
Tita duduk menopang dagu dengan arah pandangan mata ke luar jendela kelas.
Hati dan pikiran Tita melayang pada obrolannya dengan Aldi di kantin saat jam istirahat pertama tadi.
"Kennan kemana kok nggak masuk hari ini..."
"Tumben dia nggak nitip absen sama gue."
Pertanyaan serta ungkapan Aldi tersebut tidak berhenti terngiang di telinga Tita.
Bagaimana bisa itu semua terjadi ketika pagi hari tadi Kennan dengan jelas mengatakan padanya bahwa dia berangkat lebih dulu ke sekolah karena akan mempersiapkan perubahan struktur pengurus klub basket dengan para juniornya. Mengingat jika Kennan dan keempat sahabatnya yaitu Arya, Bima Aldi dan Irsyad sudah kelas 12 dan akan segera menghadapi ujian nasional. Sebagai penentu nasib mereka setelah mengenyam pendidikan selama tiga tahun di SMU.
Tita dengan begitu percaya dan tidak menaruh sedikitpun curiga merasa syok setelah mendengar perkataan Aldi.
"Kennan beneran nggak dateng ke kelas dari pagi. Bekas tapak sepatunya bahkan bayangannya doang gue yakin nggak sampai lewat depan gerbang sekolah." Aldi meyakinkan Tita saat itu dengan gaya konyolnya.
Bukan maksud Aldi membakar api curiga pada Tita untuk Kennan, namun itulah kebenarannya. Aldi hanya mengatakan yang sebenarnya karena telah mengatakan kenyataan tanpa sengaja pada Tita. Mau tak mau Aldi pun harus berkata jujur.
Sungguh Aldi tidak tahu jika kejadian yang sebenarnya, jika Kennan pamit berangkat ke sekolah pada Tita.
Heh...
Tita menghela nafas pendek.
Pandangan matanya menatap luar jendela kelas yang mempertontonkan para siswa yang sedang asyik bermain basket.
Keempat sahabat Kennan pun ada di sana.
Membuat hati Tita bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Kenapa Kennan memilih menutupi dan tidak jujur padanya.
Bahkan tidak ada satupun sahabatnya yang mengetahui keberadaan Kennan saat ini. Lagi lagi ponsel Kennan tidak dapat dihubungi oleh Tita.
"Mikirin Kennan?"
Tetiba Hani dengan duduk di samping Tita.
"Eh... incess, bikin kaget wae sih." Tita dengan tersentak.
"Makanya anak gadis jangan suka bengong." Hani mencoba bercanda.
"Tita nggak bengong."
"Nggak usah bohong, muka lo udah kek kambing ompong."
"Masa sih." Tita dengan mencoba tersenyum untuk menutupi kegelisahannya.
"Nggak usah maksain senyum kalau nggak bisa."
"Keliatan banget po?" Tita menundukkan wajah, menyembunyikan kedua mata sendunya yang menganak sungai.
__ADS_1
"Berfikir positif wae, siapa tau Kennan ada sesuatu yang harus dia selesaikan tanpa harus bikin lo khawatir. Cowok kan emang kek gitu..." Hani berusaha mengurangi kegelisahan sang sahabat.
"Tita udah coba, hiks..." Tita menahan tangisnya.
"Udah nggak usah nangis. Dia pasti punya alesan yang tepat." Hani merangkul bahu sahabatnya.
"Elo sama Kennan itu pasangan yang udah nikah, nggak mungkin dia bakal aneh - aneh. Gue percaya pasti dia punya alasan."
Kali ini Hani dengan berbisik seraya mendekap kepala Tita erat karena gadis itu mulai menumpahkan tangisnya.
Tita yang memang sudah tidak mampu menahan isak tangisnya pun melepaskan di pelukan Hani, sahabatnya. Tentu saja dengan lirih karena tidak ingin membuat keributan di dalam kelas.
Beruntung saat ini adalah jam kosong untuk seluruh sekolah karena bapak ibu guru ada kegiatan lain, makanya hanya segelintir siswa yang berada di dalam kelas.
Hani mengusap lembut punggung Tita yang bergetar, membiarkan sang sahabat meluapkan sesak yang menyelimuti relung hatinya.
Hingga beberapa saat berlalu.
