Mendadak Nikah

Mendadak Nikah
Part 228


__ADS_3

"Maaf om... tante... saya tidak bisa memenuhi keinginan kalian." Fabian menolak keinginan orang tua Yuna yang telah meminta bantuan kepadanya.


Kennan saat ini sedang duduk bertiga dengan mama dan papa Yuna di sebuah restoran mewah. Kennan datang setelah mendapatkan panggilan telepon dari mama Yuna yang mengajaknya bertemu di sana.


Dulu Kennan memang dekat dengan Yuna dan keluarganya, bukan karena Kennan mencintai Yuna melainkan Kennan merasa bertanggung jawab akan Yuna. Setelah gadis itu kehilangan Satya yang saat itu adalah kekasih Yuna.


"Kenapa Kenn? kali ini saja. Tante janji ini untuk yang terakhir kali, tante janji tidak akan mengganggu kamu lagi..." mama Yuna denagn raut wajah memohon.


"Maaf tante... sekali lagi saya minta maaf..." Kennan kekeh.


"Kenn... sekali saja sampai kami bisa membujuk agar kembali ke luar negeri."


"Maaf." Kennan dengan menunduk. Kennan tidak ingin hatinya melemah saat melihat raut wajah mengiba mama Yuna.


"Kenapa?" mama Yuna dengan raut wajah menuntut jawaban.


Kennan menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Ada seseorang yang harus Kennan jaga hatinya tante." Kennan akhirnya memberikan alasan yang membuatnya tetap dengan pendiriannya.


Kening mama Yuna mengerut, berusaha mengingat kembali perkataan anak perempuan sematawayangnya kemarin.


"Kamu sudah punya pacar?" mama Yuna mencoba menebaknya.


Kennan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Dia isteri saya." Kennan menjeda ucapannya, menghirup udara banyak banyak. "Yang harus saya jaga adalah hati istri saya tante..."


Ucapan Kennan seketika membuat mama dan papa Yuna terkejut. Sontak keduanya saling pandang.


"Kam... mmu... sudah menikah?" tanya mama Yuna terbata. Sedikit berharap jika apa yang didengar olehnya salah.


"Iya tante. Saya sudah menikah. Dan kami saling mencintai..." Kennan menegaskan. Kennan tau jika dirinya tidak memberikan ketegasan, mana Yuna pasti akan tetap membujuknya untuk membantu.


Bahu mama Yuna meluruh. Tidak menyangka jika Kennan yang diharapkan dapat membantu kesembuhan Yuna telah menikah. Itu berarti sudah tidak ada harapan bagi keluarganya untuk membujuk Kennan.


"Bagaimana jika Yuna mendengar kenyataan ini Pah..." mama Yuna menggumam dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


Papa Yuna yang sedari tadi hanya diam tak berucap kata, mencoba menenangkan isterinya dengan mengeratkan tangannya pada sang isteri.


Sesungguhnya Kennan pun merasa bersalah karena tidak dapat membantu kedua orang tua Yuna. Bagaimanapun dirinya pernah dekat dengan mereka. Bahkan kedua paruh baya di depannya tersebut telah menganggap Kennan layaknya anak kandung sendiri.


Sebenarnya kedua orang tua Yuna mengetahui kondisi sebenarnya tentang anaknya dan Kennan. Bahkan keduanya juga mengetahui ambisi anaknya pada Kennan Atmdaja. Namun saking sayang dan tidak ingin menyakiti perasaan sang anak, kedua orang tua Yuna seolah menutup mata.


"Sebaiknya biarkan saja Yuna tahu kenyataanya tante... nggak mungkin kita menutupi semua selamanya. Yuna harus belajar menghadapi dan menerima kenyataan." Kennan memberi saran dengan hati hati.


Mama Yuna menggelengkan kepala berulang, air mata mulai berderai membasahi wajah paruh bayanya yang mulai mengisut. Hingga isakan kecil pun lolos seolah ingin menunjukkan kerapuhannya. Ingin rasanya tidak mempercayai kenyataan yang beberapa saat lalu di dengarnya.


Papa Yuna hanya mampu mengusap punggung yang bergetar tersebut dengan perlahan, memberikan ketenangan dan kekuatan untuk isterinya.


πŸ“πŸ“πŸ“


Bibir Kennan tidak berhenti tersenyum saat menatap Tita yang terlihat lincah melayani pembeli di kafenya.


