My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 111 : Dra... Bangun, Sayang!


__ADS_3

Marisa belum bisa melihat bagaimana keadaan Indra karena Sang CEO tengah menjalani CT scan di ruangan radiologi. Setelah beberapa jam, barulah Indra bisa di pindahkan ke ruang perawatan.


Marisa masih belum juga bisa melihat keadaan Indra karena dokter yang saat itu menangani Indra meminta Marisa untuk bicara berdua mengenai keadaan Indra.


Marisa terpaksa menemui dokter dan berbicara berdua karena saat itu hanya dia yang ada disana menunggui Indra. Marisa merasa sedikit bingung mendengar kata-kata dokter karena banyak istilah-istilah yang tidak di mengerti nya.


"Intinya Pak Indra saat ini mengalami luka-luka yang parah dan butuh perawatan sehari-hari. Apalagi luka-luka yang ada di wajahnya harus di beri salep khusus tiga kali sehari. Belum lagi memar-memar di sekujur tubuhnya yang butuh pemulihan cukup lama. Jadi Pak Indra tidak bisa beraktivitas seperti biasa selama kurang lebih dua minggu"


Marisa hanya bisa mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Kabar baiknya tidak di temukan adanya luka dalam yang parah. Hanya saja benturan di bagian dadanya memang mewajibkan minum obat antibiotik selama sepuluh hari"


"Jadi bagaimana dok? Pak Indra bisa pulang kapan?" tanya Marisa.


"Kita harus menunggu observasi selama dua hari untuk meninjau kondisi nya lebih lanjut. Jadi selama dua hari kedepan, Pak Indra harus di rawat inap"


"Oh ya, terima kasih dokter"


"Sama-sama Bu. Saya sudah meminta perawat untuk memindahkan Pak Indra ke ruang perawatan"


"Saya boleh melihat keadaannya sekarang?"


"Oya, silahkan"


Marisa meninggalkan ruang dokter dan melihat keadaan Indra di ruang perawatan. Bukan main miris nya hati Marisa melihat bagaimana keadaan Indra sekarang. Wajahnya yang tampan tampak penuh dengan luka-luka dan ada perban juga yang melingkar di bagian kepalanya.


Marisa melihat ada selang infus di tangan Indra. Ada juga alat yang menghubungkan Indra dengan sebuah komputer yang selalu memantau detak jantungnya.


Air mata Marisa kembali menetes. Di raihnya tangan kanan Indra yang tidak di infus. Di genggam nya dengan erat dan penuh perasaan. Di dekatkan nya wajah nya ke wajah Indra.


"Pak Indra... Bangun... Saya mohon... Buka mata Bapak dan katakan pada saya kalau Anda baik-baik saja. Saya tidak mau merasa terus ketakutan seperti ini..." bisik Marisa.


Mata Indra masih terpejam.


Marisa kini mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Indra. Di belai-belai nya pipi Indra yang kini penuh bekas luka, lalu belaian tangan Marisa pindah ke rambut Indra yang kini tampak berantakan.

__ADS_1


Marisa seolah bermimpi bisa menyentuh wajah pria yang selama ini selalu menyakiti hatinya tetapi paling di cintai nya itu...


Mata Indra yang selalu melotot tajam dan penuh amarah. Bibir Indra yang selalu cemberut dan mengeluarkan kata-kata menghina. Kini semuanya tidak nampak sama sekali.


Indra tampak terpejam tenang dan menyedihkan dengan luka-luka di hampir seluruh bagian wajahnya.


Tiga puluh menit berlalu dan Indra masih belum sadarkan diri.


Marisa yang juga tetap setia menemani Indra dan menggenggam erat tangannya.


Sementara malam telah berganti dan sang mentari juga sudah menampakkan dirinya. Cahaya nya yang hangat mengintip dari tirai jendela kamar perawatan Indra.


Baru kali ini sepanjang dua puluh tiga tahun hidupnya, Marisa tidak terpejam sedikitpun sepanjang malam hanya untuk menunggui seorang pria yang sedang terbaring sakit. Bahkan saat Reno, adiknya mengalami kecelakaan pun Marisa masih bisa tidur sejenak.


