
Indra akhirnya keluar dari ruang pemeriksaan dengan menaiki kursi roda dan di dorong oleh seorang perawat. Kemudian Indra dibawa masuk ke ruang dokter dan berada disana untuk waktu yang cukup lama.
Marisa dan Gery masih menunggu diluar ruangan. Gery tampak sudah tidak sabaran.
"Mar, lama banget ya berobat nya" kata Gery.
"Iya kan luka-lukanya parah gitu" kata Marisa.
"Aku lapar... Belum makan siang"
"Aku juga"
"Aku keluar sebentar cari makanan ya?"
"Iya, Ger"
"Kamu mau apa?"
"Aku mau nasi bungkus aja"
"Ok, tunggu ya"
Selepas Gery pergi, Indra keluar dari ruangan dokter. Seorang perawat mendorong kursi roda Indra dan membawanya menghampiri Marisa.
"Sampai disini saja" kata Indra pada perawat yang bantu mendorong kursi rodanya.
"Baik, Pak" kata perawat itu dan meninggalkan Indra bersama Marisa.
"Bagaimana, Pak Indra? Apakah Anda harus dirawat atau tidak? Apakah ada luka dalam yang serius? Apakah obat yang dari rumah sakit tadi harus di ganti?" Marisa memberondong Indra dengan banyak pertanyaan.
"Kamu ini bawel sekali! Bertanya itu satu-satu! Saya kan jadi bingung menjawabnya!" Indra malah marah!
"Iya, maaf. Anda lama sekali di ruang pemeriksaan"
"Saya melalui banyak sekali pemeriksaan luar dan dalam"
"Lalu bagaimana hasilnya?"
"Luka-luka luar di wajah saya bisa segera sembuh asalkan rajin minum obat dan mengoleskan salep khusus. Tapi bagian dada masih mengkhawatirkan. Ada luka dalam yang cukup serius. Belum lagi ada luka memar juga di bagian dada luar dan bahu!"
__ADS_1
"Ya Allah!"
"Sial si Herman itu! Saya akan segera mengurus semua ini dengan pengacara saya!"
"Bukankah Anda bilang kalau masalah ini jangan sampai di ketahui oleh orang lain karena bisa menjatuhkan wibawa Anda?"
"Sial! Kamu benar juga! Atau saya akan menyuruh pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa si Herman!"
Marisa membelalak. "Astaghfirullah! Anda tidak boleh melakukan itu! Anda sudah membuat Herman cacat seumur hidup! Anda jangan tambah lagi dosa dengan menyuruh orang untuk membunuh nya!"
"Lalu yang dia lakukan terhadap saya ini apa?! Bukankah ini penganiayaan? Bukankah ini dosa juga?!"
"Tapi kita tidak bisa membalas kejahatan seseorang dengan kejahatan juga!"
"Alah! Mulai sok alim lagi, kamu! Memangnya kamu pernah di sakiti seseorang? Kalau ada seseorang yang menyakiti kamu, pasti kamu juga akan. mendendam seperti saya!"
"Orang yang pernah menyakiti saya?! Apakah Anda tidak menyadarinya?! Anda adalah orang yang pernah menyakiti saya! Dan apakah saya membalas semua itu dengan kejahatan?! Tidak! Yang ada saya masih disini untuk menemani anda!"
"Saya menyakiti kamu bagaimana?!"
"Oh, Anda lupa? Apakah Anda lupa perlakuan kasar dan semua kata-kata menghina yang selama ini Anda lakukan kepada saya?! Bahkan hari ini pun Anda sudah melakukannya lagi! Dan satu hal lagi, sekarang saya sudah tahu kenapa Fero tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan saya, itu semua karena Anda! Anda yang menyuruh Herman untuk memfitnah saya!"
"Tapi saya sudah mendengarnya langsung dari Herman!"
"Untuk apa saya melakukan itu semua?! Kurang kerjaan saja!"
"Karena Anda ingin mendapatkan kehormatan saya! Apakah Anda lupa setelah itu membawa saya ke proyek perumahan yang ada di Sumedang dan memaksa saya untuk melayani Anda malam harinya?!"
