My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 10 : Percobaan Perselingkuhan yang Gagal


__ADS_3

Diam-diam saling memperhatikan membuat Marisa mulai merasa canggung. Terlebih hatinya penasaran kemana kiranya Indra akan membawanya selepas dari tempat fitnes ini.


Marisa juga teringat kata-kata Indra saat menolak tawaran Marisa untuk melakukan gaya fitnes berpasangan dengannya.


"memangnya kamu pasangan saya?!"


Apakah Indra sering membawa pasangannya yang berarti adalah tunangannya fitnes berdua? Di tempat ini?!


Berpikir sampai kesitu membuat Marisa tidak fokus dan akhirnya-


"Aduh!!!" pekik Marisa saat rambutnya tersangkut pada alat fitnes Bench yang sedang dipakainya. Dicobanya untuk menarik rambutnya itu tapi tidak bisa!


Indra menoleh dan melihat bagaimana rambut Marisa tersangkut. "Kamu kenapa, sih?!" tanya Indra gusar seraya menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Marisa.


"Ini Pak, rambut saya tersangkut!" jawab Marisa sambil terus mencoba menarik rambutnya.


"Lagipula mau apa kamu bersandar disitu?! Rambut kamu jadi tersangkut kan?!"


"Gak sengaja, Pak!"


"Sini saya bantu!" Indra mengulurkan kedua tangannya ke belakang kepala Marisa. Posisinya jadi seperti merangkul kepala Marisa. Indra mencoba melepaskan rambut Marisa yang tersangkut.


Seketika jantung Marisa serasa meledak! Indra Perdana berdiri tepat di hadapannya, dengan kedua tangan yang seolah merangkul kepalanya. Tubuhnya dan tubuh Indra berdiri berhadapan dan hampir bersentuhan. Dada Indra yang bidang dan berotot berada tepat di depan wajah Marisa. Marisa bahkan bisa menghirup wangi maskulin bercampur bau keringat dari tubuh Indra. Memabukkan...


"Susah juga!" keluh Indra yang akhirnya berhasil melepaskan rambut Marisa yang tersangkut. Saat itu juga Indra tersadar bagaimana posisinya dan Marisa sudah sangat dekat. Hampir merapat. Indra menunduk dan matanya bertatapan dengan mata Marisa yang tampak sayu.


"Pak Indra..." desah Marisa pelan.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Indra dingin-tapi ada getaran dalam nada suaranya. Perlahan dan pelan wajah Indra merunduk mendekat ke wajah Marisa. Nafas keduanya saling berhembus hangat...


Seketika Marisa tercekat dan membelalak. "Maaf, Pak!" Marisa mendorong dada Indra dan kini diantara keduanya terpampang jarak. Marisa menunduk dengan wajah yang merah.


Indra pun tersadar dan menjadi serbasalah. "Sebenarnya ada apa dengan gadis bernama Marisa ini?! Kenapa tadi aku hampir saja menciumnya?! Gila! Dia memiliki candu! Aku bisa kalah kalau terus seperti ini!" batin Indra panik!


Marisa menghindari Indra dengan pergi ke kamar ganti dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang awalnya dia kenakan. Sesudah berganti pakaian pun Marisa masih merasa tidak berani keluar dari kamar ganti dan malah menatap bayangannya sendiri di cermin yang ada di atas wastafel.

__ADS_1


Wajah Marisa sedikit pucat. Dadanya berguncang hebat! Terlintas bayangan Fero, lalu berganti dengan bayangan Indra yang tadi merunduk mendekati wajahnya!


"Ada apa dengan Pak Indra tadi?! Dia merunduk seperti Fero yang biasanya hendak menciumku!" batin Marisa.


"Aduh! Bagaimana ini?! Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini?! Aku tidak menyukai Pak Indra! Tidak! Tidak! Dan tidak akan pernah! Aku sangat mencintai Fero dan hanya akan mencintai Fero!" jerit Marisa dalam hatinya.


Lama Marisa mematung dengan menatap kosong pada layar cermin, hingga akhirnya pintu kamar gantinya ada yang mengetuk-ngetuk. "Marisa! Kamu lama sekali di dalam! Cepat keluar! Saya juga mau ganti pakaian!" terdengar suara bentakan Indra.


"Hah!" Marisa terkejut dan menoleh ke pintu yang tertutup. "Iya Pak Indra, sebentar!" Marisa mencuci mukanya cepat-cepat dan membuka pintu ruang ganti.