Marisa merasa sangat lelah tapi perasaan khawatir akan kondisi Indra membuatnya tidak bisa beristirahat walaupun hanya untuk sekedar memejamkan matanya sambil duduk di atas kursi penunggu pasien.


Di saat seperti ini Marisa benar-benar menyadari bahwa dia sangat mencintai Indra Perdana...


Dan kini di dorong oleh perasaan cinta yang begitu besar membuat Marisa ingin sedikit melepaskan perasaannya yang selama ini terpendam pada sosok Indra.


Tanpa Marisa tahu kalau saat itu mata Indra terbuka nyalang.


Marisa malah mendekatkan wajahnya ke telinga Indra dan berbisik lembut. "Dra... Bangun, Sayang.. "


Lalu Marisa malah mengecup pipi Indra untuk kedua kalinya!


Indra yang saat itu sudah cukup terkumpul kesadarannya, merasa aneh karena mereka mendengar suara Marisa memanggilnya 'Sayang' dan merasakan ada satu kecupan di pipinya.


"Saya, sudah bangun. Marisa..." kata Indra perlahan nyaris seperti berbisik.


Tapi efeknya benar-benar sangat mengejutkan bagi Marisa! Marisa langsung menarik tubuhnya mundur dari dekat Indra dan kini menatap Indra dengan mata terbuka lebar dan mulut ternganga!


"Astaghfirullah...!" batin Marisa tercekat antara bahagia karena Indra sudah sadar tapi juga merasa malu atas apa yang telah dia lakukan terhadap Indra!


"Marisa..." panggil Indra.

__ADS_1


"Pak Indra" balas Marisa. Dalam hatinya Marisa berdoa.


"ya Allah... semoga pak Indra tidak mendengar kata-kata ku tadi sebelum dia sadar dan tidak menyadari kalau aku mencium pipinya"


Dan ternyata doa Marisa tidak terkabul!


"Kamu tadi panggil saya Indra? Kamu juga bilang Sayang?" kata Indra.


"Mati aku!!!" jerit hati Marisa!


"Pak Indra... Ya Allah... Bapak sudah sadar?! Alhamdulillah... Apakah ada yang sakit?! Apakah Bapak ingin saya panggilkan dokter atau suster?!" tanya Marisa mencoba mengalihkan perhatian Indra.


"Kamu juga mencium pipi saya!" kata Indra lagi.


oh my God!


"Pak Indra, Bapak baru saja sadar! Bapak jangan dulu memikirkan hal yang aneh-aneh! Sebaiknya saya panggil suster sekarang juga!" kata Marisa dan berbalik hendak pergi keluar dari ruangan.


Tapi saat itu Indra meraih lengan Marisa dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Tunggu! Jangan pergi! Saya mau dengar dulu penjelasan kamu! Kamu tadi panggil saya Indra dan bilang Sayang! Kamu juga mencium pipi saya!" kata Indra bersikukuh!


Marisa menggeleng panik! "Tidak! Saya tidak melakukan apa-apa! Anda baru saja sadar. Mungkin Anda bermimpi"


"Marisa! Saya sadar dan saya tidak mungkin salah! Semua itu benar-benar terjadi! Oya kan?! Apa maksudnya kamu melakukan semua itu?!" cecar Indra.


"Tidak, Pak Indra! Tidak!" wajah Marisa merah padam!


Indra menghentakkan tangan Marisa yang sedari tadi di cengkram nya. Akibatnya tubuh Marisa terjerembab dan jatuh di atas dada Indra!


Indra mengaduh kesakitan karena bagian dadanya terasa sakit!


"Ya Allah, Pak Indra! Sakit ya?! Maaf..." Marisa membelai-belai dada Indra dengan penuh kasih sayang.


"Saya tidak apa-apa, Marisa. Saya hanya ingin kamu jujur! Apa maksudnya kamu melakukan semua itu kepada saya?!" kata Indra sambil memeluk tubuh Marisa yang masih berada tepat di atas dadanya.

__ADS_1


Marisa pun merasa sangat dekat dengan dada Indra, bahkan detak jantung Sang CEO terdengar jelas di telinganya!


__ADS_2