
Marisa ingin pergi jauh-jauh dari Indra! Ya! Kebencian muncul akibat dari sakit hati luar biasa yang dirasakan Marisa akhirnya membuat Marisa mengambil satu langkah besar dalam kehidupannya.
Aku harus pergi jauh dari Indra! Harus! Aku tidak mungkin bisa terus bersama dengan orang yang telah tega mengkhianati aku! Aku bisa memaafkan kesalahan sebesar apapun selain dari perselingkuhan! Bagiku, perselingkuhan adalah kesalahan seorang suami tidak bisa di maafkan lagi! Karena lewat perselingkuhan itu artinya seorang suami telah menodai kesucian pernikahan yang sakral!
Mana mungkin aku bisa terus melayani dan mengabdi kepada seorang suami yang telah meniduri wanita lain! Seumur hidupku pasti aku akan terus merasa jijik kepada suamiku sendiri! Mengingat bahwa dia telah menyentuh tubuh wanita lain dan merasakan kenikmatan kotor dan menjijikkan!
Aku harus pergi jauh dari kediaman keluarga Perdana. Tapi aku harus kemana? Kalau aku pulang ke Bogor, ke rumah keluargaku. Indra pasti akan segera menyusulku kesabaran dan akan dengan mudah menemukanku! Itu artinya aku harus pergi ke tempat lain yang jauh!
Apakah aku minta tolong Andro saja? Ah! Itu juga tidak mungkin! Aku tidak mungkin terus menerus menyusahkan Andro! Andro sudah banyak berkorban untukku dan juga Syailendra! Apalagi sekarang juga Andro tidak di ketahui dimana keberadaannya dan itu semua juga terjadi karena aku! Andro selalu membelaku sehingga Mama Renata sampai tega menyuruhnya pergi dari sini!
Aku harus segera pergi membawa Syailendra sejauh mungkin! Apalagi Mama Renata juga sempat mengancamku untuk memisahkan aku dengan Syailendra kalau aku pergi dan rumah ini! Itu Absurd! Syailendra adalah anakku! Aku yang selama sembilan bulan mengandung dan merasakan bagaimana sakit dan beratnya saat aku melahirkannya ke dunia ini... Mana mungkin aku meninggalkan Syailendra disini bersama Oma dan Papanya! Aku adalah ibunya dan aku yang paling berhak atas anakku!
Lalu aku harus pergi kemana?
Marisapun teringat pada Gery, sahabat lamanya yang sudah lama tidak bertemu sejak Marisa menikah dengan Indra. Terakhir Marisa bertemu Gery adalah saat Marisa menggelar acara selamatan empat puluh hari Syailendra. Setelah itu mereka hanya sesekali berbincang di media sosial.
Gery sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan besar dan sudah mencicil rumah di sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Selatan. Gery sudah tidak tinggal di kos-an yang dulu saat dia dan Marisa masih menjadi mahasiswa.
"Aku mungkin harus minta bantuan kepada Gery! Tapi... Aku malu... Bagaimanapun juga Gery adalah salah satu orang yang tidak mendukung saat aku dulu lebih memilih Indra di bandingkan dengan Andro" batin Marisa.
"Tapi saat ini adalah saat darurat dan aku harus bisa menepikan rasa malu ku kepada Gery! Aku harus minta pertolongannya! Aku tidak ada jalan lain lagi!"
Marisa segera menelepon Gery. Alhamdulillah langsung tersambung pada sahabatnya itu. "Halo, assalamu'alaikum Marisa!" seru Gery lewat sambungan telepon. Jelas terdengar dari suara Gery kalau dia sangat semangat mendapatkan telepon dari Marisa.
"Wa'alaikum salam, Ger"
"Gimana kabarnya kamu, Mar?! Ya Allah udah lama banget kita gak ketemu!"
"Iya, aku Alhamdulillah. Kamu sendiri gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah juga! Ngomong-ngomong ada apa nih kamu nelepon aku pagi-pagi begini?"
"Kamu sibuk gak Ger?"
__ADS_1
"Aku lagi senggang sih. Aku kerja bagian siang hari ini"
"Aku mau minta bantuan kamu, Ger. Aku mau pergi dari rumah!"
