
Bertolak belakang dengan Indra, Marisa melewati hari Senin itu dengan santai dan tanpa adanya masalah sama sekali. Memang pada awalnya Marisa masih memikirkan bagaimana keadaan Indra, bagaimana metting pagi itu, bagaimana suasana kantor setelah keputusannya untuk resign dan masih banyak hal yang Marisa pikirkan.
Tapi menjelang siang, justru Marisa merasa hatinya lebih tenang, lebih plong dan lebih nyaman. Tidak ada lagi beban pekerjaan kantor yang menumpuk, juga tidak ada lagi omelan dan kebawelan Indra yang selalu jadi santapan Marisa sehari-hari.
Rasanya sudah lama sekali perasaan Marisa tidak pernah merasa senyaman ini. Soal bagaimana masa depan kuliahnya, Marisa menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Siapa tahu Indra bisa bermurah hati memberi nilai bagus untuk PKL Marisa selama tiga bulan kurang satu minggu di Perdana Enterprise. Bukankah Allah SWT maha membolak-balikkan hati manusia?
Kalaupun misalnya Indra tidak memberikan nilai bagus untuk PKL nya, toh Marisa masih bisa mengulang kembali satu semester lagi. Marisa yakin Mama dan Ayah juga tidak akan marah. Mungkin tahun depan Marisa bisa mendapatkan tempat PKL dengan atasan yang lebih baik dan berpikiran waras!
Dan masa-masa bersama Indra di Perdana Enterprise kelak hanya akan menjadi lembaran kelam didalam buku kehidupan Marisa. Marisa tidak akan pernah melupakan semua hal yang pernah di alaminya selama di Perdana Enterprise. Susah, senang, pahit, manisnya kelak hanya akan jadi kenangan yang tak pernah bisa Marisa lupakan.
Tentang Andro, Marisa belum bisa memutuskan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan adik dari Indra Perdana itu. Apakah Marisa akan menerima lamaran Andro untuk menuju ke arah yang lebih serius, atau justru Marisa memilih berpisah karena sesungguhnya Marisa sendiri masih merasa ragu dengan perasaannya sendiri kepada Andro. Bagaimana Marisa bisa menerima lamaran Andro kalau didalam hati terdalamnya, Marisa sebenarnya mencintai Indra, bukan Andro?!
Sulit di lukiskan dengan kata-kata bagaimana senangnya perasaan Marisa bisa duduk-duduk di teras kosannya sambil makan mie instan pedas, bisa berkunjung sebentar ke rumah Mbak Niki untuk sekedar nonton acara tv gosip favorit Mbak Niki, bisa ke pasar belakang kompleks untuk membeli sayuran, dan sorenya bisa jalan-jalan sambil cari makanan ringan.
Bahkan sepulangnya Marisa dari jalan-jalan sorenya, dia sempat bertemu dengan Fero yang sedang mengunjungi Mbak Niki. Saat itu Fero tengah duduk di depan teras rumah Mbak Niki sedang secangkir kopi panas yang di buatkan Mbak Niki.
Marisa yang memang harus melewati rumah Mbak Niki untuk bisa sampai ke kosannya, mau tak mau harus bertemu pandang dengan Fero. Marisa sekarang memang sudah tidak ada perasaan lagi pada Fero, tapi mau tak mau Marisa tetap merasa canggung bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
"Permisi" kata Marisa berbasa-basi.
"Selamat sore, Mar" sapa Fero sambil menatap Marisa dengan tatapan mata yang tidak lepas-lepas.
"Sore, Fer"
"Ngopi, Mar"
"Makasih, aku udah ngopi barusan diluar"
Marisa jadi ingat kalau dulu dia selalu ngopi bareng Fero. Sekarang itu sudah jadi sejarah. Marisa tidak boleh lagi mengingat-ingatnya.
__ADS_1
"Darimana emangnya kamu?" tanya Fero.
"Dari depan aja, cari angin sama jajanan" jawab Marisa.
"Gak kerja gitu?" tanya Fero lagi.
