
"Kalau lo gak mau nyium gue... berarti gue aja yang nyium... iyakan dek..." Kennan dengan senyum samar.
Sontak membuat Tita tergugup akan aksi suami mesumnya. Bagaimana bisa otak mesum itu melekat, tanpa mau luntur meski kondisi suaminya itu sedang dalam luka lebam.
Kennan mengikis jarak, memiringkan wajah dengan sedikit menunduk lalu menempelkan bibirnya pada ceruk leher jenjang isterinya. Perlahan bibir itu menyusuri tiap inci permukaan kulit halus yang membalut leher jenjang tersebut.
Tita hanya membeku dengan menahan nafasnya agar tidak menderu.
Cup...
Bibir yang telah basah itu sepertinya meninggalkan jejak tanda kepemilikan pada permukaan leher sang isteri.
"Dek... jangan diem wae..." Kennan masih dengan tidak berhenti menyusuri kulit leher Tita bahkan hingga turun ke permukan kulit dada.
Tita bergeming.
Mendapati sang isteri yang tidak membalas atau pun memberikan sentuhan padanya, bibir tebal itu merayap naik hingga akhirnya menemukan pelabuhannya.
Dengan rakus Kennan kembali mencecap dan menyusuri setiap inci ronnga mulut sang isteri yang sudah setengah terbuka.
Perlahan pelabuhan bibir tebal Kennan itu mengatup dan membalas cecapan demi cecapan yang Kennan berikan. Bahkan kedua bola mata sang pemilik pelabuhan pun perlahan terpejam seolah menikmati bibir basah yang sudah saling bertautan tersebut.
Tangan kekar Kennan mulai membuka satu persatu kancing baju bagian atas sang isteri tanpa menghentikan aksi bibirnya.
Dalam hati Kennan tersenyum dengan karena isteri polosnya itu belum mengaitkan kancing rumah gunung kembarnya, membuat tangan nakal Kennan leluasa bergerilya mendaki ke sana kemari.
Seakan tidak mampu membendung hasratnya Kennan melucuti pakaian atas Tita dan melempar sembarang tanpa gadis itu menyadari. Perlahan merebahkan tubuh sang isteri pada sofa yang sempit, di mana mereka berdua duduk.
Kennan melepaskan tautan bibirnya lalu dengan segera melepas kaos yang membalut tubuh sixpacknya.
Kennan kembali meraup bibir di bawahnya sebelum gadis bergelar isterinya itu kembali membuka mata.
Tubuh bagian atas keduanya yang terbuka saling berhimpitan tanpa jarak, memberikan sensasi meremang pada keduanya.
Sepertinya Tita sangat terbuai akan sentuhan tangan Kennan yang menimbulkan sensasi hangat yang menjalar pada seluruh permukaan kulit tubuhnya.
Seakan tak berdaya dengan sentuhan sang suami Tita terlihat tidak menolak saat tangan Kennan kembali bergerilya menyentuh dan mengusap titik titik sensitif miliknya.
Kennan menurunkan tubuhnya dari atas Tita, bergerak miring dan membawa tubuh sang istri mengikuti arah tubuhnya tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Sofa yang sempit membuat kedua tubuh itu saling berpelukan, dengan posisi berhadapan.
Perlahan Kennan membawa tangan sang isteri pada inti tubuh bagian bawahnya. Menyusupkan kedalam sana setelah sebelumnya Kennan membuka resleting celana panjangnya.
Menyadari sesuatu yang keras di sana, Tita berusaha menarik tangannya. Meskipun tangan Kennan berusaha menahannya, namun Tita tetap memaksa untuk menariknya.
__ADS_1
"Abang sudah..." Tita dengan terengah memaksa bibir keduanya terlepas. Tita tahu ke mana arah kegiatan mereka selanjutnya.
"Kenapa?" Kennan masih dengan nafas yang menderu.
"Lanjutin di rumah wae." Tita serak.
"Tanggung dek, lagian jojo udah kangen banget buat berendam."
"Abang kalau ngomong gak pernah difilter." Tita menepuk pelan bibir Kennan.
"Hehehe... cuma berdua jugak." Kennan terkekeh kecil.
"Tetep wae... kebiasaan."
"Ya nanti diusahain ngomongnya pakek filter, kalau perlu bawa saringan teh kemana mana." Kennan dengan tidak berhenti menciumi wajah sang isteri.