"Bagaimana bisa gue tidak jatuh cinta sama gadis secantik elo dek..." Kennan menggumam tanpa menyurutkan senyum di bibirnya. Bahkan pandangan matanya lurus tak berkedip membingkai setiap gerak sang isteri.


"Jiahh... bikin iri jomblo wae lo Kenn..." Putra alis Doni mengusik Kennan dari belakang punggungnya.


"Makanya cari cewek mblo... biar nggak ngeces..." Kennan mengejek Doni tanpa memutus pandangan dari sosok isterinya.


"Makan di tempat nggak usah di bawa pulang." Kennan menyahut seenaknya.


"Hissh... lo kira gue predator mesum apa..." Doni dengan sewot.


"Es krimnya yang makan di tempat, kalau dibawa pulang keburu leleh nggak bisa dinikmati dodol... dasar predator omes lo..." Kennan mengejek tetap dengan nada datarnya.


"Hehehe... kirain..." Doni mengusap belakang kepalanya canggung setelah menyadari kesalahan jalan pikirannya.


"Jangan kasih bini gue kerjaan berat berat napa Don... kasih dia kerjaan di balik meja, elo aja yang gantiin melayani customer."


"Kyaaa... bukan gue yang suruh, Tita sendiri yang pengen. Gue selalu nyuruh dia duduk wae, kalau nggak ngendon di atas, di ruangan lo. Tapi dianya tetep nggak mau."


"Elo kan bisa paksa dia." Kennan tetap ngeyel.


"Kalau bu bos sudah berkehendak gue bisa apa Kenn... yang ada ya turutin wae..."

__ADS_1


"Ntar kalau bini gue kelelahan terus susah hamil gimana... elo mau tanggung jawab??" Kennan dengan melotot.


"Siap lah... biar ntar gue yang tanggung jawab bikin Tita hamil kalau elo nggak mampu." Doni dengan bercanda.


"Enak aja... nggak gitu maksud gue. Dodol tikung..." Kennan menoyor kepala Doni dengan geram.


Doni yang sudah bersiap sedari awal saat menjawab ucapan Kennan dengan segera dapat menghindar.


Kennan pun kembali berusaha memberikan motoran pada kepala sepupunya. Doni berusaha keras menghindar, hingga aksi tarik menarik serta saling menjambak rambut antara keduanya tidak dapat terhindarkan lagi.


"Abang... kak Doni... kalian ngapain... bertengkar??!" Tita dengan kedua mata melebar melihat kedua laki laki yang sudah bisa dikatakan dewasa itu saling bergelut bak anak kecil yang merebutkan mainan.


Sontak Kennan dan Doni menghentikan aksinya.


"Eh... nggak kok. Kita nggak bertengkar, kita cuma main main doang... iya kan Don?!" Kennan mengerlingkan salah satu sudut matanya pada Doni.


"Iyya... kita nggak ngapa ngapain kok Ta... biasa... kangen, lama nggak ketemu." Doni nyengir.


"Kalian nggak pinter bohong... Abang ngomong jujur sama Tita..." Tita dengan menatap tajam suaminya.


"Kita cuma bercanda kok dek... nggak serius, iya kan Don..." lagi Kennan melirik Doni, hendak mengerling memberi tanda pada sepupunya agar mendukungnya.


"Abang nggak usah gini gini sama kak Doni... abang pikir Tita nggak liat apa..." Tita mengerlingkan salah satu sudut matanya berulang saat berucap kata.


"Nggak kok dek... itu anu... mata gue kelilipan." Kennan memberi alasan. Doni pun menahan senyum saat melihat Kennan yang ternyata tunduk takluk dengan seorang Tita.


"Kalian berdua itu udah pada gede, nggak malu apa sama pembeli, sama karyawan... pada liatin semua tuh..." Tita seakan menasehati murid yang bandel.


"Sorry... nggak lagi deh..." Kennan merajuk.


"Bubar sana, kerja lagi... kalau abang nggak busa kerja jangan ganggu kak Doni..." Tita segera membalik badannya menuju meja kasir yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Gaya lo aja sok keren sok cool... ternyata susis juga lo..." Doni dengan berbisik lirih.


Kennan mengernyit.


"Apaan itu susis..." Kennan pun dengan berbisik.

__ADS_1


"Suami takut isteri..." Doni mengejek lalu meninggalkan Kennan dengan tawa terbahak.


🍨🍨🍨🍨


__ADS_2