My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 181 : Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Indra tidur dengan posisi telungkup dengan suara mendengkur halus, Marisa segera mengenakan pakaian nya dan ikut berbaring bersama Indra. Di tarik nya selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Indra seperti merasakan kehadiran Marisa di sisinya, maka dengan refleks Indra bergerak memeluk Marisa hingga tubuh Marisa tenggelam dalam pelukan tubuh Indra yang besar.


"Marisa, Sayang..." desah Indra dalam tidurnya.


Marisa sebenarnya sudah biasa tidur satu ranjang dengan Indra seperti ini, tapi malam ini berbeda karena Indra sedang tidak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya. Marisa bisa merasakan ada sesuatu benda kenyal yang mengganjal di paha sebelah kiri nya.


"Ih..." Marisa bergidik ngeri dan mencoba untuk menjauh sedikit dari Indra tapi tidak bisa, Indra terlalu erat memeluk tubuhnya. Malahan satu paha Indra melingkar di bawah perut Marisa.


Marisa menyerah dan akhirnya pasrah tidur dalam dekapan tubuh bugil Sang CEO. Mata Marisa menatap wajah Indra yang tertidur pulas dengan dengkuran halus. Tanpa sadar Marisa jadi tersenyum sendiri. Di belainya pipi, hidung dan bibir Indra.


"Kamu tampan sekali, Indra Perdana..." gumam Marisa. "Wajah kamu dan Andro sangat mirip sekali, tapi entah kenapa cuma kamu yang selalu aku bayang-bayangkan sejak awal aku bekerja di Perdana Enterprise.


Dalam keadaan sedang tidur seperti saat ini, kamu terlihat sangat polos dan tanpa raut arogan" Marisa mengecup bibir Indra dengan lembut.


"Aku sayang sekali sama kamu, Dra... Hanya kamu satu-satunya pria yang bisa membuat aku lupa diri...


Esoknya Indra yang terbangun lebih dulu dan mendapati Marisa ada di dalam pelukannya, tidur meringkuk dengan nyenyak.


"Marisa" bisik Indra lalu mencium kening Marisa. "Tumben dia belum bangun. Biasanya selalu bangun pagi dan membuat sarapan"


Indra ingin turun dari ranjang tapi tersadar bahwa dia tidak memakai pakaian. Ingatlah Indra kalau semalam dia ketiduran setelah puas menikmati tubuh Marisa walaupun tidak sampai melakukan hubungan badan yang sesungguhnya.


"Aku tidak pakai apa-apa. Ya ampun! Aku ketiduran semalam! Marisa mungkin kelelahan karena semalam. Tapi dia sudah memakai pakaian tidurnya"


Indra teringat peristiwa semalam dan itu membuat nafsu nya bangkit lagi. Di raba nya dada Marisa dan mulai di remas-remasnya dengan penuh gairah, kemudian pelintir nya juga kedua pucuk buah dada Marisa sehingga pemilik nya terbangun dan merintih.


"Ah... Indra! Geli!"


"Makin padat dan kencang saja buah dada kamu, Marisa"


"Jangan nakal ah...!"


"Iya, saya tahu kamu lelah akibat perbuatan saya semalam"


"Iya, saya lelah sekali..."

__ADS_1


"Tapi nikmat sekali, kan?"


"Gak tahu ah!"


"Enak saja bilang gak tahu!" Indra meremasi buah dada Marisa dengan agak keras.


"Aduh! Sakit, Dra! Pelan-pelan..." pekik Marisa.


"Kamu kenapa tidak bantu memakaikan celana saya?! Akibatnya sekarang saya bangun lagi!"


"Saya takut... Saya tidak berani melihat apalagi menyentuh senjata kamu..."


"Tapi kan semalam milik kamu sudah berkenalan dengan senjata saya!"


"Iya ih! Ngeri sekali! Keras dan besar!"


"Kata siapa besar? Memangnya kamu melihatnya?!"


"Kerasa kok!"


"Kamu suka?"


"Hahaha!"


"Sudah ya, Dra... Saya mau bikin sarapan dulu. Kamu ke kantor kan?"


"Iya, oke! Saya mandi dulu" Indra melepaskan Marisa dari dekapan dan remasan nya.