Indra sudah ada didepan pintu dengan wajah yang dingin. "Tunggu sebentar didepan. Saya akan ganti baju dulu, dan setelah itu kita akan pergi ke suatu tempat." kata Indra datar.


"Baik, Pak." sahut Marisa kaku seraya menunduk. Tidak sanggup memandang wajah Indra.


Selanjutnya Indra membawa Marisa makan siang di lantai bawah. Keduanya masih saling berdiam dan merasa canggung setelah apa yang terjadi di tempat fitnes tadi.


Tapi bukan seorang Indra Perdana kalau tidak bisa menguasai keadaan. Saat berada di dalam mobil berdua, Indra berkata pada Marisa,


"Kamu jangan salah faham dengan apa yang terjadi tadi diruangan fitnes! Saya tidak ada maksud apa-apa terhadap kamu! Kamu sudah memiliki pacar, dan saya juga sudah bertunangan! Jadi yang kita alami tadi tidak ada artinya sama sekali untuk saya dan kamu! Anggap itu hanya percobaan perselingkuhan yang gagal! Itu semua terjadi hanya karena saya seorang laki-laki dan kamu seorang wanita! Kamu mengerti?"


Percobaan perselingkuhan yang gagal


Baru kali ini Marisa mendengar kata-kata seperti itu dan rasanya malu sekali! Apakah itu benar-benar sebuah percobaan perselingkuhan yang gagal?! Artinya pada hari ini Marisa sudah mencoba berselingkuh dengan Indra?!


"Fero... Maafkan aku..." batin Marisa lirih...


"Kita sudah sampai!" kata Indra saat mobilnya memasuki sebuah kompleks apartemen yang mewah. Gedung besar menjulang tinggi dan mobil-mobil mewah tampak berjajar rapi diparkiran.


"Ini kompleks apartemen, Pak?" tanya Marisa.


"Ya, saya punya beberapa unit apartemen disini. Kamu sekarang ikut saya! Saya akan tunjukkan salah satunya pada kamu!" Indra keluar dari dalam mobil dan Marisa segera mengikutinya.


Mereka naik ke lantai empat lalu menuju unit apartemen no 56. Indra mengeluarkan sebuah kunci dari dalam sakunya dan membuka pintunya. Begitu pintu terbuka, tercium wangi segar dari dalam ruangan.


"Masuk, Mar!" kata Indra lalu mendahului masuk.

__ADS_1


"M... Mau apa, Pak?" tanya Marisa gugup. Terngiang-ngiang kembali perkataan Indra tadi.


percobaan perselingkuhan yang gagal


"Masuk saja dulu, kamu lihat unit apartemen ini. Ayo!" ajak Indra.


Marisa perlahan masuk dan tercengang. Apartemen itu begitu mewah. Di lengkapi dengan perabotan mahal dan berkelas. Ada satu set sofa mewah di ruang tamu. Terlihat juga ada kitchen set dan seperangkat meja serta kursi makan di bagian belakang. Sebelah kiri ada pintu menuju kamar tidur.


"Bagus tidak?" tanya Indra mengagetkan Marisa yang masih tercengang.


"Bagus sekali, Pak Indra!" jawab Marisa tidak mampu menutupi kekagumannya.


"Kamu suka?" tanya Indra lagi.


"Suka sekali!" jawab Marisa yang tidak mengerti apa maksud dari pertanyaan Indra.


Dan pertanyaan selanjutnya membuat Marisa semakin tercengang. "Kamu mau tinggal disini?"


Marisa menatap Indra dengan mata yang menyipit dan kening yang berkerut. "Tinggal disini? Di apartemen ini?"


"Ya!"


Di luar dugaan Indra, Marisa menggeleng sopan. "Tidak, Pak Indra."


"Kenapa?!" Ada rasa terkejut sekaligus marah dari nada suara Indra yang meninggi.


"Untuk apa saya tinggal disini?"


"Kamu adalah asisten pribadi saya! Anggap ini sebuah fasilitas dari kantor! Kamu tinggal jauh dari Bekasi, kan?! Kalau kamu tinggal disini, kamu bisa berangkat lebih dekat ke kantor!"


"Saya tidak bisa tinggal disini, maaf Pak!" Marisa tetap menolak.


"Kenapa?!" Indra mengerutkan keningnya dan nada suaranya semakin meninggi.


"Saya tidak bisa meninggalkan Gery sendiri di kos-an!"

__ADS_1


__ADS_2