My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 227 : Sikap Indra yang Dingin


__ADS_3

Indra benar-benar telah tergoda pada sosok Melati. Bahkan saat berada di rumah pun, Indra masih sempat-sempatnya untuk menghubungi Melati. Apalagi saat itu Indra sedang sangat bergairah tapi tidak bisa melampiaskan hasrat nya karena Marisa menolak permintaannya.


"Kalau kamu memang benar-benar ingin merasakan bagaimana nikmatnya bercinta dengan saya, baiklah! Saya akan cari kesempatan untuk kita bisa bercinta semalaman!" kata Indra.


"Semalaman?! Ya tidak mungkin, Pak Indra! Kita kan tidak akan berada di ruang kerja selama itu!" kata Melati.


"Kamu benar-benar polos, Melati! Itu yang saya sukai dari kamu! Saya tidak mungkin bercinta semalaman dengan kamu di ruang kerja! Saya akan mengatur waktu agar kita berdua bisa pergi ke luar kota dan menghabiskan waktu disana sepuas-puasnya!"


"Wah... Di luar kota?! Saya mau banget, Pak! Sekalian liburan ya?!"


"Ya, apapun yang kamu inginkan akan saya berikan!"


"Gak usah, Pak. Selama bekerja di Perdana Enterprise saja saya sudah mendapatkan uang yang begitu besar! Belum lagi barang-barang mewah yang saya beli secara online dengan menggunakan kartu kredit Bapak..."


"Itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang sudah kamu berikan kepada saya! Kenikmatan tubuh kamu yang sempurna selalu bisa menyenangkan hati saya!"


"Makasih ya, Pak Indra Sayang..."


"Sama-sama, Melati Sayang!"


Saat itulah tiba-tiba pintu ruangan kerja terbuka dan muncul Marisa disana. Indra dan Melati yang saat itu masih melakukan video call jadi terkaget-kaget dengan wajah sama-sama berubah pucat!


"Kamu ini kalau mau masuk ruang kerja saya ketuk pintu dulu, Marisa!" kata Indra setengah membentak Marisa yang adalah istrinya!


Marisa agak terkejut mendengar kata-kata Indra yang bernada tinggi. Baru kali ini selama satu setengah tahun pernikahannya dengan Indra, Marisa di minta mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan kerja Indra.


"Maaf, tapi aku cuma mau membawakan kopi seperti biasa" kata Marisa lalu melangkah masuk kedalam ruangan kerja dan menaruh secangkir kopi di atas meja kerja yang diatasnya terdapat laptop Indra yang sedang menampakkan wajah Melati yang sedang memakai pakaian tidur tipis berbahan satin dengan rambut panjang yang tergerai.


"Melati?" kata Marisa agak heran. Seingat Marisa, belum pernah Indra menghubungi Melati saat sedang berada di rumah, apalagi malam-malam begini.


"Selamat malam, Bu Marisa" sapa Melati.

__ADS_1


"Kamu sedang video call dengan Indra?" tanya Marisa yang masih merasa heran.


"Iya, kami sedang membahas tentang satu proyek perumahan yang akan dibangun di Surabaya" Indra yang menjawab pertanyaan Marisa.


"Oh..." kata Marisa tapi jelas dengan nada yang tidak enak.


"Baiklah kalau begitu kita akan bahas lagi masalah proyek perumahan itu besok di kantor! Sekarang kamu silahkan berisitirahat" kata Indra pada Melati.


"Oh iya, Pak. Baiklah kalau begitu. Selamat malam Pak Indra dan Bu Marisa" kata Melati lalu sambungan video call nya pun terputus.


Indra segera melipat laptopnya dan menggeser nya ke ujung meja. Di raihnya secangkir kopi hitam yang tadi dibawa Marisa lalu di minum nya secara perlahan.


Marisa meraih satu kursi dan duduk di sisi Indra. "Dra, gak biasanya kamu video call Melati apalagi malam begini" kata Marisa.


"Memangnya kenapa?" tanya Indra dingin.


"Ya kurang etis aja. Ini kan sudah malam. Urusan pekerjaan kan bisa di bicarakan besok pagi di kantor. Melati nya juga kan sudah pakai baju tidur. Gak enak lah" jawab Marisa.


