
Indra menjauhi Sofie dengan nafas terengah-engah, entah kenapa tiba-tiba hasratnya kepada Sofie hilang dalam sekejap padahal seluruh kancing baju atasan Sofie sudah terlepas dan celana jeans-nya sudah luruh ke lutut.
"Kenapa Dra?" tanya Sofie dengan suara parau. Posisinya masih terlentang di atas sofa kamar Indra.
"Saya tidak bisa, Sofie. Saya tiba-tiba tidak berhasrat untuk melakukannya" keluh Indra.
Sofie bangkit dan merapikan kancing baju atasan dan celana jeans-nya. "Kamu sakit, Dra?" Sofie kembali bertanya.
"Tidak, hanya saja saya sedang tidak ingin!" jawab Indra gusar.
"Kamu sedang ada masalah, Dra?! Kamu sedang memikirkan sesuatu atau mungkin seseorang?!" tanya Sofie lagi kali ini dengan nada suara penuh kecurigaan.
"Tidak, sudahlah! Saya sedang tidak ingin membahas mengenai itu! Sekarang lebih baik kamu pulang saja! Saya mau istirahat!" kata Indra malah menyuruh Sofie pulang.
Mata Sofie membelalak mendengar kata-kata Indra. "Kamu menyuruh aku pulang?! Kamu ini kenapa? Aku jauh-jauh kesini tanpa kamu jemput, aku ingin hubungan kita membaik, dan aku juga datang untuk menyerahkan tubuhku pada kamu! Tapi apa yang kamu lakukan sama aku?! Kamu malah menyuruh aku pergi begitu saja!"
"Kamu kan datang kesini sendiri! Kamu juga bawa mobil sendiri! Lalu apa saya harus mengantarkan kamu pulang?!"
"Aku tidak mau pulang! Aku mau disini sama kamu! Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku! Aku akan menemani kamu, Dra! Kita tidak perlu berhubungan badan, tapi kita bisa saling bertukar pikiran"
"Saya malas! Saya sedang ingin sendiri!"
"Kamu jahat, Dra! Kamu berubah! Kamu bukan Indra yang dulu lagi! Kamu berbeda sejak kedatangan wanita itu!" Sofie mulai berbicara keras.
"Siapa maksud kamu?!" tanya Indra sinis.
"Marisa! Kamu mencintai wanita itu, bukan?! Kamu menginginkan dia! Kamu lupa? Marisa itu pacar Andro! Marisa tidak akan mau sama kamu!"
"Maksud kamu apa?! Kamu ngawur! Ngacok!"
"Aku tidak ngawur! Aku tahu, Dra! Aku tahu perasaan kamu pada Marisa! Aku ini kekasih kamu! Aku yang paling tahu tentang kamu! Aku tahu kamu berusaha untuk tidak perduli padahal kamu sebenarnya mencintai Marisa!"
__ADS_1
"Saya tidak mencintai Marisa! Saya membencinya!"
"Kalau kamu membencinya, kenapa saat kita bercinta kamu malah memanggil-manggil namanya! Marisa!"
Mata Indra melotot! Dia memanggil-manggil nama Marisa saat sedang bercinta dengan Sofie?! Absurd! Tidak mungkin!
"Kamu jangan mengada-ada, Sofie!"
"Aku tidak mengada-ada! Aku mendengarnya sendiri! Kamu menyebut nama Marisa padahal kamu sedang menikmati tubuhku! Apakah kamu tahu bagaimana perasaan aku saat itu, Dra?! Aku marah! Aku sakit! Makanya aku pergi duluan dari apartemen kamu pagi itu!
Tapi aku masih berharap kita berdua bisa memperbaiki semuanya! Makanya aku datang kesini untuk kamu! Agar kamu bisa merasakan kebahagiaan bersama aku!
Tapi apa yang terjadi?! Kamu malah menyuruh aku pergi! Kamu bilang kamu sedang tidak ada hasrat padaku! Kamu masih memikirkannya, bukan?! Kamu ingin menikmati tubuhnya!!!" Sofie tidak bisa lagi menahan kemarahannya dan nada suaranya sekarang terdengar semakin tinggi!
