Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
207. Seribu cara Kennan


__ADS_3

"Bos sarapan datang!"


Sebuah suara cempreng terdengar dari balik pintu ruangan Kennan, sontak membuat Kennan dan Tita terkejut lalu menoleh ke arah pintu bersamaan.


Tita melebarkan kedua matanya dengan wajah pias, tidak menduga jika akan ada yang tiba tiba datang ke ruangan Kennan.


Seorang pegawai kafe membawa nampan berisi sarapan untuk kennan, memasuki ruangan dengan mendorong pintu menggunakan kakinya.


Ternyata pintu ruangan tersebut tidak tertutup dengan sempurna.


Kedua mata pegawai tersebut terbuka lebar saat mendapati Tita dengan bosnya di dalam ruangan kerja sang bos, sangat terkejut.


Tubuhnya membeku tak jauh dari pintu, masih dengan memegang nampan.


Tempurung kepalanya banyak menduga tentang apa yang terjadi pada keduanya. Apalagi saat ini kondisi Kennan tanpa menutupi tubuh bagian atasnya dan Tita yang tidak memakai kerudungnya, juga kedua tangan Kennan yang masih menangkup wajah Tita.


Keduanya terlihat seperti...


Siapapun yang melihat keduanya saat ini pasti akan berfikir hal yang sama dengannya.


Tita terlihat cemas dengan kondisinya saat ini, seperti terpergok berbuat mesum dengan bosnya sendiri. Tita pun menepis tangan Kennan, gugup.


"Taruh di atas meja saja." Kennan tetap tenang dan santai.


Pegawai tersebut masih saja membeku di tempatnya.


Kennan beranjak dari sofa bednya, berjalan mendekati sang pegawai saat melihat pegawainya tersebut masih membeku di tempatnya.


"Sini..." Kennan mengambil alih nampan dari tangan pegawai kafenya.


"Eh iya, maaf." Sang pegawai tersadar dari keterkejutannya. Dengan tangan sedikit gemetar menyerahkan nampannya kepada bosnya.


"Terima kasih. Kamu boleh keluar sekarang." Kennan datar tanpa peduli jika kedua manik mata pegawai tersebut memandangi jejak merah di dada telanjang Kennan.


"B_baik bos... sekali lagi maaf." Pegawai tersebut sedikit meundukkan kepala lalu keluar dari ruangan Kennan dengan otak yang tidak berhenti berfikir tentang situasi yang terjadi di dalam ruangan bos mudanya.


Dalam hati pegawai tersebut tidak menyangka, bahkan apa yang dilihatnya beberapa saat tadi layaknya sebuah tontonan drama dalam layar kaca ikan terbang.


"Abang kenapa gak pakai baju sih..." Tita terdengar cemas setelah kepergian sang pegawai kafe.


"Kan baju gue elo pakek dek, pakek baju lo gak mungkin muat kan...?" ucap Kennan santai dengan mendudukkan diri pada tempatnya semula.


"Abang masih wae bercanda."


"Lah gue bener kan dek."


"Ck, maksud Tita bukan itu abang. Abang harusnya pakek baju, itu kemeja kan ada." Tita menunjuk dengan dagu pada kemeja lengan panjang yang disampirkan Kennan pada kursi kerjanya. Kemeja flanel yang semalam dipakai Kennan untuk membalut kaos polosnya saat perform.


"Gimana kalau kita nanti digosipin aneh aneh ntar sama pegawai kafe?" lanjut Tita dengsn raut wajah cemas.


"Ya gak papa, orang kita semalem emang aneh aneh kok. Ngaku wae." Kennan dengan sengaja menggoda Tita.


"Abaaang..." Tita memukul mukul dada telanjang Kennan dengan wajah amat sangat kesal.

__ADS_1


"Dek... tumpah ntar minumnya..." Kennan disertai dengan kekehan, sembari sedikit menjauhkan nampannya karena Tita tidak berhenti memukulnya.


"Dek udah..."


"Makanya jadi orang jangan bercanda mulu, ada saatnya kita ngomong serius bang." Tita menghentikan pukulan pada Kennan, meskipun wajahnya masih terlihat kesal.


"Iya... iya... gak usah marah cemberut gitu, nanti cantiknya ilang." Kennan membujuk dengan lembut. Lalu meletakkan nampan yang berisi sarapan mereka berdua di sofa bed yang kosong.


Tita mencebik. Kennan pun terkekeh kecil.


"Udah... mau makan atau mandi dulu?" tanya Kennan pada sang isteri.


"Abang udah mandi?"


"Elo enggak liat wajah gue udah cakep ini..." Kennan dengan gaya narsisnya, membentuk pistol di bawah dagunya.


"Siapa tau wae cuma cuci muka doang." Tita mengejek.


"Wehh... menyepelekan kebersihan gue. Elo tau kan kebersihan itu sebagian dari iman." Kennan seolah kesal.


"Nih cium badan gue... udah wangi sabun dek." Kennan dengan mendekatkan tubuhnya pada wajah Tita, dengan ketiak yang sengaja diarahkan pada hidungnya.


"Iya.. udah... Tita percaya." Tita dengan tersenyum geli, tangan satunya mencubit hidung seolah enggan membau sedangkan satunya mendorong tubuh Kennan agar menjauh dari wajahnya.