"Biar saja! Saya kan sudah memberikan gaji besar kepada Melati! Jadi dia harus ada kapan pun saya membutuhkan nya!"


"Ya sudah, kalau kamu tidak suka. Saya tidak akan melakukan video call lagi dengan dia!"


Marisa merangkul bahu Indra dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. Bahu ternyaman selama hidupnya.


"Dra, aku mau minta maaf atas kejadian tadi sore ya?" kata Marisa sambil mencium pipi Indra.


"Tidak apa-apa, saya juga sudah melupakannya" kata Indra lalu mencium kening Marisa.


"Kamu gak marah lagi kan?"


"Tidak"

__ADS_1


Marisa perlahan melepaskan satu-persatu kancing baju Indra, kemudahan meraba dada bidang Indra. Marisa berniat untuk menebus kesalahannya tadi sore dengan melayani Indra sebaik mungkin malam ini.


"Dra..." bisik Marisa di telinga suaminya dan mulai menggelitik ujung dada Indra serta di pilin-pilin dengan lembut.


Tapi sikap Indra sangat berbeda malam itu. Kalau biasanya Indra langsung menyergap tubuh Marisa begitu dia merasakan sedikit saja rangsangan, kali ini tidak sama sekali. Indra malah menjauhi Marisa dengan berdiri dan merapikan bajunya sendiri.


Marisa terkesiap melihat bagaimana sikap Indra yang dingin. Hati Marisa terasa sangat sakit dan matanya mulai berkaca-kaca. "Dra... Kamu masih marah ya?" tanyanya sedih.


"Saya hanya sudah tidak ingin lagi melakukan nya!" kata Indra dingin tanpa menatap Marisa.


Marisa segera memeluk tubuh Indra erat-erat dan menyandarkan kepalanya di dada Indra. "Aku minta maaf, Dra... Aku janji tidak akan pernah menolak keinginan kamu lagi... Maafkan aku... Tadi itu aku waktunya untuk menyusui Baby Syailendra"


"Ya sudahlah! Yang sudah terjadi ya lupakan saja. Yang jelas saya tidak suka di tolak dan itu harus jadi pelajaran penting untuk kamu! Kalau saya ingin menyetubuhi kamu, itu artinya kamu harus siap!"


"Iya, aku mengerti. Maafkan aku ya...?"


"Kamu berada disini bukan cuma untuk mengurus anak saya, tapi juga melayani saya kapanpun saya mau! Lagipula saya juga tidak meminta hal itu saat kamu sedang menyusui Baby Syailendra! Dia sedang bersama Lilis di lantai bawah!"


"Iya... Aku salah... Aku minta maaf..." Marisa terus meminta maaf kepada Indra.


"Sekarang saya mau tidur! Saya tidak berhasrat lagi untuk menikmati tubuh kamu!" lalu tanpa perasaan, Indra meninggalkan Marisa di ruang kerjanya sendirian.


Untuk sesaat Marisa masih termangu memandangi punggung Indra. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Baru kali ini sepanjang satu setengah tahun pernikahannya dengan Indra, pria itu berkata tidak berhasrat lagi kepada tubuhnya.


Setelah beberapa saat, barulah Marisa tersadar dan segera menyusul Indra yang berjalan cepat menuju kamar tidur mereka.


"Dra, tunggu!" seru Marisa.


Tapi Indra tidak menghentikan langkahnya, menoleh pun tidak! Hingga akhirnya Indra sampai dikamar lebih dulu dan segera naik keatas tempat tidur lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tanpa melihat dulu Baby Syailendra yang sedang di tunggui Lilis.


Tak lama kemudian Marisa juga sampai di dalam kamar dan mendapati Lilis masih berada disana untuk menjaga Baby Syailendra yang sudah tertidur pulas dalam box bayi nya.

__ADS_1


"Lis, kamu boleh keluar kamar dan istirahat" kata Marisa yang mencoba terlihat tidak bersedih di hadapan Lilis.


"Ya Bu" kata Lilis dan segera keluar kamar.


__ADS_2