My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 9 : Kenapa Semua Ini Bisa Terjadi?!


__ADS_3

Indra Perdana mendapati Herman sudah ada di depan gedung kantor dengan mobil mewah miliknya. "Saya siap mengantar Bapak kemana saja." kata Herman.


"Tidak, Her. Hari ini saya akan pergi hanya berdua dengan Marisa." ucap Indra.


"Oh, baik Pak!" Herman dengan hormat menyerahkan kunci mobil pada Indra sekaligus membukakan pintu mobil untuk Marisa di bagian depan.


"Saya di belakang aja," kata Marisa menolak dengan sopan.


"Kamu duduk di depan! Di sebelah saya!" perintah Indra.


"Oh, baik Pak!" ucap Marisa patuh lalu memasuki jok depan.


Sempat Herman berbisik di telinga Marisa, "Kamu ikut saja kemana Pak Indra membawa kamu! Biar kamu dapat bonus!"


"Apaan sih?!" Marisa mendelik pada Herman, tapi supir pribadi itu hanya tersenyum penuh arti dan segera menutup pintu mobil.


Indra Perdana mengendarai mobil mewahnya itu sendiri dengan serius. Marisa yang duduk di sebelahnya merasa dug-dugan. Ada rasa kikuk dan juga rasa was-was. Ada juga perasaan bersalah pada Fero.


Mereka sampai di sebuah pusat fitnes center khusus kaum eksekutif. Mobil mewah tampak berjajar di parkiran. Indra memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil. Marisa segera ikut keluar.


"Ikuti saya!" Indra berjalan terlebih dahulu diikuti Marisa.


Marisa sampai terbengong-bengong saat memasuki gedung fitnes itu yang serasa seperti mall. Ada cafetaria, toko baju plus alat-alat olahraga, serta restoran dan supermarket.


"Fitnesnya mau dimana, Pak?" tanya Marisa sambil celingukan.


"Saya fitnes di lantai empat. Khusus VIP." jawab Indra.


"Ramai sekali disini!" Marisa masih celingukan.


Indra nyengir melihat Marisa yang tampak polos. "Kamu beli baju olahraga dulu, sana! Di toko alat-alat olahraga sebelah sana!"


"Saya gak bawa uang Pak,"


"Ini pakai kartu kredit saya!" Indra mengeluarkan dompetnya yang tebal dan memberikan satu kartu kredit pada Marisa.


"Baju olahraga yang seperti apa, Pak?"


"Ya terserah kamu!"


"Sebentar ya, Pak?"


"Oke, saya tunggu di kafetaria sambil ngopi, ya?"


"Baik Pak."

__ADS_1


"Jangan lama-lama!"


Marisa dan Indra berpisah. Marisa ke toko baju sementara Indra ke kafetaria. Tak lama Indra melihat Marisa keluar dari toko baju tanpa membawa bungkusan apa-apa. Marisa tampak mencari-cari Indra.


Indra melambaikan tangannya agar Marisa menghampirinya. "Mana bajunya?" tanya Indra saat Marisa sampai dihadapannya.


"Saya gak jadi belinya, Pak" jawab Marisa.


Kening Indra berkerut, "Lho, kenapa?"


"Anu... Harganya mahal-mahal, Pak..."


"Memangnya kenapa?"


"Saya takut gaji saya gak cukup buat nanti bayarnya..."


Indra menghela nafas panjang. "Dasar bodoh! Siapa yang akan potong gaji kamu?!"


"Kan saya sekarang pinjam uang Bapak dulu,"


"Tidak! Saya tidak akan memotong gaji kamu! Kamu pilih baju olahraga yang kamu suka untuk menemani saya fitnes hari ini!"


"Tapi, Pak-"


"Kamu buang-buang waktu saya! Di suruh beli baju olahraga aja susahnya setengah mati!"


Akhirnya jadilah Marisa membeli satu stel baju olahraga. "Ini Pak, kartu kreditnya," Marisa serahkan kembali kartu kredit Indra.


"Kamu pegang saja dulu!"


"Baik, Pak."


"Sekarang ikut saya ke atas!" Indra mengajak Marisa naik ke lantai empat menggunakan lift dan membawanya ke dalam satu ruangan fitnes pribadi. Luas, bersih dan eksklusif. Alat-alat fitnes disana sangat lengkap dan seluruh dinding di lapisi kaca cermin besar.


"Kok gak ada siapa-siapa?" tanya Marisa bingung.