"Tita mandi dulu aja baru makan." putus Tita setelah Kennan sedikit menjauhkan diri.


"Gendong ya?!" Kennan.


"Enggak. Tita bisa sendiri." Tita dengan melotot.


"Enggak! Orang kamar mandinya cuma disitu kan?!" Tita menunjuk pintu tertutup yang tak jauh dari sofa bednya. Berjalan lima langkah pastilah sampai menurut Tita.


Kennan mengangguk mengiyakan.


"Ya udah kalau gitu, ntar jangan nyesel karena gak mau terima tawaran gue." Kennan dengan senyuman aneh di wajahnya.


"Dah cepetan mandi sana, gue udah laper banget." lanjut Kennan.


"Kalau Abang udah laper banget, makan duluan wae gak usah nungguin Tita." Tita dengan menjulurkan kaki ke lantai, masih dengan selimut yang menutupi bagian tubuh bawahnya.


"Iya." sahut Kennan.


Hek... tenggorokan Tita terrcekat saat menyibak selimutnya ternyata dirinya hanya memakai kaos Kennan tanpa membalut tubuh bagian bawahnya.


Buru buru Tita mengurungkan niatnya untuk menyibak selimut, kembali menggulung selimut lebih rapat. Kemudian tempurung kepalanya memindai ke sekitar sofa bed untuk menemukan pakaiannya, namun tidak ada satupun baju bekasnya semalam.


"Kenapa malah bengong, katanya mau mandi..." Kennan pura pura tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Baju Tita semalem dimana bang?" Tita dengan mengeratkan tangan pada selimutnya.


"Udah gue masukin mesin cuci, paling bentar lagi selesai." Kennan berucap santai.


Kedua mata Tita membola.

__ADS_1


"Yaa... terus Tita nanti pakek apa bang?"


"Baju gue ada."


"Tapi kan..."


"Kenapa? Gak mau?"


Ingin rasanya menjawab iya, namun diurungkan karena pastinya akan membuat Kennan tersinggung. Sebenarnya bukannya Tita tidak mau memakai baju Kennan, karena sesungguhnya Tita sudah sering memakai baju Kennan saat di rumah mertua maupun di apartemen.


Yang Tita takutkan adalah reaksi pegawai kafe yang tidak mengetahui statusnya sebagai istri Kennan sang pemilik kafe saat melihat dirinya memakai baju Kennan.


Apalagi jika Tita mengingat beberapa saat lalu ada salah satu pegawai yang memergokinya dengan posisi yang tidak mengenakkan. Pastilah saat ini dirinya sudah menjadi bahan gosip di bawah sana.


"Bukannya Tita gak mau bang... Tapi kalau nanti pegawai kafe hafal kalau Tita pakek baju abang terus ngomongn Tita gimana?"


"Ya nggak papa, biarin aja. Ngapain dipikirin sih dek..."


"Mereka kan gak tau kalau kita suami isteri bang..." Tita dengan raut wajah yang terlihat sendu.


"Ntar gue kasih pengumuman sekalian kalau lo isteri gue. Cepet mandi sana..." Kennan sedikit mendorong bahu Tita agar beranjak dari duduknya.


"Ih abang gak usah dorong dorong napa..." Tita mengusap bahunya sembari melirik sinis pada suaminya.


"Katanya mau cepetan mandi, nyatnya masih betah duduk wae."


"Iya iya ini juga mau mandi kok." Tita berusaha membalut tubuh bawahnya dengan selimut.


"Kalau mau mandi selimutnya gak usah dibawa." Kennan dengan sengaja menahan dan menarik selimut Tita, karena sesungguhnya Kennan tahu maksud istrinya.


Tita melotot ke arah Kennan. "Abang lepasin."


"Selimutnya tinggalin, ntar basah. Di dalem udah ada handuk." Kennan masih menahan selimut Tita dan Tita pun melakukan hal yang sama. Akhirnya aksi tarik menarik selimut terjadi pada keduanya.


"Abang... lepasin..." Tita mengeram.


"Enggak."


"Lepasin... bang, jangan buat Tita malu."


Kennan pura pura tidak tahu maksud ucapan sang isteri. "Kenapa harus malu..."


"Tita... Tita..." Tita terlihat bingung untuk mengatakan jika dirinya tidak memakai pakaian pada tubuh bagian bawahnya.


Kennan yang sedari awal sudah mengetaui kondisi Tita yang sebenarnya, menarik kuat selimutnya hingga membuat tubuh Tita mendekat padanya. Kennan segera berdiri dan melepaskan selimut yang membalut tubuh bagian bawah istrinya.


Dengan ala bridal style Kennan menggendong tubuh ramping tersebut masuk ke kamar mandi.


Akhirnya Tita hanya pasrah saat Kennan membopong tubuhnya. Tita akan tahu apa yang selanjutnya terjadi di dalam sana, yang pasti niatnya untuk mandi cepat tidak akan pernah terlaksana. Kennan memang selalu memiliki seribu satu cara untuk mendapatkan haknya,πŸ˜‚


🍨🍨🍨🍨


Like, vote yak... biar ntar othor semangat nulis lanjutannya...πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Tengyu so much..... love you all My Beloved Readers😘😘😘


__ADS_2