"Ih! Ini orang kenapa, sih?! Cari-cari terus bahan pembicaraan!" rutuk Marisa dalam hatinya. Tapi Marisa tetap menjawab. "Masa PKL aku udah selesai"
"Oh ya?! Alhamdulillah dong!"
"Ya, Alhamdulillah. By the way, Mbak Niki mana?"
"Tadi katanya mau jajan sebentar sama anak-anak. By the way, kamu makin kelihatan cantik, Mar" kata Fero tulus.
Tapi entah kenapa, kata-kata Fero membuat Marisa tidak nyaman. Bukannya senang di katakan semakin cantik, justru Marisa merasa Fero seperti yang sedang menggodanya!
"Maaf, aku balik dulu ke rumah" kata Marisa dan hendak melangkah pergi.
Terpaksa Marisa tidak jadi pergi dan menunggu Mbak Niki menghampirinya ayat Marisa bisa menjelaskan bahwa dia tidak sedang mendekati Fero.
Mbak Niki pun sampai di hadapan Marisa dengan wajah cemburu berat! Bibir merah merona nya di runcing kan sehingga membuat wajahnya tampak angker!
"Ngapain lo disini sama yayang Fero?!" tegur Mbak Niki.
"Saya baru abis dari depan, cari kopi sama jajanan. Kebetulan ketemu Fero. Gak ada apa-apa kok, Mbak" kata Marisa.
"Iya, gak ada apa-apa, kok" kata Fero.
Mbak Niki tetap memandang Marisa dan Fero dengan curiga. Sementara kedua anak-anaknya masuk kedalam rumah dan segera memakan jajanan yang barusan mereka beli. Ya anak-anak seusia itu memang tidak peka dengan apa yang tengah terjadi di antara orang-orang dewasa.
__ADS_1
"Ya gua sih bukanya apa-apa. Maklum kan sekarang banyak pelakor! Apalagi kalian berdua kan mantan!" kata Mbak Niki.
Marisa tersenyum pahit. "Saya gak akan jadi pelakor, Mbak. Saya tahu gimana rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai! Saya juga perempuan!" kata Marisa.
"Kehilangan seseorang?! Siapa?! Emangnya lo putus sama si CEO ganteng bos lo itu?!" tanya Mbak Niki kepo.
"Dia lagi di Turki" jawab Marisa.
"Hubungan lo baik-baik aja, kan?!"
"Baik, sih"
"Terus kenapa lo gak ikut ke Turki?! Kan enak bisa jalan-jalan naek pesawat terbang!"
"Saya kan kerja disini, Mbak. Nanti Pak Indra marah kalau saya ikut Pak Andro ke luar negeri!"
"Ya gak bakalan marah! Kan lo ikut sama adek nya!"
"Udah ya, Mbak. Saya mau istirahat dulu" kata Marisa tidak mau berlama-lama dan segera meninggalkan Mbak Niki.
Sepeninggal Marisa, Fero yang memang penasaran dengan hubungan Marisa, mencoba bertanya pada Mbak Niki.
"Nik, emangnya Marisa pacarannya sama siapa? Bukannya sama Bos nya? Yang namanya Indra? Kok tadi malah bilang sama Andro?" tanya Fero.
"Oh itu! Marisa gak pacaran kok sama Bos nya! Itu cuma gosip! Marisa pacarannya sama Andro. Andro itu adiknya Indra! Gitu!"
"Kok gitu?! Aku denger Marisa pacaran sama Indra malahan waktu masih jadi pacar aku"
"Ya mana gua tahu! Keliatannya ya Marisa emang pacaran sama Andro! Orang Andro yang suka ngapel kesini! Indra mah gua gak tahu yang mana! Emangnya kenapa sih kamu tanya-tanya masalah Marisa! Kepo! Masih cinta ya sama dia?!" Mbak Niki jadi sewot!
__ADS_1
"Ah, enggak kok! Biasa aja!" kata Fero tapi dalam hatinya Fero merasa masih penasaran. Kalau Marisa memang berpacaran dengan adik Indra, lalu kenapa waktu itu kata Herman Marisa ada hubungan gelap dengan Indra?!
"Aku harus cari tahu! Mungkin aku harus tanya Gery!" pikir Fero.