"Maaf... hiks..." Tita mengangkat kepalanya dari bahu sang sahabat.
"Baju inces kotor, kena ingus Tita." Tita masih dengan disertai isakan kecil.
"Nggak usah dipikirin, entar biar gue bawa ke cah ayu loundry. Di sana bisa mengatasi baju kotor tanpa masalah." Hani dengan mencoba bercanda agar gadis bermata sembab di depannya terhibur.
"Hehe... incess ada ada aja." Tita dengan kekeh terpaksa.
Tangan Hani pun terulur, menyeka sisa bulir bening yang masih membekas di wajah sahabatnya. "Lo nggak ada tisu?"
"Ada di kantong depan." Tita menunjukkan tempat dia menyimpan tisu.
Hani pun segera mengambilnya.
"Tita sendiri aja." Tita mencomot lembaran tisu dari tangan Hani kemudian digunakan untuk menyeka wajah basahnya akibat air mata.
"Masih keliatan habis nagis?" Tita mengarahkan wajahnya pada Hani, terlihat kedua mata yang menyipit akibat menangis.
"Enggak keliatan kalau liatnya lewat lubang sedotan dari puncak monjali hehehe..." Hani bercanda.
Plak!
"Becanda mulu."
"Aduhh..."
Hani pura - pura mengaduh karena Tita memukulnya pelan.
"Rasain!" Tita tersenyum mengejek dengan mata sipit yang semakin terlihat menyipit.
Hahaha....
__ADS_1
Keduanya pun tertawa kecil bersama.
πππ
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, menandakan jam pelajaran telah usai. Anak anak pun mulai berhamburan keluar kelas untuk kembali pulang ke rumah masing masing.
Pun begitu dengan Tita.
Dengan langkah pelan Tita menyusuri koridor sekolah. Ingin rasanya menghilangkan keresahan hatinya memikirkan keberadaan Kennan, namun tidak bisa.
Resah dan gelisah itu masih tetap menyelimuti kalbunya.
Tita sungguh tidak mengerti dengan sikap Kennan yang selalu manis selama ini tega membohonginya. Padahal beberapa waktu lalu mereka telah berjanji untuk saling jujur dan terbuka mengenai apapun yang terjadi.
"Tita harus ke kafe, siapa tau aja abang ada di sana seperti waktu itu." gumam Tita dengan mempercepat langkah kakinya untuk menuju halte tempatnya menunggu si biru tayo.
Seperti ucapan Hani sahabatnya, Tita harus berfikir positif tentang Kennan.
Setelah beberapa waktu, sampailah Tita di depan kafe K&Y.
Bibir terangkat saat mendapati mobil hitam Kennan berada di parkiran kafe.
Tita pun menghela nafas. Segera melangkahkan kaki memasuki kafe.
Kondisi kafe yang sangat ramai membuat Tita menghentikan langkah kakinya sesaat, memindai sosok Kennan ke seluruh penjuru kafe.
Ketika kedua manik hitamnya tidak menemukan keberadaan sang suami, Tita pun kembali melangkahkan kakinya. Berjalan menaiki tangga untuk menuju ruangan owner di lantai atas.
Ceklek... Klek...
"Bang..." Tita memanggil seraya membuka pintu.
Kening Tita mengernyit saat ruangan itu nampak gelap karena jendela yang terbuat dari kaca masih tertutupi tirai serta lampu yang tidak dinyalakan.
Tita pun melangkahkan kaki memasuki ruangan, menyalakan lampunya.
"Nggak ada." gumam Tita karena tidak mendapati sosok yang di carinya.
Pintu kamar mandi dalam ruangan tersebut pun terbuka, tidak ada tanda tanda ada orangnya.
Tita kembali mematikan lampu, kemudian berjalan keluar menuruni tangga kafe.
Meski kondisi kafe sangat ramai, Tita memilih mengabaikannya. Dia hanya ingin menemukan keberadaan Kennan saat ini.
Deg.
Jantung hati Tita seolah berhenti berdetak saat manik hitamnya mendapati Kennan bediri membelakanginya, memeluk seorang gadis yang sepertinya tidak asing di mata Tita.
"Abang." desis Tita dengan mata yang kembali menyendu.
__ADS_1
π¨π¨π¨π¨