mata yang kembali memejam akibat rasa kantuk yang masih menggelayut.


Kennan berusaha membuka kedua matanya yang kelat saat tangannya tidak merasakan sentuhan pada sosok yang dicarinya.


"Apa dia udah bangun ya..." gumam Kennan dengan sedikit menegakkan kepalanya malas. "Tumben gak bangunin gue..." gumam Kennan karena merasa tidak berlaku seprti biasanya.


Biasanya Tita selalu memaksa Kennan bangun saat subuh tiba, meski setelahnya akan membiarkannya tidur kembali.


Dengan rasa malas yang amat sangat, Kennan mengarahkan pandangan pada jam dinding yang menempel di dalam kamarnya. Memaksa untuk melebarkan kelopak matanya.


"Jam sebelas?!!" Kennan dengan membuka matanya semakin lebar saat mendapati jarum jam dindingnya menunjuk waktu yang tidak bisa dikatakan pagi lagi.


Kennan segera menegakkan tubuhnya, menyibak selimut yang membalut setengah tubuhnya.


"Shi*t.." umpat Kennan lirih dengan kembali menutup tubuh polosnya dengan selimut karena ternyata dia belum memakai apapun pada tubuhnya.


Akibat melakukan percintaan dengan Tita yang bagaikan dalang melakonkan wayang semalam suntuk, membuatnya melupakan celana pendek untuk sekedar menutup inti tubuh bagian bawahnya.


Dengan sisa sisa tenaga yang belum terkumpul sempurna Kennan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.


Oahm...


Kennan menguap dengan lebar. Lalu mengucek kedua matanya agar dapat terbuka dengan sempurna.


Senyum membingkai wajah Kennan saat mengingat aksi liar isteri polosnya semalam. Bagaimana bisa gadis yang selama ini selalu patuh dan menurut berada dalam kungkungannya tersebut, semalam melakukan hal yang sebaliknya.


Tita menguasai tubuhnya, bahkan mengambil alih kegiatan percintaan mereka dengan cukup liar. Gadis itu seolah menuangkan seluruh hasratnya yang sebelumnya terpendam pada Kennan.


Seperti tidak memiliki rasa lelah meski beberapa kali mencapai puncak kepuasan bersama sama.


Kenikmatan percintaan yang dilalui semalam dengan sang isteri, membuat Kennan tidak lagi peduli dia menyemburkan benih kecebongnya di dalam atau di luar. Toh sekarang mereka sudah lulus. Kalaupun Tita bakal hamil juga tidak masalah menurutnya.


Merasa nyawanya telah terkumpul sempurna, Kennan beranjak ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Toh dia tidak ada siapapun di dalam kamarnya.

__ADS_1


🍭🍭🍭


"Dek..." Kennan berseru saat keluar dari kamar dengan wajah segarnya serta telah memakai kaos polos hitam serta celana pendek rumahan kesukaannya.


Hening.


Tidak ada sahutan suara Tita di sana.


Kennan melanjutkan langkah kakinya seraya memindai dalam apartemennya yang terasa segar dengan aroma lavender kesukaan Tita.


Pasti gadis bangun lebih awal dan melakukan kegiatan rumah seorang diri, seperti hari hari biasanya. Sungguh Kennan harus berterima kasih pada bundanya karena telah memilihkan seorang isteri yang sempurna padanya. Cantik, lembut, rajin, pinter masak dan juga servis ranjangnya membuat Kennan ketagihan. Kurang apa lagi coba.


Kennan berjalan ke arah dapur, tidak ada sosok Tita di sana. Kemudian beralih ke ruang tamu yang berfungsi menjadi tempat yang bisa digunakan segala aktivitas.


Tetap saja Kennan merasakan keheningan, tanda tandanya tidak ada sosok Tita di sana.


"Dek... lo dimana sih?" lagi Kennan berseru dan tidak ada jawaban dari panggilannya.


Kennan mengerutkan dahi, merasakan keanehan saat ini. Kendati demikian dia tetap menyisir setiap ruangan dalam apartemen nya hingga ke balkon.