"Apa?!!!" terdengar suara Gery yang kaget sekali mendengar kata-kata Marisa itu! "Kamu mau pergi dari rumah?!"
"Iya!"
"Ada apa, Mar?! Kamu ada masalah sama Sang CEO arogan?!"
Tidak terdengar jawaban Marisa melainkan hanya desah nafas panjang.
"Maaf, Mar. Aku gak sengaja ngomong gitu" Gery khawatir kalau Marisa tersinggung karena suaminya disebut sebagai CEO arogan oleh Gery.
"Nanti aku ceritain masalahnya, Ger! Tapi aku mau ke tempat kamu dulu siang ini"
"Oke, kapan kamu ke tempatku?! Mau aku jemput?"
"Sepertinya masalahnya serius sekali..."
"Iya, Ger. Sangat-sangat serius..."
"Ya sudah. Aku tunggu ya di rumah. Kapan mau kesini?"
"Nanti... Sekitar jam sembilan aku kesana. Sekarang Mama mertuaku masih ada di rumah"
Marisa pagi itu sampai tidak keluar dari kamarnya. Marisa juga tidak menyiapkan baju kantor Indra apalagi menemaninya sarapan seperti biasa. Salah seorang asisten rumah tangga memanggilnya dari luar kamar, Marisa beralasan bahwa dia sedang tidak enak badan dan minta sarapannya dibawa ke kamar saja.
Saat asisten rumah tangganya itu datang dengan membawa sarapannya, Marisa menanyakan Indra. "Apakah Pak Indra sudah pergi ke kantor?"
"Udah, Bu"
"Kalau Nyonya? Masih di rumah?"
__ADS_1
"Nyonya baru selesai sarapan dan sempat menanyakan kenapa Ibu tidak ikut sarapan. Saya bilang Ibu sedang tidak enak badan dan minta sarapannya di antar ke kamar. Sekarang Nyonya sedang di kamarnya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Hari ini jam jadwal Nyonya periksa kesehatan"
"Ya, saya tahu. Terima kasih sarapannya ya"
"Ya Bu"
Marisa segera sarapan dan melihat kalau di HP nya ada pesan dari Indra.
saya berangkat dulu ke kantor. saya harap kamu mau memaafkan saya. bagaimanapun kita sudah menikah dan tidak ada yang boleh memisahkan kita kecuali maut.
Marisa mendengus kesal! Semudah itu Indra mengingatkan Marisa tentang pernikahan?! Lalu saat dia melakukan dosa dengan Melati, kenapa dia tidak mengingat pernikahan itu?!
Tak lama Lilis muncul di kamar Marisa dengan membawa sarapan untuk Syailendra. Saat itu Syailendra juga sudah terbangun. Marisa sudah seminggu tidak menyusui lagi Syailendra karena anak itu sudah menginjak usia satu tahun.
"Bu, Ibu katanya sedang tidak enak badan?" tanya Lilis.
"Iya, Lis" jawab Marisa.
"Apakah Ibu mau saya antar berobat atau kita ke dokter?"
"Tidak usah, Lis. Saya memang hendak pergi dengan Syailendra"
"Mau kemana, Bu? Saya akan siapkan pakaian untuk Syailendra dan memandikan dia setelah sarapan"
Marisa memandang Lilis dengan penuh kesedihan. Matanya mulai berkaca-kaca. Lilis pun menjadi khawatir dengan keadaan Marisa.
"Bu, Ibu kenapa menangis?! Ibu sakit apa?" tanya Lilis.
"Saya mau pergi jauh, Lis. Saya tidak akan pernah kembali ke rumah ini lagi" jawab Marisa dan air matanya menetes ke pipi.
"Ibu bicara apa?!"
"Saya benar-benar akan pergi dari rumah ini dengan membawa Syailendra. Saya harap kamu jangan bilang siapa-siapa kalau kamu sudah tahu tentang kepergian saya. Kamu pura-pura tidak tahu saja! Kamu masih bisa bekerja disini tanpa adanya saya dan Syailendra"
__ADS_1