My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 16 : Kedatangan Andro


__ADS_3

Senin pagi dimulai dengan semangat yang baru. Marisa memasuki ruang CEO dengan penuh rasa percaya diri. Dua hari menghabiskan waktu bersama Fero membuat Marisa memiliki motivasi kerja yang lebih tinggi.


Pukul 08:00, Indra Perdana baru memasuki ruangan. Pria itu melirik sedikit ke arah Marisa yang sudah mulai dengan pekerjaannya untuk menyusun agenda metting untuk hari ini.


"Selamat pagi, Pak Indra." sapa Marisa.


"Hm!" seperti biasa, hanya itu balasan dari sang CEO.


Indra duduk dikursi meja kerjanya dan langsung membuka laptopnya. Sepertinya Indra sedang sibuk sekali pagi ini. Marisa juga tidak mau ambil pusing dengan kesibukan Indra. Marisa kembali pada laptopnya.


"Marisa," panggil Indra tiba-tiba beberapa menit kemudian-memecahkan kesunyian diantara mereka berdua.


"Iya, Pak?" sahut Marisa.


"Kamu sedang menyusun agenda metting hari ini?"


"Iya Pak."


"Masih lama?"


"Sebentar lagi. Apa ada yang bisa saya bantu? Ada yang bisa saya lakukan untuk Bapak?"


"Saya butuh bantuan kamu, tapi ini diluar jam kantor."


"Oh, ya? Ada apa, Pak? Kalau saya mampu, pasti saya kerjakan!"


"Kamu tahu kan saya sedang ada projek baru diluar kota?"


"Iya, saya tahu. Projek perumahan kan?"


"Kalau nanti saya ada peletakan batu pertama disana, kamu mau ikut saya kesana?"


"Boleh saja Pak, kapan?"


"Sekitar satu atau dua minggu lagi."


"Baik Pak!"


"Saya juga mau kamu coba membuat konsep denah perumahan untuk projek disana!"


Marisa cukup terkejut. "Tapi saya bukan kuliah dibagian desain arsitektur, Pak."


"Kamu coba dulu saja! Nanti kekurangannya bisa disempurnakan!"


Marisa sempat terdiam, lalu berkata, "Baik Pak, akan saya coba!"


"Lagipula saya membuat konsep hunian dua kamar untuk kalangan menengah. Kamu berasal dari kalangan menengah, kan? Kamu pasti bisa membuat konsep rumah seperti itu! Kalau saya kan tahunya desain rumah real estate!" ada senyum tipis dan nada sinis dibibir dan nada suara Indra.


"Iya Pak!" Marisa merenggut karena nada suara Indra dan kata-katanya jelas menghina! Tapi Marisa tidak mau terpancing emosi untuk berdebat dengan Indra! Indra benar, Marisa hanya berasal dari kalangan menengah!

__ADS_1


Untuk apa Indra mengajak Marisa ke projek barunya itu? Bukankah Sofie yang ingin ikut kesana? Tapi Marisa tidak berani menanyakan hal itu kepada Indra.


"Malam Minggu kemarin kamu kemana?" tanya Indra tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.


Kening Marisa berkerut. "Saya tidak kemana-mana."


"Bohong kamu! Bukannya kamu pergi ke pasar malam?! Bersama pacar kamu yang fotografer itu?!"


Marisa coba mengingat. "Oh iya, saya pergi ke pasar malam dekat kos-an saya. Jadi saya merasa tidak kemana-mana. Saya juga pergi kesana bersama Fero, pacar saya."


"Saya tidak menanyakan namanya!" sergah Indra.


"Tunggu dulu, Bapak kok tahu?! Bapak stalking Ig saya, ya?!" Marisa menatap curiga pada Indra namun ada sedikit pandangan jahil dimatanya.


"Huh! Apa perlunya saya stalking Instagram kamu?!" sergah Indra.


"Itu kok Bapak bisa tahu?! Saya posting itu di Ig saya lho! Kalau Bapak gak stalking, mana mungkin Bapak tahu!"


"Saya tahu dari Herman! Dia supir pribadi saya. Dia lapor kalau kamu pergi bersama pacar kamu ke pasar malam saat malam Minggu itu!"


"Oh... Jadi Herman ada di pasar malam juga saat itu?"


"Mana saya tahu!"


"Lalu apa motifnya dia lapor ke Bapak kalau saya ke pasar malam?" tanya Marisa dengan penasaran.


"Lalu kenapa Bapak tanyakan lagi kepada saya?"


"Tidak ada apa-apa! Saya hanya tidak suka kalau kamu terlalu sering pacaran! Nantinya malah tidak fokus dalam pekerjaan!"