"Oke! Oke kalau kamu memang ingin tahu apa yang terjadi pada saya! Saya memang mencintai Marisa! Saya menginginkan Marisa dan sangat ingin menidurinya! Saya bahkan terobsesi pada tubuhnya! Saya selama ini hampir setiap malam selalu membayangkan bisa menjamah dan merasakan kenikmatan tubuhnya! Begitu yang sebenarnya! Puas kamu sekarang?! Kamu bertanya dan saya sudah berterus terang!" kata Indra kepalang tanggung.
'Plak!' dengan marahnya Sofie menampar keras wajah Indra! "Keterlaluan kamu, Dra! Kamu jahat! Kamu bajingan!" teriak Sofie yang kini sudah tidak sanggup menahan volume suaranya lagi. Bahkan tangan Sofie kembali melayang ke menampar wajah Indra untuk kedua kalinya!
"Akkhhh!!!" Sofie memekik kesakitan!
"Berani sekali lagi kamu menampar wajah saya, saya akan seret kamu keluar dari rumah ini!" bentak Indra!
"Kamu tidak bisa berbuat seperti itu sama aku! Aku ini tunangan kamu! Calon istri kamu!"
"Kenapa tidak?! Ini rumah saya! Siapapun bisa saya tendang keluar dari sini kalau mengusik ketenangan saya termasuk kamu!"
"Ya Tuhan! Indra..."
"Saya sekarang benar-benar muak dengan sikap kamu! Saya mulai berpikir untuk berpisah saja dengan kamu! Saya tidak suka wanita cerewet seperti kamu!"
"Mana bisa kamu memutuskan hubungan denganku?! Kita sudah terlanjur jauh! Aku sudah memberikan segalanya sama kamu!"
__ADS_1
"Hahahaha! Jangan berpikiran kuno! Saya tidak pernah memaksa kamu untuk berhubungan badan dengan saya! Kamu yang secara sukarela telah menyerahkan kehormatan kamu pada saya!"
"Tapi kamu adalah tunangan aku! Kamu harus bertanggung jawab dengan menikahi aku!"
"Saya tidak perduli! Kamu tidak bisa memaksa saya! Saya juga tidak pernah memaksa kamu untuk melayani saya! Seperti malam ini, bukankah kamu yang datang sendiri kesini, kekamar saya untuk mengantarkan tubuh kamu!"
Sofie tidak bisa menjawab lagi kata-kata Indra. Sofie hanya bisa menangis tersedu-sedu, sangat menyedihkan.
Sebaliknya Indra malah merasa kesal karena Sofie menangis. "Sekarang kamu pulang saja, Sofie! Masalah hubungan kita biar nanti saya pikirkan lagi! Sekarang saya ingin sendiri! Saya akan tunggu selama lima menit, kalau kamu belum juga pulang, saya yang akan pergi!"
"Cukup, Dra! Kamu tidak perlu mengusir aku seperti itu! Aku akan pergi sekarang juga!"
"Baguslah!"
"Tapi perlu kamu tahu, Dra! Kamu tidak akan mendapatkan yang lebih baik dari aku! Yang lebih mencintai dan menyayangi kamu lebih dari aku! Apalagi Marisa! Dia tidak akan mau dengan kamu! Marisa lebih memilih Andro daripada kamu! Andro saingan berat buat kamu! Andro lebih segala-galanya di bandingkan kamu!"
"Tutup mulut kamu dan pergi sekarang juga!" teriak Indra marah!
Sofie meninggalkan kamar Indra dengan bersimbah air mata. Kini Sofie benar-benar merasa hancur! Harapan sudah musnah bersama harga dirinya! Indra yang begitu di cintai nya sama sekali tidak perduli dan ternyata lebih mencintai wanita lain!
Sementara Indra merasa benar-benar marah dan dengan kesal meninju tembok kamarnya!
'Buk!'
"Sial! Bisa-bisanya Sofie berkata Andro lebih dari dari pada aku!" umpat Indra!
Sebenarnya tanpa Indra tahu, Mama mendengar suara-suara gaduh dari kamar Indra dan sehat mendatangi kamar Indra untuk melihat ada apa yang terjadi.
Tapi langkah Mama tertahan karena melihat Sofie keluar dari kamar Indra dengan keadaan menangis di ikuti dengan bantingan pintu dari dalam kamar yang berarti Indra membanting pintu kamarnya!
"Ada apa dengan Indra dan Sofie? Baru kali ini aku lihat Indra dan Sofie bertengkar. Apa aku tanya Indra? Ah, sebaiknya besok saja aku tanya Indra. Sekarang pasti Indra sedang emosi" batin Mama.
__ADS_1