
Warteg yang Marisa tuju tak lain adalah warteg Mang Epep. Mang Epep tentu senang melihat Marisa datang bersama Andro. Sudah lama Marisa tidak jajan ketoprak disana.
"Mang Epep!" seru Marisa.
"Neng Marisa! Apa kabar? Kemana aja atuh?" seru Mang Epep.
"Aku PKL selama tiga bulan, Mang."
"Sama Gery?"
"Iya, sama Gery."
"Pantes atuh gak pernah jajan lagi disini! Gak ke kampus, ya?"
"Iya, sibuk Mang!"
Mang Epep melirik ke arah Andro. "Ini siapa? Kayaknya bukan pacar Neng Marisa, si Fero!" tanyanya.
"Bukan! Ini Pak Andro, atasan saya di kantor." jawab Marisa.
"Calon pacarnya juga, Mang!" tambah Andro.
"Cie cie... Ekhem! Ekhem!" goda Mang Epep.
Marisa cemberut pada Andro, tapi Andro hanya tersenyum nyengir.
"Ketopraknya dua ya, Mang. Pake lontong!" Marisa memesan dua porsi ketoprak untuknya dan Andro.
Sementara itu, Andro dengan santainya duduk diatas sebuah kursi kayu yang butut dan menunggu datangnya pesanan ketoprak. Kontras sekali ada pria segagah dan setampan itu makan di warteg sederhana seperti ini.
"Pak, Bapak yakin mau makan disini?" bisik Marisa.
"Iya, emang kenapa? Asyik kok! Adem!" jawab Andro.
Pesanan pun datang dan mereka pun mulai makan. Andro tampak lahap memakan ketopraknya. "Enak menunya!" seru Andro.
"Ini makanan favorit saya, Pak." kata Marisa.
"Walaupun sederhana tapi makanan disini bersih dan higienis lho!" timpal Mang Epep.
Marisa sejenak teringat pada Indra. Tak terbayangkan kalau Indra saat ini tahu Marisa mengajak adiknya itu makan ketoprak di warteg pinggir jalan! Membayangkan ekspresinya saja membuat Marisa merinding ngeri!
"Bapak pernah makan di pinggir jalan seperti ini?" tanya Marisa.
"Saya sudah biasa makan di pinggir jalan, Mar! Tadi pagi saya jajan nasi uduk di Monas. Bagi saya tidak ada salahnya makan jajanan pinggir jalan asalkan higienis!" jawab Andro.
Seusai makan ketoprak, Marisa dan Andro jajan es buah di sebelah warteg Mang Epep. Malahan Andro membayar dengan uang lima puluh ribuan pada Mang Epep dan Mang Udin, pedagang es campur tanpa mau menerima uang kembaliannya.
"Alhamdulillah, makasih Pak Bos ganteng!" seru Mang Udin.
"Sering-sering jajan kesini, ya!" seru Mang Epep.
"Iya, nanti kapan-kapan saya dan Marisa jajan lagi kesini." kata Andro.
"Bukan maen! Udah ganteng, kaya raya, keren, gak pelit lagi!" tambah Mang Udin.
"Mudah-mudahan Pak Bos cepet-cepet jadi pacarnya Marisa, biar sering jajan disini!" tambah Mang Epep.
__ADS_1
Akhirnya, Marisa pun pulang diantar Andro ke kos-an nya. Sebenarnya Andro ingin mengajak Marisa jalan-jalan ke tempat yang lain, tapi Marisa menolak dan memilih pulang. Bagaimana mau jalan-jalan kalau saat ini dia berpakaian ala kadarnya. Tadi juga Marisa bersedia pergi bersama Andro karena ingin menghindari Mbak Niki.
Sampai di kos-an nya, Marisa berbasa-basi mengajak Andro mampir. "Mampir dulu, Pak?"
"Lain kali aja, Mar. Barusan Indra kirim saya WA. Dia minta saya segera pulang untuk membantunya menyiapkan konsep peletakan batu pertama di proyek pembangunan perumahan di Sumedang."
"Bapak tidak ikut?"
"Tidak, saya harus ke Singapore. Mengurus proyek impor disana sekalian chek up kesehatan Mama."
"Oh, begitu..."
"Memangnya ada apa?" tanya Andro.
"Saya akan ikut Pak Indra besok ke Sumedang."
"Apa?!" Andro mengernyitkan keningnya. "Kamu ikut ke Sumedang? Setahu saya Indra tidak pernah pergi berdua bersama wanita ke luar kota selain bersama Sofie walaupun itu adalah asisten pribadinya ataupun sekretarisnya! Biasanya dia pergi bersama Herman saja."