Marisa hendak kembali menjawab perkataan Indra, tapi saat itu tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang pria tampan berjas hitam. "Selamat siang." sapanya.


Marisa seketika terkesiap-teringat saat pertama kali dia menginjakan kaki di perusahaan itu. Marisa pernah bertemu dengan pria itu didalam lift. Pria tampan berjas yang awalnya dia kira adalah CEO-tapi ternyata bukan! Malah kemudian Marisa tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu sampai hari ini.


"Selamat siang, Pak." balas Marisa sambil menatap pria tampan itu. "Mirip sekali dengan Pak Indra!" batinnya.


"Kamu gak bisa masuk ke ruangan aku dengan cara mengetuk pintu lebih dulu?!" tanya Indra pada pria itu dengan nada yang gusar. Pria yang memiliki wajah hampir mirip dengannya.


"Apa harus aku ketuk pintu lebih dulu?! Aku kan adik kamu!" jawab pria itu yang ternyata adalah adik dari Indra Perdana.


Marisa menutup mulutnya dengan jarinya. "Adiknya Pak Indra! Pantes mirip banget!" batin Marisa.


"Hai Marisa, apa kabar?" sapa pria itu dan malah menghampiri meja Marisa lalu duduk dikursi yang ada di hadapannya.


"Alhamdulillah baik, Bapak apa kabar?" Marisa balas menyapa.


"Saya juga baik." jawabnya dengan senyum manisnya.


"Bapak adik Pak Indra?"

__ADS_1


"Ya, saya Andro."


"Pantas wajahnya mirip sekali. Bapak kemana saja selama ini?"


"Saya lebih sering mengurus projek di luar kantor. Saya lebih suka bekerja di ruangan terbuka."


"Oh begitu."


"Kamu mencari-cari saya, ya?"


"Iya sih... Malah saya sempat berpikir kalau Bapak adalah hantu tampan penghuni gedung ini! Habisnya Bapak menghilang begitu saja tanpa bekas dan tidak pernah saya temui lagi!" kata Marisa polos.


Andro tertawa renyah. Gigi-giginya yang putih rapi terlihat semakin menambah ketampanannya. "Mana ada hantu tampan seperti saya?"


"Iya juga sih..." jawab Marisa lalu tertawa kecil.


"Oh iya Marisa, saya minta maaf karena baru sekarang menengok kamu di kantor. Saya harap kamu betah bergabung dengan perusahaan ini dan bisa menjadi asisten Indra seperti yang saya rekomendasikan padanya."


"Oh... Jadi Pak Andro yang merekomendasikan saya agar jadi asisten pribadi Pak Indra?"


"Iya, bagaimana bekerja dengan Kakak saya?"


"Pak Indra..." belum sempat Marisa menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara gebrakan yang berasal dari meja kerja Indra!


'Brak!!!'


Marisa dan Andro terkejut lalu melirik Indra.


"Kalian ini ngapain sih?! Ngobrol ngalor ngidul gak penting seenaknya! Di saat jam kerja, lagi! Sama sekali tidak profesional! Marisa! Selesaikan pekerjaan kamu! Dan kamu, Andro! Jangan ganggu Marisa! Bicara denganku saja! Ada perlu apa kamu kesini?!" sergah Indra pada Marisa dan Andro.


Andro berdiri dari duduknya dan menghampiri mejanya Indra. "Maaf, aku kan cuma ajak Marisa ngobrol sebentar, Ndra." kata Andro.


"Dengan tidak memperhatikan aku seolah aku tidak ada di ruangan ini?! Padahal ruangan ini adalah ruanganku!" sergah Indra.


"Aku hanya ingin tahu apakah Marisa yang aku temui satu minggu lalu dan aku rekomendasikan buat jadi asisten pribadi kamu itu betah atau tidak kerja disini!"


"Bukan masalah dia betah atau tidak! Aku tidak perlu pekerja yang betah tapi yang patuh!"


"Oke, aku minta maaf sekali lagi!"


"Kamu sudah mengganggu jam kerja Marisa! Sekarang katakan kamu mau apa kesini?!"


"Masalah barang yang akan datang Minggu ini, aku akan meninjau langsung ke dermaga!"


Selanjutnya Indra dan Andro sibuk membicarakan soal bisnis expor impor perusahaan mereka. Dua kakak beradik yang sangat mirip! Sama tampan dan berkharisma.


Tidak ada perbedaan diantara keduanya. Hanya saja Indra terlihat sedikit lebih dewasa dan dingin, sedangkan Andro lebih murah senyum.


Marisa tidak bisa membandingkan keduanya. Mana yang lebih tampan dan gagah. Dua CEO muda yang sangat kharismatik.

__ADS_1


__ADS_2