"Ck... gak gitu juga abang." Tita dengan berusaha menghindar namun Kennan menahan seolah tak memberinya kesempatan.
"Abang ih... udah... ayok pulang."
Kennan menghentikan ciumannya. "Ngapain pulang, tidur sini wae. Besok pagi baru pulang."
Tita membola.
Kennan kembali menghimpit tubuh isterinya dan mendekapnya erat.
"Dek lanjut di sini wae..." Kennan dengan memandang Tita dengan pandangan berkabut hasrat.
"Bang... ntar kalau Kak Putra masuk lagi piye..."
Kennan menyunggingkan senyum pada wajahnya.
"Gak bakalan... dia pasti sudah pulang, pegawai kafe juga..."
"Dari mana abang tau..."
"Ini udah jam satu lewat dek, gak mungkin mereka masih stay di kafe. Pasti udah pada bubar."
"Gak percaya benget seh... liat noh jamnya..."
"Mosok seh..." Tita dengan menoleh ke arah jari telunjuk Kennan.
Dan ternyata benar jam besar yang menempel pada dinding belakang meja kerja Kennan telah menunjukkan angka 01.30.
"Lanjut ya dek..." Kennan dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Terserah abang." lirih Tita dengan wajah meronanya.
...ππππ...
"Duduk dulu dek, nih minum." Kennan dengan segelas air putih di tangannya, sepertinya susu. Entah kapan suaminya itu turun ke bawah untuk membuatkannya untuk Tita.
Tita yang sudah membalut tubuh atasnya dengan kaos milik Kennan, mendudukkan diri sembari menarik selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Entah darimana Kennan mendapatkan selimut tersebut. Yang pasti setelah aksi panas keduanya beberapa saat lalu, Kennan lah yang memakaikan kaos miliknya pada tubuh Tita dan menyelimutinya.
Sedangkan Kennan sendiri hanya memakai celana panjangnya tanpa menutupi tubuh bagian atasnya.
"Capek...?" Kennan dengan menyusupkan surai hitam Tita ke belakang telinga saat gadis itu selesai meminum susu hangat pemberiannya.
Tita menganggukkan kepala, lalu menyenderkan tubuhnya pada bantalan sofa.
"Banget." suara itu terkesan manja sembari menyerahkan gelas kosong pada sang suami.
Kennan menerima gelas dari sang isteri, lalu beranjak mendekat pada meja kerjanya dan meletakkan gelas kosong tersebut di sana.
Kennan kembali mendekati sofa tempat isterinya dengan membawa kotak tisu. Duduk di tepi sofa lalu meraih selembar tisu dan mengusap sisa bulir keringat yang membasahi wajah cantik isterinya.
Perlahan Kennan mengusap bulir keringat itu dengan lembut, mengeringkan seluruh permukaan wajah Tita.
"Apa gue melakukannya dengan kasar tadi...?" Kennan dengan tetap menyeka buliran keringat pada wajah sang isteri.
Pandangan matanya menelisik setiap inchi wajah cantik isterinya dengan seksama.
Tita tersenyum dengan perasaan penuh bunga bunga yang bermekaraan layaknya musim semi saat mendapatkan perlakuan lembut yang disertai dengan perhatian sang suami.
"Enggak." Tita dengan membingkai senyum, tanpa memutus pandangannya dari wajah Kennan.
"Kenapa keringetan kek gini...?" Tangan kekar itu menepuk nepuk buliran keringat yang masih saja muncul.
Tak ada jawaban dari Tita, gadis itu terlihat memandang terpukau pada sosok suaminya yang bak patung dewa athena yang tidak berhenti bergerak di depannya.
Wajah putih bersih bak kulit perempuan tersebut dihiasi dengan alis tebal, hidung mancung bak prosotan, kedua mata yang ternyata memiliki tatapan sangat teduh. Bibir bawah tebal disertai bagian atas yang lebih tipis terlihat merah muda, sepertinya tidak pernah tersentuh oleh lintingan tembakau sekalipun.
Seakan tak percaya jika dulu suami tampannya itu pernah berlaku dingin terhadapnya.
Dan sekarang semuanya berbanding terbalik, Tita seakan bermimpi saat ini.
Manik mata Tita bergerak turun ke bawah, memindai tonjolan leher yang naik turun saat sang suami berucap kata. Kemudian turun lagi hingga mendapati dada bidang suaminya yang juga putih bersih dengan beberapa titik merah menghiasinya.
To Be Continued....
__ADS_1