"Saya buatkan mie goreng ya?" kata Marisa.


"Ya, sebenarnya saya masih ingin berada disini. Tapi di kantor banyak sekali pekerjaan! Ini gara-gara Andro juga! Kenapa pula dia pergi ke Italia dan tidak pulang-pulang! Saya kan jadi repot sendiri!" rutuk Indra!


"Memangnya urusan pemerintahan di Italia sudah selesai ya?"


"Sudah, Andro hanya mengurus pengiriman barang saja. Mungkin dia menemukan wanita cantik disana! Jadi betah!"


"Mungkin nanti dia pulang saat hari pernikahan kita"

__ADS_1


"Tentu saja dia harus pulang! Kalau tidak berarti dia tidak menganggap saya ini sebagai kakaknya! Masa di hari paling bahagia dalam hidup saya, dia tidak datang!"


Marisa pun segera pergi ke dapur dan membuat sarapan mie goreng untuk Indra. Tak lama kemudian Indra sudah selesai mandi dan muncul di ruang makan. Langsung di seruput nya kopi hitam panas yang sudah tersedia di atas meja.


"Makan dulu, Sayang. Baru ngopi" kata Marisa.


"Sudah jadi kebiasaan" kata Indra.


Mereka pun sarapan bersama sambil mengobrol. Indra merasa sangat bahagia memiliki Marisa yang bukan hanya cantik dan pintar, tapi juga bisa melayani semua kebutuhan nya.


"Terima kasih, Marisa. Kamu sudah menjadi istri yang baik untuk saya" kata Indra.


"Sudah menjadi istri yang baik?" Marisa bingung. "Calon istri kali!"


"Tadi malam kan kamu sudah resmi jadi istri saya! Kamu sudah melayani saya malam dan pagi ini juga!"


"Ih...!!!"


"Oh ya, siapkan surat keterangan sehat nya! Saya akan bawa sekarang juga untuk di serahkan kepada orang suruhan saya untuk melengkapi berkas pernikahan kita"


"Sudah saya siapkan"


"Sebaiknya besok kita jemput keluarga kamu ke Jakarta. Waktu pernikahan kita kan tinggal enam hari lagi. Saya juga akan ngantor sampai hari Jum'at, setelah itu kita langsung pergi ke Bali tapi mungkin kita akan naik pesawat yang berbeda karena kata Mama, mulai hari Jum'at saya tidak boleh bertemu dengan kamu"


"Oke, kalau begitu besok kita jemput keluarga saya!"


Indra menggenggam kedua tangan Marisa dengan erat. "Saya tidak sabar untuk segera bertemu kamu lagi di pelaminan. Setelah itu kita akan resmi menjadi suami istri. Kita akan hidup bahagia selamanya bersama anak-anak kita!"


"Iya, Sayang... Insya Allah..."


Keesokan harinya Marisa dan Indra berangkat ke Bogor untuk menjemput keluarga Marisa. Keluarga Marisa pun di boyong ke rumah kontrakan Marisa sebelum akhirnya mereka terbang ke Bali pada Jum'at sorenya.


Marisa dan keluarganya menempati sebuah kamar mewah di hotel yang nantinya juga akan menjadi tempat akad nikah dan resepsi mereka pada hari minggunya.


Indra bersama Mama menyusul pada Sabtu pagi karena menunggu kedatangan Andro yang baru datang dari Italia. Mereka juga menempati kamar di hotel yang sama. Sementara para tamu undangan baru akan di jemput dari Jakarta pada Sabtu malam.


Andro terpaksa pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Indra bersama Marisa. Kakak kandungnya yang akan menikah dengan mantan kekasih yang masih sangat di cintai oleh Andro.

__ADS_1


Kalau saja tidak mengingat pentingnya acara pernikahan Indra, rasanya Andro malas sekali untuk pulang ke Indonesia. Tapi Mama memintanya pulang agar bisa menjadi saksi di pernikahan Indra dan Marisa. Apalagi setelah itu Indra akan berbulan madu bersama Marisa selama seminggu penuh dan otomatis Andro yang harus memegang perusahaan.


__ADS_2