"Saya juga tidak tahu Pak, tapi Pak Indra meminta saya ikut karena dia ingin saya melakukan presentasi disana. Bapak tahu kan, Pak Indra meminta saya yang membuat design untuk perumahan disana?" kata Marisa.
"Oh iya. Betul juga..."
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak."
"Oke Marisa. Terima kasih untuk hari ini!"
"Saya yang terimakasih, Pak!"
Andro tersenyum lalu meraih tangan Marisa dan menciumnya. Marisa terkesiap. Sekejap saja Marisa langsung tersadar dan menarik tangannya.
Andro sempat menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangannya pada Marisa, tapi Marisa hanya tersenyum sekilas dan langsung berbalik menuju kos-an nya.
"Kok perasaan aku gak enak ya, Marisa akan ikut Indra keluar kota?" gumam Andro dalam perjalanan pulangnya.
*******
Sementara itu, Marisa pun jadi merasa tidak enak atas perlakuan Andro yang tadi mencium tangannya. "Aku kok risih banget ya, sama perlakuan Pak Andro tadi? Apa karena aku masih merasa aku ini pacar Fero?" fikir Marisa sambil membuka pintu kos-an nya.
Marisa masuk ke dalam rumahnya dan bersantai sambil memeriksa HP nya yang tadi tidak dibawanya saat pergi bersama Andro.
"Tidak ada pesan apapun dari Fero... Sepertinya dia serius ingin putus denganku..."
Saat itu tiba-tiba Gery muncul dan menghampiri Marisa. "Mar," sapanya.
"Ger," Marisa membalas sapaan Gery.
"Abis darimana aja kamu sama Pak Andro?" tanya Gery seraya duduk di sisi Marisa.
"Aku makan di warteg Mang Epep dan minum es campur Mang Udin." jawab Marisa.
"Hah?!" Gery terkejut. "Kamu ajakin Pak Andro yang terhormat makan di pinggir jalan?!"
"Dianya juga mau, kok!"
"Kalau Pak Indra Perdana tahu, bisa disiksa kamu, Marisa!"
"Pak Andro gak akan bilang kok sama Pak Indra!"
__ADS_1
"Mudah-mudahan!"
"Dia juga bilang kalau dia udah biasa makan di pinggir jalan, kok! Malahan Mang Epep dan Mang Udin di kasih tip!"
"Syukurlah, masih ada orang kaya yang baik selain Baim Wong!"
"Hm..."
"Lho, kok gak ketawa?" tanya Gery kecewa.
Marisa hanya tersenyum pahit.
"Mar, kamu beneran putus sama Fero?"
"Iya, Ger... Malam tadi aku nemuin dia di lokasi syutingnya, dia... Dia serius mutusin aku..." curhat Marisa lesu.
"Kamu kesana sendiri?! Kenapa gak bilang sama aku?! Aku kan bisa antar kamu kesana!" ucap Gery.
"Gak apa-apa kok, Ger..."
"Alasan Fero mutusin kamu tuh apa?"
"Alasannya karena dia fikir aku ada hubungan gelap sama Pak Indra..."
"Aneh! Kenapa dia bisa berfikir begitu?!"
"Katanya ada orang kantor yang bilang sama Fero..."
"Lha? Siapa?!"
Marisa angkat bahunya.
"Ini ada yang aneh, Mar! Apa kamu merasa di kantor ada orang yang jahat atau iri sama kamu?" tanya Gery.
"Gak ada, ah!"
"Apa jangan-jangan Pak Indra?! Dia adalah orang yang paling tidak senang dengan kehadiran kita di Perdana Enterprise!" tukas Gery.
"Gak mungkin, ah! Pak Indra itu selalu ada di ruangannya! Makan siang aja dia di ruangannya. Gak ada kesempatan untuk ngobrol sama Fero dan mereka juga gak saling kenal!"
"Gak tahu kenapa perasaan aku bilang Pak Indra ada di balik putusnya kamu dan Fero!"
"Kenapa gak Pak Andro?"
"Pak Andro gak ada wajah jahat!"
"Pak Indra juga sekarang agak baik kok! Gara-gara aku berhasil bikin design rumah sesuai dengan ekspektasi dia! Dan besok juga aku akan ikut dia ke Sumedang buat peletakan batu pertama di proyek pembangunan perumahan itu!"
"Berapa hari kamu disana?"
"Palingan dua hari."
"Kamu hati-hati ya, Marisa."
"Iya Ger!"
Entah kenapa perasaan Gery tidak enak mendengar kabar kalau Marisa akan pergi ke Sumedang bersama Indra.
__ADS_1