My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 118 : Kamu Menikmatinya!


__ADS_3

Pak Jukri dan Bu Jum mengantar Marisa dan Indra masuk kedalam vila besar nan mewah itu. Mereka tidak banyak bicara dan segera meninggalkan Marisa dan Indra untuk kembali ke paviliun yang letaknya tidak jauh dari taman belakang.


"Pak Indra, saya sudah siapkan makan malam nya di ruang makan. Kalau ada sesuatu yang kurang, silahkan panggil saya" kata Bu Jum.


"Ya, terima kasih" kata Indra.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Pak Indra" kata Pak Jukri.


Tinggalah Marisa dan Indra berdua di ruang tamu yang penuh dengan kue-kue dan teh hangat. Indra yang masih duduk di atas kursi rodanya menatap Marisa dan berkata. "Kamu mau makan, Marisa? Apakah kamu sudah lapar? Biasanya kan kamu paling cepat lapar"


"Tidak, Pak. Saya mau minum teh hangat dulu setelah itu saya ingin mandi. Dari semalam saya belum mandi karena terus-menerus berada di rumah sakit" kata Marisa.


"Tapi kamu tetap terlihat cantik walaupun belum mandi" kata Indra tanpa ada nada bercanda sedikitpun.


Tapi Marisa tampak memandang Indra dengan heran seolah-olah sedang mendengar sebuah lelucon dari bibir Sang CEO.


"Kenapa bengong begitu?" tegur Indra.


"Tumben aja Anda bilang saya cantik" kata Marisa.


"Kamu memang cantik kok! Kamu adalah gadis tercantik yang pernah saya temui!"


"Gombal!" pipi Marisa tampak memerah!


"Lho! Buktinya saya suka sama kamu!"


"Maaf Pak Indra, saya mau mandi dulu"


"Kamu antar dulu saya ke kamar! Saya mau istirahat!"

__ADS_1


"Oh iya, kamarnya sebelah mana?"


"Kamar utama di lantai bawah saja! Saya belum bisa naik tangga"


Marisa membawa Indra ke kamar utama yang berada di lantai bawah. Kamar tidur yang tampak luas dan berperabotan serba mewah.


"Anda mau istirahat dulu?"


"Ya"


"Mari saya bantu" Marisa segera membantu Indra pindah dari kursi roda ke atas ranjang.


Tubuh Indra yang tinggi besar membuat Marisa agak kewalahan dalam memapahnya. Marisa terpaksa harus memeluk Indra dari samping dan Indra balik merangkul bahu nya agar bisa membantu Indra untuk naik ke atas ranjang.


Saat tubuh Indra berhasil di pindahkan, Marisa tanpa sengaja malah melirik kearah wajah Indra dengan posisinya yang masih memeluk tubuh Sang CEO dari samping dan lengan Indra masih dalam posisi merangkul bahunya.


Marisa untuk sesaat tertegun saat bertatapan dengan Indra dalam jarak yang sangat dekat. Apalagi Indra balas menatapnya dengan senyum dingin yang misterius.


"Ya, Sayang..." Indra balas memanggil dengan suara yang sama bergetar.


"Jangan menatap saya seperti itu..."


"Kamu cantik sekali, Marisa. Saya tidak bisa berhenti untuk menatap wajah kamu"


"Bukankah Anda katakan saya adalah seorang gadis kampungan?"


"Gadis kampungan yang sangat mempesona" Indra semakin mengetatkan rangkulan nya di bahu Marisa dan wajahnya kian mendekat ke wajah gadis itu. Perlahan tetapi pasti bibir Indra menemukan bibir Marisa dan seperti magnet, kedua bibir itu langsung menempel dengan ketatnya!


Dada Marisa laksana meledak saat merasakan bagaimana bibir Indra yang hangat menempel di bibirnya dan kini mulai mengecupi nya dengan lembut. Begitu lembut dan penuh perasaan. Nyaman... Nikmat... Memabukkan!

__ADS_1


Bahkan mata Marisa perlahan malah terpejam dan mulutnya mulai merekah dan terbuka untuk menerima kecupan demi kecupan yang di berikan Indra.


