
Air mata Indra berjatuhan membasahi pipinya saat Indra melantunkan Adzan untuk buah hatinya yang baru lahir ke dunia ini. Bayi mungil itu terlihat begitu tampan dan lucu. Kulitnya putih kemerahan, hidungnya mancung, dagunya belah, dan alis matanya sudah jelas terlihat juga rambut di kepalanya yang hitam dan lebat.
"Kamu tampan sekali, Nak. Kamu adalah kesayangan Papa. Kamu adalah harta Papa yang paling berharga. Kamu adalah kebanggaan Papa. Kamu adalah putra mahkota keluarga Perdana. Kamu adalah keajaiban dunia yang paling baru!" bisik Indra di telinga putranya.
"Pak Indra, bayinya boleh di gendong dan di berikan kepada Bu Marisa untuk di susui" kata perawat yang menemani Indra di ruang bayi.
"Oh ya. Tolong bantu saya, suster" kata Indra.
"Baik Pak" perawat itu menggendong sang bayi dan di berikan kepada Indra dengan hati-hati. "Bagaimana, Pak Indra? Bisa?"
"Bisa suster. Terima kasih" Indra senang sekali bisa menggendong bayinya itu.
Selanjutnya Indra membawa bayinya ke dalam ruang perawatan karena Marisa sudah di pindahkan dari ruang persalinan dan sudah berganti pakaian pula. Ada Mama juga yang menemani Marisa disana.
"Aduh...! Cucu Oma!" seru Mama Renata dan segera menghampiri Indra yang baru memasuki ruangan bersama seorang perawat.
"Lihat, Mam. Tampan sekali ya?" kata Indra sambil memperlihatkan bayinya pada Mama.
"Iya, Dra! Masya Allah...! Tampan sekali! Lucu dan montok!" kata Mama dengan perasaan bahagia sekali. "Sini, Dra. Mama mau gendong"
"Pelan-pelan ya, Mam"
"Iya dong pasti!" Mama mengambil bayi itu dari gendongan Indra. "Tampan sekali, Dra...! Benar-benar mirip dengan kamu saat bayi!"
"Iya dong! Saya kan Papa nya!" Indra bangga sekali.
"Aku juga mau lihat" kata Marisa yang masih terbaring di ranjang perawatan.
Indra segera mendekati Marisa dan mencium pipi serta keningnya. "Iya, Sayang. Kata suster tadi memang bayi kita harus segera di susui" katanya.
"Kalau begitu segera susui dulu bayinya, Mar" kata Mama dan membawa bayi itu kepada Marisa.
Indra membantu Marisa untuk duduk dan bersandar kemudian perawat yang datang bersama Indra segera membantu Marisa untuk menyusui bayinya. Agak sulit memang pada awalnya, tapi beberapa saat kemudian sang bayi mulai menghisap ****** susu Marisa.
__ADS_1
"Nah, sekarang sudah bisa ya, Bu" kata perawat itu.
"Iya, suster. Bayinya mulai menyusu" kata Marisa senang.
"Awalnya mungkin sedikit-sedikit karena ASI nya belum lancar. Tapi nanti juga akan subur kalau terus di susui, Bu"
"Oya suster"
"Kalau begitu saya tinggal dulu ya" perawat itu pun pergi dari ruangan perawatan.
Sambil menyusui bayinya, Marisa menatap wajah sang bayi dengan penuh rasa bahagia dan kagum. "Cakep banget, ya Dra" kata Marisa pada Indra.
"Mirip sekali dengan saya!" kata Indra.
"Bagaimana dengan nama bayinya? Kalian sudah menyiapkan?" tanya Mama.
"Sudah dong, Mam!" kata Indra.
"Aku bahkan gak di kasih kesempatan untuk ikut memberi nama" kata Marisa.
"Ya deh..." Marisa mengalah.
"Lalu namanya siapa?" Mama tidak sabar.
"Namanya Syailendra Putra Perdana" kata Indra tegas.
"Masya Allah... Bagus nya! Alhamdulillah namanya Indah sekali!" seru Mama.
"Iya, aku juga suka!" seru Marisa.
