My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 102 : Marisa Berhasil!


__ADS_3

Marisa tiba di depan ruang metting bertepatan dengan waktu metting tersebut di mulai. Nafas Marisa sampai terengah-engah karena setengah berlari dan terburu-buru agar bisa sampai secepatnya di Perdana Enterprise.


"Maaf, apakah saya hampir terlambat?" tanya Marisa begitu melihat ada Bella dan Pak Rafi di depan ruang metting.


"Marisa! Untungnya kamu segera muncul!" seru Pak Rafi.


"Ya Tuhan! Saya kira kamu gak akan datang, Marisa!" seru Bella.


"Sekarang bagaimana? Apakah metting nya sudah di mulai? Apakah Pak Indra sudah bisa di hubungi?" tanya Marisa lagi.


"Pak Indra masih belum ada kabarnya. Kamu segera saja masuk kedalam ruang metting dan memulai metting nya!" kata Pak Rafi.


"Iya, Marisa! Lakukanlah tugas ini semaksimal mungkin!" seru Bella.


"Baiklah, saya akan coba" kata Marisa dan memantapkan hatinya untuk memasuki ruang metting. "Bismillah"


Marisa pun menggelar metting pertama kalinya tanpa kehadiran Indra. Walaupun ini terasa sangat membebani pikiran Marisa, tapi untungnya semua bisa di jalani dengan baik. Marisa berhasil memberikan presentasi yang baik dan membuat pihak Pak Setiawan puas dengan hasil metting kali ini dan berinisiatif untuk menjalani kerjasama jangka panjang dengan Perdana Enterprise.


Satu jam lebih Marisa menjalani metting dan akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Di akhir metting, Pak Setiawan menjabat wear tangan Marisa dengan senyuman yang sangat puas!


"Terima kasih, Bu Marisa! Saya tertarik sekali dengan kerjasama yang Perdana Enterprise tawarkan dengan perusahaan saya. Semoga kita bisa bekerjasama dengan jangka panjang! Saya merasa sangat puas dan yakin sekali dengan kerjasama ini!" kata Pak Setiawan.


"Terima kasih kembali, Pak! Saya juga sangat yakin dengan kerjasama ini" kata Marisa.


"Kalau begitu projek ini akan segera kita mulai awal minggu ini juga!"


"Saya setuju!"


"Kalau begitu saya mohon pamit. Sampaikan salam saya untuk Pak Indra"


"Baiklah, Pak. Akan saya sampaikan pada Pak Indra"

__ADS_1


Pak Setiawan bersama orang-orang nya dari Setiawan Group pun akhirnya meninggalkan ruangan metting satu demi satu, hingga akhirnya Marisa menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan metting.


"Marisa! Kamu berhasil!" seru Bella yang ternyata sudah menunggu Marisa di depan ruang metting dan langsung memeluk Marisa dengan erat.


"Selamat Marisa! Kamu berhasil mendapatkan projek yang sangat prestisius ini!" seru Pak Rafi seraya menepuk pundak Marisa dengan bangga.


Tepat saat itulah Indra muncul di depan ruang metting dengan nafas memburu dan mendapati pintu ruangan metting terbuka lebar dengan tanpa adanya seorangpun didalam ruangan tersebut.


Indra malah melihat ada Pak Rafi, Bella, dan juga Marisa ada di depan ruang metting. Dada Indra berdebar keras saat melihat Marisa. Gadis yang selama hampir semingguan ini selalu di rindukannya dan membuat hidupnya berantakan serta semangat kerjanya padam.


"Marisa..." desis Indra.


"Pak Indra, selamat pagi Pak Indra" sapa Marisa dengan lembut. Marisa berusaha tersenyum untuk menutupi gemuruh di dadanya karena berjumpa kembali dengan Indra.


"Sejak kapan kamu ada disini?! Siapa yang menyuruh kamu untuk datang kesini?!" tanya Indra bingung.


Pak Rafi yang sudah mengira bahwa Indra akan marah, segera melancarkan kata-kata manis untuk menyelamatkan Marisa dari kemarahan Indra.


