
Indra menghajar bagian bawah tubuh Marisa dengan kasar dan tidak beraturan dari arah samping, akibat nya Marisa menjerit-jerit histeris dan kembali mengejang hebat karena kembali di terbangkan ke puncak kenikmatan.
Marisa tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang pengantin yang sudah acak-acakan seperti kapal pecah. Seprai berantakan dan bantal-bantal juga selimut sudah berceceran di lantai.
Sementara Indra masih bisa menahan dirinya untuk tidak mencapai puncak kenikmatan walaupun sebenarnya sendiri sudah tidak tahan. Indra bersyukur karena beberapa hal lalu sudah berhasil mencapai kepuasan sewaktu di rumah Marisa walaupun tidak sampai merenggut kegadisan Marisa, tapi setidaknya hal itu sudah cukup untuk membuat Indra bertahan lama malam ini.
Indra tersenyum melihat Marisa yang sudah lemas. "Kamu sudah tidak sanggup lagi, Sayang?" tanyanya.
"Lama sekali sih..." jawab Marisa pelan.
"Saya masih ingin menikmati tubuh kamu"
"Kan besok masih bisa lagi..."
"Kalau begitu kita lakukan sekali lagi ya? Setelah itu saya akan tuntaskan"
"Iya..."
Dalam hatinya Indra kagum juga dengan kekuatan tubuh Marisa. Dari tiga orang wanita yang Indra renggut kegadisannya, juga Kayla yang saat itu sudah tidak gadis lagi, semuanya tidak sanggup untuk bertahan melayani Indra pada hubungan yang pertama. Tapi beda dengan Marisa, gadis cantik yang baru saja melepaskan kegadisannya itu ternyata menyimpan kekuatan yang luar biasa!
Indra duduk di hadapan Marisa yang masih terbaring lemah. Di angkat nya kedua kaki Marisa ke atas bahu hingga seketika itu juga milik Marisa terpampang jelas di hadapan Indra. Merah merekah dan sangat menggodanya juga seolah menantang Indra untuk memasukinya lagi.
Indra tidak tahan, dengan segera di benamkan nya lagi senjatanya kedalam milik Marisa hingga mencapai dasar bagian terdalam!
Marisa memekik dengan mata mendelik!
"Ugh...! Nikmat Mar..." desah Indra.
"Dalam sekali... Ngilu..." rintih Marisa sambil bergerak-gerak perlahan.
Indra merasa kalau senjatanya terasa di hisap dan di urut-urut didalam sana, maka Indra pun segera menggempur tubuh Marisa dengan liar nya!
Rintihan dan erangan kenikmatan kembali berhamburan keluar dari bibir Marisa. Apalagi di tambah dengan kedua tangan Indra yang tidak tinggal diam kembali meremasi buah dadanya dengan agak keras. "Akh...! Aduh...! Aduh...! Ampun Dra...! Engh...! Akh! Akh! Auhf...!!!"
"Marisa... Luar biasa nikmatnya tubuh kamu! Kamu pakai apa sampai bisa senikmat ini, Sayang...?!" Indra mengerang nikmat sambil mempercepat gerakan nya menghajar bagian bawah tubuh Marisa!
Sekitar dua puluh menit kemudian Marisa kembali menjerit histeris dan tubuhnya mengejang hebat!
"Arghhhh.....!!!!! Indra.....!!!!!"
Tubuh Marisa kembali tergolek lemah menikmati sisa-sisa pelepasannya dengan senjata Indra masih terbenam dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Lepasin, Dra..." pinta Marisa.
"Sebentar lagi ya, Marisa!" Indra kemudian malah menjatuhkan tubuhnya untuk menindih tubuh Marisa, kembali menghujamkan senjatanya dan semakin bertambah cepat mengaduk-aduk tubuh Marisa padahal istrinya itu baru saja mencapai puncak kenikmatan!
"Ah.....!!!!! Udah, Dra...! Udah! Sakit, Dra! Udah! Ampun...! Perih...! Pegal...! Ngilu...! Aduh...! Aduh...!" Marisa hampir menangis karena sudah tidak sanggup menahan gempuran senjata Indra yang liar dan kasar!
"Tahan, Sayang! Sebentar lagi!" sergah Indra sambil memejamkan matanya karena merasakan bagaimana nikmatnya senjatanya mengaduk tubuh Marisa.
..."Cepetan Dra! Aku gak kuat lagi...!" jerit Marisa!...