"Mungkinkah dia belanja bulanan? Tapi, kenapa nggak bangunin gue." gumam Kennan dengan perasaan heran menyelimuti kalbunya. Karena biasanya setiap ada keperluan belanja Tita selalu mengajak Kennan, meminta diantar.


"Lebih baik gue telfon aja." Kennan bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel pintar miliknya guna menelfon sang isteri.


Tut... tut...


Hanya terdengar nada tunggu dari seberang telfon setelah beberapa saat menunggu.


Kennan kembali melakukan panggilan ulang karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Elo kemana sih dek?" Gumam Kennan lirih sembari memandangi layar ponselnya dengan wajah gusar.


Dari relung hatinya yang paling dalam, Kennan merasakan sesuatu yang bakal menghilang darinya, entah itu apa.


Drrtt... drrttt...


Terdengar getaran daru belakang tubuh Kennan saat terakhir kalu dirinya melakukan panggilan pada ponsel istrinya. Membuat Kennan segera menoleh ke belakang.


Mendapati ponsel milik Tita di atas meja belajar, membuatnya segera beranjak dari ranjang.

__ADS_1


"Kenapa gue baru sadar kalau dia nggak bawa hpnya." gumam Kennan dengan meraih ponsel Tita dari atas meja belajar.


Kening Kennan mengerut saat mendapati sebuah amplop yang berada di bawah ponsel milik Tita.


Amplop berwarna coklat itu tidak asing baginya.


Kennan meletakkan kembali ponsel milik Tita di atas meja lalu menarik kursi belajar dan mendaratkan bokongnya di sana. Segera membuka tali yang mengikat amplop tersebut dengan jantung yang berdegub kencang. Ada ketakutan menyelimuti hatinya saat ini.


Hek.


Kennan terhenyak saat menarik lembaran kertas dari dalam amplop. Segera mengeluarkan seluruhnya dengan perasaan was was.


Deg.


Jantung Kennan berdegub kencang bak dihantam sebuah batu besar saat manik hitamnya mendapati tanda tangan Tita di sana.


Sejak kapan tanda tangan itu ada di sana, dan bagaimana bisa Tita menemukan amplop perjanjian pernikahan mereka tersebut, Kennan tidak berhenti bertanya tanya dalam hati.


Kenapa bisa dia melupakan perjanjian tersebut.


Meski belum sepenuhnya yakin, namun rasa hati Kennan tidak nyaman saat ini. Ketakutan akan kebenaran Tita meninggalkannya memutari tempurung kepalanya.


Kennan kembali membuka amplop berwarna coklat di tangannya saat merasakan masih ada sesuatu di dalamnya. Merogoh ke dalam dan menemukan sebuah kertas dari buku tulis yang dilipat rapi.


Kennan terlihat tidak sabar saat membukanya.


Kedua matanya terbuka lebar saat membaca satu persatu kalimat di dalamnya.


Jantung Kennan berdetak semakin kencang saat Tita menyatakan bahwa tugasnya sebagai isteri telah selesai sesuai perjanjian mereka. Dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan Kennan.


Deru nafas Kennan terdengar memburu, kedua matanya berkilat menandakan kemarahan yang tidak bisa dibendung lagi.


Bagaiamana bisa gadis polos, tidak banyak kata yang penurut itu memutuskan untuk pergi meninggalkanya dan memutuskan hubungan mereka secara sepihak tanpa sedikitpun bertanya padanya.


Dirinya dan Tita memang remaja yang masih labil, namun bagaimana bisa gadis itu tidak meminta pendapatnya sama sekali. Tidakkah Tita mengetahui ketulusan cintanya, ataukah memang selama ini gadis itu hanya melakukan semunya demi kewajibannya sebagai seorang istri.


Kennan meremas surat perjanjian pernikahan di tangannya lalu memukul meja dengan keras, hingga meninggalkan luka penuh goresan pada buku tangan kanannya.


Maaf selama ini Tita tidak bisa menjadi isteri yang sempurna buat abang...

__ADS_1


Desis lirih yang keluar dari mulut Tita semalam kembali terngiang pada pendengaran Kennan.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2