My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 189 : Tiga Bulan Setelah Pernikahan


__ADS_3

Tiga bulan sudah Marisa mengarungi biduk rumah tangga bersama Indra. Sang CEO arogan yang sangat tampan, kaya raya, dan juga buas di atas ranjang. Marisa benar-benar merasakan bagaimana indahnya hidup bersama Indra. Kini kehidupan seorang Marisa Larasati telah lengkap dan sempurna.


Setiap hari Senin sampai Jumat, Marisa selalu menemani Indra di kantor karena Marisa kembali bekerja di Perdana Enterprise sebagai asisten pribadi suaminya sendiri. Rasanya tidak akan ada yang bisa memahami dan mengerti semua kebutuhan Indra selain Marisa. Maka itu Indra meminta Marisa untuk tetap menjadi asisten pribadinya.


Pada hari Sabtu biasanya Marisa dan Indra selalu ada di rumah untuk menghabiskan waktu bersama Mama Renata. Mereka selalu makan siang dan malam bersama di rumah karena khusus pada hari Sabtu Marisa menyempatkan diri untuk memasak makanan spesial untuk suami dan Mama mertuanya.


Sementara pada hari Minggu, Marisa dan Indra kerap berlibur bersama diluar rumah. Mereka sering pergi ke tempat wisata yang ada di dekat-dekat ibukota hanya untuk sekedar bisa menghabiskan hari berduaan saja.


Sayangnya selama tiga bulan pertama pernikahan Marisa dan Indra, Andro tidak pernah berada di rumah untuk tinggal bersama mereka. Andro segera berangkat ke Italia kembali sesaat setelah Marisa dan Indra kembali dari bulan madu di Bali. Andro beralasan bahwa pihak klien bisnis di Italia meminta Andro untuk turun langsung kesana guna memantau perkembangan perusahaan yang mereka dirikan bersama. Padahal sebenarnya Andro masih bisa menjalankan proyek tersebut dari Indonesia ataupun jika mau dia bisa pergi ke Italia seminggu saja dalam satu bulan. Tapi Andro memilih menetap disana untuk mencoba melupakan Marisa.


Jujur dalam hatinya Andro masih belum bisa melupakan Marisa sepenuhnya. Andro masih belum bisa mengobati luka hatinya akibat dari pernikahan Marisa dan Indra. Andro tidak bisa hidup bersama Marisa dan Indra di bawah satu atap yang sama.


Saat itu Indra kebetulan harus pergi keluar kota selama satu Minggu untuk urusan pekerjaan. Awalnya Marisa akan ikut pergi tapi tiba-tiba pagi itu Mama jatuh sakit sehingga mengharuskan Marisa tetap berada di rumah untuk menemani Mama.


Tubuh Mama demam tinggi dan tidak bisa bangun dari tempat tidur sehingga Mama tidak hadir di meja makan untuk sarapan di pagi hari itu.


Marisa dan Indra segera sarapan dan menemui Mama yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan di temani oleh seorang asisten rumah tangga.


" Mama, Mama sarapan ya?" kata Marisa saat melihat sarapan Mama masih utuh di atas meja.


"Mama mual banget, Mar. Mama tidak bisa makan" kata Mama.


"Mama sabar ya, saya sudah memanggil dokter Hadi untuk memeriksa Mama" kata Indra.


"Kepala Mama pusing sekali, Dra..." kata Mama.


"Iya, Mama. Sebentar lagi dokter Hadi, pasti akan segera datang"


"Ya sudah, kalian pergi saja. Bukannya kalian mau pergi ke Surabaya untuk urusan pekerjaan?"

__ADS_1


"Iya sih, Mam. Pesawat nya akan terbang jam delapan pagi ini. Tapi bagaimana dengan keadaan Mama? Saya tidak tega meninggalkan Mama dalam keadaan sakit seperti ini" kata Indra sedih.


"Gak apa-apa, Dra. Biasanya juga kan Mama sering sakit demam seperti ini. Kalian berdua kalau mau pergi ya pergi saja. Nanti juga kalau sudah di periksa dan diberi obat, Mama akan segera baikan" kata Mama.