"Nama itu sudah saya siapkan jauh-jauh hari saat sebelum usia kehamilan Marisa menginjak tujuh bulan" kata Indra.
"Bisa juga ya, kamu pilihkan nama. Apa artinya dari nama itu?" tanya Mama.
__ADS_1
"Artinya seorang raja yang bijaksana dan merupakan putra pertama" jawab Indra.
"Amin... Mudah-mudahan Dede Syailendra akan menjadi seorang pemimpin yang bijaksana seperti Papa nya jika dia sudah dewasa nanti!" kata Mama.
"Amin..." ucap Marisa dan Indra bersamaan.
Keesokan harinya Marisa sudah bisa pulang ke rumah karena sudah di nyatakan kuat dan sehat. Marisa pulang ke kediaman keluarga Perdana dengan membawa Baby Syailendra yang langsung menjadi sang pemeran utama di rumah besar itu.
Semua pekerja dan asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman keluarga Perdana pun menyambut kepulangan Marisa dengan penuh sukacita. Sudah sekian lama sejak kelahiran Andro tiga puluh satu tahun lalu, akhirnya kediaman keluarga Perdana pun kembali di ramaikan dengan tangisan seorang bayi.
Baby Syailendra segera di tempatkan di sebuah tempat tidur bayi yang sangat mewah di sebelah tempat tidur Marisa dan Indra. Kamar tidur mereka yang awalnya bernuansa romantis, kini berganti menjadi bernuansa Baby Boy. Dengan perlengkapan bayi yang serba biru dan lucu.
Marisa juga diminta oleh Indra untuk segera beristirahat di atas tempat tidur. "Kamu harus banyak istirahat! Kalau Baby Syailendra tidur, kamu juga tidur!" kata Indra tegas.
"Baik Pak Indra" kata Marisa sambil mengerling manja kearah Indra.
"Apa sih, kamu ini! Jangan panggil saya Pak Indra lagi! Panggil saya dengan sebutan Papa!"
"Iya, maaf. Hehehe" Marisa segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Oya apakah kamu membutuhkan seorang baby sitter untuk membantu mengurus Baby Syailendra? Kalau mau, saya akan segera pesan ke agen baby sitter yang terbaik! Kamu mau berapa orang baby sitter?" tanya Indra sambil menyelimuti Marisa.
Marisa menggeleng. "Aku gak mau pakai babby sitter! Tidak akan ada yang bisa mengurus bayiku sebaik aku sendiri!"
"Ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu. Lagipula saya juga ada disini untuk bersama kamu mengurus Baby Syailendra. Kita akan menjaganya bersama-sama. Saya akan ambil cuti satu minggu ini. Biar Andro yang memegang perusahaan untuk sementara"
"Oke, kalau kamu mulai kerja lagi juga kan aku bisa mengurus Baby Syailendra bersama Marni kalau siang hari. Mama juga ada"
Keesokan harinya keluarga Marisa dari Bogor pun berdatangan untuk melihat Baby Syailendra. Mereka menginap selama tiga hari. Tak hanya keluarga Marisa, para kerabat dekat Indra pun berdatangan. Belum lagi para klien Perdana Enterprise yang datang atau mengirimkan hadiah. Selama satu minggu itu, kediaman keluarga Perdana tidak pernah sepi dari kedatangan tamu yang melihat Baby Syailendra.
Baby Syailendra memang bagaikan seorang pangeran kecil yang kelahirannya membawa banyak berkah dan kebahagiaan. Hadiah mewah dan mahal milik Baby Syailendra memenuhi kamar Marisa.
Marisa dan Indra tidak henti-hentinya bersyukur dengan kelahiran Baby Syailendra. Seorang bayi tampan dan sehat dengan rezeki yang berlimpah.
__ADS_1
Satu minggu pun berlalu dan Marisa sudah terbiasa dengan kehadiran Baby Syailendra. Bersama dengan Indra, Marisa mengurus Baby Syailendra secara mandiri. Marisa begitu piawai dalam mengurus Baby Syailendra walaupun dia harus kurang tidur karena harus menyusui dan mengganti popok di malam hari. Indra pun selalu menemani Marisa dengan sabar dan penuh semangat.