Rangkulan Indra sudah berubah menjadi pelukan yang mengunci tubuh mungil Marisa agar tidak bisa melepaskan diri. Sementara kedua lengan Marisa sendiri tanpa sadar sudah terkulai lemah.


Bibir Indra masih dengan intens nya mengecupi bibir Marisa dan kini keduanya mulai saling mengecup satu sama lain. Marisa tanpa sadar membalas setiap kecupan bibir Indra.


Indra bukan kali ini saja mencium bibir Marisa. Sebelumnya dia pernah mencium paksa gadis itu dengan kasar dan membabi buta. Saat itu tidak ada sama sekali kelembutan didalam nya. Hal itu terjadi saat mereka berdua berada di luar kota dan saat Marisa di undang makan malam di kediaman keluarga Perdana.


Tapi kini keadaannya berbeda, Indra kini melakukannya dengan penuh kelembutan sehingga Marisa ikut terhanyut dan malah menikmatinya. Marisa tidak lagi menampar Indra seperti saat dulu melainkan kini malah membalas kecupan Sang CEO.


Kesadaran Marisa kembali saat kecupan Indra mulai berubah menjadi liar dan berganti dengan pagutan dan hisapan kuat! Dengan spontan Marisa melepaskan dirinya dan mendorong dada Indra. Marisa juga melepaskan diri dari pelukan Indra dan Indra juga tidak berusaha untuk menghalangi gadis itu.


"Pak Indra!" Wajah Marisa merah padam dan nafasnya tersengal-sengal. Marisa berdiri mematung dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang!


Indra malah tersenyum. Senyuman termanis yang pernah Marisa lihat sepanjang dia mengenal pria itu!


"Kenapa, Sayang?" lagi-lagi Indra memanggil Marisa dengan kata "Sayang!"


"Apa yang telah Anda lakukan?!" geram Marisa.


"Saya hanya mencium bibir kamu! Memangnya kenapa? Kamu tidak suka? Jangan katakan kalau kamu tidak suka karena kamu tadi juga menikmatinya! Bahkan saya bisa merasakan kalau kamu membalas ciuman saya!" kata Indra dengan senyuman yang berubah menjadi senyum penuh kemenangan.


Marisa tidak bisa menjawab kata-kata Indra! Marisa tidak bisa lagi menyembunyikan diri dari Indra kalau dia sebenarnya memiliki perasaan terhadap pria itu!


"Marisa, Marisa! Kamu tidak usah membunyikan perasaan kamu lagi! Saya tahu sebenarnya kamu juga menyukai saya! Kenapa kamu masih saja tidak mau mengakuinya? Kamu tidak usah malu-malu lagi karena saya juga menyukai kamu!"


Indra menggeser duduknya seolah-olah memberikan ruang agar Marisa ikut duduk bersama nya di atas ranjang itu.


"Sini, Sayang! Duduk dan mari kita lanjutkan lagi apa yang tadi tertunda. Kamu tidak usah takut. Saya rasakan kamu ketakutan saat saya berusaha untuk melahap seluruh bibir kamu, apakah kamu tidak suka gaya berciuman seperti itu? Kamu lebih suka kalau saya hanya mengecup bibir kamu pelan-pelan? Baiklah, kalau kamu lebih suka yang lembut, saya tidak akan memaksa kamu untuk bermain kasar, hahahaha!"

__ADS_1


"Hentikan, Pak Indra! Anda jangan melantur! Saya jijik mendengar kata-kata Anda!" geram Marisa.


"Masih saja munafik! Sudahlah, Marisa! Buka topeng kemunafikan kamu! Kamu tidak usah terus berpura-pura lagi! Saya tahu kamu menikmati nya! Kenapa kita tidak gunakan saja waktu selama kita berada di vila ini? Kamu bisa tinggal disini sepuasnya dan kamu juga bisa memiliki vila ini atas nama kamu asalkan kamu mau jadi teman tidur saya selama disini! Bagaimana? Kamu mau kan? Saya janji tidak akan memaksa kamu untuk melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai. Kita bisa mulai secara perlahan-lahan agar kamu bisa menikmati nya seperti tadi kamu menikmati ciuman saya!"


__ADS_2