"Sekarang, Sayang! Sekarang!"
"Udah! Udah!"
"Tahan!"Indra tidak perduli pada jerit pekik Marisa!
"Duh! Indra...! Aaakkkhhh!!!!!"
"Luar biasa, Marisa! Ini nikmat sekali!!! Saya sampai! Argh...!!!" akhirnya Indra sampai di puncak kenikmatan dengan tujuh semburan keras didalam tubuh Marisa!
Tidak ada lagi suara dari Marisa maupun Indra, yang ada kini hanyalah desah nafas keduanya yang terengah-engah sambil tubuh yang saling berpelukan erat dengan posisi Indra yang masih berada di atas Marisa. Hingga akhirnya Indra melepaskan pelukannya pada tubuh Marisa dan berbaring di samping Marisa.
Indra menciumi wajah Marisa yang tampak masih pucat dan kelelahan. "Maafkan saya, Marisa. Saya terlalu kasar kepada kamu" bisik Indra.
"Tentu saja, Sayang! Kamu adalah pengantin wanita tercantik dan paling sempurna di dunia! Saya yang merasa sangat bahagia karena apa yang selama ini saya inginkan dan impikan akhirnya berhasil saya miliki! Kamu benar-benar luar biasa! Saya pasti akan kecanduan dengan tubuh kamu!" Indra mencubit dagu Marisa dengan gemas.
"Kamu bahagia dan terkesan dengan apa yang telah saya berikan malam ini?"
"Saya sangat bahagia dan terkesan! Terima kasih, Marisa! Terima kasih banyak atas semuanya" Indra mengecup kening Marisa.
"Aku mau pipis, Dra"
"Bagaimana rasanya? Apakah masih ada yang terasa sakit?"
"Sedikit..."
"Saya akan gendong kamu ke kamar mandi" Indra bergerak menggendong tubuh Marisa untuk dibawa ke kamar mandi.
"Gak usah, Dra! Saya bisa jalan-jalan pelan-pelan. Turunkan saya!" kata Marisa.
"Tidak! Saya yang sudah membuat kamu lemas dan sakit. Saya harus bertanggung jawab!"
__ADS_1
Saat itulah Marisa melihat bagaimana seprai putih ranjang pengantinnya penuh dengan bercak-bercak merah.
"Dra! Darah ku banyak sekali!" Marisa tercekat.
"Iya, saya juga sempat kaget tadi. Sepertinya milik kamu terlalu sempit, jadi saya merobeknya terlalu banyak. Kalau kamu merasa perlu, kita bisa cek ke rumah sakit" kata Indra.
Marisa menggeleng "Bukan begitu, Aku gak apa-apa. Tapi nanti seprainya bagaimana?"
"Besok pagi akan ada yang menggantinya"
"Malu dong..."
"Ya tidak usah malu! Kan saya sudah bayar mahal untuk acara kita disini!"
Marisa cemberut!
Indra terkekeh dan segera membawanya ke kamar mandi untuk sama-sama membersihkan diri. Setelah itu Indra pun mengajak Marisa untuk tidur karena sudah larut malam.
Marisa malam itu meringkuk dalam dekapan hangat Indra dengan tubuh yang sama-sama polos. Indra tidak mengizinkan Marisa untuk mengenakan pakaian apapun.
"Ini kan malam pertama kita. Biarkan tubuh kita saling mengenal satu sama lain" kata Indra.
"Iya, aku juga suka tidur dalam pelukan kamu" kata Marisa.
"Sambil pegang senjata saya, Mar!"
"Kenapa?"
"Kamu belum pernah memegangnya"
"Iya, iya!"
Tangan Marisa merayap kebawah dan memegang senjata Indra yang sudah melemas. "Sedang dalam keadaan tidur juga besar ya, Dra" kata Marisa.
"Kamu suka?" tanya Indra.
"Heeh, aku suka sekali... Ternyata rasanya nikmat sekali saat senjata kamu memasuki tubuh saya" Dan seketika itu juga Marisa memekik karena merasakan benda yang di pegang nya berubah membesar dan mengeras! Juga bertambah panjang! "Awh...! Ih...!" Marisa melepaskan genggamannya!
"Kenapa?!"
"Bangun, Dra! Ih...!"
__ADS_1
"Hahahaha, hati-hati Marisa! Kalau dia ingin lagi, kamu harus bertanggung jawab!"