Indra menatap Marisa, meminta pendapat istrinya itu.


"Gimana kalau kamu saja yang pergi ke Surabaya sendiri? Saya akan di rumah untuk menjaga Mama" kata Marisa.


"Sebaiknya memang seperti itu. Mama lebih membutuhkan kamu daripada saya" kata Indra.


"Tapi, Dra... Kamu kan biasanya pergi bersama Marisa" kata Mama.


"Gak apa-apa, Mam. Kali ini saya bisa pergi sendiri. Paling sekitar satu Minggu" kata Indra.


"Iya, Mam. Biar saya disini jagain Mama" kata Marisa.


Indra pun pergi ke Surabaya seorang diri sementara Marisa tetap tinggal di rumah untuk menemani Mama. Walaupun sebenarnya berat sekali bagi Indra untuk pergi ke luar kota tanpa membawa serta Marisa.


"Saya pasti kangen sama istri saya yang cantik dan seksi" kata Indra saat memeluk dan mencium Marisa sebelum masuk kedalam mobilnya.


"Tahan ya, Sayang. Kasihan kan Mama kalau kita tinggal dalam keadaan sakit begitu" kata Marisa.


"Iya, kalau begitu saya titip Mama ya? Awas jadwal minum obat nya jangan sampai kelupaan"


"Oke, kamu tenang aja. Serahkan semuanya sama aku"


Marisa pun mengisi harinya dengan merawat Mama sebaik-baiknya. Begitu meminum obat dari dokter Hadi, keadaan Mama lumayan membaik. Marisa tidak meninggalkan kamar Mama selama seharian, bahkan malamnya Marisa sampai ikut tidur di kamar Mama untuk memantau suhu tubuh Mama kalau-kalau demam nya tinggi lagi.


Pada malam hari itulah Mama tiba-tiba meminta Marisa untuk menelepon Andro dan memintanya untuk pulang ke Indonesia. "Marisa, coba kamu telepon Andro. Minta dia pulang ke rumah. Bilang sama Andro kalau Mama sakit dan Indra sedang pergi ke luar kota" kata Mama.

__ADS_1


"Saya menelepon Andro? Gimana kalau Mama saja? Saya jarang sekali berkomunikasi dengan Andro" Marisa kagok untuk menelepon Andro.


"Mama masih lemes, Mar. Kamu aja yang ngomong sama Andro. Pake HP Mama"


"Ya sudah, sebentar ya Mam" Marisa mengambil HP Mama yang ada di atas meja dan menelepon Andro. "Mungkin ada baiknya juga Andro pulang ke Indonesia. Andro sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan keluarganya. Bisa jadi sakit nya Mama juga di karenakan rindu pada Andro" pikir Marisa.


Tak lama kemudian telepon pun tersambung dan terdengar suara Andro. "Assalamu'alaikum, Mama"


"Wa'alaikum salam. Ini aku, Marisa" kata Marisa.


Hening sejenak hingga akhirnya Marisa terdengar Andro berkata. "Ada apa, Marisa? Bagaimana kabarnya disana?" tanyanya.


"Aku dan Indra Alhamdulillah baik, tapi Mama sakit" jawab Marisa.


"Ya Allah, Mama sakit? Mama sakit apa? Tadi malam saya masih video call sama Mama!"


"Tadi pagi badan Mama demam tinggi sampai gak bisa bangun dari tempat tidur. Tapi sudah Indra panggilkan dokter Hadi. Setelah minum obat, kondisi Mama sudah agak membaik"


"Apa kata dokter Hadi? Mama sakit apa?!" suara Andro terdengar panik.


"Masuk angin dan darah rendah"


"Ya Allah, Mama..."


"Mama meminta aku untuk menelepon kamu. Mama minta kamu pulang ke Indonesia. Apakah kamu bisa pulang kesini secepatnya? Kasihan Mama rindu sekali sama kamu"


Kembali hening sejenak dan akhirnya Marisa yang duluan berkata. "Bagaimana, Dro? Kamu bisa pulang kan?"


"Insya Allah, saya akan pulang besok pagi. Saya akan segera mengurus kepulangan saya ke Indonesia" kata Andro.

__ADS_1


__ADS_2