"Oh ya? Saya sudah lupa! Rupanya kamu belum bisa melupakannya?! Apakah kamu menyesal karena dulu tidak mau tidur dengan saya?!"
"Masya Allah!"
"Kamu selalu saja membawa-bawa nama Tuhan dalam semua masalah! Kamu ingin di cap sebagai wanita alim, hah?!"
"Kita sedang membicarakan masalah dendam Herman! Masalah apakah saya ini sok alim atau tidak, biar hanya Allah SWT yang menilainya!"
"Saya marah kepada Herman karena dia sudah lancang memberitahu lokasi keberadaan saya dan Kayla kepada Sofie! Kalau dia memang setia kepada saya sebagai majikannya, dia tidak akan melakukan itu! Sekarang dia yang dendam kepada saya?! Lelucon apa lagi ini?!"
"Anda duluan yang menabur benih dendam pada hati Herman! Coba Anda pikirkan! Herman sudah bertahun-tahun mengabdikan diri kepada Anda! Dia sudah bukan hanya supir pribadi tapi sudah merangkap sebagai tangan kanan Anda! Bagaimana perasaannya setelah Anda mendzalimi dan menjatuhkan tangan kasar terhadap nya? Bahkan sekarang dia sudah tidak punya masa depan untuk bekerja di tempat lain karena wajahnya sudah cacat!" tutur Marisa mencoba mengubah cara pandang Indra mengenai Herman.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi membela dia mati-matian?!" Indra malah menjadi gusar!
Marisa lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang. Saat itulah Gery datang membawa makanan untuk dirinya dan Marisa. Gery sempat melihat bagaimana Marisa dan Indra berdebat dari jauh dan Gery menjadi kesal sendiri!
"Dasar CEO arogan! Pasti bikin kesal Marisa lagi! Udah di tolongin bukannya terima kasih tapi malah bikin orang kesal!" rutuk Gery.
"Marisa, ini makanan yang kamu pesan" kata Gery seraya menyerahkan sebungkus nasi Padang untuk Marisa.
"Makasih Ger" kata Marisa seraya menerimanya.
"Pak Indra, Anda mau makan?" tawar Gery.
"Saya akan menebus obat dulu di apotek. Silahkan kalian makan saja berdua!" kata Indra.
"Ya udah kalau begitu, ayo Mar! Kita makan! Ini udah jam makan siang!" kata Gery lalu membuka nasi bungkusnya.
Marisa melakukan hal yang sama dan makan bersama Gery.
"Kalau sudah selesai makan, kalian berdua pergi saja! Saya akan memberikan nilai A untuk PKL kalian. Tutup mulut kalian berdua soal masalah ini! Urusan kita mulai sekarang, selesai!" kata Indra tegas.
"Alhamdulillah, makasih Pak Indra" kata Gery.
"Anggaplah itu sebagai bentuk terima kasih dari saya atas bantuan kalian berdua yang telah membawa saya sampai kesini" kata Indra dan membawa dirinya sendiri pergi dengan kursi roda.
"Akhirnya dia bilang terima kasih" kata Gery pada Marisa.
Tapi Marisa seolah tak mendengar kata-kata Gery, bahkan gerakan Marisa menyuap nasi bungkus jadi tertahan. Mata Marisa menatap lekat kepada sosok Indra yang mulai menjauh.
"Kenapa, Marisa?" tegur Gery.
"Pak Indra kelihatannya kesusahan membawa dirinya sendiri dengan kursi roda itu, Ger" kata Marisa.
"Iya, biasanya kan ada yang dorong. Apalagi dia pasti belum terbiasa"
Marisa meletakkan nasi bungkus nya di kursi dan minum air mineral dengan terburu-buru. Dengan tergesa-gesa Marisa mengelap bibirnya dengan punggung tangan dan berlari mengejar Indra!
"Pak Indra, tunggu! Hati-hati Pak!" teriak Marisa saat dilihatnya kursi roda Indra terhuyung ke samping dan hampir terguling!
Tinggalah Gery yang termanggu melihat bagaimana Marisa mengejar Indra sampai-sampai tidak menghabiskan nasi bungkus yang sedang di makan nya.
__ADS_1
"Bucin lagi!" keluh Gery!