"Anda jangan marah dulu, Pak Indra. Marisa kesini atas pemanggilan saya. Saya yang meminta Marisa agar mau datang kesini dan menghandle metting dengan Pak Setiawan. Karena HP Anda tidak bisa di hubungi sedari pagi" tutur Pak Rafi.


"Marisa...! Saya sangat merindukan kamu...!" bisik Indra dan terdengar oleh Bella dan juga Pak Rafi!


Bella bahkan sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan karena merasa sangat terkejut melihat apa yang terjadi! Selama ini Bella tidak pernah mendengar Indra berkata mesra seperti itu pada Sofie ataupun memeluk Sofie dengan erat seperti apa yang saat ini Indra lakukan pada Marisa.


Pak Rafi juga tidak kalah terkejutnya dengan Bella. Dengan kening berkerut di pandangi nya bagaimana Indra memeluk Marisa dengan erat.


"Dasar Pak Indra! Aku bicara panjang lebar tidak di dengarkan! Malahan nyosor begitu saja! Mata keranjang!" rutuk Pak Rafi dalam hatinya.


Marisa sendiri rasanya mau pingsan saat Indra memeluknya seperti itu. Marisa mencoba untuk menguasai dirinya dan mendorong tubuh Indra yang tinggi besar. Tapi pelukan Indra bukannya mengendur melainkan jadi semakin erat.


"Pak Indra... Lepaskan saya... Saya sesak..." kata Marisa.

__ADS_1


"Oh!" Indra sadar dan segera melepaskan pelukannya. "Maaf, saya tidak sengaja untuk membuat kamu sesak"


maaf...?!


Marisa merasa tidak percaya pada pendengarannya sendiri! Sejak kapan seorang Indra Perdana bisa mengucapkan kata "maaf?!"


"Saya harus pulang, Pak Indra. Saya tidak ada kepentingan lagi disini. Saya mohon pamit" kata Marisa.


"Tunggu! Memangnya ada kepentingan apa kamu disini?" tanya Indra heran.


Pak Rafi langsung cemberut. Ternyata benar! Indra sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Pak Rafi barusan!


"Saya disini karena Pak Rafi yang meminta saya untuk menghandle metting dengan Pak Setiawan" kata Marisa.


"Ya Tuhan!" Indra sampai memukul jidatnya sendiri karena sadar kalau dia juga terburu-buru ke kantor agar bisa menghadiri metting penting tersebut! "Ya, saya ingat metting tersebut! Saya tergesa-gesa kesini agar bisa datang tepat waktu! Lalu bagaimana hasil nya?! Kamu berhasil mendapatkan tender proyek besar itu? Kamu berhasil meyakinkan Pak Setiawan untuk menjalani kerjasama dengan Perdana Enterprise?!" tanya Indra berapi-api!


"Alhamdulillah saya berhasil meyakinkan beliau untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan kita, Pak!" kata Marisa.


"Tunggu! Perusahaan kita?! Memangnya kamu masih bagian dari Perdana Enterprise?! Kamu kan sudah mengundurkan diri?! Enak saja kamu bicara perusahaan kita?!" kata Indra sinis.


Marisa menelan ludahnya sendiri. "Maaf, Pak Indra" katanya pelan.


Bella menghela nafas panjang. "Pak Indra! Sudah di tolong masih bisa berkata seperti itu!" keluh Bella dalam hatinya.


"Kumat lagi!" batin Pak Rafi.


Tiba-tiba saja satu senyuman merekah di bibir Indra. Di cubit nya dagu Marisa hingga gadis itu memekik dengan wajah merah padam! Di singkirkan nya tangan Indra dari dagunya!


"Saya hanya bercanda, Marisa! Saya minta kamu jangan marah! Saya sangat berterimakasih kepada kamu karena telah menyelamatkan proyek prestisius dengan pihak Setiawan Group! Untuk itu saya akan mengajak kamu makan siang berdua di restoran seafood favorit saya!" kata Indra akhirnya yang membuat Marisa jadi gemas!


"Kalau saja tidak ada Mbak Bella dan Pak Rafi, ingin rasanya aku cubit pipi Pak Indra!" geram Marisa dalam hatinya!

__ADS_1


"Kamu bersedia, kan?!" tanya Indra pada Marisa.


Marisa mengangguk. "Baiklah. Saya bersedia"


__ADS_2