"Ini tempat fitnes pribadi. Milik saya." jawab Indra.


"Milik Bapak?"


"Iya, hanya untuk saya"


"Cuma kita berdua disini?"


"Memangnya kamu lihat ada siapa lagi?!"

__ADS_1


Marisa memandang sekelilingnya. "Pak, saya takut..."


"Takut apa?"


"Sepi... Apa gak sebaiknya kita fitnes bareng orang-orang yang lain?"


"Saya tidak suka keramaian! Saya ganti baju dulu!" Indra meninggalkan Marisa ke ruang ganti yang ada di sebelah belakang ruangan fitnes. Tak lama kemudian ia sudah muncul kembali dengan setelan olahraga. Celana sport selutut dan kaos singlet sport.


Nafas Marisa seketika terhenti melihat bagaimana tubuh Indra Perdana yang atletis. Tinggi, besar, dan berotot. "Masya Allah! Marisa! Jaga mata! Ingat Fero!" hardik Marisa dalam hatinya.


"Sekarang kamu yang ganti baju! Kita fitnes bareng! Kamu mau menemani saya kan? Kamu tidak tinggal disini cuma untuk melihat saya fitnes sendiri kan?!"


"Iya Pak, saya salin dulu." Marisa masuk ke ruang ganti seraya membawa baju olahraga yang tadi dibelinya di lantai bawah. Tak lama kemudian ia sudah muncul lagi dengan setelan olahraga.


Kali ini Indra yang terpana dan merasa nafasnya sesak. Bagaimana tidak?! Marisa benar-benar cantik dan memiliki tubuh yang sangat sempurna. Kulitnya putih, matanya indah, bibir nya tipis dengan gigi yang gingsul, rambutnya di ikat asal-asalan di puncak kepala tapi semakin menambah aura kecantikannya!


"Bisa kita mulai Pak?" tanya Marisa.


"Mulai apa?" Indra jadi tidak fokus.


"Fitnes nya!"


"Oh iya, silahkan kamu pakai saja alat fitnes yang kamu suka. Saya fitnes sendiri!"


"Bapak dan saya fitnes masing-masing? Gak berpasangan gitu?"


"Lho, memangnya kamu pasangan saya?!" nada suara Indra meninggi.


Marisa sangat terkejut. Ia menggeleng panik dan segera berkata, "Bukan begitu maksud saya! Saya pikir Bapak mengajak saya kesini karena butuh bantuan saya untuk melakukan gaya fitnes berpasangan. Saya gak bermaksud tidak sopan. Saya minta maaf..."


"Gak usah! Saya lebih suka fitnes sendiri! Lagipula saya mengajak kamu kesini bukan semata-mata karena ingin kamu menemani saya fitnes! Saya bermaksud membawa kamu ke tempat lain setelah dari sini!"


"Eh, kemana?"


"Nanti juga kamu tahu sendiri!" Indra mulai fitnes dengan alat yang ada disana. Lat pulldown machine, alat fitnes yang bisa membantu membentuk otot dada dan lengan.


Marisa masih diam sejenak memandangi Indra yang fitnes sendirian. Dadanya serasa sesak lagi! Indra terlalu rupawan untuk tidak diperhatikan! Wajahnya, tubuhnya...


"Ya Allah! Kenapa aku jadi dug-dugan begini melihat Pak Indra?! Aku harus olahraga! Kalau tidak aku bisa kaya orang bego ngeliatin dia terus! Aku juga harus ingat sama Fero!" batin Marisa.


Kenapa semua ini bisa terjadi?!


Marisa mulai fitnes dengan salah satu alat yang ada disana. Abdominal Bench, semacam alat fitnes yang bisa membantu mengencangkan perut. Mumpung gratis! Kapan lagi bisa masuk ke dalam tempat fitnes semewah ini, kelas VIP lagi! Kenapa tidak di manfaatkan?!


Kali ini malah Indra yang diam-diam memperhatikan Marisa yang fitnes sendirian. Nafasnya serasa berhenti. Marisa terlalu memikat! Wajahnya, tubuhnya, keringatnya yang bercucuran...

__ADS_1


"Ya Tuhan! Aku kenapa?! Kenapa aku sebegitu tertariknya pada wanita satu ini?! Aku bahkan tidak merasa sebergairah ini saat melihat Sofie!" batin Indra yang tiba-tiba merasa bingung pada dirinya sendiri.


Kenapa semua ini bisa terjadi?!


__ADS_2